Cinta Itu Masih Ada
Roman masih berputar mencari ruangan rawat Keina. Hatinya sudah resah tak menentu. Meskipun ada pendar lega karena bayi dan Keina sudah sadar. Akhirnya dia menemukan sebuah pintu.
“Ini sepertinya, Rai…” Roman perlahan membuka pintu.
Raina mengikuti dari belakang.
Semua mata yang ada dalam ruangan langsung beralih ke arah pintu.
“Papa… Mama… “ Didan menjerit bahagia, kemudian memeluk ayahnya juga Raina.
Satu per satu bersalaman. Meskipun Roman tak bisa menyembunyikan wajah kikuknya.
“Maafkan Papa ya,” Roman memecah rasa kikuknya.
“Iya, maafkan Mama juga,” Raina pun berkata.
Saqueena tersenyum, “Sudahlah Pa, Ma… hal terpenting Bunda dan bayi telah selamat. Semoga kita bisa berkumpul penuh kebahagiaan.”
Roman menghampiri Keina yang tersenyum menatapnya, “Kak Roman, maafkan aku. Jaga baik-baik bayi ini.”
Meskipun gerak tangan dan mulutnya begitu pelan, namun Roman cukup mengerti, “Iya aku akan menjaga kalian selama kau belum bisa pulang. Cepat sembuh ya,” Roman mengusap kening Keina. Keina enggan dipeluk Roman, demi menghargai perasaan Raina.
Raina menghampiri, “Sembuh ya. Kakak janji akan membawamu pulang ke rumah kita. Kita besarkan anak-anak sepenuh cinta di sisa usia yang ada. Maafkan Kakak.”
Keina tersenyum dan meraih tangan madunya, “Maafkan aku, Kak Raina. Peluk aku.”
Raina memeluk erat. Tubuh Keina terasa panas.
“Senja telah hadir, mungkin aku akan pergi. Cinta itu begitu penuh untuk kalian,” gerak mulut Keina melafalkan kalimat, “laa illaha illallah, Muhammad rasulullah…”
Mata indah itu pun tertutup. Raina merasakan tubuh yang tadi panas mulai terasa dingin. Raina panik, dan memegang urat nadi Keina. Berharap Keina hanya pingsan.
“Romaaan, tolong aku. Ada apa dengan Keina?”
Semua bergerak mendekat dan meraba. Berkali-kali Roman meraba urat nadi dan napas Keina. Tanda-tanda kehidupan itu telah menghilang. Roman terpaku memandang jasad yang tak lagi bernyawa.
“Dia sudah tiada,” tak ada lagi rasa kikuk untuk memeluk. Roman menangisi wanita itu. Istri yang telah mendampingi sebelas tahun menjadi sayap kirinya. Jiwa yang tak pernah menitipkan keluh. Hati yang tak sering membuatnya sakit. Dulu Roman hanya mengasihaninya. Namun wanita itu bangga dikasihani. Hingga lahir cinta yang tak Roman duga, menjalar, dan menguasai hatinya.
“Kak Roman, rasa kasihan itu lahir dari hati yang tanpa pamrih. Rasa yang paling tulus yang kutemui sepanjang kehidupan. Rasa kasihan tak pernah meminta balas. Meskipun aku ingin membalas kasihanmu dengan segenap cinta tulus ini. Peluklah aku karena rasa kasihan. Tak mengapa, bagiku semua tidak hina. Allah menciptakan rasa itu bergema di ruang hati manusia yang memiliki kebaikan,” bahasa halus Keina yang tak pernah menoreh luka di hati Roman, mengutip sebuah catatan penting dari buku Buya Hamka.
“Keina, aku mencintaimu selama ini. Maafkan aku yang tak cukup berani mengungkapkan dengan kata. Maafkan aku jika belum sepenuhnya menjadi suami yang adil untukmu,” isak itu jelas mengalir dari suara Roman.
Suara isak mengiringi kepergian Keina. Rasa hampa dari kehilangan mengalun begitu tegas. Wanita itu telah pergi dengan segala kepasrahan untuk kembali kepada yang memiliki jiwanya. Keina tinggalkan buah hati, bukti cinta yang kerap kali dipandang tak berharga, istana kedua yang acap kali menjadi cemooh. Kini, telah tenggelam bersama deru tangis penyesalan. Merelakan cintanya ditembus batas, namun dia telah membuktikan sebuah sejarah cinta yang akan tercatat di hati lelakinya.
*****
Raina menatap pusara dan nisan Keina, tanah merah dan lambaian daun kamboja seakan menitip lirih. Raina menatap dari kejauhan, air mata seakan tak bisa lagi tertampung. Bayi mungil tengah erat dalam dekapnya.
“Keina, Kakak menyesal. Arti cinta ini lahir di ujung waktu. Kakak yang terlalu berlebihan merasa mampu membawamu. Padahal dirimu yang terlalu hebat untuk Kakak,” bisik hati yang mengalun menerobos senja.
Senja mulai temaram, senyum Keina terus membayangi. Raina masih beruntung, dia bisa membuktikan rasa penyesalan untuk sepenuhnya menjaga Didan dan sang bayi. Raina tak mampu mengambil kembali utuh bagian tempat Keina di hati Roman. Ternyata bukan itu yang dia inginkan. Saat Keina pergi, dialah yang menjadi sosok paling terpukul.
Angin semilir meniup senja. Raina berjalan gontai, cinta itu tak pernah hilang, meskipun tersekat-sekat bagian. Cinta bagi Keina tak sama dengan Raina. Baginya cinta itu harus utuh, bagi Keina tidak begitu.
“Kak Raina, bagiku cinta itu indah ketika Allah menjadi setinggi-tinggi alasan. Sakit bisa menjadi pembangkit, luka bisa menjadi pemompa, perih bisa menjadi bagian doa yang lirih. Aku mencintai Kakak karena-Nya. Tak perlu membunuh rasa cemburu, karena keikhlasan manusia bukan berarti menghilangkan rasa naluriah. Aku sangat memahami rasa cemburu Kakak, aku tak bisa menolak. Namun, doaku selalu utuh untuk namamu.”
*****
Other Stories
Kita Pantas Kan?
Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...
I See Your Monster, I See Your Pain
Aku punya segalanya. Kekuasaan, harta, nama besar. Tapi di balik itu, ada monster yang sel ...
Setinggi Awan
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...
Keeper Of Destiny
Kim Rangga Pradipta Sutisna, anak dari ayah Korea dan ibu Sunda, tumbuh di Bandung dengan ...
Menolak Jatuh Cinta
Rasa aneh sudah sembilan bulan lenyap, ntah mengapa kini kembali menyusup di sudut hatik ...
Mentari Dalam Melody
Tara berbeda dengan Gilang, saudaranya. Jika Gilang jadi kebanggaan orang tua, Tara justru ...