Bisikan Lada

Reads
2.3K
Votes
0
Parts
16
Vote
Report
Penulis Imas Pupu

Lagi

       Hari ini Mas Ezira terus saja marah-marah karena hal sepele. Hanya karena ingin memanggil dokter untuk Ragam pun perlu bertengkar dulu, meskipun akhirnya dia tidak memanggil dokter dan harus bertengkar dengan Nindya.
Saat Mas Ezira berangkat, entah kenapa aku bisa lupa dengan apa yang terjadi pada Ragam dan anehnya malah video call dengan teman-teman, membahas acara arisan beberapa hari lagi. Aku kembali lalai menjadi orangtua.
Malam ini, Ragam tidak makan malam bersama kami. Begitu pun Nindya, dia tidak keluar kamar sama sekali sejak temannya pulang.
“Yaudah Mas aja makan sendiri,” ucapku saat Mas Ezira sudah duduk.
Mas malah bangkit dan melotot ke arahku. “Terus kamu mau ngapain?” nada suaranya tinggi.
“Aku mau ke kamar saja, untuk apa makan jika anak-anak pun gak makan,” jawabku dengan nada yang tak kalah tinggi.
“Sejak kapan perhatian kepada mereka? Bukankah tadi saat Ragam sakit kamu malah video call sama teman-teman sosialitamu itu? Terus lupa keadaan dia seperti apa dan dengan mudah menyalahkanku gara-gara gak mau nelpon dokter? Licik sekali ya kamu,” ketusnya.
Emosiku memuncak.
“Maksud Mas apa? Bukankah semua ini juga salahmu? Jangan seenaknya memutarbalikkan kesalahan, jelas-jelas Mas juga bertanggung jawab atas kesehatannya Ragam!” bentakku.
“Mas hanya bertanggungjawab untuk mencari nafkah dan kamu harusnya mikir. Kamu yang lebih bertannggungjawab akan semua yang terjadi di rumah.” Mas Ezira menunjukku.
“Mas ini kenapa sih dikit-dikit marah, dikit-dikit nyuruh hemat. Udahlah gimana Mas aja.” Aku langsung berlari ke kamar, menutup pintu dan menguncinya.
Hati rasanya semakin sakit dan tak tahu obat apa yang tepat. Semua yang dijanjikan Mas saat akan rujuk malah tak penuhi sama sekali. Untuk apa rujuk, jika akhirnya hati ini yang terus tersakiti.
Pertengakaran tak ada habisnya ini membuat pikiran semakin pusing. Kepala berat dan rasanya lebih baik tidur saja.
Aku terbangun dengan keadaan tangan terikat ke belakang dan duduk di sebuah kursi. Mulut diperban dan terlihat sosok menyeramkan. Dia datang membawa samurai. Wajahnya dipenuhi sayatan dan dia menyeringai ke arahku. Bulu kuduk berdiri, embusan angin datang tiba-tiba. Entah akan seperti apa akhir hidup ini.
Di belakang sosok itu, berdiri lelaki yang tak asing bagiku, dia ternyata Mas Ezira. Wajahnya sudah memerah, matanya melotot dan dia beberapa kali membentakku. Dia membawa cambuk.
“Ayo bunuh saja dia,” ucap sosok menyeramkan itu dan beberapa saat kemudian tawanya bergema diiringi bisikan-bisikan yang mendorong Mas Ezira untuk membunuhku.
Semua rasa dalam hati berkecambuk tak jelas. Semuanya terasa seperti mimpi. Beberapa kali aku berbicara dalam hati, meminta permohonan maaf kepada Mas Ezira. Tapi, Mas Ezira tak mendengar suara hatiku, dia terus mendekat membawa cambuk dan beberapa kali mencambukku.
Setelah itu, Mas menggantikan cambuk dengan samurai. Dia sudah mengambil ancang-ancang untuk membunuhku.
Aku berteriak dan tersadar dari mimpi buruk itu. Aku tak mengerti mengapa harus bermimpi buruk seperti itu. Napas sudah mulai diatur, aku berniat untuk meneguk minum, tapi gelas ternyata kosong dan harus pergi dulu ke dapur.
Aku berjalan menuju dapur, tapi rasanya jarak dapur dan kamar jauh. Sementara seperti ada beberapa pasang mata yang melihat ke arahku.
Bruk!
Tiba-tiba sesuatu jatuh di depanku. Itu seperti manusia, atau mungkin hantu. Sosok itu perlahan memutar kepalanya. Dia menyeringai, kemudian berdecak seperti sudah memakan sesuatu. Sosok itu mendekat dengan cara ngesot, matanya jatuh ke arahku dan setelah itu aku tak ingat apapun.

Other Stories
Kita Pantas Kan?

Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...

Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster

Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...

Kado Dari Dunia Lain

"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...

Keikhlasan Cinta

6 tahun Hasrul pergi dari keluarganya, setelah dia kembali dia dipertemukan kembali dengan ...

Deska

Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...

Download Titik & Koma