Rembulan Di Mata Syua

Reads
1.1K
Votes
0
Parts
9
Vote
Report
rembulan di mata syua
Rembulan Di Mata Syua
Penulis Mori Vivi

Rembulan Terbit Kembali Di Mata Syua

Kebahagiaan Syua bersama Mama belum sampai empat jam sudah terenggut oleh kedatangan seorang wanita yang tempo dilihat Syua di sebuah cafe. Dengan gamblang wanita itu mengatakan di depannya, “Heh, bocah ingusan mulai sekarang kamu nggak usah lagi menemui suamiku. Suamiku bukan Papa kandungmu. Kamu hanya anak pungut!”
Tentu saja ucapan wanita itu meremukkan hati Syua. Ia langsung berlari menuju kamar dengan berderai air mata. Dari kejauhan Syua masih bisa mendengar perdebatan sengit antara Mama dan wanita itu. Namun Syua sudah tak peduli akan hal itu.
Sesampai di kamar, Syua menangis sejadi-jadinya dipelukan guling. “Ya Allah, jika memang Syua bukan anak kandung Papa dan Mama, tak pantas kah Syua merasakan kebahagiaan memiliki keluarga utuh seperti dulu?”
Tanpa Syua sadar sesorang wanita berdiri di samping pintu dengan berlinang air mata. Wanita itu mendekati Syua lalu mengusap rambutnya. “Ma, apa Syua bukan anak kandung Papa dan Mama? Tolong cerita sekarang. Syua sudah siap mendengarnya.”
Syua bisa mendengar desahan panjang Mama. “Baiklah, Mama ceritakan.”
Sudah empat tahun menunggu. Akhirnya Mama dan Papa memeriksakan diri ke rumah sakit. Berbagai pemeriksaan sudah dilakukan. Namun hasilnya sangat mengecewakan untuk Mama.
Mama termenung sembari memegang hasil pemeriksaan. Mandul (gangguan kesuburan) atau tidak bisa memiliki keturunan. Menyedihkan. Mama frustasi mendengar penjelasan dokter. Padahal dirinya memimpikan memiliki keluarga utuh dan bisa mendengarkan tangisan bayi setiap harinya.
Di sampingnya, Papa sudah duduk dan mengelus pundak istrinya yang dibalas dengan isakan tangis. Suara Mama parau terdengar, membuat Papa beralih mengusap rambut Mama yang panjang terurai.
“Maafkan mama, Pa!”
“Bagaimana kalau kita mengadopsi anak?” hibur Papa. Semoga saja Mama setuju dengan ide itu.
Mama melepas pelukan. “Tapi,” ucapanya tersendat.
“Kita akan menyayanginya seperti anak kita sendiri.” Senyum Papa hangat lalu mengecup jidat sang istri.
***
Esok paginya, sepasang suami istri itu mengunjungi panti asuhan. Baru memasuki halaman panti, mata Mama tertarik dengan anak perempuan yang berumur satu tahun lebih—bermain boneka katak di teras panti.
Anak itu lucu, manis, berkulit putih, berhidung mancung seperti Mama, sedangkan mata hitamnya seperti Papa. Begitu juga dengan anak perempuan itu—berhenti bermain—menatap lamat-lamat dua orang yang sudah berjongkok di depannya. Sepertinya, bocah itu tertarik dengan pasangan suami istri itu.
“Pa, mama mau bawa pulang anak ini!”
Papa mengangguk sembari mengusap punggung tangan sang istri. “Papa juga menyukainya.”
Saking gembiranya, Mama memeluk Papa dengan erat. Rasa sedih terobati dengan kehadiran bocah manis itu. Dalam hati, Mama berjanji, sampai kapan pun akan menyayangi Syua Sapphira. Nama yang akan diberikan untuk putri kecilnya, sebentar lagi.
Nama itu sudah dipersiapkan sebelum mereka menikah. Rembulan permata biru, itulah arti dari nama Syua Spahhira. Bagus bukan?
Lucu. Mama tak berhenti tersenyum menatap Syua kecil dipangkuannya. Pipi Syua tampak seperti bakpou, membuat orang yang melihatnya akan merasa gemas. Saat makan, pipinya seakan mau meletus. Mama terkekeh—menekan pelan benda bulat itu.
“Begitu ceritanya, Sayang,” ucap Mama begitu selesai menceritakan. “Kamu nggak marah sama Mama kan?”
Saat ini, perasaan Syua campur aduk. Marah? Tidak. Syua tidak bisa marah sama Mama. Karenanya, Syua bisa menjalani hidup dengan enak. Tanpa berbagi seperti di panti asuhan. Punya kamar sendiri, punya mainan sendiri, dan makan pun tidak berebut. Itulah pengertian panti asuhan menurut Syua yang pernah dilihatnya di sinetron.
Syua mengerutkan kening. Berpikir. Kenapa dia tidak ingat tentang panti asuhan?
Ah, tentu saja tidak ingat. Kala itu, dirinya masih berusia satu tahun lebih. Masih kecil. Mungkin kebersamaan dengan Mama-Papa memberinya memori baru. Bahwasanya, Syua benar-benar keluar dari perut Mama. Mengingat begitu besar pengorbanan, rasa cinta, dan kasih sayang yang diberikan.
“Maafkan Syua, Ma,” gumamnya. “Syua hanya malu bertemu Mama.” Kedua tangannya memeluk erat boneka beruang besar. Pengganti guling. Pikirannya kacau, bagaimana suatu saat nanti dirinya dikirim ke panti asuhan? Ditinggal Mama seorang diri? membayangkannya saja Syua tidak mampu.
Syua menggeleng cepat. “Tidak. Syua tidak mau pisah sama Mama. Syua janji nggak akan nakal lagi. Boleh nggak Syua minta satu permintaan lagi?”
“Boleh dong. Mau minta apa?”
“Syua pengen besok main ke pesantren Al-Falah, soalnya Syua kangen Dini, Bunga dan Putri.”
“Besok Mama antar ke pesantren ya.”
***
Di halaman pesantren tampak anak-anak sedang bermain. Ada yang bermain lompat tali, bermain pesawat terbang dari kertas, mengukir di tanah, main lempar kata, dan ada yang main boneka. Kurasa kamu tahu siapa dia.
“Kak Syua! Dini kangen!” teriaknya melihat Syua yang baru menginjakkan kaki di halaman pesantren. Dini berlari sembari memeluk boneka beruangnya. Tawanya berderai memeluk Syua.
“Benarkah kamu merindukanku?”
“Dini KAAA ... NNGEEENN banget ama Kak Syua. Kangen main bersama!” Dini merentangkan kedua tangannya saat mengatakan ‘kangen’.
Syua menyentil jidat bocah itu. “Apa di otakmu hanya ada kata main?”
Dini menyeringai seraya mengusap jidatnya. “Apa Kak Syua gak kangen ama Dini?”
“Tidak!” jawab Syua melangkah ke dalam.
“Hai, Syua,” sapa Putri menyambut kedatangannya.
“Kurasa kamu juga merindukanku,” ujar Syua menunjukkan cengiran usilnya.
“Kami semua rindu dengan keusilanmu!” celetuk Bunga berdiri di samping Putri. Syua rasa, mereka sudah baikan. Syukurlah. Batin Syua senang.
Kata orang, di balik cobaan atau masalah yang dihadapi, di sana terkandung sebuah hikmah dan pelajaran hidup berharga. Syua mendapatkannya, mendapatkan Mama dan teman yang baik. Bagi Syua, mereka adalah rumah tempat untuk kembali.
Dan ... beruntunglah bagi orang-orang yang menunggu kedatanganmu untuk pulang. Karena mereka, kamu akan semangat untuk kembali pulang. Menceritakan apa yang kamu alami di luar sana.
Di belakang Syua berdiri seorang wanita cantik melukiskan senyum termanis. “Akhirnya rembulan itu terbit kembali di mata Syua.”

Other Stories
Aku Pulang

Raina tumbuh di keluarga rapuh, dipaksa kuat tanpa pernah diterima. Kemudian, hadir sosok ...

Cahaya Menembus Semesta

Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...

Love Of The Death

Cowok itu tak berani menatap wajah gadis di sampingnya. Pandangannya masih menatap pada ...

Menolak Jatuh Cinta

Rasa aneh sudah sembilan bulan lenyap, ntah mengapa kini kembali menyusup di sudut hatik ...

Mission Escape

Apa yang akan lo lakukan jika Nyokap lo menjadikan lo sebagai ‘bahan gosip’ ke tetangg ...

Kucing Emas

Suasana kelas 11 IPA SMA Kartini, Jakarta senin pagi cukup kondusif. Berhubung ada rapat ...

Download Titik & Koma