Suara Cinta Gadis Bisu

Reads
1.3K
Votes
0
Parts
10
Vote
Report
Suara Cinta Gadis Bisu
Suara Cinta Gadis Bisu
Penulis Moycha Zia

Chapter 1 Suara Cambukan Dalam Diam

Ruang keluarga mansion mewah. Malam hari. Hanya lampu kristal di langit-langit yang menyala, menyoroti debu yang melayang di udara. Suasana tegang.

Ctas!

Suara cambukan kulit yang disatukan dengan tali, menggema memecah keheningan di ruang keluarga yang luas dan mewah. Ayah Syaira, Tuan Hermawan, berdiri tegak di depan gadis itu, dengan rahang mengeras. Matanya tajam, penuh amarah.

Syaira, gadis yang baru berusia 16 tahun berdiri kokoh berusaha sekuat tenaga menahan rasa perih yang menjalar di punggungnya. Gaun tidur tipisnya sudah robek di beberapa tempat, memperlihatkan luka lebam dan garis-garis merah akibat cambukan sebelumnya. Air mata mengalir deras di pipinya, tapi ia tidak mengeluarkan suara. Ia hanya memejamkan mata, memohon agar ini semua segera berakhir.

Ctas!

Cambukan kedua menghantam punggungnya. Syaira tersentak, napasnya tercekat, tapi ia tetap diam. Ia sudah terbiasa dengan rasa sakit ini.

“Dasar anak tak berguna!” Suara Tuan Hermawan menggelegar, lebih keras dari suara cambuknya, “Kau tidak akan pernah bisa menjadi seperti kakakmu! Zihan adalah putri kebanggaan kami! Kau hanya aib!”

Di sofa mewah, Nyonya Wati, ibu Syaira, menatap putrinya dengan pandangan jijik. Di sebelahnya, Zihan, sang kakak terlihat santai sambil memoles kuku. Ia sesekali melirik Syaira dengan senyum sinis yang mengancam.

“Harusnya kamu mati saja sejak lahir,” gumam Nyonya Wati, suaranya dingin dan menusuk, “Lihatlah dirimu! Cacat! Kau tidak pantas hidup di sini, di rumah ini!”

Syaira menggigit bibir bawahnya, menahan isakan. Ia ingin berteriak, “Kenapa kalian begitu membenciku?! Aku juga putri kalian!” Tapi suaranya tak pernah bisa keluar. Hatinya menjerit, tapi hanya bisu yang menjawab.

Ctas!

Cambukan ketiga. Kali ini Syaira tidak bisa menahannya lagi. Ia tersungkur ke lantai, tubuhnya bergetar hebat. Air mata membasahi karpet mahal, menciptakan noda kecil yang tak terlihat.

“Cukup, Ayah! Biarkan dia!”

Tiba-tiba, suara Zihan terdengar. Ayah dan ibu Syaira menoleh. Zihan melangkah mendekat sambil memandang Syaira dengan pandangan jijik.

“Kenapa, Zihan? Apa kamu kasihan padanya?” tanya Tuan Hermawan.

Zihan tertawa sinis, “Tidak sama sekali, Ayah. Tapi dia membuat karpet kita kotor. Aku tidak mau kuku baruku ternoda darahnya.”

Zihan melirik Syaira, lalu menendang kakinya dengan ujung sepatu hak tinggi, “Menyingkir kau, sampah!"

Syaira hanya bisa memejamkan mata, membiarkan rasa sakit fisik dan batin menghantamnya bersamaan.

Di ujung ruangan, pintu dapur terbuka. Mbok Minah, pengasuh Syaira sejak kecil, melihat adegan itu dengan mata berkaca-kaca. Hatinya hancur melihat gadis yang ia rawat dengan kasih sayang diperlakukan seperti binatang.

“Tuan... Nyonya... Cukup, Tuan... Nyonya...” Mbok Minah berjalan dengan langkah gemetar.

“Jangan ikut campur, Minah!” bentak Nyonya Wati, “Ini urusan keluarga!”

Mbok Minah tidak peduli. Ia dengan hati-hati mendekati Syaira, mengulurkan tangannya. “Non... ayo Non, bangun. Mbok akan obati luka Non.”

Syaira mendongak sambil menatap Mbok Minah dengan mata penuh air mata. Dalam tatapan itu, ada jutaan kata yang ingin ia sampaikan. Rasa terima kasih, rasa sakit, dan putus asa. Ia tahu, hanya Mbok Minah yang mengerti dirinya. Hanya Mbok Minah yang melihatnya sebagai manusia, bukan sebagai aib.

Dibantu Mbok Minah, Syaira berdiri. Langkahnya gontai saat ia berjalan menuju kamarnya. Ayah dan ibunya tidak peduli. Zihan hanya melihat dengan pandangan meremehkan.

Di dalam kamar, Mbok Minah dengan hati-hati membersihkan luka Syaira. Syaira hanya diam, air mata terus mengalir tanpa suara.

“Sabar ya, Non,” bisik Mbok Minah, “Mereka hanya tidak mengerti. Suatu hari, mereka akan tahu, kalau Non adalah anugerah terindah.”

Syaira menatap Mbok Minah. Ia tahu Mbok Minah tidak akan pernah meninggalkannya. Ia adalah satu-satunya pelabuhan aman di tengah badai kehidupan yang tak pernah berujung.

Monolog batin Syaira, “Aku lelah. Aku ingin semua ini berakhir. Ayah, Ibu, kenapa kalian membenciku? Aku hanya ingin dicintai. Aku hanya ingin menjadi putri kalian seperti Zihan. Apakah itu terlalu banyak untuk kuminta?”

****

Kamar Syaira. Ruangan itu luas dan mewah, tapi terasa dingin dan hampa. Sebuah tempat tidur empat tiang yang besar mendominasi ruangan, di sampingnya ada jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota di malam hari.

Mbok Minah dengan lembut mengoleskan salep pada punggung Syaira. Syaira hanya bisa meringis dalam diam. Air matanya mengalir tanpa henti, membasahi bantal yang ia peluk erat.

"Sudah, Non, jangan menangis," bisik Mbok Minah, suaranya dipenuhi kasih sayang yang tulus, "Luka ini akan sembuh. Tapi luka di hati Non..." Ia tidak melanjutkan kalimatnya, karena ia tahu, luka batin Syaira jauh lebih dalam dari luka fisik.

Syaira menggelengkan kepala, mencoba mengisyaratkan bahwa ia baik-baik saja, namun isakan kecil keluar dari tenggorokannya. Ia menunjuk ke arah cermin di sudut ruangan. Mbok Minah mengerti. Ia membantu Syaira berdiri dan menghadap cermin.

Di sana, terpantul bayangan seorang gadis dengan mata sembab dan punggung penuh luka. Tapi bukan itu yang Syaira lihat. Ia melihat pantulan dari sebuah aib. Sebuah kesalahan yang tak pernah ia minta.

Monolog batin Syaira, "Aku tidak mengerti, Mbok. Kenapa aku? Kenapa aku tidak bisa berbicara? Kalau saja aku bisa, aku akan berteriak pada mereka. Aku akan berteriak! Aku juga manusia! Aku juga punya perasaan!'"

Mbok Minah menatap bayangan Syaira di cermin, air matanya juga mulai menetes. Ia seolah bisa mendengar jeritan batin Syaira. Ia mengelus lembut rambut Syaira.

"Non, suatu hari nanti, keheningan Non adalah kekuatan. Non tidak perlu berteriak untuk didengar. Hati yang tulus akan selalu berbicara lebih keras dari suara apa pun."

Syaira kembali menggeleng. Ia menulis di sebuah buku catatan kecil yang selalu di bawa olehnya, "Mereka hanya melihat kelemahanku. Mereka tidak pernah melihat kekuatanku."

Mbok Minah membaca tulisan itu dan tersenyum sedih, "Mereka yang tidak bisa melihat kebaikan di hati Non, adalah orang yang buta, Non. Bukan Non Syaira."


Cklak!


Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Zihan muncul dengan piyama sutra dan senyum mencemooh di wajahnya.

"Wow, drama apa ini? Pemandangan yang menyentuh," katanya sinis, "Kau pikir dengan menangis, Ayah dan Ibu akan mencintaimu? Mereka muak melihatmu."

Mbok Minah berdiri di depan Syaira, mencoba melindunginya, "Nona Zihan, tolong jangan berkata begitu."

"Kenapa? Aku berkata yang sebenarnya," Zihan melirik Syaira, "Kau menyedihkan. Bahkan Mbok Minah pun kasihan padamu. Kau benar-benar tidak berguna."

Monolog batin Syaira, "Kenapa kau begitu jahat, Kak? Apa yang salah dariku? Aku hanya ingin kita menjadi kakak-adik yang normal."

Syaira mencoba memberanikan diri. Dengan tangan gemetar, ia mengambil buku catatannya dan menulis, lalu menunjukkannya pada Zihan, "Kenapa kau membenciku?"

Zihan tertawa, "Kau mau tahu kenapa? Karena kau adalah aib. Kau mengingatkanku bahwa tidak semua orang di dunia ini sempurna. Kau membuatku malu." Zihan melangkah mendekat dan merobek halaman buku catatan itu dari tangan Syaira,
"Sudah sana, tidur! Besok di sekolah aku akan pastikan semua orang tahu betapa menyedihkannya dirimu."

Zihan pergi, meninggalkan Syaira yang kembali tersungkur di lantai, serpihan kertas di tangannya. Hatinya hancur berkeping-keping. Penderitaannya di rumah seolah tak cukup, besok ia harus menghadapi penderitaan yang sama di sekolah.

Mbok Minah segera memeluknya. "Non, sudah, jangan didengarkan kata-kata Nona Zihan."

Monolog batin Syaira, "Bagaimana aku bisa kuat, Mbok? Aku merasa sendirian di dunia ini. Bahkan di rumahku sendiri, aku tidak punya tempat. Apakah aku benar-benar tak diinginkan?"

Di luar jendela, bulan bersinar redup. Seolah-olah alam pun ikut bersedih melihat penderitaan gadis yang terperangkap dalam kemewahan, namun dibalut kesepian yang tak berujung.

Hanya Mbok Minah yang bisa mendengar suara tangis tanpa suara dari Syaira malam itu.

Other Stories
Cinta Dibalik Rasa

Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. ...

Sweet Haunt

Di sebuah rumah kos tua penuh mitos, seorang mahasiswi pendiam tanpa sengaja berbagi kamar ...

Bahagiakan Ibu

Jalan raya waktu pagi lumayan ramai. Ibu dengan hati-hati menyetir sepeda motor. Jalan ber ...

Jika Nanti

Adalah sebuah Novel yang dibuat untuk sebuah konten ...

Impianku

ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...

Bekasi Dulu, Bali Nanti

Tersesat dari Bali ke Bekasi, seorang chef-vlogger berdarah campuran mengubah aturan no-ca ...

Download Titik & Koma