Chapter 9 Suara Kebenaran
Dua minggu setelah Syaira bisa bicara. Ia kembali ke sekolah rambutnya yang dulu panjang kini dipotong pendek, membuatnya terlihat lebih kuat.
Penampilannya sederhana, namun matanya memancarkan tekad. Rendra sedang berjalan di koridor bersama Zihan saat tiba-tiba, sebuah suara memanggilnya.
"Rendra!"
Rendra menoleh, terkejut. Ia melihat seorang gadis yang tidak asing, namun berbeda. Ia tidak mengenali Syaira pada awalnya.
"Syaira?" Rendra ragu, matanya melebar, "Kamu bisa bicara?"
Syaira mengangguk, sebuah senyum tipis terukir di wajahnya. Suaranya masih sedikit parau, namun mantap, "Ya, Rendra. Aku bisa."
Zihan, yang berdiri di samping Rendra, menatap Syaira dengan kaget dan cemas, "Tidaaaak! Ini tidak mungkin! Dia pasti berbohong!"
"Aku tidak berbohong, Zihan," kata Syaira, suaranya dipenuhi ketenangan yang menakutkan bagi Zihan, "Aku sudah bisa berbicara sekarang. Dan sekarang, aku akan membuktikan kebenaran."
Rendra menatap Syaira dan Zihan bergantian, "Kebenaran apa? Syaira, kenapa kamu pergi?"
"Aku pergi karena aku putus asa," jawab Syaira, matanya menatap tajam ke arah Zihan, "Aku putus asa karena seseorang yang kucintai tidak percaya padaku. Aku putus asa karena dia lebih memilih memercayai fitnah."
Zihan mengepalkan tangannya, "Fitnah apa? Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, Syaira!"
"Jangan pura-pura, Zihan," kata Syaira, "Aku sudah bisa bicara sekarang, dan akan memberitahu semua orang. Aku tidak pernah mencuri apa pun dari Rendra. Foto itu semua adalah perbuatanmu. Kau mengeditnya, dan kau menyebarkan kebohongan itu."
Rendra terkejut. Ia menatap Zihan, matanya dipenuhi keraguan. "Zihan? Apa yang dia katakan itu benar?"
Wajah Zihan memucat, "Tidak! Tentu saja tidak! Rendra, jangan dengarkan dia! Dia hanya iri padaku!"
"Iri padamu?" Syaira tertawa pelan, tawa yang penuh kesedihan. "Kau bilang aku iri padamu? Selama ini, kau merundungku, kau menjauhkan aku dari Ayah dan Ibu, kau menyebarkan fitnah. Kau adalah saudaraku, Zihan! Apa yang kau lakukan padaku itu tidak termaafkan."
Air mata Syaira mengalir, tapi kali ini bukan karena kesedihan. Itu adalah air mata kekuatan. Ia tidak lagi terdiam. Ia bisa membela dirinya.
"Aku tidak tahu apa-apa!" Zihan berteriak, panik.
"Kau bisa terus berbohong, Zihan," kata Syaira, "Tapi aku tidak lagi takut. Aku akan membuktikan kebenaran."
Syaira mengeluarkan ponsel dari tasnya, yang diberikan Mbok Minah saat mereka kabur, "Aku punya bukti. Aku akan tunjukkan semua orang, bagaimana kau mengedit foto ini. Aku juga akan kirimkan semua pesan yang kau kirimkan kepadaku. Tentang semua yang kau lakukan padaku."
Zihan terdiam. Wajahnya penuh ketakutan. Ia tahu Syaira tidak berbohong.
Rendra menatap Zihan, ia menggelengkan kepalanya karena kecewa, "Zihan, bagaimana bisa kamu melakukan ini? Aku tidak percaya."
Rendra kemudian menoleh ke Syaira, matanya dipenuhi rasa bersalah, "Syaira, maafkan aku. Aku seharusnya percaya padamu. Aku seharusnya tidak meragukanmu. Aku bodoh."
Syaira menggelengkan kepalanya, "Aku memaafkanmu, Rendra. Aku mengerti. Kau tidak tahu apa yang terjadi di balik semua ini."
Pada saat itu, Zihan melarikan diri, tidak tahan dengan tatapan Rendra yang penuh kekecewaan, dan tidak tahan dengan kebenaran yang kini terungkap.
Rendra menatap Syaira dengan mata berkaca-kaca. "Kamu sangat kuat, Syaira. Aku sangat kagum padamu. Aku minta maaf. Aku tidak pantas mendapatkan maaf darimu."
Syaira tersenyum, "Semua orang pantas mendapatkan kesempatan kedua, Rendra."
Dengan sebuah kata yang sederhana, Syaira membuka sebuah pintu baru. Pintu keadilan. Ia telah menemukan suaranya, dan akan menggunakannya untuk melawan semua kebohongan yang telah membelenggunya.
Penampilannya sederhana, namun matanya memancarkan tekad. Rendra sedang berjalan di koridor bersama Zihan saat tiba-tiba, sebuah suara memanggilnya.
"Rendra!"
Rendra menoleh, terkejut. Ia melihat seorang gadis yang tidak asing, namun berbeda. Ia tidak mengenali Syaira pada awalnya.
"Syaira?" Rendra ragu, matanya melebar, "Kamu bisa bicara?"
Syaira mengangguk, sebuah senyum tipis terukir di wajahnya. Suaranya masih sedikit parau, namun mantap, "Ya, Rendra. Aku bisa."
Zihan, yang berdiri di samping Rendra, menatap Syaira dengan kaget dan cemas, "Tidaaaak! Ini tidak mungkin! Dia pasti berbohong!"
"Aku tidak berbohong, Zihan," kata Syaira, suaranya dipenuhi ketenangan yang menakutkan bagi Zihan, "Aku sudah bisa berbicara sekarang. Dan sekarang, aku akan membuktikan kebenaran."
Rendra menatap Syaira dan Zihan bergantian, "Kebenaran apa? Syaira, kenapa kamu pergi?"
"Aku pergi karena aku putus asa," jawab Syaira, matanya menatap tajam ke arah Zihan, "Aku putus asa karena seseorang yang kucintai tidak percaya padaku. Aku putus asa karena dia lebih memilih memercayai fitnah."
Zihan mengepalkan tangannya, "Fitnah apa? Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, Syaira!"
"Jangan pura-pura, Zihan," kata Syaira, "Aku sudah bisa bicara sekarang, dan akan memberitahu semua orang. Aku tidak pernah mencuri apa pun dari Rendra. Foto itu semua adalah perbuatanmu. Kau mengeditnya, dan kau menyebarkan kebohongan itu."
Rendra terkejut. Ia menatap Zihan, matanya dipenuhi keraguan. "Zihan? Apa yang dia katakan itu benar?"
Wajah Zihan memucat, "Tidak! Tentu saja tidak! Rendra, jangan dengarkan dia! Dia hanya iri padaku!"
"Iri padamu?" Syaira tertawa pelan, tawa yang penuh kesedihan. "Kau bilang aku iri padamu? Selama ini, kau merundungku, kau menjauhkan aku dari Ayah dan Ibu, kau menyebarkan fitnah. Kau adalah saudaraku, Zihan! Apa yang kau lakukan padaku itu tidak termaafkan."
Air mata Syaira mengalir, tapi kali ini bukan karena kesedihan. Itu adalah air mata kekuatan. Ia tidak lagi terdiam. Ia bisa membela dirinya.
"Aku tidak tahu apa-apa!" Zihan berteriak, panik.
"Kau bisa terus berbohong, Zihan," kata Syaira, "Tapi aku tidak lagi takut. Aku akan membuktikan kebenaran."
Syaira mengeluarkan ponsel dari tasnya, yang diberikan Mbok Minah saat mereka kabur, "Aku punya bukti. Aku akan tunjukkan semua orang, bagaimana kau mengedit foto ini. Aku juga akan kirimkan semua pesan yang kau kirimkan kepadaku. Tentang semua yang kau lakukan padaku."
Zihan terdiam. Wajahnya penuh ketakutan. Ia tahu Syaira tidak berbohong.
Rendra menatap Zihan, ia menggelengkan kepalanya karena kecewa, "Zihan, bagaimana bisa kamu melakukan ini? Aku tidak percaya."
Rendra kemudian menoleh ke Syaira, matanya dipenuhi rasa bersalah, "Syaira, maafkan aku. Aku seharusnya percaya padamu. Aku seharusnya tidak meragukanmu. Aku bodoh."
Syaira menggelengkan kepalanya, "Aku memaafkanmu, Rendra. Aku mengerti. Kau tidak tahu apa yang terjadi di balik semua ini."
Pada saat itu, Zihan melarikan diri, tidak tahan dengan tatapan Rendra yang penuh kekecewaan, dan tidak tahan dengan kebenaran yang kini terungkap.
Rendra menatap Syaira dengan mata berkaca-kaca. "Kamu sangat kuat, Syaira. Aku sangat kagum padamu. Aku minta maaf. Aku tidak pantas mendapatkan maaf darimu."
Syaira tersenyum, "Semua orang pantas mendapatkan kesempatan kedua, Rendra."
Dengan sebuah kata yang sederhana, Syaira membuka sebuah pintu baru. Pintu keadilan. Ia telah menemukan suaranya, dan akan menggunakannya untuk melawan semua kebohongan yang telah membelenggunya.
Other Stories
Agum Lail Akbar
Tentang seorang anak yang terlahir berkebutuhan khusus, yang memang Allah ciptakan untuk m ...
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
First Snow At Laiden
Bunda Diftri mendidik Naomi dengan keras demi disiplin renang. Naomi sayang padanya, tapi ...
Hantu Kos Receh
Mahera akhirnya diterima di kampus impiannya! Demi mengejar cita-cita, ia rela meninggalka ...
Deska
Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...
Hati Yang Beku
Jakarta tak pernah tidur: siang dipenuhi kemacetan, malam dengan gemerlap dunia, meski ada ...