Perpustakaan Berdarah

Reads
798
Votes
0
Parts
7
Vote
Report
Penulis Jean Rosa

Seorang Librarian

Hari ini adalah hari pertama Sita bekerja di perputakaan rumah sakit Dokter Everhart. Dia akhirnya memutuskan menerima bekerja sebagai seorang petugas perpustakaan, karena dirinya menyukai Ibu Bella yang cantik dan lembut. Rasa takut yang dirasakannya perlahan hilang karena melihat Ibu Bella. Walau pekerjaan sebagai seorang librarian hanya paruh waktu, tapi gaji yang ditawarkan lumayan untuk menambah biaya kuliahnya selain honor dari pekerjaannya sebagai illustrator. Ya … sambil cari-cari kerja yang lainlah … gumamnya.
Mama dan papanya menyetujui saja ketika dia ceritakan bahwa akan menjadi seorang petugas perpustakaan yang berada di dalam rumah sakit. Namun, tidak dengan Deni. Ada rasa khawatir yang dirasakan lelaki tampan itu.
“Kamu yakin? Saya sangat mengkhawatirkan kamu …. saya mencintai kamu, Sita.” Deni memegang kedua tangan perempauan cantik yang berada di depannya. Dengan pandangannya yang lebut namun tajam sampai ke hati Sita, membuat perempuan cantik itu diam tanpa dapat berkata-kata.
Entah, apakah saat ini mereka sudah memutuskan untuk menjalin hubungan atau belum. Sita merasa Deni sudah menjadi bagian dari hidupnya. Seperti siang ini, walau dengan perasaan berat, Deni mengantar perempuan yang dicintainya itu ke rumah sakit untuk bekerja di hari pertamanya.
“Kamu hanya sampai jam 5 sore, kan? Nanti aku jemput, ya.” Deni membelai rambut Sita sebelum keluar dari mobilnya. Dan meninggalkan gadis itu dengan rasa khawatir. Sita berdiri di depan gerbang rumah sakit sambil melambaikan tangannya ke arah mobil yang kian berlalu sampai tak terlihat dari pandangan.
“Selamat pagi, Mas,” sapa Sita tersenyum melihat Arga yang sudah sibuk merapikan buku-buku yang berserakan di sofa.
“Ada apa, Mas. Kok berantakan?” tanya Sita sambil membantu mengumpulkan buku-buku, kemudian diserahkan ke Arga.
“Iya, nih. Sepertinya semalam ada yang datang membaca buku di sini. Bahkan ada yang menginap dan tidur di perpustakaan,” ujar Arga sambil menunjuk beberapa selimut yang tergeletak di sofa.
“Sebenarnya, fungsi perpustakaan ini untuk apa, ya Mas? Dan lagi, rumah sakit ini terlihat seperti rumah orang Belanda, tidak seperti rumah sakit pada umumnya. Belum lagi penataan ruangannya yang tak lazim menurut saya.” Sita terus bicara sampai tak menyadari Ibu Bella sudah berada di sampingnya.
“Ini memang rumah dari orang berkewarganegaraan Belanda. Turun temurun sampai akhirnya menjadi milik Dokter Everhart. Beliau adalah kakek saya, seorang dokter yang sangat baik. Sebenarnya, tidak ada pemikiran rumah ini dijadikan rumah sakit, tapi karena banyak orang datang untuk berobat bahkan sampai menginap, akhirnya kakek memutuskan menjadikannya rumah sakit. Jadi memang penataannya tidak lazim seperti rumah sakit pada umumnya,” jelas BuBella sambil membantu Sita dan Arga membereskan buku-buku.
“Lalu, perpustakaan ini untuk apa, Ma’am?” tanya Sita dengan memanggil sebutan Ma’am kepada Bu Bella.
Dengan senyum mengembang, Bu Bella menghela napas sebelum dia bicara.
“Perputakaan ini memang sudah ada sejak dulu. Sebenarnya ruangan ini dulunya adalah ruang keluarga. Kakek suka sekali mengkoleksi buku-buku kedokteran atau semua yang berhubungan dengan kesehatan. Akhirnya, kakek menjadikan ruangan ini perpustakaan sejak rumahnya menjadi rumah sakit. Banyak keluarga pasien dan tamu datang untuk membaca buku.”
“Apa masih banyak pasien dirawat di sini, Ma’am?” Sita tidak dapat mengontrol keingintahuannya. Dia terus bertanya membuat Arga mendelikkan mata ke arahnya.
“Tidak banyak. Rata-rata pasien yang dirawat adalah keluarga saya. Jadi, tolong layani mereka dengan baik, ya.” Bu Bella menyentuh bahu Sita dan berlalu menuju lantai atas.
“Sudah, sekarang kamu tolong ke lantai atas dan memberikan buku-buku ini ke pasien yang dirawat,” ucap Arga sambil menyodorkan kardus berisi buku-buku.
Sita menurut, walau masih banyak pertanyaan yang ingin diajukannya kepada Bu Bella maupun Arga.Ternyata pasien di sini selalu diberi fasilitas bacaan setiap harinya. Unik tapi luar biasa. Ucap Sita dalam hati.
Sita menuju ke sebuah lorong yang di sisi temboknya bertuliskan kamar pasien.Terdapat 10 ruangan bertuliskan VIP di masing-masing pintu kamar dari VIP01 – VIP10.
Sita mulai memasuki kamar pasien satu persatu. Dilihatnya fasilitas kamar itu lengkap. Masing-masing ruangan hanya berisi 1 pasien.1 Sofa panjang, bisa dipakai untuk keluarga yang menginap, ditambah dengan lemari pendingin untuk menyimpan makanan. Kamar mandi yang bersih dengan aroma jeruk segar dari karbol, menyeruak dari dalam kamar mandi.Tidak ada TV? Batinnya.
Sita senang karena para pasien menyambut kedatangannya dengan ramah. Memang kebanyakan dari pasien-pasien itu adalah orang Belanda yang sudah tua. Mungkin usia mereka diatas 70 tahun. Mereka masih senang membaca buku. Dan kebanyakan dari mereka bisa berbahasa Indonesia. Sita melihat satu ruangan diujung lorong Ruang Perawat, ruangan itu begitu sepi. Seperti tidak ada perawat yang berjaga.
Kakinya pun melangkah menuju sisi kanan pintu masuk. Pandangannya memerhatikan ruangan yang cukup besar namun terasa kosong. Ada 3 ruangan terkunci yang salah satunya terpampang tulisan Ruang Dokter.
Hmmm … lantas 2 ruangan itu, untuk apa? Mungkin dulunya ini kamar Dokter Everhart dan keluarganya. Gumam Sita.
Suasana ruangan yang terasa kosong itu membuat bulu kuduk Sita berdiri. Dia merasa ada sepasang mata yang memerhatikannya entah dari mana. Segera dia meninggalkan ruangan itu dan menuju ke perpustakaan bawah tanah.
Tugas memberikan buku kepada pasien selesai dilakukan. Sita senang dengan pekerjaannya. Apa yang ditakutkannya ternyata tidak terbukti.
***
Siapa perempuan itu? Kemana Arga?
Sita mencari sosok Arga, namun seorang perempuan cantik berwajah judes sedang membereskan buku yang berada di rak lemari bagian atas. Dia menggunakan tangga terbuat dari stainless dengan roda di bagian bawahnya sehingga bisa digeser. Perempuan itu pun duduk di atas tangga.
“Heh, kamu! Iya, kamu …,” teriak perempuan itu dari atas tangga.
“Iya, Mbak.”
“Ambilkan buku yang ada di rak paling bawah, yang pinggirannya ada kode berwarna kuning. Cepat!” Pinta perempuan itu ketus.
“Baik, Mbak.”
Sita, menaikiki tangga dengan hati-hati dan menjulurkan tangannya memberikan beberapa buku yang diminta perempuan ketus itu.
“Cari lagi di rak paling bawah di lemari yang lain. Cepat, ya!”
Dengan perasaan kesal dan memasang muka cemberut, Sita membuka lemari mencari buku yang diminta. Dia pun kembali menaiki tangga dengan perlahan dan memberikan buku-buku itu. Sampai akhirnya senyumnya mengembang ketika melihat sosok Arga menuruni anak tangga terakhir. Sita menghampirinya.
“Itu siapa?” tanya Sita dengan memerlihatkan raut muka tidak suka.
“Namanya Tiara. Dia senior di sini sebelum saya.”
“Hmm … orangnya emang ngeselin gitu, ya?” celoteh Sita.
“Kamu akan tahu sendirilah nanti.” Arga berlalu meninggalkan Sita dan menuju ke arah Tiara untuk memberikan buku-buku yang harus di simpan di lemari atas. Sekilas pandangan mata Sita dan Tiara bertemu. Sita melihat ada tatapan tidak suka yang ditujukan padanya.
***
“BRAK!”
Beberapa buku yang telah disusun rapi oleh Tiara di lemari atas, tiba-tiba jatuh ke lantai tepat di depan Arga berdiri. Sita berlari menghampiri Arga dan menariknya menjauhi tangga.
“Kamu nggak apa-apa, Mas? Untung saja buku-buku nggak kena kepala kamu.” Sita panik, tanpa sadar dia memegang bahu Arga. Tatapan Tiara semakin menusuk ke arahnya.
“Heh! Jangan bengong. Ambil buku-buku itu!” perintah Tiara dengan suara keras.
Sementara Arga beristirahat di sofa, Sita membantu Tiara membereskan buku-buku yang terjatuh. Tatapan Tiara selalu tertujupada Arga.Hmm … sepertinya perempuan ini suka dengan Mas Arga. Gumam hati Sita.
“Sita … Arga … Tiara … kalian tidak apa-apa?” Ibu Bella tergesa-gesa menuruni anak tangga. Raut wajahnya menyiratkan kekhawatiran yang begitu dalam.
“Tidak apa, Bu. Saya baik-baik saja,” ucap Tiara yang masih bertengger di atas.
“Syukurlah, turun dulu Tiara.Kebetulan saya mendengar suara berisik ketika sedang berada di kamar mandi atas. Buku-buku ini kenapa berserakan di lantai? Jatuh?” tanya Bu Bella sambil memandang ke lantai.
“Iya, Ma’am. Tiba-tiba saja buku-buku itu berjatuhan seperti ada yang menjatuhkannya,” ujar Sita dengan wajah keheranan.
“Baiklah, mungkin saja ada buku yang terganjal dan akhirnya membuatnya terjatuh. O iya, siapa yang bertugas malam hari ini?” tanya Bu Bella sambil memandang ke arah mereka bertiga.
“Ada tugas malam, Ma’am? Kok saya tidak diberitahu sebelumnya?” Sontak saja Sita kaget. Karena dia sama sekali tidak tahu ada jam tambahan yang digilir.
“Iya Sita. Perpustakaan ini memang tidak pernah tutup sebenarnya. Kami tetap membukanya untuk siapa saja dari keluarga pasien yang mau datang dan membaca buku bahkan tidur di sini. Siapa pun yang lembur harus memberikan buku-buku dulu ke pasien dan menyiapkan beberapa buku yang diletakkan di meja perpustakaan, sebelum dia pulang. Dan semua lemari buku harus dikunci. Apa Arga tidak menjelaskan ke kamu?”
“Maaf, Bu. Saya lupa memberitahu jadwal lembur kepada Sita. Dan hari ini, Sita harus pulang pukul 7 malam, Bu,” jelas Arga.
“Apa! Saya!” Sita terkejut. Seketika hawa dingin terasa menusuk di ruang bawah tanah, padahal tidak ada yang memegang remot AC. Sita pun melihat angka yang menunjukkan suhu pada layar AC, sama sekali tidak berubah. Tubuhnya benar-benar menggigil.
“Ya sudah, karena kamu tidak tahu. Kamu akan ditemani Arga malam ini.” Bu Bella melirik Arga serta menganggukkan kepalanya. Tiara tersenyum sinis ke arah Sita yang tidak sengaja melihatnya.
Den, saya pulang pukul 7 malam.
Sita mengirim WA ke Deni.
“Hallo ….”
“Iya, Den. Sudah baca WA saya, kan?” tanya Sita menjawab telepon Deni.
“Iya. Kenapa mendadak begini?” Suara Deni terdengar sangat khawatir.
“Saya sendiri tidak kalau ada jam lembur. Tapi, saya tidak sendiri. Ada teman,” ucap Sita berusaha menenangkan Deni.
“Siapa? Laki-laki atau perempuan?”
“Laki-laki.” Sita memelankan suaranya. Sunyi sejenak, Deni tidak berkata apapun.
“Hati-hati, saya akan jemput kamu,” ucap Deni dan memutuskan sambungan teleponnya.
Pukul 5 sore Arga meminta Sita untuk memberikan lagi buku-buku kepada pasien dan mengambil buku-buku yang dia berikannya pagi tadi. Tiara tersenyum sinis sambil berlalu di hadapannya. Enak sekali perempuan itu, baru datang sudah pulang lagi. Gerutunya dalam hati.
Sita menaiki anak tangga perlahan. Jantungnya berdetak kencang, dia merasa seperti ada yang mengikutinya. Perlahan Sita menoleh ke belakang, dia melihat Arga sedang merapikan beberapa buku yang diletakkannya di atas meja samping sofa. Kembali Sita menaiki anak tangga perlahan, dia merasa ada langkah kaki di belakang tubuhnya. Bulu kuduknya berdiri, dia mempercepat langkahnya menaiki anak tangga.
Ada rasa lega ketika dia melihat 2 orang dari keluarga pasien berjalan menuju ruang bawah tanah. Sita pun menegurnya sopan.
“Mau ke perpustakaan ya Pak, Bu?”
“Iya, Nona. Kita ingin baca buku,” jawab seorang perempuan setengah baya sambil tersenyum.
Seketika rasa takut yang sejak tadi menghantuinya sirna. Dengan langkah cepat, Sita menuju ke koridor ruang VIP. Sita menyapa pasien-pasien yang menyambut dirinya dengan senyum. Seorang pasien bernama Mr. Barend, di kamar VIP09 tiba-tiba menarik tangannya dan berkata, ”Hati-hati Nona!”
Sita menarik tangannya, diletakkannya buku di atas meja di samping ranjang Mr. Barend yang memandangnya sambil tersenyum. Dia tidak mengerti kata-kata yang diucapkan lelaki tua itu. Apa maksud dari perkataan itu?
Bergegas dia meninggalkan lorong kamar pasien. Kerika langkahnya ingin menuju perpustakaan, terdengar percakapan di ruang dokter yang berada di sisi kanan pintu. Dan kebetulan ruangan itu berada paling depan setelah dinding.
Sita belum pernah bertemu dengan dokter lain selain Bu Bella. Rasa penasaran membuatnya ingin mengintip dibalik pintu yang tidak tertutup rapat. Dia terkejut, Tiara sedang bicara dengan seorang laki-laki mengenakan seragam dokter yang membelakangi dirinya. Siapakah lelaki itu? Apakah pacar Tiara dokter di sini?
Sita membalikkan tubuhnya dan berjalan cepat karena melihat Tiara berjalan menghampiri pintu. Dia begitu takut kalau-kalau Tiara tahu dirinya mengintip. Namun, pertanyaan demi pertanyaan terus berjalan di otaknya seperti running text. Setengah berlari dia menuruni anak tangga menuju perpustakaan. Dan dia mendapati perpustakaan kosong.
Saya pulang duluan ya, tolong rapikan buku-buku di sofa. Tadi ada beberapa tamu datang. Kamu boleh datang agak siang besok. Arga.
Hah! Arga meninggalkannya sendirian di perpustakaan. Hawa dingin tiba-tiba menusuk sampai ke tulang. Dengan tergesa Sita membereskan buku-buku sesuai perintah Arga dan bergegas meninggalkan perpustakaan. Dan ketika dengan setengah berlari dia menaiki anak tangga, dirasakan kembali ada langkah kaki mengikutinya dari belakang. Sita mempercepat langkahnya keluar dari rumah sakit dan menemui Deni, yang sudah menunggu di pekarangan dengan mobil hitamnya.
Deni memandang wajah Sita yang pucat, namun dia tidak berani bertanya apapun. Digenggam jemari kekasihnya. Helaan napas panjang keluar dari bibir tipis Sita. Ada rasa sejuk dirasakan olehnya. Mereka pun bertatapan sekilas. Mobil pun membawa mereka menjauh dari Rumah Sakit Dokter Everhart.
Malam ini menjadi malam panjang untuk Sita. Matanya sulit dipejamkan. Kata-kata dari lelaki tua berkewarganegaraan Belanda bernama Mr. Barend kembali terngiang di telinganya. Apa maksudnya? Hati-hati untuk apa? Kepada siapa? Terhadap apa? Dia membalikan tubuhnya, mencoba memejamkan matanya. Namun sia-sia … sampai akhirnya dia tertidur menjelang pagi.
***
“Sita berangkat dulu ya, Ma.” Gadis itu mencium pipi mamanya dan berlari kecil menghampiri Deni yang sudah menunggu di mobil di depan rumahnya.
“Bawa sarapanmu, Sita!” teriak Bu Leni. Sia-sia, suara mobil terdengar menjauh.
“Maaf, ya. Kesiangan.”
“Kenapa? Nggak bisa tidur semalam?” tanya lelaki tampan itu dengan pandangannya yang teduh.
“Nggak tahulah. Saya nggak ingin membahas apapun soal semalam.” Sita berusaha menenangkan dirinya. Sebenarnya ada ketakutan yang menjalar ke seluruh tubuh dan rasa enggan untuk kembali ke rumah sakit itu. Tapi … itu artinya dia harus siap dinikahkan dengan lelaki pilihan Papa. Dan harus kehilangan lelaki yang berada di sampingnya.
Siang harinya, dari kampus Sita langsung menuju ke rumah sakit. Kakinya melangkah mantap memasuki pekarangan rumah sakit. Hari ini suasana rumah sakit sedikit berbeda. Ada beberapa orang yang datang. Pekarangan dipenuhi dengan beberapa mobil yang terparkir rapi.
Terdengar beberapa orang berbincang di ruang bawah tanah. Beberapa tamu di ruang perpustakaan. Ada yang sedang membaca, berbincang bahkan ada juga yang tertidur dengan posisi duduk. Lumayan ramai. Tidak lagi terasa angker seperti yang dialaminya semalam.
“Siang, Mas.” Sita menyapa Arga yang sibuk melayani tamu meminta diambilkan buku.
“Bantu saya, ya. Keluarga Ibu Bella lagi kumpul, nih!”
“Oh, iya, Mas.”
Sita melihat Bu Bella di tengah-tengah kerumunan orang berkulit putih yang tengah berdiri mengelilinginya. Ada raut bahagia di wajahnya, begitu cantik. Mungkin usia dokter cantik itu tidak jauh beda dengan usia Mama. Tapi, perempuan itu begitu pandai merawat dirinya dan terlihat begitu muda.
“Hari ini ulang tahun Ibu Bella yang ke-54 tahun,” ujar Arga sambil memandang Bu Bella.
“Pantas saja, tadi saya lihat ada banyak mobil diparkir. Bu Bella punya suami?” tanya Sita yang membuat Arga kaget.
“Saya tidak tahu. Lebih baik kamu bantu para pelayan itu. Beri tamu-tamu itu minuman.”
Sita bingung dengan sikap Arga yang tiba-tiba berubah. Matanya menangkap sosok lelaki yang dilihatnya bersama Tiara semalam sedang menuruni tangga bersama Tiara. Ternyata lelaki itu bernama Dokter Hardian. Lelaki itu meninggalkan Tiara yang masih berada di tangga dan menghampiri BuBella. Ada keakraban yang tidak biasa, seperti ada hubungan spesial antara mereka. Dan Tiara, mematung dengan pandangan tidak suka. Sungguh pemandangan yang aneh.
Sita menghampiri Dokter Bella, menawarinya minuman dan mengucapkan selamat ulang tahun. Ibu Bella tersenyum senang membalas ucapan Sita. Aura cantiknya semakin terlihat diusianya yang sudah tidak lagi dibilang muda. Dokter Hardian terlihat mengagumi kecantikan Ibu Bella. Sita melihat seperti ada niat busuk yang terpancar dari matanya. Dokter itu tersenyum sinis.
Menjelang sore, para tamu meninggalkan rumah sakit. Ibu Bella meminta Sita menemaninya menemui pasien-pasien yang dirawat sambil membawa buku dan kue. Dengan senang hati Sita menyambut ajakan Ibu Bella. Terlihat Ibu Bella begitu perhatian dengan pasien-pasien yang dirawat di rumah sakitnya.
Pasien-pasien itu menyambut Bu Bella dengan suka cita. Bu Bella memeluk mereka dengan hangat. Ada air mata yang keluar di mata pasien-pasien itu. Mereka mengucapkan selamat ulang tahun dan terima kasih kepada Bu Bella. Mereka adalah keluarga yang masih ingin menetap di Indonesia, karena rasa cintanya kepada Dr. Everhart. Sementara keluarga mereka banyak yang sudah kembali ke negeri van Orange.
Ibu Bella mengizinkan mereka tinggal di rumah sakit. Bu Bella berjanji akan merawat mereka dengan baik. Itu janji Ibu Bella kepada kakeknya Dokter Everhart, walau sama sekali mereka tidak pernah bertemu.
Mr. Barend adalah salah satu orang yang pernah bekerja untuk Dokter Everhart. Dia tidak memiliki keluarga, rumah sakit sudah seperti rumahnya sendiri. Mr. Barend lah yang merawat Bu Bella sejak dia kecil.
Ibu Bella pun mengajak Sita menuju ruang dokter yang selama ini selalu tertutup dan tidak ada seorang pun petugas perpustakaan yang boleh masuk. Ruangan yang sangat nyaman. Di dalam ruangan itu masih terbagi lagi 4 ruangan kecil untuk masing-masing dokter sebagai ruang pribadinya. Tertera 4 nama dokter tertempel di masing-masing pintu, Dokter Belinda, Dokter Hardian,Dokter Rado dan Dokter Everhart. Sita tertegun dengan 2 nama. Dokter Rado dan Dokter Everhart. Dia memandangi ke-2 papan nama itu.
“Iya, itu ruangan Kakek. Saya ingin ruangan itu tetap ada sampai kapan pun. Ruangan itu memang lebih besar dari ruangan dokter yang lain. Dan Dokter Rado, dia mendiang suami saya.”
Ibu Bella mengusap pipinya yang basah karena buliran air mata. Ada rasa rindu yang terpancar di matanya yang bening. Pertanyaannya kepada Arga kini terjawab. Namun, ada pertanyaan lain. Apakah Bu Bella memiliki anak?
Sita mengantar Ibu Bella sampai masuk ke dalam mobil. Dia pun berjalan menuju perpustakaan untuk membantu Arga yang sendirian, karena mendadak Tiara izin harus pulang. Dan malam ini, Sita berniat menemani Arga yang bertugas malam. Baru saja kakinya menapaki anak tangga pertama untuk turun, tiba-tiba terdengar suara senandung seorang gadis kecil.
Sita menghentikan langkahnya, bulu kuduknya berdiri. Perlahan matanya mencari sumber suara, namun karena rasa takut yang kian menghantui mempercepat langkahnya menuruni anak tangga dan berharap bertemu Arga di perpustakaan. Beruntung sosok Arga masih sibuk membereskan buku-buku yang berserakan di meja dan sofa. Dan ada 2 orang yang membantunya.
“Kalau kamu mau pulang, pulanglah,”ucapnya tanpa menoleh.
“Tidak, Mas. Saya temani di sini sampai pukul 7 malam.” Sita tidak menghiraukan tatapan Arga ke arahnya. Dia pun sibuk membereskan buku-buku dan menaruhnya di lemari.
“Kenapa?” tanya Arga dengan tetap memandangnya.
“Karena kamu sudah menemani saya kemarin. Ya, walau akhirnya saya ditinggal sendirian.” Sita menunjukkan sikap tak acuh seraya menyindir Arga.
“Maaf. Kemarin saya benar-benar harus pulang. Kamu lama sekali memberikan buku-buku ke pasien.”
“Oke. Saya akan temani kamu dan tidak akan meninggalkan kamu sendirian. Apalagi dengan buku-buku yang berantakan begini. Baik kan, saya …?” ucap Sita dengan senyumnya. Mereka pun akhirnya tertawa bersama.
Suasana kembali sunyi seperti hari kemarin. Arga minta izin untuk pergi ke kamar mandi yang berada tepat di sebelah kanan atas perpustakaan
Sita pun sendiri di perpustakaan yang sepi dengan ruangan yang cukup besar dan sebuah lemari buku yang besar serta tinggi menjulang hampir mencapai langit-langit. Kembali telinganya menangkap suara gadis kecil. Kali ini gadis kecil itu merintih. Kian lama terasa kian dekat dengan dirinya. Rasa takut yang bergelayut di jantungnya membuat Sita beranjak dari ruang kerjanya berlari menuju kamar mandi.
Suara rintihan dan langkah kaki seperti mengikutinya. Sita panik, dia berteriak memanggil Arga dengan menggedor pintu kamar mandi sekeras-kerasnya. Tiba-tiba sebuah buku tercecer di lantai entah dari mana asalnya. Padahal, sejak tadi tidak ada buku di lantai itu. Arga pasti akan marah padanya jika sampai ada buku yang tercecer di sembarang tempat.
Dengan rasa takut, perlahan Sita menghampiri buku itu. Belum sampai dia meraihnya, kembali terdengar langkah kaki dan tangisan gadis kecil yang semakin mendekat ke arahnya. Sita berbalik menuju kamar mandi dan kembali menggedornya lebih keras sambil memanggil Arga.
Rasa takut semakin membelenggu dirinya. Tubuhnya terasa dingin, dengkulnya begitu lemas. Sita berteriak sejadinya dan menangis memanggil Arga. Sebuah tangan menyentuh bahunya, semakin membuat Sita menjerit. Arga memanggil namanya.
“Ini saya, Sita,” ucap Arga. Dia membiarkan gadis itu memeluknya.
“Bagaimana bisa kamu datang dari arah belakang, Mas? Bukankah kamu ada di kamar mandi? Saya mendengar suara air dari keran.” Napas Sita tersengal, dia merasa kehabisan napas.
“Saya memang ke kamar mandi, tadi. Tapi setelah itu, saya ke ruang pasien untuk mengambil buku-buku. Mungkin saya lupa mematikan kerannya.” Arga menjelaskan dengan tetap membiarkan tubuhnya dipeluk erat oleh Sita.
Sita melepaskan pelukannya. Dan tersipu memandang Arga. Dia memandangi beberapa buku yang di bawa Arga. Dia pun menunjuk sebuah buku yang tadi dilihatnya tergeletak di lantai yang kini sudah tidak ada. Sita tidak lagi bertanya. Dia hanya diam mengikuti Arga menuju perpustakaan. Dan bersiap-siap untuk pulang.
“Mau saya antar?” Arga memberhentikan sepeda motornya di samping tubuh Sita.
“Hmm … boleh kalau tidak merepotkan.”
Mereka pun memutuskan untuk mampir di sebuah restoran untuk makan malam bersama. Kebetulan malamini Deni tidak bisa menjemputnya. Dan akhirnya Sita pun menceritakan kejadian yang dialaminya.
“Mungkin hanya halusinasi kamu saja. Ya, sama deh, waktu pertama kali melihat saya. Tiba-tiba saja kamu lari.” Arga memandang Sita dengan senyum yang selama ini tidak pernah diperlihatkan. Ternyata lelaki ini cukup menarik jika tersenyum.
Sejak saat itu Arga semakin baik. Dia tidak lagi sungkan untuk tersenyum dan hal itu membuat Tiara semakin menujukkan raut wajah tidak suka kepada Sita.
Pernah suatu kali Sita memberanikan diri untuk menceritakan kejadian yang dialaminya kepada Tiara, dan dengan enteng Tiara berkata, “Makanya nggak usah macem-macem. Ada yang nggak suka sama kamu. Hati-hati ajah!”
Kata-kata Tiara mengingatkan kembali dengan kata-kata yang diucapkan Mr.Barend, ‘Hati-hati!’ Terhadap apa? Siapa? Sita hanya bisa bertanya dalam hati dengan tubuh merinding.

Other Stories
Cinta Satu Paket

Renata ingin pasangan kaya demi mengangkat derajat dirinya dan ibunya. Berbeda dari sahaba ...

Mozarela Bukan Cinderella

Moza, sejak bayi dirawat di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu oleh Bu Kezia, baru boleh diadops ...

Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Curahan Hati Seorang Kacung

Saat sekolah kita berharap nantinya setelah lulus akan dapat kerjaan yang bagus. Kerjaan ...

Tukar Pasangan

Ratna, wanita dengan hiperseksualitas ekstrem, menyadari suaminya Ardi berselingkuh dengan ...

7 Misteri Korea

Saat liputan di Korea, pemandu Dimas dan Devi terbunuh, dan mereka jadi tertuduh. Bisakah ...

Download Titik & Koma