Pengkhianatan
Dokter Hardian berjalan menuju ruangannya. Dilihatnya Bu Bella terduduk di kursi kerjanya di dalam ruang pribadi. Pintu ruangan itu terbuka, membuat Dokter Hardian dapat masuk.
“Ada apa? Kamu terlihat gusar pagi ini.”
Lelaki paruh baya itu menyeret kursi dan meletakkannya di hadapan Bu Bella sambil meraih tangan perempuan cantik itu.
“Ada hal aneh yang terjadi akhir-akhir ini. Mr. Barend meracau dengan pandangan mata yang menakutkan memandang ke langit-langit kamarnya. Dan pagi ini …”
Bu Bella terisak. Dia menjatuhkan kepalanya ke bahu lelaki yang berada di hadapannya itu. Dokter Hardian menghela napas, berusaha menenangkan Bu Bella sambil membelai lembut rambutnya.
“Kamu tahu, Har. Pagi ini ketika saya turun ke perpustakaan, Tiara tergeletak di lantai dengan buku-buku berserakan. Bahkan beberapa buku menimpa dirinya. Saya tidak tahu ada apa …”
Belum sempat Bu Bella melanjutkan kata-katanya, Dokter Hardian memegang bahunya dan mendorong tubuh perempuan itu sampai pandangan mata keduanya bertemu. Dokter Hardian bertanya dengan suara panik.
“Ada apa dengan Tiara … dimana gadis itu?” tanya Dokter Hardian seraya berdiri di hadapan Bu Bella.
“Kenapa kamu begitu panik, Har? Sebenarnya ada hubungan apa antara kamu dengan Tiara?”
“Tidak … saya tidak ada hubungan apapun dengan gadis itu. Saya hanya khawatir saja,” ucap Dokter Hardian sambil mengalihkan pandangannya ke arah pintu.
“Kamu mencintai gadis itu?” tanya Bu Bella seraya berdiri dihadapan Dokter Hardian dan memandang lekat lelaki di hadapannya itu.
“Apa-apaan kamu ini? Saya seorang dokter. Wajar, kan kalau saya khawatir. Dimana Tiara sekarang?”
Dokter Hardian pergi meninggalkan Bu Bella tanpa jawaban atas pertanyaannya yang bertanya keberadaan Tiara. Hatinya gusar, dia takut ada hal buruk yang menimpa putrinya. Langkah kakinya dipercepat menuju perpustakaan.
Bu Bella menangis melihat punggung lelaki yang mulai dicintainya itu. Dia cemburu dengan kepanikan yang ditujukan Hardian ketika mendengar Tiara tergeletak pingsan di perpustakaan.
“Arga, apakah kamu tahu dimana Tiara sekarang?” tanya Dokter Hardian.
“Oh, Pak Dokter. Maaf, saya tidak tahu, Pak,” jawab Arga segera berdiri dari jongkoknya dan menghentikan sejenak aktivitasnya mengumpulkan buku-buku yang berserakan di lantai.
“Ada apa ini? Kenapa semua buku-buku berantakan begini?”
Dokter Hardian memandang sesisi ruangan dengan hati berdebar. Dia benar-benar sangat khawatir dengan kondisi putrinya.
“Mbak Tiara ada di ruang VIP04, Dok,” ujar Sita sambil menoleh sekilas ke arah Dokter Hardian.
“Oke, terima kasih, Sita.”
Langkah kaki lelaki itu begitu tergesa menaiki anak tangga. Tiba-tiba tubuhnya jatuh dengan dagu menghantam anak tangga, darah tercecer keluar dari mulut Dokter Hardian.
“Sial!” umpat Dokter Hardian. Dia berusaha bangkit dan kembali menaiki tangga dan keluar dari perpustakaan.
Sita menoleh ke arah kolong yang berada di bawah tangga itu. Dirinya begitu penasaran. Mungkinkah gadis kecil misterius itu, telah menarik kaki Dokter Hardian sampai dia terjatuh?
“Sita …,” seru Arga.
“Eh, iya Mas.”
“Tolong cepat bereskan. Kita belum memberikan buku-buku ke pasien. Nanti Bu Bella menegur kita.”
Arga mengambil kardus dan memasukkan beberapa buku. Dia pun menyodorkan kardus berisi buku-buku itu ke arah Sita yang masih sibuk membereskan buku-buku yang tak kunjung selesai.
“Sudah … biar saya lanjutkan. Berikan buku-buku ini ke kamar pasien, ya. Hanya ada 8 pasien sekarang. 2 kamar sudah kosong. Cepat kamu berikan, ya.”
“Iya, Mas. Tapi satu ruang kosong itu sudah ditempati Tiara. Apa kamu mau ikut melihat Tiara?” tanya Sita.
“Tiara. Tadi kamu berkata Tiara dirawat di ruang VIP04? Ada apa, kamu belum cerita apapun?” tanya Arga penasaran. Karena sejak tadi dia sibuk membereskan buku sampai lupa bertanya kenapa Sita dipanggil Bu Bella tadi.
“Nanti saya ceritakan. Saya ke atas dulu, ya. Mmm … hati-hati, ya Mas.”
Arga terpukau dengan senyuman manis Sita. Dia memandangi tubuh gadis itu yang perlahan berjalan ke atas.
Sita memberikan buku-buku ke pasien yang masih berada di rumah sakit Dr. Everhart. Kadang dirinya sedih melihat orang tua yang sudah tidak lagi dipedulikan oleh keluarganya. Baginya rumah sakitnya ini sama saja dengan panti jompo. Untung Bu Bella begitu baik masih mau menampung dan merawat mereka.
Ketika Sita membuka pintu kamar VIP04, dilihatnya Dokter Hardian sedang memeluk tubuh Tiara erat. Pemandangan itu juga dilihat oleh Bu Bella yang tak sengaja tengan berjalan melewati ruangan itu. Mata wanita itu memerah, ada kemarahan dan air mata di wajahnya.
“Teganya kamu, Hardian!”
Bu Bella berteriak dengan langkah memasuki ruangan tempat Tiara berbaring dengan wajah pucatnya.
Sontak Dokter Hardian kaget mendengar suara Bu Bella. Sita berdiri mematung di tempatnya tanpa berbuat apapun.
“Diam Bella!” bentak Dokter Hardian.
“Khawatir sekali kamu padanya. Dia terlalu muda untukmu Hardian. Kurang ajar, kamu!”
“Diam!” Kembali Dokter Hardian membentak Bu Bella.
“Kali ini saya tidak akan diam. Saya curiga dengan kalian berdua. Dan sekarang semuanya terbukti. Kamu seorang pengkhianat, Hardian!”
“PLAK!”
Sebuah tamparan mendarat di pipi Bu Bella. Sita berjalan mundur memerhatikan 2 orang dokter tengah bertengkar di hadapannya. Ke-2nya sama sekali tidak peduli dengan kehadiran dirinya. Bahkan tidak peduli dengan kondisi Tiara yang masih saja tertidur di ranjangnya dengan wajah yang masih terlihat pucat.
Bu Bella menangis, dia berlari keluar ruangan. Dokter Hardian mengejarnya sambil berteriak memanggil namannya.
Perlahan Sita beranjak dari tempatnya berdiri. Dia menuju pintu yang terbuka lebar, namun suara Tiara menghentikan langkahnya. Dia pun membalikkan tubuhnya menghadap ranjang.
“Kamu … harus mati …”
Wajah pucat Tiara begitu mengerikan dengan tatapan tajam diarahkan kepadanya.
Napas Sita tertahan. Jantungnya tidak karuan melihat Tiara. Rasa takut teramat dirasakannya. Dia pun berlari keluar dari ruangan itu. Dia terus berlari, langkahnya terhenti ketika melihat ruang Mr. Barend terbuka. Lelaki itu memalingkan wajah menatap jendela yang berada di sebelah kanan ranjang. Dan tiba-tiba...
“Hati-hati, perpustakaan berdarah …”
Suara Mr. Barend begitu berat tanpa menoleh ke arahnya yang berdiri di depan ruangan dengan pintu terbuka. Sita bergidik dengan kata-kata yang diucap Tiara dan Mr. Barend. Dia menutup pintu ruangan Mr. Barend, tanpa sengaja Sita membanting pintu karena rasa takut yang membelenggu dirinya.
Segera dia kembali ke perpustakaan. Ada rasa khawatir kepada Arga yang sendirian di perpustakaan. Hatinya sedikit tenang ketika melihat lelaki itu berada di dalam ruang kerja sambil menulis di sebuah buku catatan.
“Lama sekali … ada yang tidak beres?” tanya lelaki tampan itu dengan senyumnya yang menawan.
“Tidak ada apa-apa. Hanya saja, Bu Bella menganggap Tiara ada hubungan istimewa dengan Dokter Hardian.”
Sita meletakkan kardus di bawah kolong meja kerjanya. Dia duduk termangu dan tanpa sengaja pandangannya hanya tertuju pada lelaki di sebelahnya.
“Apa Bu Bella belum tahu hubungan Tiara dan Dokter Hardian? Saya saja baru tahu setelah mendengar cerita kamu.”
Arga tersenyum. Dia senang Sita tidak sadar tengah memandangnya. Dan kesempatan itu pun diambilnya dengan membalas pandangan gadis cantik itu, sampai akhirnya Sita tersadar dan tertunduk malu. Arga selalu mengingatkannya pada kakak tercintanya. Dia selalu nyaman berada di sisi Arga, karena merasa kakaknya telah kembali menjaga dirinya.
Sita menceritakan tentang Tiara yang kini terbaring di ruang pasien. Sita juga bercerita tentang cerita dari novel yang dibacanya semalam, sampai novel itu rahib entah kemana. Jantung keduanya berdebar karena mereka bercerita di perpustakaan yang menyeramkan. Sesekali pandangan mata Arga dan Sita tertuju pada kolong tangga yang berada tepat di sisi kanan ruang kerja mereka yang berdinding kaca, sehingga mereka bisa melihat keadaan sekitar perpustakaan.
“Saya harus menemukan novel itu, Mas. Tapi bagaimana mencarinya?”
“Kamu ingin kita memeriksa semua isi lemari buku itu?”
Arga menunjuk ke arah lemari yang berjejer menempel pada dinding. Ada rasa enggan di hati keduanya.
“Selamat siang,” sapa seorang lelaki muda kira kira berusia 20 tahunan menghampiri mereka. Di sampingnya ada 5 orang lelaki muda lainnya.
“Selamat siang, Mas. Ada yang bisa kami bantu?” ucap Sita ramah.
“Saya cucu Kakek Federick di ruang VIP01. Boleh saya membaca buku di sini,bersama teman-teman saya?”
Lelaki-lelaki muda itu kuliah di Fakultas Kedokteran. Dia ingin membaca buku-buku kedokteran atas rekomendasi kakeknya yang di rawat di rumah sakit Dr. Everhart. Perasaan Sita dan Arga begitu lega. Karena jarang sekali ada tamu dengan jumlah sebanyak itu masuk ke perpustakaan. Kecuali jika ada acara tertentu.
Suasana perpustakaan begitu hening walau ada beberapa orang di dalamnya. Suasana hening itu berubah menjadi suasana mencekam tatkala salah seorang mahasiswa berteriak dan melempar sebuah buku ke lantai.
Sita berlari keluar ruang kerjanya dan melihat buku yang dilempar itu. Ada darah yang mengucur dari buku yang tergeletak di lantai. Aroma anyir merebak membuat semua mahasiswa itu panik. Mereka segera berhamburan keluar perpustakaan. Tiba-tiba lampu perpustakaan padam, menghentikan lari para mahasiswa itu. Mereka berteriak membuat suasana semakin mencekam.
Lantai perpustakaan terasa basah, seperti ada air di lantai. Apa lagi yang terjadi disini. Ucap Sita dalam hati.
Tiba-tiba saja para mahasiswa itu berjatuhan, dikarenakan lantai yang licin dengan air yang tergenang. Ada yang aneh dirasakan Sita, tatkala memegang rembesan air yang tiba-tiba datang itu. Darah … itu darah yang mengalir entah dari mana. Bulu kuduk Sita bergidik. Dia meminta Arga menyalakan senter yang ada di ponselnya.
Semua berteriak, mereka melihat darah itu merembes keluar dari lemari buku. Mengalir menyentuh kaki-kaki mereka. Bau anyir kian merebak kuat, membuat semuanya terasa mual. Seketika udara dingin membalur tubuh mereka. Para mahasisa itu bangkit sambil berteriak. Kaki-kaki mereka berusaha meraih anak-anak tangga menuju ke atas dengan tangan meraba-raba dalam gelap.
Sita menyisir pandangannya ke seluruh penjuru perpustakaan. Tidak ada sosok apapun yang dilihatnya. Hanya rembesan darah yang terus mengalir. Lampu menyala tiba-tiba. Semua mahasiswa itu lari pontang panting keluar dari perpustakaan.
Anehnya … tidak ada darah di lantai. Tidak juga keluar dari lemari buku. Bahkan semua buku kembali tertata rapi seperti sebelum para mahasiswa itu datang.
Arga menghela napas panjang. Dia duduk di atas motornya. Sebenarnya dia lelah dengan semua yang dialaminya. Namun, sebuah misi harus dia laksanakan. Janjinya pada Papa tercinta.
“Belum pulang?” tanya Sita yang menghampirinya sambil bersender di motor Arga.
“Boleh saya ajak kamu jalan-jalan sebentar?” pintanya dengan wajah penuh harap. Sita mengangguk tanda setuju. Bu Bella memulangkan kedua librarian itu lebih cepat.
Dokter cantik itu bingung dengan kejadian yang dialami cucu Mr. Federick. Para mahasiswa itu bercerita langsung padanya sebelum akhirnya mereka semua pergi dengan berlari keluar rumah sakit.
Bu Bella benar-benar merasa aneh dengan kejadian demi kejadian yang terjadi di rumah sakitnya. Tapi dia tidak bisa percaya begitu saja sampai dia melihat langsung apa yang sudah terjadi. Dan dia tersadar, kejadian-kejadian itu terjadi sejak Sita bekerja di perpustakaan rumah sakitnya. Apa ada hubungannya Sita dengan rumah sakit ini? Bu Bella mengernyitkan dahinya mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri.
Hati dokter cantik itu masih dirundung kesedihan atas pengkhianatan yang diketahuinya. Dia sama sekali tidak menyangka Hardian yang selama ini berusaha mendekati dirinya sejak kematian suaminya itu, kini selingkuh dengan seorang gadis belia. Bagaimana mungkin Tiara bisa menerima lelaki yang pantas menjadi ayahnya?
Bu Bella melangkahkan kakinya menuju kamar kerjanya. Langkahnya terhenti, matanya memandangi ruangan besar itu yang dulunya dijadikan ruang istirahat keluarganya.
Ruangan ini selalu sepi. Dia memandangi pintu salah satu kamar. Kamar itu adalah kamarnya bersama Rado, suaminya. Dia akhirnya memutuskan untuk tidak lagi menempati kamar itu dan pindah dari rumah sakit setelah Rado meninggal.
Dia benar-benar menjadikan rumah sakit ini sebagai tempat untuk menampung keluargarnya dari kakek Everhart yang membutuhkan tempat tinggal dan perawatan. Bahkan Mr. Barend lebih memilih untuk tetap tinggal di rumah sakit ini dan tinggal di kamar perawatan dari pada ikut dengannya ke rumah baru.
Tiba-tiba terdengar langkah kaki dan berhenti tepat di belakang tubuh Bu Bella, sebelum kakinya melangkah masuk ke kamar kerjanya.
Other Stories
Curahan Hati Seorang Kacung
Saat sekolah kita berharap nantinya setelah lulus akan dapat kerjaan yang bagus. Kerjaan ...
DARAH NAGA
Handoyo, harus menjaga portal yang terbuka agar mahkluk dunia fantasy tidak masuk ke bumi. ...
Melepasmu Untuk Sementara
Perjalanan meraih tujuan tidaklah mudah, penuh rintangan dan cobaan yang hampir membuat me ...
Kating Modus!
Kisah seorang pemuda yang mengikuti organisasi internal di kampusnya. Ia diberi mandat ole ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Arungi Waktu; Ombak Bergulung, Waktu Berderai—namun Jangkar Tak Pernah Ia Turunkan
Arunika pernah percaya bahwa hidup berjalan lurus, sepanjang rencana yang ia susun dengan ...