Melepas Rasa
Ternyata pedih hati rasanya, melihat orang yang sesungguhnya ingin kita miliki, lebih memilih hati lain. Dua tahun mencintai dalam diam yang harus berakhir dan menyesakkan dada.
Tadi Widi benar-benar tidak memedulikan dirinya sama sekali saat berboncengan dengan Angel. Dini mencoba berpikir positif, kalau Widi memang tidak melihat dirinya.
Aku harus tetap sportif, mungkin suatu saat aku akan menemukan cintaku yang sempurna seperti cinta ibu dan ayah. Dini menuliskan curahan hatinya pada buku diary-nya.
Telepon genggamnya berbunyi dan tertera dalam layarnya ‘Widi PP’. Dini ragu untuk mengangkat, apalagi hatinya masih terasa sakit. Tapi mengingat janji dirinya untuk sportif menerima sebuah kekalahan, Dini segera mengangkat telepon dan terdengar suara Widi yang tampak bersemangat.
“Din, kamu sudah tidur belum? Aku mengganggu nggak?” suara berat di seberang telepon genggamnya masih saja membuat hatinya bergetar.
“Nggak Wid, ada apa?” Dini berusaha untuk tetap tenang, tidak terbawa suasana hatinya yang mellow.
“Din, hmmm… hari ini Angel mau juga menerimaku sebagai teman. Dan ini menurutku sebuah kesempatan untuk nantinya aku bisa jadian dengannya. Aku yakin banget Din...” jelas nada suara orang yang berbahagia dan penuh harapan.
Dini terdiam menahan perasaan hatinya.
“Eh Din! Arga titip salam lho buat kamu. Tadi sore aku nggak sengaja ketemu Arga di supermaket. Dia beneran titip salam buat kamu! Diterima ya, biar aku salamin balik nih ke Arga,” Widi bicara dengan ringan.
“Nggak usah! Aku nggak suka sama dia! Please, deh! Mentang-mentang kamu sudah bisa dekat dengan Angel kamu nggak perlu repot-repot menjodohkan aku dengan Arga! Selamat malam!” dan air mata Dini tumpah menahan sesak hatinya
Hatinya sangat pedih, apalagi Widi sama sekali berbicara tanpa perasaan dengan menjodohkannya sama Arga, yang jelas-jelas Dini membencinya. Dini memang sangat tidak suka dengan sosok Arga yang sangat badung.
Bagaimana mungkin dia akan suka dengan cowok bertelinga tindik, bertato, dan rambut dicat merah. Sangat berbeda dengan Widi yang sangat sopan dan rapi.
Barusan Widi menjodoh-jodohkan dirinya dengan Arga. Terasa sakit di hatinya. Kalau bisa, spontan Dini ingin berteriak, “Cukup! Nggak perlu kamu capek-capek mencarikan aku pacar! Karena aku akan menemukan sendiri cinta sempurnaku tanpa campur tangan dirimu!”
Tapi Dini memilih hanya bisa marah dalam hati.
***
Dua minggu liburan kenaikan kelas, hati Dini sepertinya terasa hampa. Widi sama sekali tidak main ke rumahnya. Seperti waktu lalu sebelum jadian dengan Angel, Widi terkadang suka bertandang ke rumah walau untuk mengerjakan tugas sekolah. Dan itu membuat Dini cukup bahagia. Apalagi ibu dan ayah juga tampak senang dengan sosok Widi yang santun.
Sangat berbeda saat Arga yang datang ke rumah Dini. Wajah ayah dan ibunya terlihat tegang saat Dini turun dari mobil Jazz sport milik Arga, siang hari setelah Dini pulang dari pasar.
Jadi ceritanya, setelah seminggu libur sekolah diisi hanya dengan membantu ibu, Dini ingin membuat cup cake dan diizinkan oleh Ibu Dinda untuk belanja ke pasar sekalian. Ternyata tanpa diduga, ada segerombolan cowok berandal yang mengganggunya. Tas belanjaan Dini sempat dilempar ke sana kemari dan mereka tidak memedulikan Dini yang berteriak. Dalam tas belanjaannya ada telur untuk bahan membuat cup cake.
Belanjaan jatuh berhamburan dan dompet Hello Kitty yang berisi uang dan telepon genggamnya berhasil dirampas oleh berandalan itu.
Dini mencoba merebut tapi tenaganya jelas kalah jauh, apalagi mereka terdiri dari tiga orang. Di saat yang genting, Arga muncul dan langsung menghajar para berandalan itu.
Entah bagaimana bisa Arga tahu bahwa Dini tengah dalam bahaya. Sifat badung Arga di sekolah memang pas dengan keberanian dia berkelahi menghajar para berandalan tanpa ampun. Meski mukanya sempat kena pukulan beberapa kali dan darah mengucur dari pinggir bibirnya, Arga tidak menyerah. Pada akhirnya, para berandalan lari tunggang langgang.
“Kamu nggak apa-apa? Ayo cepat masuk mobil! Aku antar pulang sebelum mereka datang lebih banyak,” Arga menarik tangan Dini yang sempat berontak. Bagaimanapun memang Dini tidak suka dengan Arga dari awal. Sejak awal, Dini memang tidak suka dengan Arga, malah sangat muak. Tapi sepertinya, sekarang tidak ada pilihan. Apalagi Arga juga sudah kehabisan tenaga. Tidak memungkinkan jika dia harus melawan berandalan lain yang lebih banyak, yang mungkin bisa muncul sewaktu-waktu. Dini menurut masuk ke dalam mobil yang langsung Arga pacu dengan kecepatan tinggi menuju rumah Dini.
Dan sekarang ayah dan ibunya dengan wajah cemas dan curiga memandangi Dini dan Arga. Pak Danu tahu siapa Arga, karena memang terkenal kebadungannya di SMA Seroja tempat dirinya bekerja sebagai guru matematika. Pak Danu pernah menghukum Arga karena tidak pernah mengerjakan PR matematikanya dengan alasan sulit sekali, otaknya nggak mampu. Tapi yang lebih membuat Pak Danu tidak suka ialah Arga setiap mata pelajarannya memilih kabur ke kantin. Tentu saja Pak Danu sangat tersinggung dengan sikap Arga yang dianggap tidak menghargai dirinya sebagai seorang guru.
Tepat jika Arga masuk kelas Bahasa, sama dengan Angel. Walau dalam kelas Bahasa, Arga bisa mengikuti pelajaran jauh lebih bagus daripada Angel karena prestasi Arga masih masuk sepuluh besar, tapi tetap saja dia terkenal sebagai Si Badung karena hobinya berkelahi, kebut-kebutan, membuat onar, dan menjadi langganan tetap guru BP. Ada saja kerusuhan yang dibuat Arga sampai Dini menjadi benci akan sosok Arga.
Selain keonaran yang dibuat Arga dan gengnya, dia suka juga menggoda Dini dengan senyuman genit, siulan-siulannya, salam-salamnya, dan terang-terangan mendekatinya. Bahkan bilang jujur pada Dini, ‘Aku suka...’ atau ‘Kamu cantik...’, dan ‘Kamu pintar…’ berulang sampai Dini merasa kesal.
Hatinya sama sekali tidak ada rasa suka pada Arga. Bahkan sebaliknya, Arga dianggapnya cowok badung yang sangat memuakkan.
Ditambah lagi, Arga suka mengirim surat kaleng yang ditaruh di bawah mejanya. Dini tahu itu ulah Arga, karena setiap ada surat kaleng berisi pujian dikirim padanya, pasti Arga akan menghampiri dan berkata, “Dini gimana puisi yang aku buat? Cukup romantis, bukan?” Entah apa yang merasuki Arga. Cowok berandalan seperti itu bisa membuat puisi. Demi cinta, dia menepiskan karakternya sebagai berandalan, dan menjadi seorang pujangga.
Dan dengan sadis Dini merobek-robek semua surat-surat tanpa nama itu di depan wajah Arga.
Lebih kesal lagi karena Arga hanya melengos pergi meninggalkan Dini tanpa minta maaf. Dan penyesalan telah mempermalukan dirinya dengan kertas berisi pusi-puisi picisannya. Besoknya, Arga akan mengirim lagi. Entah sampai kapan jeranya. Widi sama sekali tidak membantu Dini dalam menghadapi Arga. Dia malah tertawa senang karena Dini sahabatnya ada yang menyukai. Sikap Widi ini juga membuat Dini semakin kesal melewati hari-hari di sekolah akhir-akhir ini.
“Dini, kenapa kamu naik mobil Arga?” ayahnya langsung menginterogasi.
Dini menatap Arga yang sedikit babak belur, darah sudah tidak menetes dari bibirnya. Dini memilih untuk tidak menjawab dan langsung berjalan masuk ke kamar.
“Dini!” baru kali ini, Pak Danu membentak putrinya. Tapi Dini juga tidak peduli. Dalam hatinya berkecamuk perasaan tak karuan.
“Maaf Pak Danu, tadi Dini sempat diganggu tiga berandalan dan dompet dia mau direbut jadi saya tolong. Tapi maaf Pak, sepertinya Dini memang nggak suka sama saya jadi...”
Belum selesai Arga menjelaskan, Pak Danu mengangguk-angguk cepat dan memberi kode untuk tidak usah dilanjutkan penjelasannya.
“Terima kasih Mas Arga, dan Bapak mohon Mas Arga pulang sekarang juga... sekali lagi terima kasih ya atas pertolongannya,” Pak Danu berusaha tersenyum bijak, mengubah wajahnya yang sebelumnya angker. Sementara Bu Dinda hanya menatap was-was putrinya yang sekarang tengah menuju kamarnya.
“Baik Pak, saya pamit,” Arga masih dengan rasa serba salah memilih cepat pamit. Tampak kehadirannya sama sekali tidak diharapkan di keluarga Pak Danu. Arga sadar, selama ini memang dia selalu jadi biang keonaran di sekolah. Pandangan semua orang terhadap dirinya negatif.
Arga sadar diri, selama ini dirinya tidak peduli dengan pelajaran Pak Danu dan semua orang menganggap dirinya negatif. Tidak ada yang peduli kalau dalam hati kecilnya pun ingin berubah. Kehadiran Ardini Puteri yang sulit didekati tersimpan bagai pijar di hatinya untuk berubah menjadi sosok yang baik.
Ada sebuah harapan menjadi orang yang sempurna untuk cewek yang terkenal sebagai ‘Si Bintang’. Cewek yang sempurna penuh kesederhanaan dan daya tarik yang natural. Meskipun dari awal gadis pintar itu sudah mengibarkan bendera permusuhan, tatapan matanya jelas menyiratkan rasa tidak suka pada dirinya. Dan setiap kebaikan yang Arga lakukan selalu ditolak.
“Dasar, Widi bodoh! Bagaimana mungkin dia lebih tertarik dengan si Barbie yang banyak polesan dan berotak bodoh dibandingkan Dini yang mempunyai kecantikan alami juga kecerdasan otak. Ardini buatku cewek yang sempurna dan aku hanya menginginkan cintanya yang sempurna.”
Arga sengaja memata-matai Widi selama seminggu liburan. Ternyata, setiap hari dia bertemu dengan Angel. Widi benar-benar memanfaatkan kesempatan bisa dekat dengan Angel untuk hubungan lebih jauh.
Tampak sekali mereka sangat dekat. Widi antusias mengajari Angel pelajaran-pelajaran dan terus menyemangati Angel. Widi serius membantu Angel untuk mengejar ketertinggalannya.
***
Di kamar yang sederhana namun tertata rapi dan bersih, ada rak berisikan buku-buku yang dikoleksi dari Sekolah Dasar. Tersusun buku cerita anak, buku biografi beberapa tokoh terkemuka, buku-buku cetak pelajaran, dan novel remaja yang juga mulai Dini gemari.
Semua disampul plastik. Dini menjaga buku-bukunya yang dibeli dengan menyisakan uang jajannya. Dini sadar, dia tidak bisa bermewah-mewah dengan keadaan keuangan ayah dan ibunya.
Cup cake cokelat dan teh hangat sekarang tengah menemaninya saat membaca sebuah kumpulan cerita Cinta Dalam Stoples. Sebuah kumpulan cerpen tentang cinta, kehidupan, dan persahabatan yang royaltinya akan disumbangkan untuk dana kemanusiaan.
Wajah Arga melintas di benak Dini saat menikmati enaknya cup cake cokelat buatannya siang tadi. Kalau nggak ada Arga tadi pagi yang menolongnya saat diganggu para berandalan di pasar, sore ini dia tidak bisa menikmati cup cake buatannya.
Terbersit keinginan untuk membagi cup cake-nya pada Arga. Tapi bagaimana caranya? Dini tidak tahu nomor telepon Arga, juga tidak tahu di mana Arga tinggal.
“Kalau minta tolong Widi, yang katanya rumahnya masih satu kompleks, enak nggak, ya? Pasti Widi akan meledek aku habis-habisan?” Dini jadi bingung mau minta tolong siapa untuk memberikan cup cake buat Arga.
“Ah, nggak ada pilihan. Aku coba SMS Widi aja, deh!” Dini memutuskan untuk meminta bantuan Widi.
SMS dari Dini.
Wid, kamu lagi senggang nggak? Aku buat cupcake cokelat banyak dan aku mau kamu dan Arga cicipin.
Bip.
Pesan terkirim. Sesaat....
Bip. Bip.
Pesan diterima.
Balasan SMS Widi.
Wow… buat aku dan Arga? Serius? Mau dong. Tunggu dua puluh menit aku sudah sampai rumah kamu
Bip.
Pesan terkirim.
SMS Balasan Dini.
Sip thanks, aku tunggu
Dini bergegas ke ruang makan. Masih ada banyak cup cake di piring besar. Dia mengambil kardus kue dan menata cup cake cokelatnya menjadi dua kardus.
Sambil menunggu kedatangan Widi, Dini melanjutkan membaca buku kumpulan ceritanya dengan perasaan gelisah. Sudah seminggu ini, sejak liburan panjang kenaikan kelas tidak bertemu Widi, ada rasa rindu yang tetap hanya bisa dipendam selamanya.
Sesuai dengan janji Widi, kurang lebih dua puluh lima menit, Widi datang. Tidak sendiri, tetapi bersama Angel. Dini sadar kalau ini memang malam Minggu. Dini merutuki dirinya yang bodoh! Malam Minggu tentu saja waktu yang tidak akan dilewatkan buat sepasang kekasih.
“Hai Din, mana cup cake-nya? Aku dan Angel pas banget nih, lagi lapar!” Widi datang-datang langsung menagih cup cake yang dia janjikan.
Sekilas ada kilat cemburu di mata Angel dengan kelakuan Widi yang bersikap manja terhadap Dini.
Sesaat Dini jadi serba salah, tapi mencoba untuk bersikap netral. Bagaimanapun dia sadar kalau sekarang Angel adalah teman dekat Widi. Cowok yang dicintainya sudah menentukan pilihannya.
Sebenarnya bukan pilihan juga karena Widi tidak tahu kalau dirinya mencintainya. Haruskah cinta diutarakan? Tak bisakah Widi menangkap rasa itu selama persahabatan mereka dua tahun ini?
Dini ingat kata Mela, kalau cinta itu harus diutarakan, bukan memilih diam. Sekarang sudah terlanjur Widi memilih Angel.
“Ini, ayo dicicipin Wid, Angel... dan ini dua kotak. Satu buat kamu Wid, boleh berbagi dengan Angel kok. Dan satu lagi aku boleh nitip buat Arga?” Dini bertanya pada Widi.
“Cie… cie… jadi seminggu liburan pendekataan ya si Arga ke kamu?” goda Widi.
“Nggak, jadi ceritanya pagi tadi Arga babak belur soalnya nolongin aku yang diganggu tiga berandalan waktu aku ke pasar, belanja keperluan buat cup cake cokelat ini. Yaah, aku cuma ingin mengucapkan terima kasih saja sih... itu juga kalau nggak merepotkan kamu dan Angel,” Dini bercerita yang sebenarnya.
“Ohhh… nggaklah Din! Kita bisa antar sebelum kita jalan. Iya kan, Angel?” Widi memegang tangan Angel.
Angel tersenyum senang karena Widi menunjukkan rasa sayangnya di depan Dini. Walau jujur, dalam hati Angel masih ada rasa cemburu. Apalagi jelas-jelas cewek yang selama ini dekat dengan Widi—pacarnya sekarang—adalah sang bintang yang tenang. Angel sendiri merasa dirinya bukan apa-apa dibandingkan Dini yang pintar dan cantik. Yang membedakan dirinya dan Dini adalah kekayaan. Angel berasal dari keluarga kaya raya yang apapun dengan mudah dapat terpenuhi, tapi tidak dengan kepintaran. Sementara Dini dari keluarga sederhana saja.
Sesaat, mereka bertiga terlibat perbincangan tentang liburan sambil mengudap cup cake cokelat yang sengaja dibuat bentuk mini sehingga tidak langsung mengenyangkan.
Dini melepas kepulangan Widi dan Angel yang datang dengan mobil sedan Widi. Kemesraan Widi dan Angel terus tampak di pelupuk mata sampai mereka benar-benar hilang di ujung jalan.
Dini menarik napas panjang. Terasa memang ada sesak yang menyakitkan, dan melepas rasa itu memang sulit. Tapi Dini bertekad untuk bisa melepas rasa cinta dalam diamnya untuk selamanya.
Mungkin persahabatan memang yang telah digariskan antara dirinya dan Widi. Jadi seiring berjalannya waktu, dia berharap bisa melepas rasa itu.
***
Other Stories
Rembulan Di Mata Syua
Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek sep ...
Ruf Mainen Namen
Lieben .... Hoffe .... Auge .... Traurig .... ...
Mendua
Dita berlari menjauh, berharap semua hanya mimpi. Nyatanya, Gama yang ia cintai telah mend ...
Rembulan Di Mata Syua
Syua mulai betah di pesantren, tapi kebahagiaannya terusik saat seorang wanita mengungkapk ...
Titik Nol
Gunung purba bernama Gunung Ardhana konon menyimpan Titik Nol, sebuah lokasi mistis di man ...
Cinta Rasa Kopi
Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...