2. Merantau
Di Kampung, kuliah di Jawa adalah istimewa, dan yang pasti menjadi berbeda pengalaman dan pengajarannya. Aku memutuskan untuk pergi ke Jawa adalah saat melihat anak tetangga dusun yang sekolah di Jawa. Setelah pulang dari jawa, Sundari memiliki sikap santun dan terlihat pintar. Ya terlihat pintar, sejatinya aku pun tak pernah tahu, mengapa yang terekam dalam otakku adalah sekolah ke luar Sumatera adalah pilihan terbaik jika ingin berubah menjadi baik, dan bisa membanggakan kampung halaman.
Selain itu ada hal yang paling membuatku ingin pergi dari kampung adalah, ketika tersiar kabar aku akan menikah selepas lulus SMP. Saat itu aku nyantri di Nurul Jadid, stigma yang melekat untuk pesantren kala itu adalah, pesantren hanya untuk biro jodoh. Bukankah baik ya? Menjadi tempat terlahirnya pernikahan-pernikahan terbaik, darinya pesantren menutup peluang berbuat dosa dengan pacaran dan sejenisnya.
Dikabarkan begitu tentu saja aku tidak bisa tinggal diam, aku merengek 1001 malam pada kedua orang tuaku agar diperbolehkan ke Pulau Jawa untuk menuntut ilmu. Tentu saja rengekan itu tak mudah bagiku. Aku harus membayarnya dengan menjadi kuli nyadap karet di kebun orang tuaku sendiri selama jeda liburan kelulusan.
“Karima, ayo bangun. Katanya mau nyantri di Jawa. Harus rajin bangun pagi !” mamak memaksa anak pertamanya ini bangun. Jauh sebelum ayam jago di kandang berkokok.
“Jangan lupa, hari ini kamu mulai ikut ke ladang,” mamak mulai ceramah pagi. dengan terpaksa aku membuka mata yang tak sipit. Benar saja rasa dingin seperti ini yang terus dilalui mamak selama aku pergi belajar di desa seberang.
Lalu selama liburan, ke ladang karet adalah kegiatan setiap hari yang terus berulang. Hanya dengannya ia bisa menunaikan cita-citanya untuk menjadi pelajar di kota pelajar Yogyakarta. Aku pun bisa membuktikan bahwa kabar yang selama ini beredar adalah kebohongan. Jikapun ada teman seusiaku menikah, bagiku itu sebuah pilihan terakhir saat orang tua mereka tak mampu lagi menyekolahkan anak-anaknya. Sedangkan bapak dan mamak selalu berusaha untuk menyekolahkanku.
Sekalipun harus berpura-pura kaya di depan anak-anaknya, karena ia meyakini Tuhanlah yang akan membiayai pendidikan anak-anaknya.
Tak banyak yang kubawa
Kecuali limpahan doa darimu, ibu
Sejauh apapun nanti aku pergi
Tetaplah di sana menantiku tanpa sedih hati
Tak banyak yang mampu kujanjikan
Namun, percayalah engkau adalah tumpuan dari segala perjalanan
Tak banyak yang mampu kubalaskan
Namun,jika bisa dunia seisinya akan kupersembahkan
Other Stories
Tilawah Hati
Terinspirasi tilawah gurunya, Pak Ridwan, Wina bertekad menjadi guru Agama Islam. Meski be ...
32 Detik
Hanya 32 detik untuk menghancurkan cinta dan hidup Kirana. Saat video pribadinya bocor, du ...
Cinta Di Ujung Asa
Alya mendapat beasiswa ke Leiden, namun dilema karena harus merawat bayi kembar peninggala ...
After Honeymoon
Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...
Persembahan Cinta
Rendra pria tampan dari keluarga kaya, sedangkan Fita gadis sederhana. Namun, Mama Fita ra ...
Kelabu
Kulihat Annisa tengah duduk di sebuah batu besar di pinggir sungai bersama seorang anak ...