Rembulan Di Mata Syua

Reads
1.1K
Votes
0
Parts
9
Vote
Report
Penulis Mori Vivi

Jangan Jauhi Aku!

Suram. Pandangan semua santri seakan menghujam jantung Putri. Kenapa bisa? Semenjak kejadian itu, Putri dijauhi. Kabar pencurian sudah tersebar luas, seperti angin berembus. Tak terlihat, tetapi embusannya terasa.
Putri duduk di pojokkan kelas, tak mampu menatap teman-teman. Malu. Apalagi saat itu ibu memarahinya di depan teman-teman. Untungnya ada Ustazah Ainun menasihati. Kalau tidak? Bisa lepas kendali—Bunga akan habis kena pukul. Ibu hanya bisa mengelus dada meredam emosi. Mau ditaruh di mana wajahnya bila bertemu Ustazah Aisyah, sang pemilik pesantren. Faktanya, ibu menumpang dan menjual gratis di sana.
Seperti inikah rasanya tidak punya teman? Batin Putri menoleh ke arah Syua yang sedang asyik dengan pesawat kertasnya. Bermain sendiri.
“Kak Syua, buatin dong, Dini juga mau!” seru Dini mendekat sembari menjinjing boneka beruangnya. Padahal sebelumnya boneka itu tidak pernah diperlakukan seperti itu.
“Bikin sendiri!” tolak Syua lalu menjulurkan lidahnya.
“Kak Syua pelit!”
“Emang, hweee!” canda Syua terkesan dingin.
“Kalau gitu, Dini mau coba bikin, ah. Kak Syua ajarin Dini.” Bocah itu pantang menyerah dan menyobek buku tulisnya yang masih polos.
Melihat mereka berdua bermain, rasanya Putri ingin ikut bergabung. Tampaknya menyenangkan juga membuat pesawat dari kertas. Pemikiran itu buyar. Takut ditolak. Mengingat sikapnya dulu yang menjauhi dan menyuruh teman-teman tidak mendekati santri tomboi itu. Putri merasa bersalah.
“Mau gabung?” ajak Syua.
Putri menggeleng.
“Ayo, Kak Putri ... gabung sini! Kak Syua akan bikinin kita pesawat terbang dan kapal-kapalan.” Dini menarik tangan Putri untuk mendekat.
“Kenapa kamu mau berteman denganku? Bukankah ak—”
\"Sesama muslim itu saling bersaudara. Tak baiklah kita saling bermusuhan. Manusia tidak ada yang sempurna, kadang bisa saja khilaf melakukan kesalahan. Maka dari itu kita harus saling memaafkan. Allah saja maha pemaaf, ‘kan? Hei! Kenapa kamu tertawa!?” protes Syua.
“Gaya bicaramu seperti Ustazah,” kekeh Putri.
“Aku memang sedang menirukan.”
Mereka bertiga kembali melipat kertas. Entahlah, mungkin satu buku tulis sudah habis dijadikan kapal-kapalan dan pesawat terbang. Tunggu saja nasihat dari ustazah jika melihat kelakuan mereka yang mubazir—menyia-nyiakan buku tulis. Ditambah lagi, mereka bertiga akan melayarkan kapal kertasnya ke kolam. Oh, Syua! Jangan menularkan kenakalanmu pada Dini dan Putri.
“Tenang saja, aku akan membuat kalian berteman lagi,” kata Syua melihat Putri cemberut, saat Bunga memalingkan wajah dari Putri.
“Aku sudah merusak HP Bunga. Sepertinya, dia gak mau lagi berteman denganku,” rengek Putri.
“Kak Syua lihat! Kapal Dini sudah jauh!” seru Dini melonjak girang melihat kapal kertasnya sudah berada di tengah kolam karena embusan angin.
“Duduk! Nanti kamu jatuh.”
Bocah itu kembali duduk manis—memangku boneka beruangnya.
“Astaghfirullah hal adzim, apa yang kalian lakukan!?” Syok Ustazah Zahra melihat kolam ikan yang dipenuhi kertas, kertas tadi sudah tidak berbentuk. Karena ulah Syua yang melempar satu per satu kapal kertas itu dengan kerikil. Dini pun juga ikut.
Sedikit drama yang membuat kapal kertas itu tidak utuh...
“Kak Syua, kenapa kapalnya di lempar? Kan jadi rusak!”
Syua tak menanggapi, dia terus melemparnya dengan kerikil. Namanya juga Syua, sasarannya tak ada yang meleset.
“Kita kan sudah capek bikinnya, Syua?” protes Putri.
“Kagak seru kalau gak ada tantangan, makanya aku hujani dengan hujan batu, biar seperti di film kartun.”
“Kalau gitu ... Dini juga ikut.” Bocah itu mengumpulkan beberapa kerikil dan melemparnya. Sayang! Tidak kena sasaran. Syua hanya tertawa melihat lemparan Dini yang hanya satu meter dari tempatnya berdiri.
“Bisa kalian jelaskan?” Ustazah Zahra mengedarkan pandangan ke sekitar kolam sembari mengangkat kedua tangan.
“Maaf, Ustazah,” gumam Syua, “aku hanya ingin menghibur Putri.”
Syua tahu betul arti kata sendiri. Tidak enak. Dijauhi teman-teman sudah biasa bagi Syua—tidak ambil pusing ada atau tidaknya teman. Tapi tidak untuk Putri, dia terlihat terpuruk.
***
Putri dan Dini protes karena ulah Syua, mereka juga kena hukuman, yaitu membersihkan halaman pesantren selama seminggu. Bayangkan, bagaimana mereka memungut dan membersihkan dedaunan berguguran setiap harinya? Secara di halaman depan banyak ditumbuhi pepohonan. Bakal kalang-kabut. Satu pun santri tidak diperbolehkan membantu mereka. Jika dibiarkan, sikap Syua bisa semakin ngelunjak.
“Bersyukurlah kita tak membersihkan kolam,” ujar Putri.
“Yang ada kamunya tenggelam,” ucap Syua acuh masih menyapu halaman.
“Dini, kan, gak bisa berenang,” sambung bocah itu yang sedari tadi bersemangat mengumpulkan daun-daun kering. Wajar saja, itu adalah pengalaman pertamanya.
“Sepertinya mereka membicarakan kita.” Lihat Putri ke arah Bunga. Kemudian beralih menatap Syua sembari tersenyum. “Tapi itu tidak masalah, aku sudah senang bermain bersama kalian.”

Other Stories
Ryan Si Pemulung

Ryan, remaja dari keluarga miskin, selalu merasa hidupnya terkunci dalam sebuah rumah reot ...

Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

Bisikan Lada

Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketahui ...

Nina Bobo ( Halusinada )

JAM DINDING menunjukkan pukul 12 lewat. Nina kini terlihat tidur sendiri. Suasana sunyi. S ...

Kala Kisah Tentang Cahaya

Kala, seorang gadis desa yang dibesarkan oleh neneknya, MbahRum. tumbuh dalam keterbatasan ...

Jam Dinding

Setelah kematian mendadak adiknya, Joni selalu dihantui mimpi buruk yang sama secara berul ...

Download Titik & Koma