Chapter 7 Kabur Dari Rumah Neraka
Malam hari. Hujan sudah reda, menyisakan hawa dingin. Syaira dan Mbok Minah berjalan cepat di jalanan sepi, menembus kabut malam. Mbok Minah membawa tas kain sederhana, sementara Syaira hanya membawa ransel kecil berisi beberapa pakaian dan buku sketsanya. Mereka hanya berbekal uang yang sedikit. Suasana tegang, tetapi juga penuh harapan.
"Non, kita harus cepat. Sebelum mereka sadar," bisik Mbok Minah, suaranya terdengar cemas.
Syaira mengangguk. Hatinya berdebar kencang. Ia menoleh ke belakang, memandangi mansion yang kini terasa seperti penjara. Cahaya lampu yang terang, pagar yang tinggi, semua kini terasa asing dan dingin. Ia menulis di buku catatannya, dan menunjukkannya pada Mbok Minah, "Apakah kita akan baik-baik saja, Mbok?"
Mbok Minah tersenyum tulus, "Tentu, Non. Ada Mbok di sini. Kita akan mencari tempat yang aman."
Mereka terus berjalan, tanpa tujuan pasti hanya mengikuti jalan setapak yang membawa mereka keluar dari area perumahan mewah.
Setelah berjam-jam, mereka sampai di sebuah desa yang jauh dari kota. Syaira yang tidak terbiasa berjalan jauh, mulai kelelahan. Langkahnya melambat, dan ia mulai terhuyung-huyung.
"Mbok, aku. tidak kuat." tulis Syaira, wajahnya pucat.
Mbok Minah melihat Syaira yang sudah sangat lelah, "Non, sabar ya. Kita cari tempat istirahat."
Bruuk!
Namun, belum sempat mereka menemukan tempat, tubuh Syaira tiba-tiba ambruk. Ia pingsan, kelelahan dan kedinginan.
"Nak, Bangun, Nak."
Syaira membuka matanya perlahan. Ia merasakan kehangatan dan keharuman rempah-rempah. Ia berada di sebuah rumah kayu sederhana, dengan perabot kuno.
Ia melihat Mbok Minah duduk di sampingnya dengan mata yang penuh kekhawatiran.
"Syukurlah, Non sudah sadar," kata Mbok Minah, "Tadi ada seorang nenek yang menemukan Non pingsan."
Seorang nenek tua muncul dari balik tirai bambu. Rambutnya putih, tangannya keriput, tapi matanya memancarkan kehangatan dan kebijaksanaan.
"Dia putri yang malang," kata nenek itu, menatap Syaira dengan pandangan iba, "Dia memiliki hati yang tulus, tapi suaranya terkunci."
Syaira dan Mbok Minah terkejut, "Bagaimana nenek itu tahu?"
"Siapa nama cucuku?" tanya nenek itu pada Mbok Minah.
"Namanya Syaira, Nek," jawab Mbok Minah, masih diliputi rasa takjub, "Bagaimana Nenek tahu dia tidak bisa bicara?"
Nenek itu tersenyum, "Cahaya hatinya begitu kuat, sampai-sampai aku bisa mendengarnya. Tapi suara itu terkunci. Suara yang seharusnya ia miliki, tersimpan di dalam dirinya. Sudah terlalu lama ia menahannya."
Nenek itu lalu mengeluarkan sebuah guci kecil dari lemari, "Ini adalah ramuan dari bunga-bunga langka yang hanya tumbuh di hutan. Ramuan ini akan membantu melepaskan apa yang terkunci di dalam dirinya."
"Ramuan ini." Mbok Minah ragu, "Apa ini aman, Nek?"
"Ramuan ini tidak akan menyembuhkan. Ia hanya akan membantu apa yang sudah ada di dalam dirinya untuk keluar," jawab nenek itu, "Sekarang, berikan dia. Biarkan jiwanya menemukan jalannya sendiri."
Mbok Minah menatap Syaira. Syaira mengangguk, ia merasa ada secercah harapan yang muncul. Ia mengambil guci kecil itu, dan meminum isinya. Rasanya hangat dengan aroma bunga yang menenangkan.
"Terima kasih, Nek," tulis Syaira di buku catatannya, sambil menyerahkan buku itu pada nenek tersebut.
Nenek itu hanya tersenyum, "Kau tidak perlu berterima kasih, Nak. Ikuti kata hatimu. Suatu hari, kau akan menemukan suaramu, dan kau akan menjadi lebih kuat dari siapapun."
Pada saat itu, Syaira merasa seolah-olah sudah menemukan tempat yang seharusnya. Ia tidak lagi menjadi aib. Ia adalah Syaira dengan segala kelemahannya, dan kini ia akan menemukan kekuatannya.
"Non, kita harus cepat. Sebelum mereka sadar," bisik Mbok Minah, suaranya terdengar cemas.
Syaira mengangguk. Hatinya berdebar kencang. Ia menoleh ke belakang, memandangi mansion yang kini terasa seperti penjara. Cahaya lampu yang terang, pagar yang tinggi, semua kini terasa asing dan dingin. Ia menulis di buku catatannya, dan menunjukkannya pada Mbok Minah, "Apakah kita akan baik-baik saja, Mbok?"
Mbok Minah tersenyum tulus, "Tentu, Non. Ada Mbok di sini. Kita akan mencari tempat yang aman."
Mereka terus berjalan, tanpa tujuan pasti hanya mengikuti jalan setapak yang membawa mereka keluar dari area perumahan mewah.
Setelah berjam-jam, mereka sampai di sebuah desa yang jauh dari kota. Syaira yang tidak terbiasa berjalan jauh, mulai kelelahan. Langkahnya melambat, dan ia mulai terhuyung-huyung.
"Mbok, aku. tidak kuat." tulis Syaira, wajahnya pucat.
Mbok Minah melihat Syaira yang sudah sangat lelah, "Non, sabar ya. Kita cari tempat istirahat."
Bruuk!
Namun, belum sempat mereka menemukan tempat, tubuh Syaira tiba-tiba ambruk. Ia pingsan, kelelahan dan kedinginan.
"Nak, Bangun, Nak."
Syaira membuka matanya perlahan. Ia merasakan kehangatan dan keharuman rempah-rempah. Ia berada di sebuah rumah kayu sederhana, dengan perabot kuno.
Ia melihat Mbok Minah duduk di sampingnya dengan mata yang penuh kekhawatiran.
"Syukurlah, Non sudah sadar," kata Mbok Minah, "Tadi ada seorang nenek yang menemukan Non pingsan."
Seorang nenek tua muncul dari balik tirai bambu. Rambutnya putih, tangannya keriput, tapi matanya memancarkan kehangatan dan kebijaksanaan.
"Dia putri yang malang," kata nenek itu, menatap Syaira dengan pandangan iba, "Dia memiliki hati yang tulus, tapi suaranya terkunci."
Syaira dan Mbok Minah terkejut, "Bagaimana nenek itu tahu?"
"Siapa nama cucuku?" tanya nenek itu pada Mbok Minah.
"Namanya Syaira, Nek," jawab Mbok Minah, masih diliputi rasa takjub, "Bagaimana Nenek tahu dia tidak bisa bicara?"
Nenek itu tersenyum, "Cahaya hatinya begitu kuat, sampai-sampai aku bisa mendengarnya. Tapi suara itu terkunci. Suara yang seharusnya ia miliki, tersimpan di dalam dirinya. Sudah terlalu lama ia menahannya."
Nenek itu lalu mengeluarkan sebuah guci kecil dari lemari, "Ini adalah ramuan dari bunga-bunga langka yang hanya tumbuh di hutan. Ramuan ini akan membantu melepaskan apa yang terkunci di dalam dirinya."
"Ramuan ini." Mbok Minah ragu, "Apa ini aman, Nek?"
"Ramuan ini tidak akan menyembuhkan. Ia hanya akan membantu apa yang sudah ada di dalam dirinya untuk keluar," jawab nenek itu, "Sekarang, berikan dia. Biarkan jiwanya menemukan jalannya sendiri."
Mbok Minah menatap Syaira. Syaira mengangguk, ia merasa ada secercah harapan yang muncul. Ia mengambil guci kecil itu, dan meminum isinya. Rasanya hangat dengan aroma bunga yang menenangkan.
"Terima kasih, Nek," tulis Syaira di buku catatannya, sambil menyerahkan buku itu pada nenek tersebut.
Nenek itu hanya tersenyum, "Kau tidak perlu berterima kasih, Nak. Ikuti kata hatimu. Suatu hari, kau akan menemukan suaramu, dan kau akan menjadi lebih kuat dari siapapun."
Pada saat itu, Syaira merasa seolah-olah sudah menemukan tempat yang seharusnya. Ia tidak lagi menjadi aib. Ia adalah Syaira dengan segala kelemahannya, dan kini ia akan menemukan kekuatannya.
Other Stories
Always In My Mind
Sempat kepikiran saya ingin rehat setelah setahun berpengalaman menjadi guru pendamping, t ...
Aku Pamit Mencari Jati Diri??
Seorang anak kecil yang pernah mengalami perlakuan tidak mengenakan dalam hidupnya. Akibat ...
Cinta Rasa Kopi
Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...
Romance Reloaded
Luna, gadis miskin jenius di dunia FPS, mendadak viral setelah aksi no-scope gila di turna ...
Akibat Salah Gaul
Kringgg…! Bunyi nyaring jam weker yang ada di kamar membuat Taufiq melompat kaget. I ...
Blek Metal
Cerita ini telah pindah lapak. ...