Rembulan Di Mata Syua

Reads
1.1K
Votes
0
Parts
9
Vote
Report
Penulis Mori Vivi

Apa Syua Bukan Anak Papa Dan Mama?

Hari minggu, hari yang sangat dinantikan Syua Sapphira. Mama akan datang menjemput, sudah dua Minggu Syua berada di pesantren. Kangen rumah, kelinci, dan Bi Sita. Kalau Syua baik, Mama berjanji akan membelikan Syua hamster. Sepertinya, Syua suka dengan binatang berbulu.
“Mama!” teriak Syua memeluk wanita yang baru saja menginjakkan kaki di teras pesantren.
“Syua kangen!”
“Mama juga,” balasnya memeluk. “Maafkan mama yang baru bisa menjemput Syua.”
Setelah berpamitan, Mama dan Syua keluar dari ruangan ustazah lalu menuju mobil sedan hitam yang terparkir di halaman. Rencananya hari ini, Mama akan mengajak putrinya jalan-jalan. Seharian penuh.
“Kenapa Syua cemberut?” tanya Mama sudah di tempat kemudi.
“Apa Syua bukan anak Papa dan Mama?” Syua justru balik bertanya pada Dina. “Dua hari yang lalu Papa ke sini, Syua menanyakan hal yang sama nggak dijawab. Ma, tolong jawab pertanyaan Syua tadi.”
Perkataan Syua barusan bagaikan sambaran geledek, menghujam jantung Mama. Apa yang Syua ketahui tentang dirinya?
“Syua sayang, kamu putri mama dan papa. Kami berdua sangat sayang sama Syu—”
“Kalau begitu ... kenapa Papa dan Mama pisah!?” Lagi-lagi Syua memotong perkataan Mama.
Tercekat. Serasa ada duri di kerongkongan. Bagaimana Mama bisa menjelaskan pada putrinya? Tidak! Mama belum bisa. Syua masih kecil dan belum mengerti keadaaan sebenarnya. Takutnya Syua akan menjadi pribadi yang pendendam.
“Syua, dengerin.” Sentuh Mama pada wajah anaknya. Lalu mengelus lembut dengan ibu jari. Menatap dalam-dalam. Berusaha meyakinkan. “Syua itu anak Mama. Rembulan Mama. Tidak ada yang dapat memisahkan kita. Sampai kapanpun, Mama akan menyayangi Syua. Suatu saat Mama akan cerita semuanya sama kamu.”
Syua terharu mendengarnya sampai-sampai air matanya berderai membasahi tangan Mama. Di lubuk hatinya yang terdalam, Syua takut kehilangan orang yang dicintai. Takut dirinya bukan anak kandung Mama, mengingat dirinya seorang diri, tak mempunyai adik. Terkadang, Syua iri melihat teman-teman yang memiliki seorang kakak maupun adik.
Mama menghapus air mata di pipi Syua. “Daripada Syua sedih terus, kita jalan-jalan dulu yuk sebelum pulang.”
***
Suasana hati Syua sudah membaik. Terlihat dari wajahnya yang berseri-seri mengejar sekelompok bebek. Kemudian beralih ke sekelompok bebek yang berpencar tadi. Bebeknya mungkin sudah kawalahan, tetapi tidak untuk Syua. Mama pasrah. Sudah capek menasihati putrinya agar berhenti mengejar bebek-bebek itu.
Untuk mengisi liburan dan melepas rasa kangen, Mama mengajak Syua ke tempat peternakan unggas. Sambil bermain dan belajar. Di sana ada: angsa, berbagai macam ayam, bebek, dan burung. Letak kandang mereka agak berjauhan. Tak masalah bagi Syua untuk berjalan—berkeliling sembari melihat-lihat.
“Syua, berhenti! Ntar Petugasnya marah, loh!” Ingat Mama sekali lagi. “Kenapa Syua gak mengejar yang itu saja?” Mama tertawa kecil sambil menunjuk angsa hitam yang sedang berdiri gagah. Paruhnya berwarna merah, dan memiliki leher yang sangat panjang membentuk huruf “S”. Kata petugas, angsa itu didatangkan dari Australia. Cukup mengagumkan melihat seluruh bulunya berwarna hitam, kecuali di bagian sayap, berwarna putih.
Ngeri. Syua menggeleng cepat. “Tidak! takut dipatok,” kata Syua cepat, mengingat waktu di kampung dulu dirinya pernah dikejar sekelompok angsa. Membuatnya berteriak histeris—lari sekencang mungkin. Semenjak saat itu, Syua trauma melihat angsa. Tidak mau dekat-dekat.
“Sudah! Ntar bebeknya stres jika dikejar terus.” Mama berhasil menangkap Syua dan mendudukkannya di kursi. “Minum dulu.”
Syua tersenyum sembari mengangguk. “Terima kasih, Mama memang yang terbaik.”
“Dan kamu anak mama yang terhebat,” balasnya mengusap kepala Syua yang tertutup jilbab.
“Ma, maafkan Syua. Selama ini sudah nakal.”
“Iya. Mama juga minta maaf karena belum bisa menjadi orang tua yang baik.”
“Tidak. Mama yang terbaik,” ucapnya sekali lagi memeluk Mama, “Ma ... setelah lulus nanti, Syua mau ngelanjutin ke pesantren, bolehkah?”
Sesaat, Mama terdiam. Dua minggu saja rasanya bagaikan bertahun-tahun tidak bertemu. Apalagi Syua meminta melanjutkan sekolah ke pesantren. Mama akan kesepian di rumah. Waktu bertemu pun terbatas
“Tentu saja boleh.” Senyum Mama mengecup puncak kepala anaknya.
Mama senang. Perlahan Syua sudah mulai berubah. Kembali menjadi Syua yang dulu. Awalnya, Syua menentang masuk pesantren, sekarang malah jadi betah. Mama berpikir, akan membatalkan perpanjangan waktu belajar Syua di pesantren kilat Al-Falah.
***

Other Stories
Bisikan Lada

Tiga pemuda nekat melanggar larangan sesepuh demi membuktikan mitos, namun justru mengalam ...

Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster

Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...

Ada Apa Dengan Rasi

Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...

Garuda Hitam: Sayap Terakhir Nusantara

Aditya Pranawa adalah mantan pilot TNI AU yang seharusnya mati dalam sebuah misi rahasia. ...

Kala Cinta Di Dermaga

Saat hatimu patah, di mana kamu akan berlabuh? Bagi Gisel, jawabannya adalah dermaga tua y ...

Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Download Titik & Koma