4. Nue Dan Ladang Peri
“Sebenarnya apa tujuanmu datang ke sini?!” tanya Fen tajam, entah untuk yang ke berapa kalinya. “Aku bersumpah aku tidak memiliki niat jahat. Aku… hanya ingin ke sini dan tiba-tiba saja aku sudah di sini,” jelas Dante tidak meyakinkan.
“Hm… begitu ya. Siapa nama peri yang kamu temui? Bagaimana ciri-cirinya?” pertanyaan Fen kali ini membuat Dante terkesiap, bagaimana Fen bisa tahu ia bertemu dengan peri.
“Apa maksudmu?” elak Dante tak siap menjawab pertanyaan Fen.
“Sudah jelas, jika kamu meminta dan terkabulkan, tidak mungkin itu terjadi tanpa alasan kecuali kamu mempunyai kekuatan lain dalam dirimu. Tak ada penjelasan lain, kamu bertemu dengan peri. Dan yang aku cemaskan saat ini, peri itu telah melanggar aturan dunia peri dengan membawamu ke sini dan menjadikanmu peri juga. Dia harus segera menghadap raja untuk mendapat peradilan,” jelas Fen.
Dante kini telah terpojok, ia tak bisa mengelak lagi, ”Yah, aku memang bertemu peri, tapi aku tidak tahu namanya, ia tidak menyebutkannya dan kurasa aku juga tidak ingat bagaimana penampilannya, rasanya seperti mimpi saja, tidak jelas bagiku,” jawab Dante sekenanya, ia berharap Fen percaya dengan kata-katanya kali ini. Ia tidak tahu lagi alasan apa yang harus ia berikan jika Fen tidak percaya padanya.
Pertanyaan demi pertanyaan diterima Dante dan dijawabnya dengan gugup. Fen tengah menginterogasi Dante dalam ruang rapat yang luas dan berlangit-langit tinggi. Sangat berbeda jika seorang polisi menginterogasi penjahatnya, ia akan melakukannya di ruang yang sempit dan gelap. Namun dalam ruang sebesar itu hanya diisi oleh Dante yang sedang diinterogasi oleh Fen, sungguh menambah suasana tegang di antara mereka. Kecurigaan Fen atas asal usul datangnya Dante kelihatannya tak berkurang sedikitpun. Tampaknya ia belum puas sama sekali dengan sesi interogasi yang panjang dan memusingkan itu, tapi ia terdesak, tak bisa berbuat apa-apa. Fen tak bisa begitu saja menuduh Dante sebagai penyelundup dan memasukkannya dalam penjara peri tanpa bukti-bukti di tangannya. Fen sangat tidak puas, ia masih sangat curiga.
“Baiklah, kamu boleh pergi sekarang. Aku belum menentukan statusmu. Tapi ingat, aku akan selalu mengawasimu di sini!”
“Yah, apapun maumu, kawan,” jawab Dante pasrah.
Dante melangkah gontai menuju pintu besar yang merupakan satu-satunya jalan keluar dan masuk dari ruangan besar nan seram di bangunan Agra yang mengagumkan ini. Sepatu hijau lumut lancipnya berkeletuk menyapa lantai ruangan yang berwarna hitam mengkilap seperti kubangan rawa yang dalam. Ia sama sekali lupa untuk menggunakan sayapnya. Fen menyipitkan matanya dengan curiga di belakang Dante, membentuk spekulasi-spekulasi lain di benaknya. Dante melewati deretan kursi panjang yang sepertinya tidak ada habisnya. Nue menunggu di depan pintu besar dengan muka pucat saking cemasnya. Beberapa kumpulan peri terbang berdua-dua atau bertiga memasuki ruangan. Salah satu rombongan yang baru masuk tampaknya baru saja menerima kabar yang sangat buruk karena tampang mereka kusut tak karuan, terbang pelan memasuki ruangan dengan menenteng gulungan-gulungan kertas yang entah apa isinya. Tampaknya akan ada pertemuan di sini.
“Sangat meresahkan… kudengar Si Peri Durhaka telah kembali setelah sekian lama. Entah bagaimana ia bisa bebas. Kurasa karena itulah akhir-akhir ini pengikutnya mulai berani keluar dari persembunyian mereka dan menyerang kita.”
“Yah, kurasa Raja Amn telah memperkirakan hal ini. Ia terlihat cemas dan menanggapi dengan serius penyerangan-penyerangan kecil di perbatasan beberapa hari ini… tapi tetap saja, semuanya begitu mendadak bagi kita…”
Bisik-bisik gelisah terdengar samar ketika Dante melewati kumpulan peri-peri yang memasuki ruangan, membuatnya bertanya-tanya siapa gerangan si Peri Durhaka ini hingga seluruh dunia peri resah. Dan begitu hebatnya si Raja Amn ini, telah mengetahui bahaya yang akan menimpa negerinya. Beberapa peri mulai menyadari keberadaan Dante yang menarik perhatian dengan bunyi sepatunya ketika berjalan. Dante mendadak gugup dan salah tingkah, menepuk dahinya karena sama sekali lupa dengan sayap di punggungnya. Dante terbang menuju Nue yang telah begitu pucat, menunggui percakapan antara Fen dan Dante sampai mereka selesai.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Nue segera.
“Yeah, semua baik-baik saja, tenang Nue. Dan seharusnya aku yang menanyakan hal itu. Kamu tidak apa-apa?”
“Apa maksudmu?” Nue tak mengerti.
“Kamu sangat pucat. Dari tadi kamu menunggu di sini bukan? Jangan terlalu mencemaskan aku. Tersenyumlah, teman. Semua sudah beres,” hibur Dante.
Nue hanya sedikit menyunggingkan senyumnya. Ia tampak berpikir sejenak, melongok ke dalam ruang rapat yang tampaknya sudah penuh oleh para peri. Salah satu peri terbang untuk menutup pintunya.
“Bagaimana kalau kamu kuajak jalan-jalan berkeliling melihat Ladang Peri?” ajak Nue tiba-tiba.
“Apa?!” sahut Dante kaget. ”Bukannya Fen akan memarahimu habis-habisan? Dan bukankah sedang terjadi penyerangan di perbatasan? Apakah aman? Dan kamu tahu, aku saat ini dalam pengawasan kakakmu yang selalu bertampang curiga itu.”
“Hei, siapa sekarang yang terlalu cemas?” Nue mengejek Dante, “Hm… sebelum semuanya lebih parah lagi. Dan jika itu terjadi, kamu tahu, kita tidak akan bisa ke mana-mana lagi. Kakakku sedang memimpin rapat besar. Ia akan sibuk seharian ini,” Nue memandang Dante lekat-lekat, kemudian terbang keluar dengan bebasnya.
Tidak biasanya Nue tidak menghiraukan larangan kakaknya untuk terbang sendiri, apalagi untuk pergi keliling di luar wilayah Agra. Itu berarti Nue sama sekali lepas dari pengawasan dan perlindungan Fen. Dan apa maksud perkataan Nue dengan keadaan yang lebih parah? Apa ada hubungannya dengan Si Peri Durhaka tadi?
Dante tak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benaknya. Ia hanya bisa mengangkat bahu dan terbang mengikuti Nue yang telah jauh di depannya. Ia tak akan melewatkan kesempatan berkeliling melihat-lihat dunia peri yang sesungguhnya. Inilah tujuannya datang ke sini, bebas pergi ke manapun yang ia mau, tanpa ada yang mengaturnya dan membatasinya.
“Ayolah!” seru Nue bersemangat. Dante bergegas menyusul Nue sebelum ia benar-benar ketinggalan jejaknya. Melebarkan sayapnya dan terbang meninggalkan kecemasan-kecemasan yang menyelimutinya.
***
Dante tak hentinya terkagum-kagum dan meneriakkan kata ‘Wow!’ keras-keras. Telah cukup lama ia terbang sejak keluar dari area Agra bersama Nue sebagai guide-nya. Dan cukup banyak pula yang telah ia lihat sepanjang perjalanannya. Agra adalah bangunan megah terakhir di perbatasan daerah peri dengan hutan seram tempat Dante mendarat pertama kali. Jauh di dalam daerah peri sungguh menakjubkan, seakan tak ada perasaan lain kecuali gembira yang terbentuk oleh suasananya, daerah peri, yang kini diketahui Dante memiliki sebutan Ladang Peri. Berbeda dengan sebutan ladang di dunia manusia yang berarti sawah tempat menumbuhkan padi, Ladang Peri merupakan tempat yang sangat memesona dengan berbagai macam bunga yang memenuhi setiap sudutnya, lebih banyak dari yang ia lihat di sekeliling Agra. Dan anehnya di sini tidak ada jalan raya, jalan setapak atau jalan apapun. Mungkin karena peri tidak pernah berjalan, kecuali di dalam ruangan, jadi mereka tidak merasa perlu untuk repot-repot membuat jalan setapak sekalipun.
Setiap bunga adalah rumah bagi setiap peri yang berbeda, satu bunga untuk satu peri. Dan Dante terkejut menyadari bahwa ia bahkan tak bisa menghitung berapa macam jenis bunga di sekitarnya, karena setiap satu keluarga peri memiliki jenis bunga yang berbeda dengan keluarga peri lainnya sebagai rumah mereka. Warna dan bentuk bunga akan menggambarkan bagaimana peri yang menghuninya, tetapi mereka tidak bisa ikut andil dalam menentukannya, hal itu alami terjadi. Setiap ada peri yang dilahirkan, akan tumbuh satu bunga. Sebuah keluarga peri akan menghuni satu tanaman yang memiliki jumlah bunga sesuai jumlah anggota keluarga mereka.
“Berarti ada banyak sekali peri, Nue? Di sini bunga-bunga tak terhitung jumlahnya, dan aku akan menemukan satu peri di balik pintunya.”
“Tentu saja. Kamu tak mengharapkan hanya ada sedikit penghuni di dunia peri, bukan?” jawab Nue santai sambil terus terbang naik turun. Tampak sangat gembira layaknya baru pertama kali merasakan sayapnya.
“Oh, kupikir memang hanya sedikit,” sahut Dante agak malu. Nue hanya tersenyum mendengarnya dan melanjutkan perannya sebagai guide.
“Kamu lihat para peri itu?” tunjuk Nue pada beberapa kumpulan peri di setiap helai daun di beberapa bunga yang berbeda.
“Ya, mereka duduk di atas daun, seperti yang kupahami dari penjelasanmu bahwa daun layaknya beranda rumah, tapi di sini mereka punya banyak beranda, iya kan?” ujar Dante.
“Kamu cepat belajar…” puji Nue.
“Hei, tapi kenapa bunga itu hanya memiliki satu daun?” tanya Dante keheranan setelah menajamkan pandangannya.
“Tangkai bunga yang hanya memiliki satu daun mengartikan penghuninya adalah peri bangsawan. Kerabat raja. Dan mereka punya kuasa untuk menyuruhmu ke sana-kemari menuruti keinginan mereka. Para peri akan menghormati mereka,” jelas Nue serius.
“Hm… dan apa itu yang menjulang tinggi? Oh, kurasa itu satu-satunya pohon di taman bunga ini? Selain pohon-pohon di hutan perbatasan tadi tentunya,” tanya Dante ketika melihat pohon yang tinggi menjulang di kejauhan, seingatnya ia tidak melihat satu pohon pun sejak keluar dari hutan tadi.
“Ya, memang harus ada satu pohon, kalau lebih dari satu pohon, bagaimana jadinya Ladang Peri ini dengan dua pemimpin, kecuali kalau memang ada persaingan terbuka. Dan itu berarti perang besar bagi kita,” jelas Nue sambil terbang naik turun dan berputar mengikuti irama angin, membuat rambutnya terburai riang.
Dante tertegun sejenak sebelum menanggapi penjelasan Nue, “Ah, rupanya pohon adalah tempat raja peri ya…” kata Dante mengerti, mengangguk-anggukkan kepalanya. Dante mengedarkan pandangannya menikmati keindahan Ladang Peri yang terhampar. Kemudian matanya tertuju pada satu-satunya aliran sungai besar yang ada di sana. Airnya jernih sekali hingga ia bisa melihat bebatuan warna warni yang berada di dasar sungai. Dan sesuatu membuatnya terbelalak ngeri. Ikan-ikan di sana besar sekali. Mungkin ikan-ikan itu sanggup menelan dua atau tiga peri sekaligus dalam sekali tangkap.
“Nue, apa ikan-ikan di sini bisa memakan peri?” tanya Dante waswas.
Nue pun tersedak dan tertawa terbahak-bahak. “Tentu saja tidak. Mereka hanya memakan plankton kecil. Para ikan sangat ramah, mereka bisa menemanimu mengobrol berjam-jam sambil bermain air. Menyenangkan sekali,” jelasnya masih sambil diiringi sisa tawa.
“Ikan bisa bicara?” tanya Dante terkesiap.
“Tentu saja,” sahut Nue.
Dante tak hentinya merasa takjub dengan pesona Ladang Peri di hadapannya. Tapi kemudian ia teringat dengan muka galak Fen dan rentetan ceramahnya soal mengawasinya. Apalagi saat ini ia sedang bersama adik si pengawas itu. Dante bergidik ngeri membayangkan reaksi Fen jika ia menyadari Dante malah kabur berjalan-jalan jauh dari area Agra.
”Err, Nue… kamu tahu, aku sangat senang bisa berkeliling seperti ini dan nampaknya masih sebagian kecil saja dari dunia peri yang aku kunjungi. Tapi kurasa kita sudah terlalu jauh dan lama pergi tanpa izin, terutama kamu, kakakmu akan kebingungan mencarimu.”
Nue berhenti di tengah kesibukannya menikmati indahnya terbang bebas, kemudian membalikkan badannya menghadap Dante. Ia menelengkan kepalanya sebentar dan tersenyum.
“Kamu sungguh memperhatikan keadaan kami, padahal kamu belum lama mengenalku dan kakakku,” Nue mengangkat bahunya, “Aku tahu kakakku tidak pernah salah mengira. Ia tidak membunuhmu di kesempatan pertama saat melihatmu di hutan meski kamu tak dikenalnya, ia tahu ia bisa memercayaimu,” katanya yakin.
“Begitukah?” ujar Dante tak yakin. “Kurasa Fen hanya tidak ingin menghilangkan nyawa seseorang tanpa alasan jelas. Dia adalah peri yang adil. Dan tentu saja…”
“Tunggu!!” potong Nue cepat sambil terbang mendekati Dante, wajahnya serius dan tampak tegang, “Apa yang kamu katakan? Orang? Kamu menggunakan kata ‘orang’? Sebenarnya dari mana asalmu Dante?” tanya Nue penuh selidik.
“Oh, tidak…” seketika Dante tahu ia telah salah berucap. Tentunya ia terbiasa menggunakan kata-katanya layaknya di dunia manusia. Tapi di sini ia adalah peri. Ia telah lengah.
“Hei, kamu!” belum sempat Dante memikirkan alasan untuk Nue, ia dikagetkan oleh satu suara yang membuatnya cemas.
“Berani-beraninya kamu membawa adikku keluar! Kamu juga seharusnya tidak boleh pergi tanpa seizinku, kamu mencoba melarikan diri, hah!” teriak Fen marah, lalu terbang cepat menuju Nue dan Dante beserta dua peri yang tampaknya penjaga Agra. Mereka bertampang seram dan tatapan matanya tajam seakan bisa mendeteksi bau ‘pelanggaran’ di setiap peri.
Entah Fen adalah penolong atau musibah di situasi Dante ini, yang jelas Dante terhindar dari keharusan menjawab pertanyaan Nue yang akan membuka rahasia asal-usulnya. Ia harus menepati janjinya pada Zha, ia tak akan menceritakan asal-usulnya pada siapapun, pada Nue pun tidak. Jika mereka tahu Dante berasal dari dunia manusia, kemungkinan mereka akan tahu siapa peri yang mengubahnya.
“Aku tidak… maksudku kami memang keluar dari Agra, tapi hanya untuk jalan-jalan saja. Aku hanya ingin melihat Ladang Peri. Hanya itu!” elak Dante atas tuduhan Fen yang serta merta itu.
“Kamu sungguh tidak tahu berterima kasih! Kami menampungmu dan kamu malah membawa lari adikku!” sembur Fen, habis kesabarannya.
“Kami bisa membuat segalanya lebih mudah dan sederhana jika diizinkan membantu, Fen,” tawar salah satu peri penjaga Agra berambut kuning kehijauan dengan muka serius. Ia menunjukkan tanda-tanda akan membekuk Dante layaknya perampok bank yang telah kabur. Peri penjaga lain mengangguk menunjukkan dukungannya, mengerutkan keningnya dan menatap galak Dante. Dengan rambut merah gelap, ia lebih tampak seperti monster yang akan melahap mangsanya daripada peri.
“Tunggu semuanya. Jangan mengadili Dante seperti itu. Dia peri baik. Aku yang mengajaknya berkeliling. Ia tidak tahu Ladang Peri sama sekali,” bela Nue setelah mendapat kesempatan menyela.
“Sungguh mencurigakan. Tidak kenal Ladang Peri? Dari antah berantah mana lantas kamu ini, peri?” geram si rambut merah. Tampaknya Fen dan Nue tidak menceritakan tentang transformasi Dante kepada siapapun.
“Ya, kamu benar, Ork. Asalmu tidak jelas, peri! Dan hei, namamu juga tidak wajar…” kata peri berambut kuning kehijauan dengan nada kemenangan.
Kini Dante sadar, Fen bukanlah penolong dalam situasi ini. Ia musibah bertubi karena membawa dua antek penjaga itu. Nue tampaknya juga tersadar akan kebenaran perkataan Ork, si Peri Penjaga. Dante bukanlah nama yang wajar di dunia peri, terasa terlalu aneh untuk diucapkan. Nue memandang Dante dengan rasa penasaran yang begitu besar, ya, dari mana asal Dante sebenarnya?
***
Other Stories
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia
Malam yang sunyi aku duduk seorang diri. Duduk terdiam tanpa teman di hati. Kuterdiam me ...
Agum Lail Akbar
Tentang seorang anak yang terlahir berkebutuhan khusus, yang memang Allah ciptakan untuk m ...
Cinta Bukan Ramalan Bintang
Dengan membaca ramalan bintang seakan menentukan hidup seorang Narian akan bahagia atau ti ...
Setinggi Awan
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...
Ada Apa Dengan Rasi
Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...
Jam Dinding
Setelah kematian mendadak adiknya, Joni selalu dihantui mimpi buruk yang sama secara berul ...