Rapuh
Tibalah hari kepulangan Keina, setelah melewati operasi dan opname selama seminggu. Raina mulai merasakan ada yang berubah di hatinya. Keinginan untuk berbagi tempat itu mulai terasa menyakiti dan mengoyak ketulusan. Keindahan yang pernah dia tawarkan kepada Keina, kini berubah warna, banyak warna kelabu yang menghiasi.
Suasana rumah masih seperti biasa, berhiaskan wajah Roman yang bijaksana dengan kelembutan kata-katanya, menyuguhkan kecantikan Raina dan segala kemanjaannya. Pantas saja dia awet muda, karena Raina adalah tipe istri yang sangat romantis. Saqueena pun tak kalah istimewa, remaja yang cerdas namun memiliki empati tinggi. Namun, ada yang tertatih membungkus perih, Keina semakin menyadari bahwa dia harus pergi.
“Roman, apakah kau akan terus mempertahankan Keina? Janin tersebut sudah tak ada kan…” Raina membuka percakapan.
Roman kaget, seakan disambar petir, “Apa? Bukankah akad yang kulakukan itu sah, sehingga tak ada alasan untukku melepaskannya, Rai?” Roman terbelalak.
Entah apa yang terjadi dengan Raina, “Kau sudah mulai jatuh cinta padanya?”
“Ini bukan masalah jatuh cinta atau tidak, Rai. Ini kewenanganku sebagai suami. Dia istriku juga. Aku bersaksi karena Allah, aku harus menjaganya. Bukankah kita akan selalu bersama menerimanya? Bukankah ini keinginanmu juga?”
“Aku minta lepaskan dia, Roman!”
“Jaga ucapanmu, Sayang.”
“Tak ada yang perlu kujaga. Dia tak mendengarku.”
“Ada Saqueena, Pak Komar, dan Bi Inah.”
“Aku mulai jengah melihat kedekatan kalian.”
“Lantas waktu itu, apa niatmu atas semua ini?”
“Mau menolong saja agar janin itu ada bapaknya.”
“Tidak bisa, Rai. Jika pun janin itu lahir, dia tetap bernasab pada ibunya.”
“Setidaknya dengan keluasan hatiku. Keina tidak menanggung malu.”
“Kenyataannya janin itu Allah ambil kembali.”
“Berarti pernikahan itu pun harus diakhiri.”
Roman tertegun. Kemudian mereka saling membisu. Roman meredam agar emosi Raina tidak meledak. Dia memeluk erat istrinya dan meminta untuk memutuskan saat hati keduanya tenang.
*****
Saqueena mengantar makan malam ke kamar Keina. Dia melihat pintu kamar terbuka. Keina tengah mengemas baju ke dalam tas.
“Bunda, mau ke mana?” Saqueena menyimpan makanan di meja dan menepuk pundak Keina.
“Queen, Bunda harus pergi.”
“Pergi ke mana, Bunda? Jangan pergi,” Saqueena memeluk erat.
“Bunda harus pergi jauh, agar kebahagiaan Mama dan Papa tidak terusik. Sabar ya, Sayang. Nanti kita bertemu lagi di kesempatan yang lain,” Keina mengusap kepala Saqueena dengan sepenuh hati.
“Tidak, Bunda. Bunda tidak boleh pergi…” Saquenna mengambil tas yang sudah berisi baju. Dia bergegas menuju kamar Raina.
“Mama, Papa …”
“Ada apa Queen?” Roman keluar dari kamar.
“Bunda mau pergi. Ini baju-bajunya.”
“Sudah, jangan menangis ya. Biar Papa yang menemui Bunda,” Roman menenangkan anaknya.
“Jangan, biar aku saja…” Raina muncul dari dalam kamar.
“Aku suaminya, Rai…” Roman memberi ketegasan.
“Aku akan mengusirnya.”
“Rai, ada apa denganmu?”
“Aku tahu kau mulai mencintainya, Roman.”
“Lantas, apakah poligami tidak boleh ada cinta dan rasa sayang?” suara Roman meninggi.
“Mama, tolong pahami. Queen paham perasaan Mama. Tapi Bunda lebih butuh perhatian saat ini. Rahimnya masih sangat sakit,” rengek Saqueena.
“Tahu apa kau, Queen?!” mata Raina terbelalak seakan mengisyaratkan kemarahan.
Sedangkan Roman berlalu menuju kamar Keina. Apa pun yang akan terjadi, dia harus menjadi suami yang adil dalam bertindak dan menenangkan kedua istrinya.
*****
Secarik kertas tergeletak di anak tangga. Sepertinya terjatuh dari tasnya Keina saat dibawa oleh Saqueena.
Duniaku sunyi, ibarat sebuah rumah kosong yang tak berpenghuni. Allah memberiku kecerdasan yang istimewa, aku bisa menulis dengan hatiku. Aku tidak sekolah di SLB tapi di sekolah umum. Butuh perjuangan keras, namun itulah yang membuatku bisa berbahasa tulisan. Aku tak suka alat dengar, meski sesekali kubutuhkan. Aku memilikinya dari orang tua angkatku. Itu yang menemaniku mengajar menulis.
Duniaku terasa sangat sunyi. Apakah ada yang menyesalkan kehadiranku? Dulu, aku sempat bertanya di mana ayah dan ibuku? Apakah kehadiranku pernah diharapkan? Dulu, sewaktu aku kecil dan mulai sadar tentang pendengaranku yang selalu sunyi. Aku selalu terbangun kaget. Tapi tak ada yang bisa kutemui, sekali pun hanya sekadar seseorang yang bisa memelukku dan menenangkan, agar aku bisa menerima sunyi.
Hanya pelukan Bu Emi yang selalu menghangatkanku. Seperti itukah ibuku? Aku hampir gila mencari sebuah jawaban, dari rahim siapakah aku terlahir? Mungkinkah aku terlahir dari seorang wanita tunarungu yang diperkosa juga?
-Dunia Sunyi-
Hati Roman bergetar, ingin rasanya menangis merasakan kepiluan Keina. Dia bergegas membuka pintu kamar.
“Keina…” Roman mengisyaratkan bahasa lewat gerakan yang membuat Keina tersungkur dalam tangis, “Jangan pergi, jangan tinggalkan aku. Di sinilah tempatmu. Aku yang akan menjagamu.”
Keina menghambur dalam pelukan Roman, dia tenggelamkan segala penat di ruang dadanya. Seakan kemarau yang panjang terguyur hujan lebat dalam sehari, Keina tumpahkan segala beban yang mengganjal di batinnya.
Raina yang diam-diam mengikuti Roman… menatap mereka dan berkata, “Baiklah, jika kalian masih ingin bersama. Bawa wanitamu ini keluar dari rumahku, Roman!”
Roman kaget. Keina hanya memandang seakan tak mengerti, karena Raina tak menggunakan bahasa isyarat sama sekali.
“Jangan gunakan bahasa isyarat, agar hanya aku dan kau yang mengerti,” Raina menegaskan kepada Roman.
“Baik, aku akan membawa dan menempatkan Keina jauh darimu. Aku tak berjanji untuk menceraikannya.”
Raina menelan ludah. Dia berupaya menerima keputusan suaminya hari itu. Roman memapah Keina, menyiapkan semua barang-barang yang dimiliki Keina, membawanya ke dalam mobil.
“Papa, Bunda mau di bawa ke mana?” Saqueena khawatir.
“Mama sudah tidak mau menerima Bunda. Papa harus mencari tempat aman. Jaga Mama di rumah ya. Papa secepatnya pulang jika Bunda sudah mendapatkan tempat sementara. Jika pun tak ada, Papa akan membawanya ke rumah Eyang Emi.”
Saqueena memeluk erat ibu tirinya, dia tak mau berpisah. Namun, tak ada pilihan lain. Hanya bisa memasrahkan semua kepada ayahnya.
*****
Raina hanya memandang kosong, menatap kepergian Roman dan Keina. Dia hanya bisa menggigit bibir, ada perasaan menyesal. Tapi tidak mau peduli, rasa sayangnya kepada Keina tengah melewati fase terberat. Ada benci yang begitu hebat.
“Ketiadaan dan kekurangannya perlahan telah merampas hati Roman. Meskipun tuli, dia jago memasak. Meskipun bisu dia pandai menulis. Aku sangat iri dan cemburu. Dulu, aku pikir Roman bohong tentang cinta yang bisa berpindah ketika jiwa terbuai kenyamanan. Aku pikir hati Roman akan semakin terbeli, ketika aku menjodohkannya dengan adik asuhnya tersebut. Nyatanya, aku salah… aku telah membawa Roman pada ruang indah yang tidak ditemukannya dariku,” Raina menghela napas panjang. Tak bisa disangkal, kesombongannya telah menjadi perangkap.
*****
Mobil melaju pelan menembus deras hujan, dan jalanan sedikit banjir. Di beberapa kawasan terlihat ada pohon tumbang. Hujan hari itu sungguh sangat lebat. Roman memutuskan untuk membawa Keina ke rumah ibunya. Dia sangat menyesalkan perlakuan Raina.
“Kak Roman, aku tahu Kak Raina tak lagi menyayangiku. Mengapa Kakak bertahan membawaku?”
“Kei mendengar semua ucapan Raina?”
Keina menganggukkan kepala, “Aku pakai ini,” Keina menyembulkan alat bantu dengar dari balik kerudungnya.
“Jadi selama ini?” Roman mematikan mobilnya dan memarkir di sebuah pelataran kafe.
“Jika aku berbicara dengan orang yang membuatku nyaman. Aku cenderung menyukai bahasa isyarat saja, agar semua terasa alami. Namun, untuk menjangkau hal-hal yang tidak aku mengerti. Aku pergunakan alat ini, Kak.”
Roman merasa terjebak dalam situasi yang membuatnya terhempas dalam bimbang.
“Kak, ceraikan saja aku.”
“Tidak.”
“Mengapa?”
“Aku menyayangimu, Kei…” Roman menatap lekat mata Keina. Ada binar yang begitu berpendar di mata indah itu.
“Masya Allah,” Keina tertunduk.
“Jangan banyak pikiran. Kamu harus sembuh. Menginap beberapa hari di rumah Ibu. Aku akan mencari rumah yang nyaman untukmu.”
Mobil pun melaju kembali, tak ada lagi obrolan dalam bahasa isyarat… yang tersisa hanya gemuruh bahasa kalbu. Episode baru yang akan mereka hadapi, perjuangan tentang cinta yang mulai bersemi.
*****
Roman menepati janjinya, pulang ke rumah tepat waktu sesuai dengan yang dia katakan, berupaya mempertanggungjawabkan kondisi yang tak pernah dia pilih.
“Roman, sudah makan?” Raina memeluk dengan hangat.
“Sudah, Sayang.”
“Maafkan aku, aku tak akan lagi menyuruhmu menceraikan Keina tapi aku tak mau dekat dengannya.”
“Aku akan mencarikannya tempat yang aman. Memang seharusnya tak terlalu sering bertemu. Sekarang aku harus membagi waktu untuknya. Dia mengiyakan saat aku ingin memberinya hanya dua hari dalam seminggu. Bagaimana menurutmu?”
Raina terlihat senang karena dia mendapatkan jatah waktu lebih banyak. Raina memang selalu merasa berhak memiliki kecemburuan lebih banyak dibanding Keina. Jauh di lubuk hati Roman, tak menginginkan kondisi seperti itu.
Upaya demi upaya Roman lakukan, agar kewajibannya terpenuhi dengan proporsional dan benar sesuai aturan. Namun, tetap saja dia memosisikan Raina lebih dari Keina. Rasa kasihan di hati Roman untuk Keina semakin subur, kesabaran Keina sanggup mengundang segala kasih sayang Roman.
*****
Suatu ketika dalam kesendirian di rumah kontrakan, lima bulan telah berlalu dari momen kuretasenya, Keina terserang demam--yang membuatnya terkapar setelah muntah-muntah. Keina berupaya menangani sendiri, tanpa mengabari kepada Roman.
“Ini adalah konsekuensi hidup yang harus aku jalani. Aku telah memilih berada di samping Kak Roman sebagai istri kedua, aku harus siap dengan segala risiko kehidupan,” Keina menguatkan diri dengan doa dan istighfar.
Keina melewati hening malam seorang diri, mengambil kembali buku hariannya. Keina berbicara pada media sunyi. Kertas yang tak pernah memberi batas, seberapa pun kata yang ingin dia ulas.
*****
Roman terbiasa membuka-buka buku harian Keina, untuk mencari tahu apa yang Keina tuliskan saat dirinya tak ada. Nyaris terpekik, saat membaca sebuah halaman, kertas berwarna merah jambu, bermotifkan lambang hati--di dalamnya tersimpan rapi sebuah amplop kecil. Roman membaca semua tulisan dengan teliti. Ada semburat cahaya yang tak biasa dari sinar matanya, dia membuka amplop kecil tersebut. Ternyata sebuah alat tes kehamilan, ada dua garis merah begitu jelas.
Hari ini, aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku. Muntah-muntah seperti saat rahimku berisi janin. Apakah mungkin benih itu telah tumbuh kembali? Mungkinkah Allah menghendaki dan meridhai karena benih itu tercipta halal dan karena cinta?
Jika saja benar, aku hamil. Betapa bahagianya aku. Betapa bersyukurnya aku. Aku mendamba bisa membesarkannya dengan sepenuh jiwa. Tak peduli hidupku jatuh dan tersungkur. Aku ingin mempersembahkan pada Kak Roman, sesederhana apa pun cintaku. Tak mengapa tak sering ditemui, tak mengapa banyak keterbatasan atas hakku. Namun, sesungguhnya cintaku tak terbatas, bisa menembus ruang dan waktu, melewati doa dan harap.
-Dunia Sunyi-
Roman membaca halaman berikutnya…
Kak Roman, terima kasih telah hadir untuk hidupku. Aku bahagia mengandung anakmu. Aku positif hamil. Semoga bisa segera periksa ke dokter ya.
-Riuh Bahagia dalam Duniaku yang Sunyi-
*****
Roman setengah berlari mencari Keina ke dapur dan kamar mandi. Ternyata wanita itu ada di halaman belakang, tengah asyik menyiram bunga. Roman memegang pundak Keina dan memberikan isyarat agar alat bantu dengarnya dipakai.
Keina tersenyum bercahaya dan menganggukkan kepala tanda setuju.
“Aku lagi enggan menggunakan bahasa isyarat denganmu. Aku bahagia kamu hamil, Kei…” Roman tersenyum dan memeluk.
Keina hanya terdiam, membiarkan suaminya mengekspresikan rasa rindu dan bahagia.
“Kak Roman, sudah makan?” suara agak berat, terdengar kelu. Namun, cukup bisa dimengerti.
Roman menggelengkan kepala, “Aku tidak mau makan. Aku ingin dekat saja denganmu. Itu sangat cukup untukku, Kei.”
Keina tersenyum, “Kak Roman jangan banyak pikiran, aku harap Kak Raina bisa menerima kehamilanku ini. Jika pun tidak, aku akan tetap berbesar hati…” Keina memberikan isyarat, jika dia telah cukup tegar.
Roman terdiam, tak ada keinginan untuk bicara. Roman hanya ingin menatap wajah wanita yang tengah mengandung benih cintanya tersebut. Roman butuh tempat berteduh dari segala rapuh yang membelenggu langkahnya.
*****
Other Stories
Kucing Emas
Kara Swandara, siswi cerdas, mendadak terjebak di panggung istana Kerajaan Kucing, terikat ...
Seribu Wajah Venus
Kisah-kisah kehidupan manusia yang kuat, mandiri, dan tegar dalam menghadapi persoalan hid ...
Metafora Diri
Cerita ini berkisah tentang seorang wanita yang mengalami metafora sejenak ia masih kanak- ...
Rembulan Di Mata Syua
Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek s ...
Konselor
Musonif, 45 tahun, seorang pemilik kios tindik, hidup dalam penantian hampa dan duka yang ...
Tersesat
Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...