Bukan Cinta Sempurna

Reads
2.3K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

Redup Sang Bintang

Sejujurnya ada ketakutan menghantui Dini setelah pesta tahun baru usai. Sesuatu yang telah terjadi antar dirinya dengan Arga, tapi Dini memilih diam.
Antara kebimbangan dan perasaan yang masih belum bisa menerima Arga memilih Dini untuk bersikap apa adanya. Arga tetaplah hanya sebagai kekasih pura-pura yang dijadikan tameng untuk menutupi perasaan dirinya yang belum bisa melupakan Widi.
Tapi tidak dengan hari ini, hampir dua setengah bulan dari acara ulang tahun Angel dengan perasaan pura-pura tak terjadi apapun. Hari ini Dini merasakan pusing yang sama setelah meminum soft drink yang dua bulan lalu disodorkan Levi.
“Ga! Dini pingsan!” Widi berteriak memanggil Arga yang sedang membaca komik di kelas.
“Pingsan?” Arga bergegas ke kelas Dini dan ternyata Dini sudah di ruangan UKS.
Sekarang Arga dan Dini berdua saja, baru saja Mela masuk ke kelas karena bel istirahat selesai.
“Din kamu baik-baik saja,” Arga menyapa Dini, firasatnya tidak enak dengan wajah yang Dini tunjukkan.
“Ga! Aku mau menghentikan kepura-puraan kalo kita adalah sepasang kekasih! Aku nggak mau lagi membohongi diriku! Nyatanya aku nggak cinta kamu! Malah sebaliknya aku muak dan benci!” Dini menatap nyalang wajah Arga yang berubah pucat.
“Din, kamu kenapa sih? Aku cinta kamu dan aku tidak pernah berpura-pura! Kamu yang selalu berpura-pura!” Arga membentak Dini.
“Huk... huk...” Dini mendadak mual dan berlari ke kamar mandi.
“Din! Din! Kamu nggak apa-apa!” Arga menggedor-gedor pintu toilet puteri.
Sementara Arga menunggu di luar, Dini tengah menatap wajahnya di kaca toilet, “Wajahku kenapa pucat sekali, apa yang terjadi dengan aku? Kenapa aku merasakan perbedaan dalam diriku? Ya Tuhan sudah dua bulan aku juga tidak datang bulan.. .apakah... ini gara-gara ....”
Ingatan Dini kembali setelah dua setengah bulan lalu antara sepenuhnya sadar dan tidak apa yang telah dilakukan dirinya bersama Arga di roof top yang indah. Semuanya seakan terlalu naif dilupakan.
Dini merutuki kebodohannya, waktu itu dia merasa Widi-lah yang bersamanya. Setelah kejadian itu membuat Dini memilih diam.
“Din, ayo aku antar pulang!” Arga menarik tangan Dini setelah keluar toilet tapi dengan kasar Dini menolaknya.
“Jangan berani-berani sentuh aku lagi! Aku membenci kamu selamanya!” Dini mengibaskan pegangan Arga, menatap tajam Arga yang membiaskan kebingungan.
***
Tangan Dini bergetar, test pack dengan indikasi dua setrip di tangannya terjatuh. Kedua tangannya menutupi wajahnya, air matanya tak bisa terbendung.
“Aku hamil... hancur semua cita-citaku...” Dini meratap sendirian di kamar mandi. Baru dua hari lalu kabar gembira kalau dia sepertinya akan diterima di Fakultas Kedokteran tanpa tes karena melihat prestasi dan nilai-nilai rapornya.
Kini semua harapannya hancur, bagaimana mungkin dia akan bisa kuliah dengan kondisi sekarang yang tengah berbadan dua.
Dini menjambak rambutnya sendiri, ”Semua gara-gara Arga, brengsek anak itu menjebak aku!” Ada rasa jijik merambati hatinya, Dini memukul perutnya dengan teriakan amarah.
“Dini! Kamu kenapa Nak?” suara Ibu Dinda di balik pintu kamar mandi, menyadarkan Dini telah melakukan kesalahan dan mengecewakan harapan ayah ibunya.
Dini membuka pintu dan langsung bersimpuh di kaki ibunya, ”Maafkan Dini Ibu...” Dini terus menangis dan terjawab sudah kebingungan Ibu Dinda dengan perilaku putrinya saat melihat dua setrip yang Dini tunjukkan pada alat tes kehamilan.
“Ya ampun Nak, dengan siapa kamu melakukannya?” Bu Dinda menyiratkan wajah yang sangat kecewa dan ketakutan.
Dini tahu hati ibunya kini pasti tengah hancur lebur seperti dirinya, ketakutan menyelimuti saat akan menghadapi ayahnya.
Kalau semua orang tahu dirinya hamil di luar nikah sementara ayahnya seorang guru, apa kata dunia? Pasti semua orang yang tadinya kagum atas kesempurnaan dirinya akan berubah mencibirnya.
Dini tidak berani membayangkan orang-orang berkata, ”Wah Sang Bintang tak lagi bersinar, ternyata Sang Bintang bisa juga redup apalagi dengan aib yang memalukan!”
Tak perlu menunggu lama tiba-tiba sosok ayahnya sudah muncul dari ruang makan.
“Ada apa ini, kenapa kalian menangis berpelukan?” Pak Danu sepertinya sudah bisa merasakan adanya firasat buruk yang tengah menimpa putrinya.
“Apa ini? Diniiiii!” Pak Danu terkejut dengan kertas kaku kecil memanjang yang diserahkan ibu Dinda.
Pak Danu sudah mau menampar putri kesayangannya, sama sekali dirinya tidak menyangka akan dicoreng mukanya sendiri oleh putri yang selalu dibanggakan sebagai Sang Bintang.
“Jangan Ayah! Sabar!” Ibu Dinda menahan tangan suaminya yang akan menghajar Dini yang sekarang dalam pelukan Ibu Dinda.
“Ayah jangan menyalahkan kesalahan pada Dini sepenuhnya, bagaimanapun kita sebagai orang tua ada andil kesalahan karena mengizinkan Dini keluar dengan temannya,” Ibu Dinda tidak berani berspekulasi kalau ayah yang ada di perut Dini kemungkinan besar Arga, karena memang beberapa kali mereka mengizinkan Dini keluar dengan Arga.
Sebetulnya Ibu Dinda sudah merasa tidak enak saat dua bulan lalu pas pergantian tahun baru, Dini dan Arga menghabiskan waktu bersama.
Hanya saja yang membuat tenang saat itu Dini tidak akan mungkin melakukan hal-hal negatif mengingat Arga juga bukan cowok yang disukai, malah sebaliknya sangat dibencinya. Kalau ternyata Arga yang melakukan, pasti ada cerita di balik kejadian.
“Din, siapa yang seharusnya bertanggung jawab?” kini Dini tengah diintrogasi ayah dan ibunya.
Dini menarik napas panjang lalu menghembuskan perlahan, ”Arga...” jawab Dini pendek. Semua kejadian di roof top berlarian di ingatannya dan ini semakin menyakiti hatinya.
Dini ingat di pesta Angel dirinya tiba-tiba merasa pusing setelah meminum soft drink dari Levi. Yang Dini ingat dia melakukan semuanya dengan cinta karena sepertinya dia bersama Widi.
Pagilah yang menyadarkan itu bukan Widi! Tapi Arga!
Mengingat itu membuat Dini semakin membenci Arga.
“Arga memang pengkhianat!” Dini merutuki Arga.
Ayah dan Ibu sekarang diam membisu, wajah mereka memucat kalau pihak sekolahan tahu, pasti Dini akan dikeluarkan. Padahal tinggal menunggu empat bulan saja untuk lulus dari SMA Seroja.
Tampak dahi Pak Danu mengerut, dia tengah berpikir untuk menyelamatkan kehormatan keluarganya.
“Kita harus rahasiakan ini sementara, rencana Ayah... kamu harus berpura-pura tidak sedang hamil. Jadi bersikaplah biasa sampai empat bulan ke depan kamu lulus dengan tetap nilai-nilai bagus. Setelah itu kamu dan Ibu ke Purwokerto tinggal dengan Bulik Sari sampai anak kamu lahir. Dan sepertinya Bapak juga akan memilih pensiun dini bila semua akhirnya harus ketahuan. Arga sementara jangan dikasih tahu masalah ini, setelah tenang dan kamu aman, Ayah akan meminta Arga bertanggung jawab.” Pak Danu membeberkan apa yang direncanakan.
“Arga tidak perlu tahu selamanya Ayah! Dini tidak mau menikah dengan dia! Selamanya! Biar Dini saja yang bertanggung jawab! Dini janji setelah melahirkan, Dini akan mengejar ketinggalan Dini yang tertinggal setahun nanti,” pinta Dini.
Dini ingat akan cita-citanya untuk menjadi dokter yang sukses, bisa membahagiakan ayah ibunya dan menemukan cinta sempurna dari pria yang sempurna juga dengan cintanya.
Sepertinya itu sudah kandas dan hancur lebur, tapi Dini tidak mau gara-gara dia hamil semua kesempatan itu harus lepas. Pasti dirinya bisa mengejar setahun yang tertinggal kalau dia memutuskan melahirkan sosok yang tengah bersemayam di perutnya.
“Din! Bagaimanapun Arga ayah dari bayi di kandungan kamu,” Ibu Dinda merasa tak adil kalau hanya Dini yang menanggung kesalahan mereka berdua, lagi pula Ibu Dinda tahu kalau Arga memang mencintainya tulus.
“Nggak! Pokoknya kalau Ayah dan Ibu memaksa Dini untuk meminta pertanggungjawaban Arga! Lebih baik Dini gugurkan kandungan ini!” Dini mengancam keras.
Kali ini Pak Danu dan Ibu Dinda juga tidak bisa memaksa kemauan putrinya yang ternyata tetap menyangkal untuk mencintai Arga, bahkan menolak Arga untuk bertanggung jawab jadi ayah buat anak yang tengah di kandungnya.
Semua sepakat untuk sementara mengikuti rencana Pak Danu. Empat bulan ke depan bukan hari-hari yang akan mudah lewati.
***
Ternyata hamil muda benar-benar membuat Dini tersiksa, tapi dia harus berpura-pura untuk tidak dalam kondisi hamil muda. Dengan kondisi sick morning yang mabuk berat beberapa kali terpaksa tidak masuk sekolah, prestasi sekolahnya sedikit menurun karena Dini kesulitan konsentrasi.
“Ibuuuuu, Dini tidak pernah mau hamil lagi! Semua ini gara-gara Arga!” Jalan di bulan ketiga benar-benar membuat dirinya merasa renta, bukannya badan Dini bertambah gemuk karena kehamilannya malah sebaliknya, berat badan Dini turun hampir empat kilogram karena setiap makanan yang dimakan selalu keluar. Dini jadi tampak kurus, tapi ini jadi menyelamatkan dirinya karena tidak kelihatan tengah berbadan dua.
Dini sama sekali tidak mau bertemu dengan Arga, Widi tahu kalau Dini tengah marahan dengan Arga tapi tidak tahu sama sekali penyebabnya.
Pernah Widi mengingatkan, ”Din kasihan Arga jadi kacau lagi! Liat dia beberapa kali berkelahi dan tawuran lagi, padahal sebentar lagi kita ujian kelulusan. kamu cobalah nasihati dia.”
Kali ini Dini benar-benar menjawab dengan ketus dan jengkel terhadap Widi. Mungkin inilah untuk pertama kali dirinya bersikap kasar terhadap Widi, ”Diam! Kamu nggak usah urusin aku atau Arga! Aku dan Arga tidak pernah ada apa-apa! Ingat Wid, tak pernah ada apa-apa! Kamu urusin saja Angel! Tuh baru liat kamu ngobrol berdua dengan aku saja dia sudah pasang wajah kecut!” Dini menatap tajam Widi yang berubah merah padam dan menatap sekilas wajah Angel yang memasang wajah cemburu.
“Din!” Widi memilih diam, apalagi Angel memang jadi marah karena Widi mencampuri urusan Dini.
Arga benar-benar putus asa, Dini tak peduli lagi pada dirinya sama sekali. Baru dia merasakan waktu lalu bahagia bisa dekat dengannya. Tapi sekarang setiap melihat Arga, Dini seperti melihat setan saja. Dia akan menghindar atau Dini memasang wajah akan siap-siap membentaknya bila nekat mendekatinya.
Dini jadi sangat pemarah dan sensitif, tak ada satupun yang tahu kalau Dini tengah mengalami perubahan hormon dirinya yang membuat mood-nya berubah-ubah tidak jelas, ditambah kebencian terhadap makhluk yang tidak dia kehendaki terus berkembang di perutnya.
Benar-benar Dini tak menyukai sama sekali. Gara-gara makhluk ini kandas sudah kesempatan masuk ke Fakultas Kedokteran tanpa tes dan mendapat beasiswa.
Tak terasa perjuangan untuk lulus sebulan lagi, rahasia kehamilannya terjaga baik. Walau ada yang curiga dengan perubahan fisiknya yang sedikit mulai tampak.
Dini mati-matian menahan lapar agar tidak makan terlalu banyak jelang empat bulan. Morning sick sudah berangsur-angsur berkurang, yang ada nafsu makan yang hebat mulai menyerangnya.
“Aku harus tahan menahan lapar, biar saja janin ini kelaparan, salah siapa dia harus ada di sini ...”
Dini harus kuat bertahan menyembunyikan kehamilannya sampai kelulusan, Dini merasa sudah benar-benar kandas cita-citanya memasuki Fakultas Kedokteran.
Sempat beberapa guru bertanya kenapa dirinya membatalkan untuk masuk Fakultas Kedokteran yang menerima dirinya tanpa tes dan mendapat beasiswa sementara di luar sana banyak yang berharap mendapat keberuntungan seperti dirinya, termasuk Widi yang tidak lolos untuk bisa masuk tanpa tes dengan alasan nilai Widi memang bagus tapi tidak konsisten. Syarat lolos tanpa tes yaitu nilai rapor bagus, konsisten dan grafiknya meningkat seperti milik Dini. Nilai Widi grafiknya naik turun, walau naik turunnya nilai itu tetap bagus tapi membuat Widi jadi tidak lolos. Begitu penjelasan Bu Meysa, wali kelas mereka yang getol mengajukan mereka berdua untuk masuk perguruan tanpa tes, menerangkan ketidaklolosan Widi.
Sudah pasti Bu Meysa sangat kecewa dengan keputusan Dini, tapi setelah mendengar penjelasan dari Pak Danu, rekan kerja sesama guru, Bu Meysa mencoba memahami.
Alasan Pak Danu adalah Dini memilih kuliah di Jawa sambil menjaga eyang putrinya yang sudah sangat lansia dan sakit-sakitan, bahkan setelah lulus SMA akan langsung berangkat dengan ibunya.
***
Siang ini sangat terik, pas mau naik angkot tiba-tiba semua mendadak gelap, untung ada tangan yang menangkap dirinya sebelum limbung.
Dan itu Arga yang langsung memeluknya, Dini tidak bisa meronta, dirinya sangat lemah. Arga segera membopongnya ke dalam mobil untuk mengantar Dini pulang. Bu Dinda sangat khawatir dengan kondisi putrinya yang kepayahan.
“Dini, kamu pasti tidak menghabiskan bekalnya, kamu tidak kasihan...,” Bu Dinda tersadar ada Arga untuk tidak melanjutkan kalimat selanjutnya.
“Memangnya Dini sakit apa Bu? Dia kerap pakai jaket terus di kelas sudah dua bulan ini,” Arga tampak khawatir dengan kondisi Dini yang pucat.
“Apa kita bawa saja ke dokter?” usul Arga.
“Nggak apa-apa Mas, oh ya Mas Arga sebaiknya pulang saja ya sebelum Dini marah-marah lagi,” ucap Bu Dinda bijak.
Ibu Dinda memohon pada Arga, dan melihat wajah Bu Dinda yang memucat Arga sadar ada yang mereka rahasiakan perihal Dini, terlebih Arga dengar dari Widi kalau Dini membatalkan untuk menerima masuk Fakultas Kedokteran tanpa tes dan beasiswa. Padahal Widi sendiri ingin sekali bisa mendapatkan tawaran itu. Malah Dini menolaknya, sesuatu yang tidak masuk akal kalau bukan penyebab yang serius.
Arga sudah mencoba bertanya ada apa tentang Dini pada Mela, sahabat terdekatnya. Tapi Mela sampai bersumpah-sumpah juga tidak tahu apa-apa. Menurut Mela kalau Dini memang sangat tertutup untuk masalah pribadi. Berbeda kalau dengan pelajaran Dini selalu membantu teman-temannya yang kesulitan.
Arga benar-benar penasaran, entah kenapa feeling-nya mengatakan ini semua ada hubungan dengan dirinya.
Arga masih ingat semua kejadian beberapa bulan lalu saat pergantian tahun baru. Tapi ini seakan menjadi misteri yang harus dia cari sendiri kebenarannya.
“Dini apa yang terjadi? Ke manakah Sang Bintang yang selalu bersinar... mengapa kau memilih mematikan sinarmu dan menjadi sosok yang meredup. Ah apakah ini memang garis hidupmu?Redupnya Sang Bintang... tapi aku masih terus mencari dan menunggumu...” Arga menatap Dini yang pucat sejenak dan kemudian berpamitan, daripada kehadirannya hanya memperburuk kondisi Dini.
***

Other Stories
Curahan Hati Seorang Kacung

Saat sekolah kita berharap nantinya setelah lulus akan dapat kerjaan yang bagus. Kerjaan ...

Absolute Point

Sebuah sudut pandang mahasiswa semester 13 diambang Drop Out yang terlalu malu menceritaka ...

Ada Apa Dengan Rasi

Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...

Jatuh Untuk Tumbuh

Layaknya pohon yang meranggas saat kemarau panjang, daunnya perlahan jatuh, terinjak, bahk ...

Mauren, Lupakan Masa Lalu

“Nico bangun Sayang ... kita mulai semuanya dari awal anggap kita mengenal pribadi ya ...

Garuda Hitam: Sayap Terakhir Nusantara

Aditya Pranawa adalah mantan pilot TNI AU yang seharusnya mati dalam sebuah misi rahasia. ...

Download Titik & Koma