Sosok Mama Di Ibu Dinda
Arga memang pantang menyerah. Setelah hari Senin tidak juga Dini mau menemuinya, hari Selasa dia juga datang. Kali ini dengan sekotak pizza.
“Kamu ngapain sih, ke sini-sini lagi?” Dini bicara pelan, tidak mau ibunya nanti menegur dirinya lagi yang masih bersikap kasar dengan Arga.
“Nggak sengaja kok, tadi aku pesan pizza tapi katanya yang bagian nganter lagi keluar semua makanya aku ambil saja sendiri dan pas banget ngelewati rumah kamu, jadi aku pingin kasih buat Ibu kamu pizza topping keju. Enak deh. Masih hangat. Tuh baunya enak banget, kan!” Arga mendengus-dengus kotak pizza yang mengeluarkan aroma yang menggoda.
“Ibuuuu, ini ada Arga!” Dini melotot ke arah Arga dan meninggalkannya begitu saja.
“Eh Mas Arga. Duh, bawa apa lagi?” Ibu Dinda berusaha memasang wajah ramah.
“Ibu, Arga bawain pizza nih… ayo kita nikmatin sama-sama. Daripada di rumah cuma makan dengan Bibi Manisa yang nggak suka pizza, nggak asik!” Arga sudah menggelar pizza di meja tamu dan mulai membuka saosnya.
“Sialan! Bikin ngiler aja!” Dini dari balik pintu hanya bisa menahan perutnya yang ikut keroncongan setelah sempat tadi menghirup aroma wanginya pizza yang Arga bawa. Tapi gengsi dalam hatinya memilih Dini untuk kekeuh bertahan di dalam kamar dan tidak mau menemui Arga.
Buat ibu Dinda yang bisa dihitung menikmati pizza hanya setahun sekali. Jadi nambah sepotong lagi setelah sepotong habis karena Arga terus menyodorkan agar menghabiskan pizza bertabur kejunya. Pizza besar yang idealnya dinikmati bertiga atau berempat tapi hanya dinikmati Arga dan Ibu Dinda, membuat Arga memaksa Ibu Dinda untuk melahap lebih dari dua potong.
“Udah cukup Mas Arga, Ibu kenyang sekali. Sudah, sisakan buat ayahnya Dinda saja,” Ibu Dinda menutup sisa pizza yang masih tersisa beberapa potong.
Ibu Dinda membuatkan sirup jeruk yang langsung diminum habis oleh Arga. Dini hanya bisa menyaksikan keakraban Arga dan ibunya yang membuatnya makin bete di balik pintu kamarnya. Arga benar-benar bisa membuat ibunya jadi sayang sama dia sepertinya.
“Mau pendekatan seperti apa pun silakan saja! Kamu nggak akan pernah bisa membuat aku cinta kamu!” Dini berkata kesal. Tatapan matanya melotot ke wajah Arga yang tampan.
Hari Rabu sampai hari Sabtu ada saja alasan Arga main ke rumah tanpa memberi tahu Dini sebelumnya. Hari Rabu, Arga membawakan buah kelengkeng dan rambutan rapiah. Dini hanya menatap sekilas dan memilih kabur juga.
Selalu Ibu Dinda yang menemani ngobrol selama setengah jam karena ayah Dini selalu ada saja acara.
Sepertinya nasihat Ibu Dinda belum bisa Dini terima. Setidaknya agar Dini bisa berteman saja dengan Arga.
Dini selalu beralasan, “Kalau diberi sekali lagi kesempatan, Dini mau ngobrol, pasti”.
Hari Kamis Arga juga datang. Kali ini dia membawakan ikan nila dan udang segar yang dibelinya di pasar dekat rumah bersama Bibi Manisa.
Ternyata sehari sebelumnya, Arga dan Ibu Dinda ngobrol masalah masakan. Arga memang janji akan membawakan ikan nila dan udang segar agar digoreng di rumah Dini. Dasar Arga, tidak perlu menunggu hari lain, besoknya dia langsung belanja dan dibawa ke rumah Ibu Dinda.
Ibu Dinda tidak bisa menolak permintaan Arga yang ingin menikmati masakan ibu Dinda. Dini hanya bisa melihat dari jarak sekian meter. Arga dan ibunya asyik bercerita sambil masak di dapur mereka yang kecil.
Tampak Arga luwes membersihkan ikan dan mengupas kulit udang. Dini hanya bisa memperhatikan diam-diam.
“Iya Bu, saya suka masak. Kalau di rumah suka bantuin Bibi Manisa. Kita masak berdua untuk dimakan saya, bibi, dan Mang Darma. Soalnya Mama dan Papa pasti makan di luar bersama rekanan bisnis,” cerita Arga sambil mencuci ikan dan udang.
“Nah, ikan nila dan udangnya udah bersih nih Bu,” kata Arga sekarang mengamati Ibu Dinda yang sibuk menyiapkan bumbu untuk membuat pepes ikan nila.
“Baiklah, sekarang kita lumuri ikannya dengan air jeruk nipis. Kita diamkan lima belas menit baru kita rebus ikan bareng dengan bumbu-bumbu. Kasih serai dan daun kemangi biar meresap wanginya,” jelas Ibu Dinda menerangkan proses memasak pepes ikan nila.
Asyik berdua, sampai akhirnya ikan pepes yang dibakar menjadi kecokelatan. Baunya sangat menggoda nafsu makan.
Dini setengah mati menutup hidungnya dan memilih menutup wajahnya dengan guling. Dari kemarin dirinya seakan diberi cobaan dengan berbagai makanan yang Arga bawa.Tapi gengsi untuk ikut memakannya.
Terakhir harum udang goreng mentega lebih menggoda lagi.
Apalagi udang goreng mentega adalah makanan favorit.
“Sialan, Arga! Pintar sekali dia memikat Ibu dengan mengajak masak bersama seharian ini. Aduh, terus kalau menu siang juga dari Arga, aku mau makan dengan lauk apa dong hari ini?” Dini merutuki Arga di dalam kamarnya.
“Dini... Dini....”
Dini pura-pura memejamkan mata saat ibunya memanggilnya, pasti ibu menyuruh untuk bergabung makan siang dengan Arga.
“Males amat!” Dini bicara dalam hatinya kesal.
“Yah, malah tidur...” Ibu Dinda hanya bisa geleng-geleng kepala.
“Mas Arga, Dininya tidur. Sudah kita makan saja berdua yuk, mumpung panas ini lagi enak-enaknya,” ajak Ibu Dinda bersemangat.
Tidak ada pilihan, Arga langsung setuju dan menyomot nasi dari magic jar lumayan banyak. Menu makan siang hari ini sungguh sangat menggoda. Ada sambal terasi, pepes ikan nila, udang goreng mentega, dan lebih lengkap dengan kerupuk putih.
Ibu Dinda gembira melihat Arga makan dengan lahap. Keringatnya mengucur di muka dan leher karena sambal terasi cabainya memang sangat pedas.
“Sudah Nak Arga, biar Ibu yang cuci piringnya,” Ibu Dinda menyuruh Arga menaruh piring bekas makanannya yang mau dia cuci.
“Nggak apa-apa, Bu, biar rapi sekalian semua,” Arga tersenyum.
Bu Dinda menatap Arga sejenak. Anak itu tidak kelihatan badung sama sekali. Malah sebaliknya, anak lelaki yang suka kegiatan memasak makanan kuliner. Tadi Arga tidak canggung membantunya di dapur, saat tinggal menyelesaikan bagian akhir. Dia juga ikut sibuk merapikan dapur agar bersih lagi dan mencuci perkakas yang sudah tidak dipakai lalu dilap dan dirapikan lagi di tempatnya.
“Kamu senang ya sama kegiatan memasak, Mas Arga?” Bu Dinda menyodorkan buah melon yang dipotong kecil-kecil dan diperciki lemon.
“Iya, saya kerap di dapur dengan Bibi Manisa, dia yang suka ngajarin masak di rumah. Yah… habis Mama mana sempat menyiapkan masakan buat aku. Jadi aku suka memang dengan kegiatan berkuliner dan memasak. Bahkan aku ingin punya rumah makan setelah selesai sekolah…” cerita Arga sambil menikmati manisnya melon hijau dengan aroma lemon.
“Wah, cita-cita yang keren,” Ibu Dinda tersenyum.
Beberapa hari ini ditemani anak cowok seumuran putrinya, Ibu Dinda seakan punya anak cowok yang selama ini tidak dimiliki. Bahkan putri tunggalnya jarang sekali turun ke dapur. Dini lebih suka beres-beres rumah dan mencuci dibandingkan ke dapur.
“Ibu, aku pamit dulu ya. Semoga kali ini Dini mau menyantap masakan hasil karya kita,” Arga tersenyum penuh arti.
“Pasti, apalagi ini udang goreng kegemarannya,” kata Bu Dinda mengacungkan jempol tangannya.
Ibu Dinda tidak membocorkan kepada Arga kalau selama ini Dini sama sekali tidak mau memakan apapun yang Arga bawa. Ibu Dinda tidak mau menyakiti Arga yang tengah memiliki masalah keluarga karena tidak pernah mendapatkan sedikitpun perhatian.
Tapi kali ini tebakan Bu Dinda tepat. Untuk udang goreng mentega, setelah Arga pulang, Dini tidak bisa menolak. Selain perutnya sudah keroncongan, aroma harum dua menu siang ini sangat menggoda.
“Enak Din?” Bu Dinda tersenyum senang melihat Dini yang lahap menyantap menu kali ini.
“Enak banget, Bu! Si Badung pintar juga ya, memasak. Tahu aja dia, makanan kesukaan Dini. Atau jangan-jangan Ibu yang kasih tahu nih?” Dini cuek melahap, dari tadi di kamar hanya bisa mencium aroma makanan. Membuat perutnya bernyanyi riang tak henti. Dan memuaskan lidahnya yang tak ingin juga cepat berakhir untuk menyudahi dalam satu piring. Alhasil Dini makan dua piring dan sangat kenyang.
“Nah gitu dong, Sayang. Itu namanya menghargai pemberian orang. Mosok dari kemarin cuma Ibu dan Ayah yang menghabiskan semua makanan dari Arga, bisa-bisa kolestrol kita jadi tinggi nih,”ungkap Bu Dinda berseloroh.
Kali ini Dini memilih diam, sudah capek mendebat ibunya yang tampaknya mulai sayang sama Arga. Widi saja tidak bisa mengambil hati ibunya sedekat Arga. Tentu saja tidak ada alasan buat Widi berusaha merebut hati ibunya karena tidak ada perasaan apa-apa pada dirinya. Sementara Arga jelas-jelas mencintai dirinya. Wajar saja kalau dia berusaha mendekatkan diri pada ibu dan ayahnya.
Hari Jumat Arga datang dengan martabak asin dan manis Mang Boil yang terkenal enaknya. Dinda sudah tidak bisa menahan untuk tidak ikut mencicipi bawaan Arga. Meskipun lebih banyak diam saat menemani Arga, ibunya sedikit lega soalnya wajah Dini tidak sejutek hari-hari sebelumnya.
“Din, kamu mau aku bawain apa lagi? Besok-besok aku bawa yang berbeda, ya...” Arga tersenyum senang, hatinya girang setelah beberapa hari hanya ngobrol dengan Bu Dinda. Kali ini Dini mau nimbrung meskipun sedikit sekali kata yang keluar. Tapi yang jelas Arga bisa puas memandang wajah Dini dari dekat dan ini selalu membuat hatinya berdebar tak karuan.
Hari Sabtu siang Arga datang dengan membawakan gantungan kunci Hongkong Disneyland, pasmina bercorak Giant Budha Ngong Ping, dan cemilan yang beraneka ragam. Ada cemilan buah, permen khas Hongkong, dan ada roti berisi pasta melon manis.
“Din, cicipin deh. Ini kata mamaku namanya kue istri, jadi ada legendanya. Konon kue ini dibuat oleh seorang wanita di Provinsi Guangdong dan kemudian banyak yang menyukainya. Makanya suaminya dengan bangga menyatakan kalau kue ini buatan istrinya. Makanya kue ini disebut kue istri,” terang Arga menjelaskan roti berisi pasta melon manis yang sekarang tengah Dini kunyah.
Semalam papa dan mamanya pulang dari Hongkong dan Arga sempat membuka oleh-oleh papa mamanya. Biasanya dia males dan mendiamkan semua oleh-oleh, tapi semalam kepikiran untuk membagi dengan Bu Dinda dan Dini.
Mama Arga sempat heran juga tapi senang oleh-olehnya dihargai putra semata wayang yang dia rindukan juga sebenarnya. Makanya semalam dirinya walau lelah tapi menyempatkan ngobrol dengan Arga termasuk, tentang kue istri ini.
Mama Arga juga tidak keberatan Arga membagi oleh-oleh bawaannya untuk teman yang tak disebut namanya.
“Enak, Din?” tanya Arga lanjut.
“Enak, manis!” jawab Dini sambil mengunyah kue istri.
“Hehehe… sepertinya lucu juga ya, kalau aku buat saingannya kue isteri ini. Kapan-kapan aku buat kue suami! Biar pas ada pasangannya,” celoteh Arga melucu, tak urung membuat Dini tersenyum.
“Yah besok sudah hari Minggu, ya! Tinggal sehari aja libur kita, hari Senin sudah masuk, deh!” ungkap Arga kurang senang.
“Asyiklah, mulai belajar dengan mata pelajaran kelas XII yang… hmmm semakin sulit sepertinya,” timpal Dini santai.
“Iya kamu senang! Kamu pintar bisa semua pelajaran. Kalau aku musti berapa kali belajar baru paham,” ujar Arga kesal.
“Tapi kamu masuk sepuluh besar berarti kamu nggak bodohlah!” Dini tahu prestasi Arga masih masuk sepuluh besar, dari cerita Widi.
“Kok kamu tahu?” tanya Arga kaget, tapi tersadar dia memang beberapa kali berbagi cerita dengan Widi masalah rangking waktu lalu.
“Oh ya, pastilah Widi yang cerita,” Arga menepuk jidatnya.
“Emang kenapa kalau aku tahu. Nggak ngaruh, kan!” kata Dini sengit.
“Iya nggak apa-apa kok, yang pasti aku memang tidak sepintar kamu dan Widi. Aku biasa saja... tidak ada yang istimewa dan tidak sempurna seperti kalian,” ungkap Arga jujur.
“Sudahlah nggak usah ngobrolin Widi lagi! Males!” Dini berkata ketus.
Walau bernada ketus, tapi kalimat barusan sedikit membuat Arga lega. Berarti Dini ingin melupakan Widi dalam otaknya.
“Iya, lagian Widi dan Angel juga sudah bahagia, iya kan Din!” Arga semakin memperjelas status Widi sekarang.
Dini bagai tersengat dan menatap tajam Arga yang ternyata juga menatap tajam balik. Dini memilih membuang muka daripada harus membalas tatapan tajam Arga.
“Din... tatap aku...” Arga memohon.
“Ga, jangan paksa aku untuk suka kamu! Aku tidak suka kamu sampai kapanpun. Kamu mau tahu alasanku?” Dini menatap remeh Arga.
“Apa Din?” tanya Arga
“Aku hanya yakin, cinta sempurna yang seharusnya aku dapat adalah cinta sempurna yang hanya diberikan oleh Widi Permana Putera,” jawab Dini yakin dan baru saja dirinya menggores luka di hati Arga.
“Sayangnya Din, itu hanya cinta sepihak. Widi memilih untuk mencintai Angel, tulus. Meskipun Angel Si Barbie Berotak Udang dan tidak naik kelas. Nyatanya Widi tidak memilih kamu Si Bintang Kelas yang sempurna. Kasihan kamu...” Arga berkata lalu memilih meninggalkan Dini yang tergugu dan kembali meratapi cintanya yang gagal.
Hari Minggu terlintas dalam otak Dini, apa lagi yang akan Arga bawa untuk menyogok agar dirinya luluh.
Ternyata hari Minggu Arga tidak muncul di rumahnya. Ibu Dinda sempat bertanya, “Kamu apain Arga, Din? Kok hari ini Arga enggak kemari, kamu marahin lagi, ya?” tanya Ibu Dinda.
“Nggak aku apa-apain, kok! Ngapain juga marahin dia! Rugi!” tukas Dini kesal. Sekarang ibunya benar-benar merasa kehilangan tanpa Arga datang ke rumah.
“Ya sudah, Ibu minta kamu jangan kasar-kasar dan marah-marahin Arga terus, ya! Kasihan Din. Dia hanya butuh teman dekat untuk menemani kesepian hidupnya,” pinta ibu Dinda lembut mengusap rambut Dini yang tebal.
“Hmmm....” Dini hanya menghembus napasnya. Memang sih, ada rasa sepi juga merayapi hatinya setelah Widi resmi jadian dengan Angel. Dalam dua minggu ini, tak ada komunikasi yang berarti lagi. Widi pasti sudah sibuk dengan Angel dan persiapan-persiapan pelajaran yang akan Angel ulang di tahun ajaran ini.
Angel tidak perlu khawatir ketinggalan setahun, apalagi umur Angel memang kemudaan setahun saat memasuki Sekolah Dasar. Jadi sekarang, sesuai dengan umur dia duduk di kelas XI.
***
Arga memutuskan pada hari Minggu ini, ia tidak akan pergi ke rumah Dini. Hatinya kesal karena ucapan Dini kemarin. Ucapan Dini kalau cinta sempurna hanya bisa diraih jika ia bersama dengan Widi.
Dini sama sekali tidak mau melihat sedikit dirinya yang sudah setahun ini mencoba mengibarkan bendera persahabatan tetapi selalu ditolaknya. Sekarang apapun yang dilakukan juga selalu ditolak, bagaimana Dini akan mengenal dirinya yang sebenarnya?
Hampir seminggu ini dirinya main ke rumah mencoba mengubah pandangan Dini akan dirinya, tapi sepertinya juga tidak berarti banyak, kecuali Ibu Dinda yang membuat dirinya merasa sangat dihargai sebagai seorang anak.
Andai mamanya bisa seperti ibu Dinda, bisa menjaga dan menemaninya mungkin dirinya tidak perlu berbuat onar mencari perhatian siapapun.
Nyatanya kekayaan tidak selalu membuat hati bahagia, kehangatan perhatian papa mama juga menjadi bagian penting dalam diri seorang anak.
Memang tidak ada yang kurang papa mama berikan buat dirinya, tapi jenuh dan muak juga karena hanya dijejali barang-barang mewah tanpa sentuhan kasih sayang. Semua rasanya hampa.
Tapi tak urung Arga tersenyum juga karena seminggu ini biarpun belum berhasil meluluhkan hati Dini, tapi setidaknya Bu Dinda menyayanginya. Membuat Arga merasa menemukan sosok mama yang dicarinya.
“Biarinlah Dini bersikap semaunya, yang penting Ibu Dinda tetap menyayangiku. Selama beliau menyayangiku maka tak ada kata menyerah! Aku akan merebut cinta sempurna milik Ardini Puteri untuk Arga Matara,” Arga kembali tersenyum sendiri membulatkan tekadnya untuk mengejar cinta Ardini.
***
Other Stories
Blind
Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...
Ryan Si Pemulung
Ryan, remaja dari keluarga miskin, selalu merasa hidupnya terkunci dalam sebuah rumah reot ...
First Love Fall
Rena mengira dengan mendapat beasiswa akan menjadi petualangan yang menyenangkan. Tapi sia ...
Titik Nol
Gunung purba bernama Gunung Ardhana konon menyimpan Titik Nol, sebuah lokasi mistis di man ...
Air Susu Dibalas Madu
Nawasena adalah anak dari keluarga yang miskin. Ia memiliki cita-cita yang menurut orang-o ...
Kuraih Mimpiku
Edo, Denny,Ringo,Sonny,Dito adalah sekumpulan anak band yang digandrungi kawula muda. Kema ...