Cermin
Raina menatap Roman setelah memintanya untuk menonaktifkan semua telepon seluler yang ada.
“Aku ingin menikmati hari perenungan hanya berdua denganmu saja di sini. Semua tanggung jawab sudah diberikan pada asisten, kan?” Raina tersenyum ke arah Roman.
“Sudah, anak-anak pun sudah paham kondisimu. Rumah dijaga Pak Komar dan Bi Inah. Keina pun mempersilakan, dia hanya memberikan tulisan ini,” Roman mengeluarkan secarik kertas.
Raina terlihat bernapas lega, “Syukurlah semua mengerti posisiku. Aku mohon jangan aktifkan telepon seluler selama tiga hari saja ya,” Raina memeluk tangan Roman.
Roman tersenyum dan menganggukkan kepala, “Jauh di lubuk hatiku. Aku khawatir dengan kondisi Keina. Mengapa tiba-tiba hatiku perih?”
Raina seakan tengah menemukan dirinya. Dia perlahan membaca tulisan Keina. Ada rasa berbeda yang mampu melumpuhkan dinding egonya.
“Kapan kau mau pulang, Rai?” Roman memperbaiki duduknya.
“Aku belum mau pulang sampai aku tenang. Aku merasa ada pelajaran penting dari keadaan kita tempo hari. Aku merasa menemukan cermin. Aku telah berbuat ketidakadilan untuk Keina, Didan dan Saqueena,” Raina menatap wajah Roman.
“Alhamdulillah,” Roman berbisik.
“Mereka tak pernah membuangku, mereka tak pernah melakukan hal buruk seperti dugaanku. Aku yang terlalu kejam dengan rasa cemburuku yang seharusnya sudah kedaluwarsa. Mungkin kau bosan dengan ucapan-ucapanku ini. Delapan bulan aku terombang-ambing dengan kecurigaan yang tak menentu. Hari ini aku merasa terobati dengan memikirkan mereka selama sebelas tahun,” tak ada air mata di mata Raina, tapi semua ucapannya mengalir sebagai tanda rasa bersalahnya selama ini.
“Aku bersyukur, kita semua bisa merajut lagi kebahagiaan dan kebersamaan. Kau siap pulang hari ini?” Roman berhati-hati bertanya.
“Tidak, aku ingin tinggal tiga hari lagi di sini, menikmati kebersamaan denganmu tanpa diganggu apa pun termasuk bunyi telepon seluler,” Raina tersenyum.
Roman tak lagi bisa memaksa. Hanya senyum kecil sebagai sebuah jawaban.
*****
Tiga hari berlalu tanpa kepastian. Sang bayi dari rahim Keina selamat. Bisa mengobati keresahan hati Didan dan Saqueena, namun Keina masih koma dan tidak ada tanda membaik selama tiga hari berlalu. Tak ada jejak Roman dalam keresahan mereka. Tak ada kehangatan pelukan Raina, hal yang meleburkan segala pahit yang tersirat. Tiga hari berduka dalam penantian kesadaran Keina dari koma.
“Dok, bagaimana kondisi Ibu saya?” Saqueena bertanya pada dokter yang menangani kasus sakitnya Keina.
“Insya Allah, segera membaik. Sebenarnya ada tanda-tanda keracunan kehamilan awalnya. Namun, sepertinya Ibu Anda tidak memeriksakan dengan teliti kepada dokter kandungan,” dokter menjelaskan.
“Ibu saya tidak bisa berbicara dengan normal, Dok. Dia tunarungu, kemungkinan rasa sakit itu ada, dia menahannya,” Saqueena tertunduk.
“Kondisi jatuhnya telentang ya. Tidak terlalu berbahaya sebenarnya, namun yang membuat heran, dia koma dalam tiga hari ini, semoga ada keajaiban ya. Bantu doa saja.”
Saqueena merasa bertemu dengan kebuntuan, dia tak tega melihat adiknya. Dia pun marah kepada kedua orang tuanya. Tak pernah membenarkan kondisi ketidakadilan seperti itu. Dia pun tak memaksa untuk menghubungi penjaga vila. Tak ada keinginan sedikit pun mengganggu.
Betapa sayangnya Saqueena terhadap Raina, ibarat melihat sebuah cermin yang begitu jernih. Banyak sisi teladan yang bisa ditiru dari Raina, namun banyak juga gerak laku yang membuat hati Saqueena terasa pecah. Bagi Saqueena, mengapa Raina sanggup menerima keberadaan Keina, jika tak berani menanggung risiko yang ada?
“Bunda tak pernah meminta banyak, dia hanya mengambil haknya untuk berteduh dari gersangnya kehidupan. Bukan aku membela karena dia tunarungu, tetapi tak banyak wanita istimewa sepertinya. Dia tak berharap terlalu banyak perhatian dari laki-laki yang dicintai. Bahagia baginya tak melanggar syariat. Menjadi istana kedua terasa menyakitkan. Namun, sayang sekali… ketika manusia selalu mengambil tinjauan hanya dari satu sudut pandang standar. Selalu menganggap istana kedua itu merusak dan menghanguskan. Tidak pernah menyadari jika banyak istana yang pertama tak mau berbagi hak, perlindungan, dan kebaikan…” ada tatapan marah yang tak bisa dibantah.
“Sorot matamu seperti marah?” Tino datang, membuyarkan lamunan.
“Aku marah sama Mama dan Papa,” mata Saqueena berembun.
“Mengapa tidak kau coba hubungi penjaga vila?”
“Malas rasanya.”
“Khawatir ada keadaan penting. Kita tak bisa menangani tanpa mereka.”
Saqueena merasa setuju dengan nasihat suaminya, “Baiklah, aku akan telepon penjaga vila.”
Saqueena berupaya menelepon berkali-kali. Masih tak diangkat. Hingga di panggilan kelima. Telepon berbalas.
“Mang Edi, ini Queen. Mau titip pesan penting untuk Papa dan Mama.”
“Oh iya, Non. Kebetulan Bapak lagi dekat Mamang sekarang. Mamang berikan ya teleponnya.”
“Iya, Mang. Terima kasih…” Saqueena menunggu.
“Halo, Queen…” suara Roman akrab di telinga Saqueena.
“Papa segera pulang. Bunda sudah masuk RS selama tiga hari, selama itu tak sadarkan diri. Bayinya lahir dengan selamat.”
Telepon ditutup oleh Saqueena tanpa menunggu Roman menjawab ataupun pamit.
Panas hari itu sangat terik, Didan melangkah gontai. Bolak-balik, berharap ibunya segera sadar.
“Dek, ibunya sudah sadar…” seorang perawat memberi kabar baik.
“Alhamdulillah, boleh saya masuk, Suster?”
“Boleh, silakan Dek.”
Didan bergegas menuju ruangan khusus yang menangani ibunya. Sudah ada Saqueena memeluk Keina dengan erat dan penuh tangisan.
Didan melangkah, mendekati ibunya. Dia tak sanggup menatap sorot mata wanita yang teramat disayanginya tersebut.
“Bunda, Didan rindu…” Didan berusaha membungkus pilu.
Mata Keina mengerjap dan menatap penuh kasih pada buah hatinya. Tak ada bahasa isyarat, hanya senyuman yang sarat makna.
Seorang perawat masuk membawa bayi dan menyimpannya di samping Keina. Saqueena kaget, “Sudah boleh mereka saling bertemu, Suster?”
Suster tersenyum dan menganggukkan kepala, “Bu Keina memintanya pada kami, tak bisa ditunda.”
Keina memeluk bayinya dengan bahagia. Mulai menyusuinya. Tak ada isyarat pilu dan air mata. Hening. Tatapan yang begitu bermakna telah Keina berikan untuk orang-orang yang menyayanginya. Termasuk bayi perempuan mungil yang dia lahirkan. Keina menjelaskan dengan gerakan, “Bunda bahagia… adik kalian selamat, padahal Bunda tak sengaja telah menjatuhkannya dengan keras. Alhamdulillah kita bisa berkumpul lagi bersama. Jangan khawatir, Bunda pasti sembuh.”
*****
Roman bergerak cepat. Membuat Raina sedikit panik.
“Roman ada apa?”
“Keina masuk rumah sakit.”
“Kenapa?”
“Supaya kau tahu jawabannya. Segeralah berkemas.”
“Kau marah padaku karena tak membuat dirimu berlaku adil?”
“Ah sudahlah. Jangan dulu bicara masalah perasaan. Ini masalah tanggung jawab.”
Raina berkemas, Roman pun bergegas. Khawatir yang Roman rasakan cukup mengguncang perasaan. Tetapi, dia masih memilih untuk meredam rasa kesal. Berupaya untuk tak menyalahkan Raina.
*****
Raina tertunduk, berulang kali dia merasa memegang sebuah cermin, berharap tak melakukan hal jelek yang terlihat di cermin tersebut. Namun, tak bisa dihindari… kesalahan terus terulang, meski tak sering tapi membuat kondisi cukup berat.
“Roman, maafkan aku…” Raina memegang lengan Roman yang sedang memegang stir.
“Sudahlah, Rai. Tak ada yang perlu dimaafkan. Cinta kita memang terasa rumit.”
Raina kembali tertunduk. Mobil melaju kencang, menembus kemacetan ibu kota. Dua jam terasa sebentar. Hari menuju senja, keduanya baru sampai di halaman rumah sakit. Roman segera memarkirkan mobilnya.
“Ayo kita segera masuk rumah sakit. Keina ada di ruangan Delima,” Roman memegang tangan Raina.
Raina tak menjawab, namun tak menolak ajakan Roman.
*****
Mata Keina semakin sendu. Dia mengedarkan senyum ke arah Tino, Saqueena, Didan, Pak Komar, dan Bi Inah. Tangan dan mulutnya bergerak saling mendukung, ada isyarat penting yang tengah dia perlihatkan.
“Mulutnya membuka membentuk kata, “I love you all,” tangannya membentuk lambang hati seperti gaya remaja di televisi.
Semua tertunduk merasakan hangatnya air mata. Keina mengusap bayi cantik tersebut, sambil mulutnya tetap mengisyaratkan kata di balik lemah yang masih tersisa.
“Queen, Bunda titip Didan dan gadis kecil ini,“ mata indah wanita tunarungu itu mengarah kepada Saqueena yang tak kuasa membendung basah di kedua mata.
Sejurus mata Keina mengarah kepada Tino, gerak tangan dan mulutnya begitu harmonis, “Tino, jangan sia-siakan Saqueena.”
Berpindah pada Bi Inah, “Aku ingin memeluk Bibi.”
Bi Inah menghampiri tak bisa mengubah isak. Dipeluknya Keina dengan kasih.
“Bibi sayang Bu Keina, sembuh ya, Bu… “ Bi Inah pun tersedu.
Ada suasana yang terasa lain di ruangan tersebut. Bahagia bercampur haru. Meskipun mereka tak mengerti tanda sendu yang tegas dari isyarat Keina.
Keina menatap Pak Komar--laki-laki tua yang setia pada suaminya. Sesaat Keina menghela napas, “Pak, terima kasih selalu setia pada Kak Roman dan keluarga. Maafkan jika saya selalu merepotkan.”
*****
Other Stories
Misteri Kursi Goyang
Rumah tua itu terasa hangat, sampai kursi goyang mewah dari tetangga itu datang. Saretha d ...
Puzzle
Ros yatim piatu sejak 14 tahun, lalu menikah di usia 22 tapi sering mendapat kekerasan hin ...
Namaku Amelia
Amelia, seorang anak kecil yang penuh rasa ingin tahu, harus menghadapi hari-hari sulit di ...
Free Mind
“Free Mind” bercerita tentang cinta yang tak bisa dimiliki di dunia nyata, hanya tersi ...
Melepasmu Untuk Sementara
Menetapkan tujuan adalah langkah pertama mencapai kesuksesanmu. Seperti halnya aku, tahu ...
Hujan Yang Tak Dirindukan
Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh no ...