Melepasmu Dalam Senja

Reads
1.6K
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Penulis Rizka Agnia Ibrahim

Wanita Tunarungu

Kehidupan Roman terasa berubah. Kini, ada dua wanita yang berpredikat sebagai istri. Berhak memiliki kewajibannya, baik lahir maupun batin. Ada semilir ketenangan ketika melihat keteduhan jiwa Raina yang bisa menerima madunya yang tujuh tahun lebih muda dan memiliki paras cantik itu. Begitu pun dengan Keina--menghargai Raina sebagai kakak--hidup dalam satu rumah, meski memiliki ruangan yang privat untuk kondisi masing-masing.
Keina lebih menyukai bercengkerama dengan Saqueena, merawat dan menyediakan segala keperluan gadis tersebut dengan telaten. Keina wanita yang baik. Meskipun tak bisa bicara normal, tetapi kesabaran itu begitu tegas tergaris.
Dia lebih senang membiarkan Roman dan Raina berdua-duaan. Meskipun ada sedikit yang terasa nyeri di hatinya.
“Kak Roman adalah laki-laki yang selalu pandai menjagaku di waktu kecil. Aku memang mencintainya. Aku menyayanginya, namun dia tak mencintaiku. Aku pergi saat dia memilih Kak Raina menjadi istrinya,” bisik hati Keina.
Keina tertunduk melipat baju-baju dan merapikannya. Tak sadar jika Roman telah memandangnya begitu lekat. Jika saja bisa keluar suara dengan normal, mungkin Keina sudah menjerit karena kaget.
Roman pun bingung, bagaimana memulai berkomunikasi dengan Keina. Tiba-tiba kenangan masa kecil itu terbit di benak Roman.
“Kei…” bahasa isyarat Roman memang kaku namun lumayan bisa dimengerti oleh Keina.
Keina tersipu malu dan kaget, “Kak Roman sudah lama?”
Gerakan tangan Keina tak lantas membuat Roman mengerti. Kemudian keduanya terkekeh, Roman tak sadar mengusap-usap kepala Keina. Terbit semakin hangat kenangan yang nyaris terkubur.
Sekali pun mereka sudah halal, tapi tetap saja bagi Roman… tak biasa menghadirkan wanita selain Raina.
“Kak Roman, jangan paksakan semua bergerak terlalu cepat. Biarkan semua apa adanya. Jangan paksa untuk mencintai. Cukup saja menerima, aku sudah berterima kasih. Aku tak layak berharap ada ruang cinta di hati Kak Roman,” ada isyarat SIBI sesekali dan membuat Roman mengerutkan keningnya.
“Kei, sekolah di SLB?” Roman berupaya meskipun kaku.
Keina menggelengkan kepala, “Ibu angkat adalah guru di SLB, dia sering mengajarkan SIBI tapi terlalu rumit untukku.”
Roman menganggukkan kepala, tanda mengerti isyarat Keina.
Kemudian Keina menggunakan isyarat lain yang lebih mudah. Ada mimik yang Keina tampilkan melengkapi isyarat dari gerakan tangan dan bibir.
Roman terhenyak, dia cukup paham BISINDO yang non-baku. Mimik itu sungguh dia kenali dengan lekat. Dia sempat memiliki rekan kerja, pengajar di SLB yang menguasai BISINDO.
Roman menatap lekat, ada luka di mata Keina, ada malu, dan berjuta rasa tersisih di wajah wanita yang sempat menjadi adik asuhnya tersebut.
“Kei, bisa BISINDO? Tahu singkatannya?” Roman bertanya, mengalihkan pembicaraan.
Keina tersenyum, “Iya, Bahasa Isyarat Indonesia Penciptanya masih berjuang agar BISINDO diakui pemerintah. Dia adalah Surya Shahetapy, anak Dewi Yull. Aku baru menguasai beberapa tahun ini. Dari murid ibu angkat yang sering datang ke rumah. Dia yang menolong saat aku diusir ibu, dia yang mempertemukan aku dengan Eliza.”
Roman tak sadar memeluk dan membenamkan kepala Keina di dadanya. Iba menyerang begitu hebat. Dia tidak terima keadaan memperlakukan Keina seakan tidak berharga.
“Kei, maafkan Kak Roman. Tidak menjagamu saat pemerkosaan itu terjadi. Siapa yang memperkosamu?” Roman mulai akrab dengan BISINDO yang pernah dia hafalkan.
*****
Di luar kamar Keina, ada satu hati yang menahan perih. Rasa cemburu menyeruak di dadanya. Bisik hati yang baik dan buruk silih berganti memengaruhi pikirannya. Raina tak biasa tidur seorang diri, tak biasa sejenak saja tanpa Roman. Gejolak batinnya bergemuruh. Dia pikir takkan sesakit ini.
Tenggelam dalam istighfar. Murottal dari Syekh Mishari mengalun menyejukkan rasa gersang lewat lantunan Surat Ar-Rahman. Air mata Raina mengalir menghayati tiap ayat yang dia dengarkan.
“Aku tidak boleh menyerah. Bukankah aku yang telah memilih semua ini? Pengakuan keimanan selalu butuh ujian. Ujian ini pasti menguatkan,” ada yang terasa lega dan lepas dari hatinya.
Kemudian Raina terlelap dalam tenang…
*****
Keina menggelengkan kepala. Wajahnya seketika putus asa. Mata teduh itu mengalirkan kemarahan yang tajam. Bulatan bola matanya bundar membesar. Kedua tangannya mengepal keras. Hingga diakhiri isak yang membesar, menghadirkan suara yang tak jelas, mirip erangan dan sesekali jeritan. Tubuhnya terguncang keras. Gelombang kepiluan yang teramat menyakitkan.
“Kei, berceritalah. Kita habiskan malam ini, aku mau engkau bercerita... siapa pemerkosa itu?” Roman memegang pundak Keina.
Keina tetap menggelengkan kepala. Kemudian menggunakan gerak isyarat BISINDO, “Aku malu.”
Roman tersenyum, “Jangan malu, kini aku suamimu.”
Mata Keina yang penuh air mata, sejurus memandang Roman, seakan ingin menelanjangi kejujuran Roman.
Roman mengangguk tanda meyakinkan, “Katakanlah, aku akan menjaga semua sebagai rahasia kita.”
Keina tertunduk, kemudian tangannya bergerak, mimik sedih, takut, marah, dan benci. Semua bercampur, mengaduk-aduk hati Roman. Gerakan tangan Keina mengalir seperti air, saat hatinya yakin, Roman adalah orang yang tepat memahami lukanya.
“Kak Roman, terima kasih telah memberi tempat itu. Derita ini sudah sejak lama kutanggung. Sejak aku melangkah meninggalkan tempat kita melewati masa kecil bersama. Aku pikir, mereka akan tulus menyayangiku sebagai anak,” Keina berhenti sejenak, kemudian menyeka air mata yang mengalir.
Roman menatapnya dengan penuh pilu, “Siapa yang memperkosamu?!”
Roman tak sadar mengguncangkan tubuh Keina.
Keina membeku, keberaniannya kembali hilang.
“Bicaralah, Keina. Maafkan aku…” Roman berupaya untuk tenang.
Tangan Keina perlahan bergerak, lebih lambat agar Roman bisa pelan-pelan memahami, “Ayah angkat baik, begitu pun ibu angkat. Namun, itu tak berlangsung lama. Ibu menjadi galak, saat tahu suaminya sering memelukku. Usiaku waktu itu empat belas tahun. Sekitar empat belas tahun juga, aku menanggung semua seorang diri. Hidupku penuh ancaman. Jika aku memberi isyarat pada siapa pun. Aku diancam akan dibunuh. Ayah angkatku memperkosaku. Lebih pahit lagi… anak laki-laki satu-satunya memergoki. Bukannya menolong, dia malah lebih gila memperkosa dan menyiksaku. Hidupku hancur, Kak. Terlintas ingin bunuh diri…” Keina menatap Roman lekat dengan derasnya air mata.
Roman memeluk erat wanita itu, ruang hatinya terasa perih dan sakit, “Benih siapa yang tumbuh di rahimmu saat ini?”
Keina melepaskan pelukan Roman, “Si anak sulung itu, lebih tua dua tahun dariku. Setelah tahu aku hamil. Aku dibuang. Alhamdulillah aku bertemu pemilik tempat Saqueena les menulis. Baru tiga bulan aku bekerja di sana. Kehamilanku sekarang masuk usia empat bulan. Aku bertemu Ibumu, Kak. Aku ceritakan semuanya, maafkan aku… kini aku merasa bersalah, telah masuk dalam kehidupan Kak Roman,” Keina tertunduk.
“Jangan khawatir, aku akan mengusut tuntas bajingan tersebut. Ayah dan anak tersebut harus menanggung akibatnya. Kita besarkan janin ini,” Roman mengusap perut Keina.
Azan subuh berkumandang, Roman menatap wanita yang baru beberapa menit terlelap itu. Meski dengan terpaksa harus dia bangunkan. Ada rasa perih yang mengalir di hatinya. Dia mengusap pipi Keina. Roman tetap tak menyangka jika memiliki jodoh kedua. Perut Keina sudah terlihat berbeda. Roman belum bisa memutuskan dengan lepas, hatinya tidak bisa menerima kehadiran bayi tersebut--jika tiba waktunya Keina melahirkan.
“Kei, sarapan tepat waktu ya. Jika ada keluhan ini dan itu, bicarakan dengan Saqueena. Hari ini aku akan pergi ke luar kota. Ada tugas yang harus diselesaikan, tentang seminar kepenulisan.”
Keina membuka matanya sejenak, tersenyum dan mencium tangan Roman, “Pergilah, Kak. Semoga Allah selalu menjagamu.”
*****
Semburat mentari memancar. Bercahaya seperti wajah Raina pagi ini. Dia tampil begitu cantik menyambut Roman dengan tatapan yang menyejukkan.
“Hei, ada apa denganmu hari ini?” Raina mengusap pipi suaminya.
“Rai, siap-siap hari ini ya. Kita ke luar kota, mungkin menginap di hotel.”
“Benarkah?” Raina berbinar.
“Benar dong, Sayang…” Roman mengusap kepala Raina.
“Baiklah, kita sarapan dulu ya. Biarkan Saqueena nanti sama Keina.”
Mereka berdua mempersiapkan keperluan yang akan dibawa. Raina tersenyum bahagia. Poligami tak membuat perhatian Roman berkurang sedikit pun, Raina adalah istri yang sering dibawa ke acara-acara penting, dibanding Keina yang sama sekali tidak pernah dibawa Roman.
“Mama dan Papa mau pergi ya?” Saqueena membuyarkan lamunan Raina.
“Iya, Sayang. Queen sama Bunda Keina ya. Jaga dia baik-baik, jangan sampai ada hal-hal buruk yang terjadi dengan kehamilannya ya. Mama dan Papa pergi seminggu ya, Sayang…” Raina tersenyum.
“Baiklah, Ma. Jaga kesehatan ya di sana…” Saqueena memeluk ibunya.
Keina menatap kepergian Roman dan Raina. Di lubuk hatinya terbit rasa bersalah, rasa tersisih, dan rasa tak berarti. Dia merasa sangat tak sebanding berada dan menjadi bagian keluarga bahagia tersebut. Keina perlahan mengusap perutnya--mencoba membelai dengan rasa sayang-- kemudian menikmati sarapan bersama Saqueena.
“Bunda, jangan sedih ya. Papa pergi seminggu. Ada Queen yang temani Bunda. Bunda nggak boleh keluar ya. Tulis di kertas semua yang Bunda butuhkan. Suruh Bi Inah dan Pak Komar ya,” tangan Saqueena bergerak dengan bahasa isyarat.
Keina tersenyum, menatap penuh cinta terhadap anak tirinya. Keina tak menyangka bisa dicintai sedalam itu. Dia hanya menganggukkan kepala. Saqueena pun pergi setelah mencium tangan dan memeluknya.
“Bunda, Queen berangkat sekolah dulu. Ingat ya. Jangan angkat yang berat-berat. Kalau ada apa-apa, video call ya. Pijit kontak Queen. Ok?”
Lagi-lagi hanya anggukan kepala dan sebuah senyuman tipis. Keina mengantar sampai pintu depan. Entah kenapa hari itu dia tak mau ditinggalkan siapa pun.
Tiba-tiba badannya terasa menggigil, seluruh tubuh seperti kedinginan. Keina meraba keningnya, sepertinya demam menyerang. Keina mencoba mengalihkan yang dirasakan tubuhnya--menyibukkan diri merapikan rumah. Berkali-kali Bi Inah melarang, tapi tak digubrisnya.
Keina mulai tak bisa menguasai kondisi, badannya terasa limbung. Namun, dia terus memaksakan diri untuk naik tangga agar bisa merebahkan diri di kamarnya. Baru beberapa anak tangga yang dilewati. Kepalanya terasa berat, kakinya tak mampu lagi bertumpu… kemudian Keina terjatuh. Rapuh. Seperti daun kering tanpa suara, melayang dalam keheningan. Tanpa siapa pun yang tahu, entah di mana Bi Inah, begitu pun Pak Komar. Mungkin mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Keina terjungkal dan terkapar di bawah tangga. Beruntung, gamis masih menjaga tubuhnya dengan rapi. Kakinya masih lengkap dengan kaos kaki. Namun, terlihat keluar darah segar merembes, melewati kaos kaki dan mewarnai telapak kakinya, memerah darah. Wajahnya terkulai pasrah tak sadarkan diri. Detak jarum jam terdengar kencang, menyelinap di balik sepi hati Keina.
Keina yang malang, hanya menitip segala harapan pada ruhnya yang mungkin tengah melayang, mengitari setiap detail kisah pilunya dari masa kecil sampai detik terjungkal tubuhnya.
*****
Jeritan Saqueena memekakkan telinga yang mendengarnya. Bi Inah dan Pak Komar pun panik luar biasa.
“Bundaaaa…” Saqueena meraung-raung tak rela. Dia menggapai tubuh ibu tiri yang dicintainya. Memeluk, meronta, menjerit, dan menangis. Tiada guna. Keina tetap terdiam membisu, dengan mata mengatup lembut.
“Pak Komar, telepon layanan ambulance, Bunda harus segera ditolong!” Saqueena setengah menjerit.
“Baik, Non Queen. Bapak segera panggilkan…” Pak Komar bergegas setengah panik.
“Bi Inah, siapkan baju Queen dan Bunda ya. Segera ya, Bi!”
Bi Inah hanya menganggukkan kepala, terlihat sorot mata merasa bersalah.
Selang setengah jam, tubuh Keina sudah terbaring di dalam mobil. Sirine meraung-raung, menandingi raungan Saqueena. Setibanya di rumah sakit, gadis itu seperti kehilangan arah, dia menjerit-jerit memanggil perawat.
“Suster, tolong Ibuku. Selamatkan dia, jangan biarkan dia kehabisan darah!” Saqueena menguncang-guncangkan tubuh seorang suster.
“Mbak, sabar ya. Kami pasti menangani dengan maksimal,” suster tersebut tersenyum sabar.
Tubuh Keina di bawa ke ruang IGD. Saqueena bergegas ke tempat administrasi. Dia mencoba menangani semua sendiri, agar Keina mendapat penanganan yang terbaik.
*****
Satu jam berlalu, Saqueena masih menunggu. Dia tak lagi peduli kerudung dan seragam sekolahnya penuh darah. Saqueena sadar harus salat zuhur, segera masuk toilet dan mengganti pakaian yang disediakan Bi Inah. Selepas salat, Saqueena menangis tersedu, mengadu dalam doa. Dia tak mau kehilangan Keina yang sudah terlanjur hidup dalam hatinya.
Tiba-tiba telepon selulernya berdering, “Papa.”
“Queen, tadi Pak Komar menelepon. Ada apa dengan Bunda?” terdengar nada cemas.
“Bunda jatuh dari tangga dan mengeluarkan banyak darah dari jalan lahir, Sampai sekarang belum sadarkan diri, Pa.”
“Sabar ya, Sayang. Papa dan Mama segera pulang, mungkin satu sampai dua jam lagi kami tiba di sana ya.”
“Iya, Pa. Hati-hati, Papa…” Saqueena menutup telepon. Kemudian bergegas menuju ruang IGD.
“Apa yang terjadi dengan Bunda, Suster?” Saqueena bertanya pada perawat.
“Ibu Anda mengalami keguguran dan segera harus dilakukan tindakan operasi atau kuretase.”
“Bisakah menunggu sampai Papa saya datang?”
“Tidak boleh terlalu lama, Mbak. Baiknya Mbak diskusikan dengan dokter yang menangani ya. Silakan masuk ruangan ini, Mbak.”
Saqueena mengikuti perawat tersebut.
“Silakan duduk, Mbak.”
“Dokter, apa yang terjadi dengan Bunda?”
“Ibu Anda abortus atau biasa disebut keguguran. Ada trauma fisik, jelas sekali karena ibu Anda terjatuh.”
“Janinnya bisa ditolong, Dok?”
Dokter tersebut menggelengkan kepala.
“Dokter, selamatkan dia,” Saqueena panik.
*****
Keina masih terbaring lemah, matanya mengerjap. Di hadapannya telah banyak orang, terutama orang-orang yang sangat dikasihinya. Raina menggenggam tangannya, Saqueena menatap penuh cemas, Keina tersenyum lemah. Matanya masih mengedarkan pandangan.
“Keina, mencari Roman?” Raina bertanya.
Keina menundukkan kepala.
“Sabar ya. Dia harus mengurus operasimu hari ini. Kakak dan Queen pergi dulu ya. Yakin semua akan baik-baik saja,” Raina mengusap tangan Keina.
“Aku rindu Kak Roman. Ke manakah dia? Adakah ini adalah bagian doanya? Dia terlihat tak ikhlas jika aku membesarkan janin itu. Allah telah menghentikan takdir benih yang kukandung. Mungkin esok aku harus bersiap pergi dari keluarga yang menawarkan banyak keteduhan tersebut. Aku harus siap. Aku tahu Kak Roman tak mencintaiku,” Keina mengusap bulir bening di matanya.
Luka batinnya terasa menganga perih. Sekejap lamunannya berjalan ke masa kecil. Dia hanyalah anak tunarungu yang tak memiliki orang tua. Tak ada keceriaan yang bisa membuatnya tersenyum. Hanya wajah Roman yang selalu memberikan harapan. Pun ketika tak ada orang lain yang mau bermain dengannya, karena tuli dan bisu. Roman yang selalu siap membuat senyumnya kembali hadir.
Roman yang selalu menyemangatinya bahwa tunarungu bukanlah kekurangan. Tetapi sebuah dimensi yang menjadi ruang belajar bagi Roman, dalam memahami kondisi kehidupan yang tak sama. Hanya Roman yang ratusan bahkan ribuan kali menghapus pedih di hatinya.
Saat perundungan pernah dia terima, tanpa mampu mengelak karena tak memiliki suara normal. Sering terjadi pelecehan karena fungsi pendengaran yang tak biasa. Roman selalu hadir, menuntun tangan dan menyelamatkan.
Dalam tertunduk, ada isak yang menggema dan mendorong netra agar memaksa air mata untuk membanjiri pipinya.
“Kak Roman, maafkan aku. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu… aku ingin engkaulah laki-laki pertama dan terakhir yang hadir dalam hidupku…” bisik hati Keina.
Lamunannya terhenyak saat cairan di selang infus berganti warna, dari bening menjadi merah. Jarum terasa tajam menusuk. Tak kuasa mengaduh. Keina sadar tak punya suara yang layak. Hanya istighfar dari balik jiwanya. Dia hanya sanggup memejamkan mata, menahan perih.
“Kei ...”
“Ah suara itu. Suara yang aku rindukan meskipun samar. Aku ingin memeluknya…” dalam terpejam, hatinya masih sanggup berbisik.
“Bukalah matamu,” sebuah sentuhan di pundaknya.
“Kak Roman, maafkan aku. Selalu merepotkanmu.”
Roman mengusap kening Keina dan memperbaiki rambut-rambut halus yang menyembul dari balik kerudung, “Kamu siap melewati proses kuretase ya. Aku akan menemanimu sampai selesai dan kita pulang, kembali berkumpul bersama.”
Ada yang berdesir aneh di hati Keina, “Janin itu telah tiada. Aku harus sadar dan segera pergi dari kehidupan Kak Roman.”
Seakan mengerti bisik hati Keina. Roman berbisik, “Aku menyayangimu, Keina. Jangan takut, aku akan mempertahankanmu.”
*****

Other Stories
Rembulan Di Mata Syua

Syua mulai betah di pesantren, tapi kebahagiaannya terusik saat seorang wanita mengungkapk ...

Ablasa

Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...

Diary Superhero

lanjutan cerita kisah cinta superhero. dari sudut pandang Sefia. superhero berkekuatan tel ...

Perpustakaan Berdarah

Sita terbayang ketika Papa marah padanya karena memutuskan masuk Fakultas Desain Komunikas ...

Percobaan

percobaan ...

Pra Wedding Escape

Nastiti yakin menikah dengan Bram karena pekerjaan, finansial, dan restu keluarga sudah me ...

Download Titik & Koma