Ada Cinta Arga
Sebuah panggilan telepon masuk dan tertera nomor asing di layar ponsel milik Dini. Sementara jam menunjukkan pukul 19.20. Baru dua cerpen dari kumpulan cerita yang tengah dibacanya.
“Halo...” Dini menekan tombol bicara.
“Halo, Dini?” sebuah suara cowok berat di seberang telepon.
“Iya... siapa ya?” Dini masih belum tahu si penelepon.
“Hmmm… makasih cup cake-nya enak banget, nih... nyam... nyam...! Aku sampai nggak makan malam soalnya sudah menghabiskan cup cake buatanmu.”
“Oh! Arga...” Dini tersadar.
“Iya, makasih banget ya Din,” tanpa ada niat menutup-nutupi rasa girang di hati Arga. Begitulah Arga, selalu menyanjung apapun tentang Dini dan hasil karyanya secara spontan.
“Oh iya. Syukur deh kalau kamu suka. Ga, gimana keadaan kamu? Masih sakit ya?” ada rasa was-was menyelinap di lubuk hati Dini akan keadaan Arga yang tadi siang setelah dikeroyok para berandalan. Tapi Dini cuekin begitu saja dan langsung masuk kamar. Untung ayah mau menemani sesaat kedatangan Arga, sementara ibu bertanya, apa yang terjadi sesungguhnya?
Tadi Ibu Dinda sempat menasihati dirinya untuk mengucapkan terima kasih pada Arga, walau Arga selalu menggoda dan terkadang usil. Tapi kali ini Arga yang telah menolong dirinya, maka sudah sepantasnya Dini harus mengucapkan terima kasih terlepas dari sifat-sifat buruk Arga.
“Aku sudah jauh baikan setelah menghabiskan satu kotak cup cake mini rasa cokelat ala Chef Dini,” kata Arga mantap dan membuat wajah Dini di seberang telepon genggamnya merona merah. Ada rasa menghangat dalam hatinya. Rasa yang sulit diceritakan. Rasa itu bercampur aduk sehingga Dini juga sulit memaknainya.
“Syukurlah kalau membaik, Ga. Hmmm. ya udah dulu ya,” Dini berkata singkat dan ingin segera mengakhiri percakapan.
“Eitts… bentar. Kan aku yang nelepon, jangan diputus dulu! Janji aku nggak lama kok,” Arga meminta Dini tidak memutus teleponnya.
Arga sangat girang dengan kiriman cup cake-nya dan saat ini, hatinya tengah bahagia karena ada perhatian dari cewek yang disukai setahun ini.
Ya, setahun ini Arga suka memperhatikan Si Bintang kelas. Ardini Puteri dalam pandangan Arga adalah cewek yang luar biasa. Pintar, cerdas, cantik, pendiam, dan kalem pembawaannya. Tidak banyak gaya seperti Angel dan gengnya.
Arga bisa menebak kalau Dini menyukai Widi. Tapi Arga juga tahu kalau Widi hanya suka pada Angel, Si Barbie Berotak Udang.
Jadi jelas Dini tidak ada pemiliknya. Setiap melihat Dini rasanya dia ingin berubah menjadi anak yang baik. Tidak seperti sekarang, suka berkelahi dan dicap biang keonaran.
“Din, ini kan malam Minggu, kamu nggak keluar atau ada yang ngapel gitu?” Arga langsung mencari tahu.
“Nggak, aku nggak punya teman dekat,” Dini jujur menjawab pertanyaan Arga.
“Oh, ya sudah, kapan-kapan aku boleh ya main ke rumah kamu?” Di kamar, Arga tampak semakin girang. Padahal baru saja badannya terasa mulai linu-linu akibat hajaran tiga berandalan siang tadi akibat menolong cewek yang paling dicintainya, tentunya setelah sosok mamanya. Tapi bisa juga memang yang paling dicintai Ardini malah, bukan mamanya. Mengingat mamanya sangat sibuk dengan kantornya yang seakan tidak punya waktu untuknya.
Sudah bisa ditebak, sang bintang memang tidak punya pacar. Arga tersadar kalau memang Dini sangat mencintai Widi yang sekarang sudah resmi menjadi pacar Angel.
Ada rasa was-was menggelayuti hatinya. Cinta mendalam Dini terhadap Widi sebagai cinta pertamanya pasti akan sulit untuk dipatahkan begitu saja. Dan ini adalah tantangan terbesar yang harus Arga lewati untuk merebut hati Dini yang sudah terpasung cinta kepada Widi yang tak terbalaskan.
“Ya udah deh! Terima kasih kuenya, Din. Aku nggak akan nolak kalau kamu kirimi lagi lho! Enak banget! Eh, liburan masih seminggu, kamu nggak ke mana-mana?” Arga ingin tahu apa saja kegiatan Dini selama liburan ini.
“Nggak, aku bukan orang kaya yang bisa liburan pergi ke mana-mana, aku di rumah saja beres-beres bantu Ibu dan Ayah,” jawab Dini dingin.
“Oh, Din… besok-besok boleh ya, aku main?” pinta Arga membuat Dini agak risih sebenarnya. Niat memberikan kue hanya untuk balas budi atas pertolongan Arga saja. Dini tidak ada maksud untuk lebih lanjut. Tapi tampaknya jadi sebuah kesalahan karena Arga seperti mendapat angin segar untuk mendekatinya.
“Ya boleh, tapi bilang-bilang dulu ya kalau mau kemari. Takutnya aku pas nggak ada di rumah,” Dini menjawab dengan syarat.
Kalau Arga bilang-bilang dulu, kan Dini bisa menolak dengan alasan mau pergi atau ada kegiatan meskipun harus berbohong.
“Baiklah, selamat istirahat, Din... terima kasih ya,” Arga menutup pembicaraan mereka, yang menyisakan gelisah dalam hati Arga dan Dini yang kini melamun di kamar mereka masing-masing.
***
Arga tidak butuh hitungan hari untuk main ke rumah Dini. Besoknya di hari Minggu, dia sudah menelepon Dini.
“Din, aku boleh main ke rumah kamu sekarang?” Suara Arga mengagetkan Dini yang sedang beres-beres rumah.
“Apa? Pagi-pagi? Kamu nggak punya kerjaan, ya? Aku masih nyapu, ngepel, ke pasar! Nggak! Abis itu aku juga capek mau istirahat!” Dini jadi senewen, apalagi kerjaan rumah bantu-bantu ibunya juga belum kelar.
Bukan urusan bantu-bantu pekerjaan rumah alasan utama yang membuat Dini senewen. Yang pasti, karena dirinya memang tidak suka dengan Arga! Makanya dia merasa berang! Coba kalau Widi yang datang, pasti saat Dini mengerjakan apapun akan disambut dengan suka cita.
“Iyaa aku tahu, kalau gitu aku bantuin deh beres-beresnya. Boleh, ya Din, please? Aku bete nih. Di rumah aku kesepian. Papa Mama sibuk....” belum selesai Arga berbicara, telepon sudah diputus. Tut tut tut...
***
Arga benar-benar datang saat Dini tengan asyik menyiram taman kecilnya. Wajahnya berseri-seri meskipun masih ada memar akibat sisa perkelahian kemarin. Sudah pasti Dini sangat sebal dengan kedatangan Arga yang tak diharapkan.
“Eh, Mas Arga, ayo masuk!” Ibu Dinda tahu gelagat kebencian Dini. Merasa tidak enak terhadap Arga akan sikap putrinya, Ibu Dinda mencubit tangan Dini yang tengah memegang selang.
“Aduh!” Dini mengaduh atas cubitan ibunya. Dini tahu, sikap penolakan terhadap Arga mungkin tampak berlebihan. Sudah pasti wajahnya sangat cemberut dan dapat terbaca oleh Ibu dan Arga yang tampak memilih bersikap cuek.
“Maaf Bu Dinda, saya kemari karena janji mau bantu beres-beres kok! Jadi sini Bu, sapunya, biar Arga saja yang sapu halamannya ya.”
Ibu Dinda tidak bisa menolak. Sapu yang di tangannya sudah berpindah ke tangan Arga, dan dirinya langsung menyapu halaman. Arga mana pernah menyapu halaman. Melihat cara dia menyapu halaman yang kelihatan sangat kaku, membuat Ibu Dinda tersenyum dan menatap balik Dini yang sepertinya ingin tertawa juga, tapi memilih ditahan.
Arga jelas kelihatan tidak pernah bekerja. Dia memegang sapunya saja kelihatan kaku. Namun terlihat kesungguhan ingin membantu.
“Ya udah Dini, kamu lanjutin aja menyiramnya. Ibu ke dalam ya, buatin Arga minuman,” kata Ibu Dinda sebelum berlalu.
“Nggak usahlah Bu. Kalau dibuatin minum, kapan dia mau pulang? Dini males ah, nemanin!” Dini berbisik, tapi tak urung Arga sebenarnya mendengar pembicaraan Ibu dan putrinya itu.
“Dini, nggak boleh gitu ah...”
Dan Ibu Dinda tetap berlalu meninggalkan Dini dan Arga dengan kesibukannya masing-masing.
“Yes! Ibu Dinda menyukai aku!” riang hati Arga.
Sementara Dini melanjutkan dengan waspada, karena dia tahu, Arga juga suka jahil di sekolah dan suka buat keributan.
Beberapa kali Arga terlibat tawuran dengan sekolahan yang di seberang jalan SMA Seroja, akibatnya diskors dan beberapa kali dihukum karena terlambat. Tak jarang Arga jahil pada teman-teman, tidak mengerjakan PR, atau pernah juga ngerjain guru bahasa yang killer.
Pokoknya Arga sudah di-blacklist di otak Dini. Dia sangat jauh berbeda dengan Widi yang selalu harum namanya.
Bahkan keputusan jadian dengan Angel, Si Barbie Berotak Udang sepertinya banyak mengundang rasa simpatik pada Widi. Jelas Widi memang berniat merubah Angel untuk membuktikan, Angel sebenarnya adalah cewek yang pintar.
“Hei, kerja kok ngelamun!” Dini kaget, karena Arga memercikkan air dari selang yang tengah digunakan untuk menyirami bunga sepatu pada mukanya.
“Hei, kamu!” Dini spontan menyemprot Arga dengan air selang dengan gemas campur kesal.
“Aduh… aduh… ampun Din! Ampuuun!” Arga berusaha menghindar, tapi Dini makin gemas dan semakin menyorotkan air selang deras ke sekujur tubuh Arga. Sudah pasti membuat Arga basah kuyup.
“Puas? Makanya jangan suka gangguin aku! Kamu bisa gangguin semua orang tapi nggak dengan aku!” Dini melebarkan matanya yang bulat.
“Iyaa ampun Din,” Arga mengusap badannya yang basah.
Ibu Dinda datang tergopoh-gopoh. “Walahhhhh… Mas Arga, maaf ya… Dini! Kamu keterlaluan sekali!”
Pak Danu juga geleng-geleng kepala. Diam-diam Pak Danu juga memperhatikan kelakuan Dini dan Arga dari dalam rumah.
“Dini! Jangan keterlaluan!” teriak Pak Danu. Tak urung Pak Danu juga membela Arga, padahal hatinya juga sempat kesal karena anak satu ini memang sangat badung di sekolah tempat dirinya mengajar.
“Mas Arga, sudah… masuk! Mandi sekalian nanti Bapak pinjamin kaos Bapak ya… tapi jangan berharap kaos Bapak bagus kaya punya kamu.”
Dini melotot. Sebaliknya, Arga gembira sekarang, Ibu Dinda dan Pak Danu malah membelanya. Sesuatu banget rasanya di hati.
“Terima kasih, Pak Guru....” Arga memanggil Pak Danu dengan panggilan ‘Pak Guru’.
Pak Danu harus mengakui, nyali Arga besar juga. Dirinya dikenal sebagai guru matematika killer dan pernah menghukum Arga saat kelas X karena sengaja tidak mengerjakan tugas sampai beberapa kali. Sekarang anak ini malah berani juga mendekati anak gadisnya.
Mau marah juga tidak bisa, apalagi jelas Arga kemarin jadi penolong saat Dini mau dijahilin anak-anak berandalan. Dan sepertinya Arga juga masih bisa dinasihati. Anak itu sepertinya haus kasih sayang dan perhatian. Itulah yang bisa Pak Danu simpulkan sementara.
***
Dari balik pintu kamar, Dini ingin tersenyum geli melihat Arga memakai baju ayahnya yang tampak sangat sederhana.
Kaos ayahnya adalah kaos hadiah dari salah satu produk obat. Sekilas Arga tampak seperti Sales Promotion Man. Tapi Arga cuek saja, kaos itu tidak juga membuat Arga tampak jelek. Wajah Arga sebenarnya tampan dan lembut, sayang dia suka sekali berkelahi sehingga Dini dan teman-teman di sekolah mencapnya Si Badung.
Tapi kalau mau jujur, sekarang Arga tampak santun dan menjadi sosok yang baik. Kalau saja sikap dia tidak sok radikal dan biang onar, mungkin dirinya tidak membenci cowok bernama lengkap Arga Matara. Walau Arga tentu saja tidak sepintar Widi, si bintang kelas yang selalu Dini harapkan sebagai pasangan untuknya yang paling sempurna, setidaknya Dini masih bisa berteman saja.
“Ah, aku masih saja berangan-angan mendapatkan cinta sempurna. Cinta yang sepenuhnya untuk aku dan itu hanya diberikan oleh sosok sempurna, Widi Putera Permana. Sadaaaaaar! Semua itu hanya mimpi!”
Masih saja terus berharap akan cinta sempurna dari sosok Widi, hati Dini selalu merasa lara.
“Mas Arga, ayo diminum tehnya!” Ibu Dinda menawari teh hangat dan pisang goreng yang baru saja matang.
Tanpa malu-malu, Arga langsung menyeruput dan menyomot pisang goreng yang tampaknya sangat dinikmati.
Dini geleng-geleng kepala dari tempat per-sembunyiannya sambil berkata sendiri. “Dasar anak nggak tahu malu! Atau lagi kelaparan!”
“Ibu... Dininya mana?” Arga celingukan.
“Dini! Dini!” Ibu Dinda memanggil Dini yang males beranjak dari balik pintu kamar. Jujur hatinya malas menemui Arga. Bagaimanapun tidak ada sedikitpun rasa suka di hatinya. Ditambah kelakuan Arga yang mengejar-ngejar dirinya malah makin membuat il feel.
Semakin Arga mengejar, semakin hatinya tambah membencinya.
“Bentar, ya, Ibu cari Dini,” Ibu Dinda berusaha tersenyum.
Melihat ibunya mengarah pintu kamarnya, Dini memutuskan loncat dari jendela kamar dan sembunyi di antara pohon melati gambir yang tengah berbunga putih mekar.
“Duh, ke mana sih itu anak?” Ibu Dinda kembali menemui Arga, sementara Pak Danu tadi berpamitan, ada urusan dengan penerbit buku LKS. Jadi menyerahkan urusan Dini yang tengah menghindar dari Arga pada istrinya.
“Mas Arga nggak tahu nih Dini ke mana ya? Ibu cari-cari di kamarnya juga tidak ada. Maaf ya, sikap Dini memang lagi aneh. Nggak seperti biasanya kok,” Ibu Dinda merasa tidak enak hati, dalam hatinya sudah terkumpul kalimat kalau Dini di depannya akan diberi nasihat panjang lebar.
“Nggak apa-apa Bu, biarin saja. Mungkin Dini kesal sama aku. Ngobrol dengan Ibu juga asyik kok,” Arga tanpa malu-malu mau saja ngobrol dengan Ibu Dinda.
Ibu Dinda merasa tidak enak. Jadi mau saja ngobrol dengan Arga, yang ternyata anaknya ramai juga diajak ngobrol. Tidak canggung meskipun berhadapan dengan sosok ibu-ibu, bahkan dia sepertinya menjadikan Ibu Dinda seperti mamanya yang sangat dirindu.
Arga merasa Ibu Dinda sangat nyaman diajak bicara, makanya apa saja Arga ceritakan. Tentang kesibukan papa dan mamanya yang jarang sekali di rumah karena urusan bisnis kerjaan mereka. Juga dirinya yang kesepian di rumah, hanya dengan Mang Darma, sopir dan Bibi Manisa yang mengurusi semua keperluan sehari-hari.
Untuk semua keluh kesah Arga, Bu Dinda hanya menyuruh Arga bersabar dan menasihati agar Arga jangan melampiaskan kekesalan di rumah dengan berkelahi, tawuran, bolos, dan jahil di sekolah. Saat itu Arga mengangguk-angguk dan membenarkan saran Ibu Dinda.
Dini mendengarkan semua dari balik pintu kamarnya sambil tidur-tiduran dan akhirnya benar-benar tertidur.
Tahu-tahu ibunya membangunkan dengan lembut, ”Din, bangun. Arga sudah pulang kok!”
“Huam… syukurlah kalau sudah pulang Si Badung,” spontan menjawab sambil mengucek matanya.
“Sudah, kasihan dia...” kata ibu Dinda melanjutkan.
“Kasihan? Emang kenapa dia?” sahut Dini jutek.
“Yah nggak apa-apa juga sih. Cuma dia sepertinya kehilangan sosok papa mamanya yang selalu sibuk.”
“Jadi, cuma itu aja alasan kenapa dia jadi tukang onar?” Dini bangun dan menuju kamar mandi. Ibu Dinda hanya bisa geleng-geleng kepala atas sikap putrinya yang berubah seminggu ini sejak liburan.
Dini sepertinya sangat sensitif, apa mungkin gara-gara Widi yang sudah jadian dengan Angel? Tadi Arga bercerita juga tentang Widi dan perasaan Dini yang suka terhadap Widi. Juga tentang Angel yang menjadi pilihan Widi.
Selama ini Ibu Dinda tahu kalau Dini suka terhadap Widi yang menjadi saingannya untuk bertahan menjadi juara umum. Untungnya walaupun bersaing, mereka tetap bersahabat karena kerap terlibat dalam lomba-lomba bersama untuk mengharumkan SMA Seroja.
Ternyata Widi sudah punya pacar, Ibu Dinda tahu Angel, yang kemarin sore diajak Widi saat Dini menitip cup cake buat Arga. Memang sih, cantik. Tampak sekali anak berada dan sangat modis dengan penampilannya dibandingkan Dini yang sederhana dan biasa-biasa saja.
Ibu Dinda hanya bisa memberi masukan agar Arga coba merubah perilakunya dan jangan terlalu banyak berharap karena cinta itu memang hadirnya tidak bisa dengan paksaan. Apalagi Dini sedang terluka hatinya karena Widi tidak bisa dimilikinya. Berharap Arga mau bersabar atas sikap Dini. Siapa tahu dia akan berubah.
***
Jujur, Arga merasa puas dengan kunjungan ke rumah Dini walau yang menemuinya adalah Ibu Dinda.
Ibu Dinda sangat baik di mata Arga, mau mendengarkan curahan hatinya, keluh kesahnya, dan bahkan tidak marah saat dirinya berkata jujur akan perasaan cintanya pada Dini.
Semua obrolan curahan hatinya mengalir begitu saja tanpa harus Arga tutup-tutupi. Terlebih Ibu Dinda juga tidak bersikap menolak dirinya seperti yang dilakukan Dini. Cukup sikap kedua orang tua Dini meyakinkan Arga untuk terus mengejar cintanya dan akan memberikan cinta tersempurna untuk Dini seorang. Janji hatinya.
Arga sampai di rumahnya yang senyap. Mama dan papa sedang di Hongkong untuk urusan kerjaan mereka. Katanya bisa sampai dua minggu, bertepatan dengan waktu liburan sekolah yang habis.
Sebenarnya minggu lalu mama dan papa menawari Arga ikut saja mumpung liburan. Tapi Arga memilih untuk menolak karena dari pengalaman yang lalu, sama saja dirinya juga ditinggal-tinggal di hotel atau disuruh jalan sendiri. Daripada ngabis-ngabisin uang, Arga memilih diam di rumah saja. Seminggu Arga bisa memastikan Widi dan Angel benar-benar jadian.
Arga bercermin dengan memakai kaos milik Pak Danu yang masih dipakainya. Wajahnya tersenyum sendiri melihat bayangan dirinya dengan kaos yang sepertinya hadiah sponsor salah satu obat kesehatan yang Pak Danu peroleh.
Bukan kaos bermerek seperti yang memenuhi almari Arga, tapi kaos bahan katun tanpa kerah dan harum membuat Arga nyaman saja.
Tapi Arga segera melepas dan memanggil bibi Manisa, “Biiiii....” panggil Arga. “Iya Mas Arga,” Bibi Manisa datang tergopoh-gopoh.
“Bi, kaos ini dicuci yang bersih lalu setrika dan kasih pewangi. Awas jangan kelunturan! Soalnya ini kaos camer,” kata Arga memerintah dengan terinci, membuat Bibi Manisa terheran-heran.
“Ya elah Mas, kaos promosi saja sampai segitunya,” Bibi Manisa meledek Arga yang tampak sangat hati-hati dengan kaos yang jelas jauh berbeda dengan kaos Arga yang bagus-bagus.
“Eits, jangan menghina kaos camer dong Bi. Camer itu singkatan Calon Mertua!” Arga memandang Bibi Manisa yang akhirnya manggut-manggut saja.
“Oh, jadi anaknya yang punya kaos ini pacar Mas Arga tho ceritanya?” Bibi Manisa memperjelas.
“Iya benar! Seratus buat Bibi. Cantik dan pintar lho, Bi! Sederhana lagi! Pokoknya Arga cinta banget deh!” memang dengan Bibi Manisa yang mengurus dari kecil, Arga bisa terbuka, apapun termasuk suka iseng curhat tentang Dini.
“Iya, Bibi tahu pasti baju ayahnya Mbak Dini, kan? Wah udah jadian tho, Mas Arga?” Bibi Manisa jadi penasaran.
“Ya belum, Bi! Masih usaha keras. Dini nggak gampangan! Susah banget Bi, biar bisa dekat. Tadi malah ibunya yang mau ngobrol dengan aku,” Arga agak muram, membuat Bibi Manisa ikutan sedih.
“Owalah, Mbak Dini belum tahu sih ya… kalau Mas Arga anaknya baik hati dan tidak sombong. Sabar aja ya Mas... Bibi yakin suatu hari nanti Mbak Dini akan sadar kebaikan Mas Arga. Pokoknya jangan menyerah ya, Mas!” Bibi Manisa menyemangati Arga yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri.
Arga tersenyum dan memompa semangatnya untuk terus mengejar cinta sempurna Dini.
“Ya udah, sekarang juga Bibi cuci dan setrika biar besok Mas Arga ada alasan main ke rumah Mbak Dini,” Bibi Manisa tersenyum penuh makna.
“Sip, makasih ya, Bi...” Arga tersenyum cerah.
***
Sengaja Arga datang ke rumah Dini Senin sore dengan membawa buket bunga mawar dan juga sekeranjang buah-buahan.
“Wah, Mas Arga, ayo masuk!” Ibu Dinda menyambut Arga yang datang dengan kaos rapi.
“Ibu, maaf ini saya bawakan buah dan bunga buat Dini,” Arga menyerahkan semua pada Bu Dinda.
“Aduh nggak usah repot-repot deh, Mas Arga. Belum tentu Dini-nya berkenan juga,” Ibu Dinda menolak pemberian Arga.
“Nggak apa-apa Bu. Kalau nggak mau, ini buat Ibu saja…” jawab Arga cuek.
Tiba-tiba Dini muncul dan memasang wajah jutek. “Iya, benar kata ibuku. Aku nggak mau terima apapun pemberian dari kamu!”
“Dini!” Ibu Dinda menegur kelancangan mulut Dini yang terdengar menyakitkan untuk Arga.
“Nih, bawa semua pulang!” Dini dengan kasar mengangkat keranjang buah dan buket bunga menuju teras agar Arga mengekor dan pulang. Tapi dicegah Bu Dinda yang merasa tidak tega melihat perubahan wajah Arga yang tampak merah padam menahan malu.
“Sudah! Sudah! Dini kalau kamu nggak mau terima biar ini buat Ibu saja. Boleh ya Mas Arga, ini buat Ibu saja buah dan bunganya?”
Bu Dinda terpaksa menerima pemberian Arga karena merasa tidak tega. Arga dipermalukan Dini di hadapan dirinya.
Wajah Arga yang merah padam langsung kembali ceria lagi.
“Tentu dengan senang hati. Ini buat Ibu saja. Oh ya, ini baju kaos Pak Guru sudah dicuci dan disetrika,” Arga menyodorkan baju kaos Pak Danu.
“Hmmm… terserah Ibu deh! Kalau gitu, Ibu saja yang temani Arga ngobrol! Dini mau meneruskan baca buku,” tanpa persetujuan, Dini ngeloyor masuk ke kamar dan mengunci pintu kamar dari dalam.
Ibu Dinda hanya bisa geleng-geleng kepala, “Mas Arga, maafin Dini ya. Yah begitu deh sifatnya suka moody nggak jelas,” terang ibu Dinda memohon maklum dan Arga hanya bisa tersenyum walau ada kesal juga dengan sikap Dini yang antipati.
Tapi inilah cinta yang penuh tantangan. Semakin dicuekin, semakin penuh tantangan, dan semakin tergoda untuk menaklukkan sang pujaan hati.
Kembali Arga bertamu hanya dengan ditemani Ibu Dinda yang mau menjadi tempat curhat. Sementara Pak Danu juga tengah keluar karena ada les privat yang memanggil beliau.
***
Hampir satu jam Arga bertamu dan akhirnya meminta izin pulang karena Bu Dinda juga masih banyak kerjaan rumah. Rasanya nggak etis saja untuk bertamu lama-lama.
Hatinya kecewa karena Dini sama sekali tidak mau keluar sekedar say hello atau basa-basi. Cewek itu totally membenci dirinya.
“Huuu… pulang juga Si Bandel!” Dini merebahkan tubuhnya pada kursi sofa empuk ruang tamu sambil masih membaca buku kumpulan cerpen.
“Diniiii, kamu jangan terlalu ekstrim gitu kalau nggak suka terhadap cowok. Bukan apa-apa, kasihan saja Ibu sama Arga. Mungkin dia memang bandel, tapi dari kemarin Ibu dengar cerita dia, sepertinya Arga jadi bandel karena ada penyebabnya. Yang jelas dia sangat merindukan papa mamanya.
“Emang ke mana papa mamanya?” tanya Dini cuek sambil matanya tidak lepas dari buku yang masih asyik dibaca.
“Kedua orang tuanya sangat sibuk, Ibu rasa dia bandel karena cari perhatian yang nggak diperoleh di rumahnya, Din. Kamu jangan terlalu kasar dengan Arga, Ibu rasa dia tidak seburuk yang orang-orang sangka. Hati Ibu berkata Arga sebenarnya anak yang baik. Hanya saja memang dia merasa tersisih. Dari cerita-ceritanya, dia kerap merindukan mama dan papanya yang tidak punya waktu untuk dirinya...” Ibu Dinda serius menatap tajam Dini yang tidak terlalu menyimak apa yang barusan diceritakan.
“Gitu ya, Bu? Tapi dia benar-benar usil! Biang onar! Jadi nggak suka aja Dini,” ungkap Dini datar.
“Ya sudahlah, saran Ibu jangan membencinya berlebihan. Nggak baik! Sudah banyak contoh, karena benci malah nantinya jadi cinta, lho!” Ibu Dinda meledek Dini.
“Hiiii… amit-amit! Nggak akan Bu, soalnya hati Dini hanya untuk Widi saja sebenarnya. Walau semua sudah terlambat karena Widi sudah memilih Angel tanpa pernah tahu perasaan Dini.”
Ibu Dinda merasa kasihan juga melihat Dini yang selama ini selalu bisa meraih prestasi apa yang menjadi keinginannya, tapi urusan cinta ia gagal. Hati tidak bisa dipaksakan meskipun mungkin kita sudah berusaha sangat keras.
Ibu Dinda mendekati Dini dan mengelus rambutnya. Sebagai seorang ibu yang selalu menginginkan kebahagiaan putri semata wayangnya, ia bisa ikut merasakan rasa cinta yang tidak teraih. Apalagi Widi dan Dini itu sudah dua tahun menjadi sahabat dekat. Sayangnya, memang cinta bukan butuh lamanya waktu, tapi rasa yang penuh misteri dalam hati.
“Ya sudahlah, kamu masih muda... masih panjang waktunya untuk menemukan cowok yang terbaik buat hidup kamu, Nak. Cinta masa muda adalah salah satu cerita dalam perjalanan hidup kamu. Selama itu kamu selalu sempurna dalam sekolah. Kalau cinta belum kamu temukan yang sempurna, teruslah berusaha. Nggak usah sedih tidak mendapatkan Widi. Di luar sana pasti ada satu cowok tersempurna yang telah Tuhan persiapkan buat kamu,” Bu Dinda menjentik hidung bangir Dini.
“Iya Ibu...” Dini memeluk ibunya. Dalam dekapan ibu seakan kesedihan hatinya lenyap.
“Din, jangan kasar-kasar ya dengan Arga. Ibu rasa dia bisa jadi teman saja kalau kamu memang tidak suka. Mungkin memang Arga punya cinta buat kamu, tapi kembali lagi, kalau cinta itu tidak bisa dipaksakan dan Ibu tahu kamu membencinya. Biarkan cinta Arga menemukan jalannya sendiri,” Ibu Dinda kembali menasihati Dini agar tidak bersikap buruk terhadap Arga.
“Ibu, meskipun ada cinta Arga, tapi hati Dini masih tetap susah untuk mengubur cinta kepada Widi saat ini,” ucap Dini lirih.
“Iya Ibu tahu, Nak...”
***
Other Stories
Setinggi Awan
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...
Jika Nanti
Adalah sebuah Novel yang dibuat untuk sebuah konten ...
Kucing Emas
Kara Swandara, siswi cerdas, mendadak terjebak di panggung istana Kerajaan Kucing, terikat ...
Bayangan Malam
Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...
Menantimu
Sejak dikhianati Beno, ia memilih jalan kelam menjajakan tubuh demi pelarian. Hingga Raka ...
Lam Biru
Suatu hari muncul kalimat asing di layar laptop Harit, kalimat itu berupa deskripsi penamp ...