Waktu Tambahan

Reads
100
Votes
0
Parts
2
Vote
Report
waktu tambahan
Waktu Tambahan
Penulis Muhammad Aditya Suryo

Bola Peninggalan

15 Tahun sudah berlalu ….

Tony Danza adalah seorang pria tua di umur 50 tahunan, yang tinggal seorang diri di sebuah kontrakan kecil. Jauh dari kata kehidupan seorang pemain bintang sepakbola.

Tidak ada medali atau penghargaan yang dipajang di dinding tempat tinggalnya, hanya ada sebuah kalender dan jam dinding yang terus berjalan kedepan.

Sebuah kasur tanpa kerangka yang langsung menempel dengan lantai, hanya itulah kemewahan yang tersisa yang dimiliki oleh seorang Tony Danza.

Sebuah seragam sekuriti digantung di pintu lemari pakaian, lalu seorang pria keluar dari dalam kamar mandi, sehabis membersihkan dirinya. Pria itu adalah Tony Danza yang sekarang sudah tua, memiliki jenggot dan rambutnya beruban. Tubuhnya kurus, dan sangat prihatin untuk diliat.

Ini semua akibatnya, semua yang dia miliki sudah hilang, dan ini adalah akibat dari perbuatannya sendiri.

---

“ Sore pak, kopi?, yang biasa?” Ucap Rini, penjaga warung kopi di dekat lapangan kepada Tony.

Tony mengangguk.

Rini memberikan kopi hitam hangat kepada Tony, “ Mau makan juga engga sekalian pak?”

“ Engga dulu, terima kasih mbak” Ucap Tony sambil meniup kopinya yang masih mengeluarkan hawa panas.

Rini kembali ke dapur, kembali sibuk bekerja.

“ Selamat malam permisa, Timnas Indonesia akan kembali bermain di kualifikasi piala dunia 2026 malam ini melawan Arab Saudi, pertandingan ini menjadi pertama kalinya Timnas Indonesia bermain di kualifikasi piala dunia sejak tahun 2010. Pada masa itu, Timnas yang diasuh oleh Pelatih Cahyadi Suryo, pada jamannya tinggal selangkah lagi lolos masuk ke piala dunia. Namun mantap kapten timnas Tony Danza gagal mencetak pinalti yang berujung Malaysia berhasil menyerang balik pertahanan Indonesia dan akhirnya mencetak gawang Rocky Aribima hingga akhirnya Indonesia harus gugur di kualifikasi piala dunia” Ucap seorang news anchor di televisi.

Tony melihat ke televisi, dan teringat akan penyesalan yang dibuat oleh dirinya.

“ Pertandingan ini langsung membuat karir pemain bintang Tony Danza merosot drastis, cidera yang dialaminya akibat pertandingan itu membuat dirinya harus absen merumput selama beberapa tahun. Belum lagi kritikan keras yang harus diterimanya akibat keputusannya untuk mengambil pinalti pada pertandingan melawan Malaysia”

Rini sedang memotong sawi di dapur sambil menonton siaran berita.

“ Tony Danza sendiri diketahui menikahi seorang aktris bernama Sindy Pramita, pernikahan mereka hanya berlangsung selama 5 tahun. Kondisi finansial dan gaya hidup Tony yang akhirnya membuat dirinya mengalami kebangkrutan di tahun 2019. Sindy sekarang masih terus membintangi banyak sekali film dan selalu menolak memberikan komentar tentang mantan suaminya Tony. Semenjak pandemi covid 19, Tony tidak diketahui dimana keberadaanya, beberapa mengklaim dirinya pindah negara, atau beberapa pun berpendapat bahwa dirinya sudah meninggal dunia”.

Rini lalu selesai memotong sawi, meletakan pisau, “ Kemana ya orang itu sekarang?”

Rini lalu melihat Toni yang sudah pergi, meninggalkan uang yang ditinggalkan untuk membayar di samping kopinya.

---

Tony berjalan di pinggir lapangan, dirinya merenung, memikirkan liputan berita tentang dirinya di televisi tadi.

Lalu dia melihat anak – anak sedang bermain di lapangan, terdapat sekumpulan anak – anak dari dua tim yang berbeda yang saling bertanding.

Tony menghiraukan anak – anak itu, dirinya terus berjalan.

Di lapangan …

Kedua tim ini adalah tim dari dua kampung yang berbeda, tim dari kampung sebelah adalah tim yang selalu menang di setiap pertandingan antar kampung. Tim ini dipimpin oleh Adam, seorang bocah yang sangat mahir menggunakan kedua kakinya dalam menendang bola.

Tim adam sudah unggul 3-0, melawan tim kampung dari kampung sini.

Tim dari kampung sini, berisikan 11 bocah yang hanya asal – asalan bermain bola. Mereka asal menendang, passing kesana kesini, tapi tidak ada gol yang tercipta.

Pemain tim kampung sini terdiri dari:

Kiper: Mikel

Bek kiri: Ucup

Bek tengah kiri: Faiz

Bek tengah kanan: Wisnu

Bek kanan: Reza

Gelandang kiri: Aziz

Gelandang tengah: Latif

Gelandang kanan: Farel

Sayap kiri: Arya

Sayap kanan: Ridwan

Striker: Adit

11 bocah yang hanya asal tendang.

---

Tony tiba didepan pabrik, tempat dimana ia bekerja sebagai sekuriti. Tugasnya adalah menjaga pabrik dari malam sampai pagi hari. Dirinya bertemu dengan satpam yang berjaga di shift pagi sampai sore, Dadang.

“ Halo pak Ton, tv nya sudah bener nih pak, jadi sekarang mah enak jaga nya engga bosen atau ngantuk lagi” Ucap Dadang.

Tony tersenyum.

“ Baiklah kalo gitu, saya pamit duluan ya pak Ton, istri udah nungguin dirumah”

“ Iya silahkan pak Dadang, terima kasih ya, hati – hati pulangnya” Ucap Tony.

Pak Dadang pun lalu langsung pergi, sekarang giliran Tony yang berjaga di posko. Dari dalam posko, Tony masih bisa melihat anak – anak bermain bola di lapangan, namun dirinya malah menghiraukan itu, dan mulai membaca koran yang ada di atas meja.

Di lapangan, permainan akhirnya berhenti. Semua pemain tim kampung sini, duduk di lapangan, kelelahan, menahan rasa malu dan kesal.

Tim Adam, tertawa terbahak – bahak, merayakan kemenangan mereka. Adam lalu mulai mendekati Arya.

“ Terima kasih ye, udah mau biarin kita Latihan di lapangan lu” Ucap Adam sambil tertawa.

“ Kalian tau kan harusnya tadi gue dapet pinalti cuman kalian bilang engga” Ucap Arya dengan tegas.

“ Mau dapet pinalti juga, lu sudah ketinggalan tiga gol” Ucap Adam sambil tertawa.

“ Jadi maksudnya apa, lu mau ngadu ulang?” Ucap Arya dengan nada menantang.

Tim Adam tertawa.

“ Ngadu ulang?, boy, yang ada tim badut lu cuman jadi alat buat Latihan tim gue doang” Ucap Adam sambil mengejek.

Lalu semua tim kampung sini mulai berdiri, menemani Arya dibelakangnya.

Semua rekan Tim Adam pun juga berdiri di belakangnya, sepertinya mereka akan bertarung.

“ Heh, lu jaga omongan lo. Kita buktikan lagi aja nanti, kita buat taruhan” Ucap Adit sambil memegang bola.

Adam tertawa. “ Mau taruhan pakai apa gendut?, lu aja pada engga punya uang untuk menyewa lapangan, dan akhirnya malah memilih untuk bermain di tempat jelek ini”

“ Lo jaga mulut lo ya, lapangan ini udah ada dari jaman kakek gue, banyak orang hebat yang bermain disini” Ucap Mikel dengan lantang.

Situasi mulai makin memanas.

“ Yaudah gini aja, kita ketemu nanti di kompetisi antar desa minggu depan. Kalo tim kalian berhasil mengalahkan tim gue, gue berjanji engga akan bermain di lapangan ini lagi” Ucap Adam.

“ Lalu kalo kita kalah?” Tanya Arya.

“ Maka kalian engga boleh menginjakan kaki di lapangan ini, dan gue juga mau bola yang kalian punya menjadi milik gua” Ucap Adam sambil mengulurkan tangannya ke Arya.

Bola yang dimaksud dimiliki oleh Adit, itu adalah bola peninggalan kakeknya yang dulu adalah pemain hebat asal Bandung. Jadi Adit sangat takut dengan perjanjian ini.

Arya menjabat tangan Adam, “ Deal”

Adam menolehkan kepalanya dan tersenyum. Lalu dia memutar balikan badannya bersama rekan – rekannya dan meninggalkan tim kampung sini di lapangan.

Adit langsung melihat Arya, “ Apa – apaan itu, kenapa harus bola gua yang jadi taruhannya”

“ Udah tenang aja, kita punya waktu seminggu untuk latihan, kalo kita bersiap – siap, kita bisa aja mengalahkan mereka” Ucap Arya dengan tenang.

“ Lu engga bisa begitu dong, ini bola peninggalan kakek gue, bukan bola sembarangan yang bisa lu dapetin di toko” Ucap Adit sambil panik dan kesal.

Arya mengambil bola dari tangan Adit. “ Udah lu tenang aja, sekarang kita latihan nembak aja, lu liat gawang itu kan, sekarang kita semua harus bisa masukin bola itu ke gawang dari jarak segini”

Arya lalu menaruh bola di bawah, lalu menendang bola itu ke arah gawang …..

Namun ternyata bola malah masuk ke dalam pabrik yang ada di dekat lapangan.

Adit terlihat panik, kecewa, dia mendorong Arya, “ kok lu malah nendang bola gue kesitu!”

Semua teman – temannya tertawa.

“ Engga mau tau, lu harus ambil bola itu sekarang” Ucap Adit sambil terus memaksa Arya untuk mengambil bolanya di pabrik.

“ Udah mau magrib, gue harus pulang sekarang, emak gue bisa ngamuk kalo gue belom pulang, sorri ye” Ucap Wisnu.

“ Sama gue juga” Ucap Reza.

“ Gue juga” Ucap Aziz.

Lalu semua tim tiba – tiba pergi, menyisakan Adit dan Arya berdua.

Adit masih mencoba terlihat tenang, namun terlihat di wajahnya bahwa dirinya sangat kesal. “ Gue juga harus pulang, engga mau tau gimana caranya, besok tuh bola harus udah ada ya”

“ Iyaudah sono pulang, biar gua aja yang ke tempat itu” Ucap Arya dengan tenang.

“ Hati – hati, penjaganya galak, dulu pernah ada anak yang lewat depan situ, diancem pakai golok sama penjaganya” Ucap Adit yang memperingatkan Arya.

Adit lalu pergi meninggalkan Arya.

---

Suasana sudah gelap, lapangan sudah sepi, tidak ada orang yang nongkrong di pinggir lapangan. Para pedagang pun sudah mulai bergeser ke tempat yang lebih ramai.

Di Pabrik …

Tony sedang memegang palu, membenarkan gagang pintu yang rusak di posko nya, lalu tiba – tiba dirinya mendengar ketukan di gerbang besar.

DUNG DUNG

Tony membuka gerbang, lalu melihat Arya berdiri.

Arya melihat Tony yang sedang memegang palu. Dia langsung terlihat ketakutan.

Arya berteriak …

Lalu dirinya berlari menjauh dari pabrik.

Tony kebingungan …

“ Kenapa dek?” Ucap Tony kebingungan.


Other Stories
Kucing Emas

Suasana kelas 11 IPA SMA Kartini, Jakarta senin pagi cukup kondusif. Berhubung ada rapat ...

Impianku

ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...

Hellend (noni Belanda)

Pak Kasman berkali-kali bermimpi tentang hantu perempuan bergaun kolonial yang seolah memb ...

After Honeymoon

Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...

Cinta Rasa Kopi

Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...

Setinggi Awan

Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...

Download Titik & Koma