Berlibur
Entah kenapa, Mama bersikap kasar kepadaku. Rasanya benar-benar menyakitkan. Tapi, dia memang seperti itu. Ditambah lagi sikap Ragam yang sudah mulai mengibarkan bendera pertengkaran. Kejadian tadi benar-benar membuat hati terluka, kukira Ragam sudah berubah. Tapi nyatanya, dia masih sama.
“Gam ayo makan, Mama sama Papa sudah nunggu, tuh.” Aku menggoyang-goyangkan tubuh Ragam yang sedang tertidur pulas. Tapi, tidak ada reaksi apapun.
“Cubit aja kali ya,” gumamku.
Aku segera mencubit Ragam, namun ternyata reaksinya diluar dugaan.
“Ngapain sih pake acara nyubit segala? Gak bisa ya ngebangunin dengan cara halus!” bentaknya.
Aku terkejut mendapat reaksi seperti itu. Umur kami hanya beda 6 tahun, bukannya dia seharusnya bersikap lebih sopan terhadapku?
“Aku gak mau makan bersama, sana pergi, ngapain masih di sini!” Lagi-lagi Ragam membentak.
Aku merasa tidak berharga sama sekali, adik yang seharusnya bersikap manis atau sopan, tak didapati dari dia. Emosi mulai tersulut, tapi rasanya tidak enak jika hari pertama bersama lagi saja sudah membuat pertengkaran hebat. Aku segera ke meja makan.
Setelah sepersekian menit dari kejadian tadi, ternyata Ragam datang makan bersama kami. Dia memang susah ditebak dan entah kenapa sangat membenciku.
Selesai makan, kami berkumpul di ruang keluarga. Setiap orang sibuk dengan gadget-nya. Tak terkecuali mama, dia pasti sedang chatting-an dengan ibu-ibu sosialita itu. Untuk apa disuruh ngumpul, kalau akhirnya pada sibuk dengan gadget masing-masing, batinku.
“Eheem.” Aku berdeham, mencoba mengalihkan fokus mereka kepadaku.
“Kamu kenapa, Dya? Sakit?” tanya Papa.
Semua mata telah tertuju padaku, pun Ragam.
“Enggak kok, Pa. Mmm, jadi gini berhubung besok libur, gimana kalau misalkan kita pergi berlibur?” tawarku.
“Setuju,” seru papa.
“Bentar, Mama tanya ibu-ibu yang lain, liburan yang paling enak dan seru itu di mana.” Mama kembali memainkan gadget-nya. Sementara Ragam, tak berkomentar apapun. Dia terus saja memainkan gadget.
“Menurutmu gimana, Gam?” tanyaku.
“Terserah,” jawabnya ketus.
Rasanya ingin sekali aku mencekik anak itu. Bisa-bisanya dia bersikap masa bodo, saat sedang membicarakan hal yang serius. Bagiku liburan ini merupakan awal kebersamaan keluarga ini. Bisa jadi nanti setelah liburan, tidak ada yang bersikap masa bodo satu sama lain.
“Nah, kita ke Dago pakar saja. Teman-teman Mama bilang, di sana sangat sejuk, gak hanya itu pemandangannya pun sangat bagus, dan satu lagi, jaraknya tidak terlalu jauh,” saran Mama.
“Gimana Dya, punya opsi lain?” tanya Papa.
Aku hanya menggeleng, karena tak pernah memikirkan akan berlibur kemana.
“Ya udah besok kita ke sana,” ucap Papa.
“Kamu harus ikut ya, Gam,” pinta Mama.
“Ikut gak ikut pun pasti akan dipaksa ikut.” Ragam bangkit “Ragam ke kamar dulu, mau istirahat.”
Ragam pergi menimbulkan banyak tanya bagiku. Anak itu semakin aneh saja, dia lebih parah dari 3 tahun yang lalu. Apa Papa tidak pernah memerhatikannya? Batinku.
“Semuanya udah beres kan, Nin?” tanya Mama, saat aku selesai menyiapkan sarapan.
“Sudah, Ma. Yuk sarapan, nanti keburu siang dan kena macet,” saranku.
Awalnya mama menyuruhku memanggil dan mengajak Ragam, tapi aku malah memilih mengajak Papa. Rasanya tak ingin kejadian kemarin terulang lagi. Jika harus dijelaskan, dari kecil aku memang tak pernah akur dengan Ragam. Dia sudah merampas segalanya, perhatian papa dan mama dirampasnya, untung saja aku bisa memakai cara-cara kotor agar perhatian papa dan mama kembali tertuju padaku.
“Pa, ayo sarapan dulu.”
Papa masih saja mengecek keadaan mobil, takut jika di perjalanan terjadi apa-apa.
“Iya, Dya. Kamu duluan saja, nanti Papa nyusul. Bentar lagi beres kok.” Papa tak sekali pun melihat ke arahku. Dia masih di dalam mobil, memeriksa rem.
Mendengar ucapan papa, aku segera masuk. Di ruang makan sudah ada Ragam dan mama, mereka saling berdiam diri. Mama sibuk memainkan gadget, pun Ragam. Adikku itu terlihat lebih rapi, dengan kemeja lengan pendek dan celana jeans panjang.
Aku segera duduk di samping Ragam. Dia sempat menengok, tapi tatapan matanya masih saja sinis. Tak lama kemudian, Papa datang dan kami pun sarapan dengan khidmat.
Selesai sarapan, Papa sudah memanaskan mobil. Sementara Mama masih sibuk video call dengan temannya, dan Ragam sudah masuk ke mobil.
“Ma ayo, nanti keburu macet. Udah jam 9 loh Ma,” ajakku.
Tapi Mama tidak menggubrisnya sama sekali. Hingga beberapa kali aku harus membujuk dan mengajaknya, seperti halnya membujuk anak kecil, dan akhirnya mama pun selesai video call dengan temannya.
Setelah semuanya siap, kami pun berangkat. Di dalam mobil semuanya sibuk dengan gadget masing-masing, kecuali Papa yang teah disibukkan oleh jalanan. Sebenarnya jarak rumah kami ke Dago Pakar tidak terlalu jauh, tapi karena ini akhir pekan jalanan sedikit macet.
Untuk mengatasi kebosanan di tengah kemacetan, aku memainkan gadget dan browsing tentang tempat yang akan kami kunjungi. Tapi, aku dikejutkan dengan artikel teratas yang ternyata membahas tentang kematian tiga orang pemuda. Di dalam artikel dijelaskan bahwa mereka meninggal secara tidak wajar, tidak ada kekerasan di tubuh mereka. Hanya saja ada bercak hitam di antara leher dan wajahnya. Bahkan, untuk menyelesaikan penyelidikan, tempat itu ditutup beberapa minggu.
“Ma, Pa,” ucapku.
Mama dan papa menoleh berbarengan, pun Ragam.
“Enggak jadi deh,” ucapku.
“Ada apa, Dya? Kamu kok jadi pucat gitu. Sakit?” tanya Papa.
Aku hanya menggeleng dan kembali fokus pada layar berukuran 5 inch tersebut. Ingin sekali aku memberitahu mereka tentang penemuan para pemuda itu, tapi momen seperti ini sangat jarang kami lakukan, terlebih setelah 3 tahun tidak bersama.
Untuk mengurangi rasa takut, aku memutuskan untuk memakan cokelat yang tadi telah dibawa, lantas membaca ebook.
Setelah kurang lebih satu setengah jam perjalanan, akhirnya kami sampai. Papa memarkirkan mobil terlebih dahulu, lantas setelah itu kami pergi ke pintu masuk. Papa menyerahkan beberapa lembar uang ke penjaganya.
Udara di sini benar-benar segar, pepohonan menjulang tinggi, lantas samar terdengar suara gemercik air. Jalanan yang kupijak masih terbuat dari kerikil kecil dan di depan, ada jalan setapak yang sudah agak rapi, tepatnya sudah dicor.
“Ayo dong foto dulu,” ajak Mama.
Kulihat Ragam tidak menggubris ajakan Mama, dia terus saja sibuk dengan gadget, dan Mama harus membujuk dia agar mau berfoto bersama.
“Iya, iya Ragam mau,” ketusnya, saat Mama sudah membujuk entah keberapa kalinya.
Kami merapat. Mama berada di samping kananku sudah siap dengan gadget-nya.
“Senyum dong Gam, biar tambah cakep,” ucap Mama dan langsung dilakukan oleh Ragam.
Kami berfoto, lantas bergegas untuk pergi ke tempat-tempat lainnya. Mama mengajak untuk pergi terlebih dahulu ke gua yang ada di sini. Guanya tidak terlalu jauh, hanya perlu berjalan 200 meter saja dan menuruni beberapa anak tangga. Banyak orang yang berlalu lalang di sini, bahkan aku juga melihat sebuah saung yang ternyata adalah warung kecil yang dipenuhi beberapa orang. Tak hanya itu, ada juga papan penunjuk. Ya, tempat ini benar-benar komplit. Ada gua dan juga situ. Meski tergerus zaman, tempat ini sepertinya tidak berubah. Jalannya masih jalan setapak yang mungkin sudah dilapisi semen, kanan kiriku pun masih banyak pepohonan yang menjulang tinggi.
Beberapa menit kemudian, kami sampai di gua yang dimaksud. Namun, tiba-tiba saja bulu kudukku berdiri, teringat akan artikel yang tadi dibaca di mobil. Mama, Papa, dan Ragam sudah bersiap masuk dengan berbekal senter yang tadi kami sewa. Aku masih mematung, ada rasa takut yang tiba-tiba saja datang.
“Kamu kenapa? Ayo masuk. Ragam sama Papa udah masuk loh,” ucap mama, menarik tanganku.
“Nindy nunggu aja di sini, Ma. Gak apa-apa kok,” ucapku sedikit gugup.
“Lah, kamu yang gak apa-apa, sementara Mama? Ayolah, guanya bagus kok,” bujuk Mama.
Beberapa kali aku menolak ajakan dan bujukan mama, tapi lama kelamaan bujukan Mama itu bisa membuatku yakin, bahwa sebenarnya tak ada apa-apa di dalam gua itu. Toh ini hanya benda mati, jadi sebenarnya tak perlu ada yang ditakutkan.
Aku dan mama setengah berlari, mengejar rombongan. Seorang pemandu menjelaskan beberapa fungsi awal dibangunnya gua ini. Aku tak begitu mendengarkan apa yang dikatakan olehnya, fokus sudah teralihkan pada lubang-lubang kecil di dinding gua, tak hanya itu, aku pun baru menyadari bahwa alas gua ini masih terbuat dari bebatuan. Di depan terlihat percabangan gua, yang ternyata salah satunya adalah tempat para pekerja tidur. Sekitar satu setengah meter dari dinding, ada bagian yang menjorok ke dalam, lebih tepatnya itulah tempat tidur para pekerja. Beberapa kali, aku sempat mengabadikan potongan sejarah itu lewat gadget. Sementara pemandu terus saja menjelaskan, kali ini dia menjelaskan tentang mitos di gua tersebut. Namun, aku tidak tertarik akan hal itu dan kembali memotret bagian-bagian dari gua ini.
“Lada, lada,” teriak seseorang.
Aku segera menengok ke arah sumber suara dan ternyata itu Ragam.
“Apa yang kamu lakukan? Diam!” bentak pemandu.
Sementara rombongan yang lain malah melihat heran kepada Ragam dan saat itu baru kusadari ada 9 orang di rombongan ini. Aku sekeluarga, pemandu, dan dua pasangan remaja.
“Lada,” lagi Ragam malah berteriak semakin kencang.
Aku segera mendekati, lantas mencubitnya. Sementara Mama dan Papa sudah berusaha menyuruh Ragam diam.
“Apa yang kamu lakukan?” tanyaku.
Namun tiba-tiba saja terdengar suara derap kaki kuda yang terdengar semakin mendekat, tak hanya itu angin tiba-tiba saja berembus cukup kencang.
Ada satu wanita yang mendekat ke arahku dan Ragam, tatapan matanya terlihat aneh. Dia berusaha mencengkram Ragam. Tapi, Mama mencoba menahannya.
Maneh saha? Nanaonan make ngahereyken kata Lada? Maneh hayang naon hey? Teu boga kasopanan pisan,” bentak dia dalam bahasa setempat, dia marah kepada Ragam karena berani-beraninya mempermainkan kata Lada, seolah tidak punya sopan santun sama sekali.
Aku tersentak, ternyata wanita ini kesurupan. Pasangannya meminta bantuan kepada pemandu, sementara pasangan satunya lagi sudah berlari ke luar gua. papa, mama menarikku dan Ragam. Kami pun segera berlari. Sementara saat kulihat ke belakang, pemandu sedang mencoba mengeluarkan sesuatu dalam diri wanita itu. Wanita dengan rambut panjang dan wajah cantik itu melotot ke arahku sambil bergumam sesuatu yang tak dapat terdengar sama sekali.
Other Stories
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...
Baca Tanpa Dieja
itulah cara jpload yang bener da baik ...
Dua Mata Saya ( Halusinada )
Raihan berendam di bak mandi yang sudah terisi air hangat itu, dikelilingi busa berlimpah. ...
Free Mind
KITA j e d a .... sepertinya waktu tak akan pernah berpihak pada kita lagi setelah aku ...
Queen, The Last Dance
Di panggung megah, di tengah sorak sorai penonton yang mengelu-elukan namanya, ada air mat ...
Separuh Dzarah
Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suara ...