Bukan Cinta Sempurna

Reads
2.3K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

Cinta Pertama Tak Pernah Padam

Di sinilah Dini setelah kelulusan sarjananya yang sempurna dengan penghargaan lulusan terbaik meraih predikat cum laude.
Seminggu dari kelulusan sudah mendapat tawaran menjadi asisten manajer di sebuah perusahaan elektronik multinasional yang tengah meroket dengan produk-produk consumer electronic-nya yang inovatif dan garansi yang bagus.
Perusahan elektronik Magenta, adalah perusahaan multinasional elektronik nomor satu yang banyak mempekerjakan fresh graduated dengan nilai prestasi yang maksimal. Dini langsung menduduki level asisten manajer karena pengalaman kerja sebelumnya dia juga sudah menjabat sebagai asisten manajer.
Dini tidak menyangka sekarang dia tengah duduk berhadapan dengan cowok yang hampir lima tahun masih tersimpan dalam sudut hatinya.
Cowok yang lima tahun lalu Dini harapkan akan mendapatkan cinta sempurna seperti cinta ayah dan ibunya. Cowok yang sekaligus tidak peka kalau selama dua tahun dirinya mendendam rasa cinta padanya. Cowok yang sekarang tersenyum menawan tanpa kaget bertemu lagi, sementara Dini susah payah menyembunyikan rasa hatinya yang tidak karuan.
Dini tak bisa berkata-kata, kini mereka berdua tengah bersama berseberangan di ruangan tim Produk Manajemen untuk urusan produk-produk yang akan launching dan juga urusan kerja sama dengan dealer-delaer elektronik yang banyak melakukan ekspansi di luar Jakarta.
Dini langsung harus bisa cepat menyesuaikan dengan ritme perusahaan yang menuntut dirinya untuk segera paham dengan segala seluk beluk produk dan rekanan yang menjadi pareto outlet.
Dini berusaha konsentrasi dan mencatat apa yang menjadi tugas dirinya yang akan banyak berhubungan dengan Widi. Ternyata mereka sama-sama dalam posisi sebagai asisten manajer, hanya saja Widi akan banyak mengurusi produk-produk brown goods sementara dirinya home appliance.
Dini sedikit curiga dengan Widi yang tampaknya tidak kaget dengan keberadaan dirinya, yang jadi partner urusan launching produk dan menangani kerja sama dengan delaer yang waktu dekat ini akan melakukan grand opening toko mereka di berbagai cabang di seluruh Indonesia.
Tapi kecurigaan Dini terungkap tidak perlu waktu lama, kini dirinya tengah berdua dengan Widi sambil menikmati makan siang di bakmi GM yang terletak di bawah gedung banyak perkantoran, salah satunya adalah kantor elektronik Magenta.
“Dini ke mana saja kamu sih? Kamu seperti hilang ditelan bumi, sejak kelulusan SMA tanpa ada yang tahu kamu jadinya ambil sekolah apa setelah menolak beasiswa kedokteran kamu. Dini... Dini... hmmm kamu ternyata ambil Jurusan Ekonomi dan sudah kuduga kamu pasti lulus dengan sempurna.” Widi menikmati makan siangnya dengan tenang.
Jelas Widi juga sudah berubah, wajahnya lebih matang dan ada buncit sedikit di perutnya. Tapi masih tetap cakap mempesona dan masih tetap menghadirkan debaran tak karuan di hati Dini. Begitu banyak pertanyaan berkecamuk di benaknya.
“Hmmm ya gitu deh Wid, aku ikut eyang puteri karena sekalian merawat beliau yang sakit,” terlanjur berbohong dari lima tahun lalu maka sekarang pun Dini memilih untuk konsisten dengan alasan lima tahun lalu saat ayahnya mengutarakan alasan untuk membatalkan beasiswa kedokteran.
“Ya aku tahu itu, sayangnya aku nggak diinfo sama sekali di mana kamu tinggal. Kenapa sepertinya tertutup gitu?” Widi jadi bertanya cerita lalu yang terputus begitu saja.
“Sudahlah itu cerita lalu, boleh nggak sekarang nggak usah diungkit-ungkit? Oh ya kok kamu sepertinya nggak kaget sih aku jadi satu tim dengan kamu?” Dini mencoba mengalihkan pembicaraan.
Jujur dirinya tidak mau lagi mengingat rasa sakit waktu lalu, yang ada sekarang adalah lembaran baru saat semuanya rasa sakit harus dibayarkan dengan dirinya yang mulai merangkak menjadi wanita karier.
Apalagi perusahaan elektronik yang meng-hire-nya sudah jelas untuk jenjang karier, remunerasi yang sangat bagus juga berbagai fasilitas untuk mlanjutkan sekolah dan training ke luar negeri.
Dini sudah punya target baru mengambil S2 dan secepatnya tidak hanya jadi asisten manajer, tapi manajer dan langkah selanjutnya direktur. Bisa saja harapan ini tidak semuanya akan dicapai di perusahaan elektronik multinasional Magenta, tapi bisa di perusahaan besar lainnya yang nantinya akan Dini adu mana yang paling banyak memberinya kompensasi.
“Oh Din, aku kasih rahasianya kenapa aku nggak kaget saat bertemu dengan kamu? Dua hari sebelum memanggil kamu, Pak Wilma, manajer HRD memanggil aku. Aku sudah setahun di sini lalu dia perlihatkan surat lamaran kamu yang mencantumkan SMA Seroja dan Pak Wilma ingat aku juga lulusan dari SMA Seroja. Langsung deh aku ditanya-tanya apakah aku kenal dengan cewek bernama Ardini Puteri dengan angka-angka yang luar biasa di rapor dan transkrip nilainya,” Widi tersenyum penuh kemenangan.
“Ohhh jadi kamu juga yang merekomendasikan aku sampai masuk ke sini...” tak urung Dini jadi mengangguk-angguk jelas. Ada rasa senang tapi juga ada rasa resah menjalari hatinya.
“Hem Din, kamu sudah nikah?” Widi tiba-tiba kembali bertanya masalah pribadi.
Dini memilih geleng kepala dan mempercepat menyantap bakminya.
“Sudah bisa kutebak, kamu pasti mau jadi wanita karier dulu baru mikir jadi ibu ya?” Widi tersenyum, membuat Dini jadi semakin gelisah.
Senyum itu kenapa masih saja menawan, padahal sakit hatinya masih belum sembuh karena Widi memilih Angel, Si Barbie Berotak Udang yang berubah menjadi cewek yang pintar menandingi dirinya waktu lalu.
“Kamu sendiri, gimana dengan Angel? Sepertinya kalian serius sekali pacarannya?” Dini balik bertanya.
“Iya, aku dan Angel sudah menikah setahun lalu tapi kita belum punya momongan Din! Angel sama seperti kamu, wanita karier juga jadi... yaah... mungkin aku dan dia harus lebih bersabarlah,” Widi bercerita ringan seolah tanpa beban.
“Oh selamat ya Wid buat pernikahan kamu dan Angel, sayang aku nggak tahu,” Dini pura-pura menyayangkan ketidakhadirannya.
“Iya, kamu memang hilang bagai ditelan bumi, padahal banyak lho teman SMA yang datang di acara pernikahan kami. Ada Mela sahabat kamu sekarang jadi guru bahasa Inggris di sekolah internasional, Rico yang dulu suka berkelahi sobatnya Arga jadi peneliti lho di LIPI, nah kamu pasti penasaran dengan Arga? Dia jadi Chef Arga yang terkenal lho. Arga punya restoran dan suka ngisi berbagai kuliner di TV dan Radio. Masa kamu nggak pernah lihat Arga tampil di TV sih?” Widi menerangkan panjang lebar.
“Hmmm Arga? Jadi Chef beneran dia sekarang? Aku kira dia bakalan jadi petinju saja... hehehe.” Dini mencoba menutupi kegugupan yang merambati hatinya mendengar salah satu nama yang ingin selamanya Dini hapus dari hatinya. Tapi setiap menatap Prita, Dini sadar seumur hidupnya Arga akan membayangi langkahnya.
Apalagi Prita akan tumbuh semakin besar dan akan bertanya siapa ayahnya. Cepat atau lambat ini bagai bom waktu buat dirinya untuk berani menghadapi sebuah kenyataan.
***
Bukan hal yang mudah harus terlibat pekerjaan dengan pria yang masih tersimpan di sudut hati Dini.
Kerap Dini jadi mencuri-curi untuk berlama-lama menatap wajah Widi yang tengah presentasi.
Tapi sadar sekarang dia harus bersikap profesional, sekarang ini bukan hanya urusan mempertahankan juara umum seperti masa-masa SMA waktu dulu, tapi kredibilitas kinerja dirinya yang harus dibuktikan dengan maksimal.
Bersyukur load kerja yang luar biasa dan ritme kerja yang begitu cepat menuntut banyak terselesaikan dengan tepat waktu, memaksa untuk Dini mengikis rasa-rasa tak jelas yang sesekali bermunculan.
Saat makan siang terkadang diselingi Widi menceritakan kondisi rumah tangganya dengan Angel yang bisa Dini simpulkan mereka tengah bermasalah.
Di suatu siang saat lunch bareng Widi bercerita, “Angel ingin menunda momongan entah sampai kapan, pokoknya dia ingin kejar karier dulu sampai akhirnya dia memutuskan untuk hamil. Sementara keluarga besar aku sudah ingin sekali ada cucu untuk meramaikan rumah orang tuaku.”
Dini hanya bisa berkomentar, ”Yah sabar saja nanti Angel juga akan menuruti keinginan kamu. Toh kewajiban seorang istri adalah mengikuti suami yang sudah dipilih jadi imam di sisa hidupnya, bukan begitu?” Dini mencoba bijak memberikan masukan.
Tapi ternyata masukan yang dia berikan menjebaknya karena semakin membuat Widi bercurhat semakin melebar.
“Itu dia Din... aku pikir setelah menikah, Angel lebih mau menuruti kemauan aku karena telah menjadi suaminya. Tapi ternyata Angel memang keras dengan pendiriannya, sementara aku yang harus terus mengikuti aturan dia, termasuk kapan mempunyai momongan dan keadaan kita yang kerap long distance semakin membuat Angel menunda kehamilan. Tidak hanya masalah momongan, hubungan jarak jauh, rasa cemburu dan curiga, belum lagi beberapa hal yang Angel tak mau diganggu gugat kalau sudah jadi kemauannya.”
Widi tampak tenang bercerita, Dini sadar dari dulu memang hanya pada dirinya Widi bisa curhat apapun. Termasuk saat berapa kali ditolak Angel saat pendekatan, pelajaran yang sulit dan sampai akhirnya Widi semakin jauh dan tak pernah curhat lagi setelah berhasil mendapatkan Angel.
Dini mau saja menjadi curhatan Widi di waktu lalu karena ada cinta yang disimpan dalam hatinya, demikian sekarang dirinya merelakan waktu jam istirahat siangnya untuk mendengarkan keluh kesah masalah-masalah Widi dan Angel yang tengah pelatihan lama di Australia.
“Ada apa dengan aku, kenapa aku malah senang saat Widi curhat dan baru sadar kalau sosok Angel sangat egois?” Dini mencoba konsentrasi menyetir mobilnya. Tol Jagorawi mengarah rumahnya setiap pulang kantor sangat macet.
Dini sudah kembali tinggal bersama Pak Danu lagi. Sekarang rumah sudah lengkap kembali karena Ibu Dinda juga tidak tega meninggalkan suaminya bertahun-tahun. Dengan berbagai pertimbangan apalagi Dini juga memutuskan berkarier di Jakarta, Bulik Sari yang sudah tidak memiliki siapa-siapa juga ikut ke Cibubur. Rumah di Purwokerto dikontrakkan.
Hampir tiga bulan Dini bekerja di perusahaan elektronik Magenta. Berusaha menghindar sedikit demi sedikit dari sosok Widi nyatanya tidak bisa, mereka akan selamanya terlibat urusan pekerjaan. Bersikap profesional! Dini berkali-kali selalu menekankan dirinya.
Pak Andreas, bos manajer produk marketing brown goods dan home appliance sangat puas dengan kekompakan Widi dan Dini. Semua ini mengingatkan Widi dan Dini mereka dari dulu selalu menjadi tim yang membanggakan SMA Seroja.
“Cheers, selamat buat Widi dan Dini, kalian sukses mengadakan launching LED terbaru dan Kulkas Side by Side dengan pre order yang melebihi target. Sekali lagi selamat. Semoga dengan promo yang sama minggu depan di Bali kalian akan membawa hasil penjualan yang melebihi target juga,” Pak Andreas mengangkat minuman disambut dengan rekan-rekan satu tim Widi dan Dini.
Dini tersenyum, tiga bulan kerja kerasnya dihargai baik oleh Pak Andreas atasannya dan tampak Widi tengah tersenyum manis. Dini tergagap tapi mencoba bersikap biasa.
“Ya Tuhan kenapa harus ketemu Widi lagi, kenapa dunia begitu kecil?” Dini menjerit dalam hati harus melewati semua yang seperti harus melintasi masa lalunya kembali. Mungkin ini jalan Tuhan untuk menegaskan segala sesuatunya.
***
Seminggu yang semakin berjalan cepat, persiapan launching untuk wilayah Bali membuat Dini selalu pulang malam.
Sesekali hanya sempat mencium Prita yang berusia empat tahun tengah terlelap kecapean. Dari cerita ibunya dan Bulik Sari, anak itu suka sekali bermain scooter dan masak-masakan.
“Tanteee ....”
Tiba-tiba suara Prita terdengar, hanya sesaat membuka mata lalu tidur lagi. Dini menjawil pipinya gemas, lalu mengelus wajah lalu punggungnya.
Dini merebahkan tubuhnya di samping Prita, wajah mereka saling berhadapan, ada rasa menyesak di hatinya sudah empat tahun dia benar-benar bersikap dingin pada anaknya. Dan sekarang entah kenapa ingin di dekatnya.
“Din... kamu kangen sama Prita?” Ibu Dinda menegurnya halus.
“Hmmm.. .Prita makin besar ya Bu. Dini takut semakin bisa banyak bicara dia pasti akan bertanya siapa ayahnya?” Dini menatap wajah Prita yang semakin jelas membawa garis wajah Arga.
“Kamu harus berani hadapi kenyataan Nak, Ibu selalu berdoa semoga kamu akan dapatkan yang terbaik dalam hidup kamu walau mungkin itu bukan yang kamu anggap hal yang tidak sempurna. Kadang kita harus bisa terima apa yang kita anggap sempurna belum tentu terbaik buat diri kita, tapi sebaliknya hal yang kita anggap buruk ternyata menjadi sesuatu yang terbaik bila kita bisa ikhlas jalani,” kata ibu Dinda tersenyum lembut dan bijaksana.
“Bu, bangunin Dini pagi sekali ya, soalnya Dini besok berangkat ke Bali. Ada launching produk yang Dini dan Widi handle. Ibu ingat kan dengan Widi?” Dini baru sempat cerita kalau rekan kerjanya adalah Widi, sahabat dan rival di SMA Seroja.
“Widi? Kamu ketemu lagi dengannya?” Ibu Dinda pura-pura terkejut, karena sebenarnya seminggu lalu Arga berkunjung menengok Prita bercerita tentang kondisi kantor Dini dan Widi yang jadi tim kerjanya.
Jujur cerita Arga itu membuat Bu Dinda merasa khawatir, tapi hatinya bisa lebih tenang karena Arga menenangkan hatinya dengan perkataan, “Dini sudah banyak belajar Ibu, percayalah Dini akan berpikir seribu kali untuk kembali ke Widi yang sudah menikahi Angel.”
Tapi besok hari Kamis Dini akan berangkat ke Bali dan hanya berdua dengan Widi dalam beberapa hari, bagaimana mungkin hatinya akan tenang. Bu Dinda memutuskan untuk memberi tahu hal ini pada Arga.
***
Perjalanan penerbangan yang cukup menyenangkan ketika turun dari Bandara Ngurah Rai. Kehangatan Pulau Dewata seakan menyapa kedatangan Dini dan Widi yang terasa semakin dekat.
Dini mengizinkan Widi begitu dekat dengan dirinya. Tadi sepanjang perjalanan udara, tanpa canggung Widi membantu mengambilkan air minum dan tanpa sengaja kerap bersentuhan.
Acara grand opening dealer, launching sekaligus pre order akan dilakukan hari Jumat malam. Hari Kamis ini akan dilakukan semua persiapan dengan koordinasi outlet elektronik Bisnis di Discovery Shopping Mall Kuta Bali yang akan melakukan pembukaan toko elektronik besar. Sudah bisa dipastikan seharian berdua akan berkutat dengan penataan lokasi toko dan juga panggung hiburan.
Malam hari melepas penat, Widi mengajak Dini untuk makan malam di Jimbaran, menikmati udang goreng mayones, ikan bakar, mi goreng, cah kangkung, dan segarnya lemon crush. Sesaat melepas penat setelah seharian berkutat di outlet elektronik Bisnis di Discovery Shopping Mall yang terletak di daerah Kuta Bali.
“Cape ya Din, hmmm habis ini pulang hotel lalu istirahat. Besok masih kita teruskan hanya dengan pengecekan akhir yang terpenting tugas kita seharian ini sudah 80% beres, tinggal menunggu beberapa stok datang dari Jakarta yang baru besok pagi datang dan langsung di-display,” Widi sepertinya menikmati makan malamnya.
“Iya...” Dini menjawab pendek.
Benar-benar hari yang melelahkan setelah makan mereka memilih kembali ke Hotel Mulya yang telah dipersiapkan oleh kantornya.
“Wid.. .good night! Aku langsung tidur. Cape banget.” Dini ingin langsung masuk ke kamarnya.
“Good night... Din...” tiba-tiba Widi menahannya.
Berdua saling bertatapan dan sekarang Widi tahu dirinya tengah gemetaran saat Widi sesaat memeluknya dan sebuah kecupan di kening membuat Dini tersadar Widi sudah tidak memeluknya lagi.
“Din kamu masih mencintai aku?”
Dini kaget, ternyata Widi tahu kalau dirinya mencintainya. Dan sepertinya kali ini dia tidak bisa berkutik apapun lagi untuk terus menghindar.
“Wid sudah larut sekali, besok kita masih kerja... aku...” Dini jadi bingung harus ngomong apa, dia benar-benar tidak siap dengan perubahan Widi barusan. Memeluk dan menciumnya terasa begitu hangat.
“Oke... istirahat ya...” Widi kembali mengelus pipinya.
Dini memejamkan matanya di balik pintu hotel yang baru ditutupnya. Tangannya memegang pipinya yang baru saja diusap lembut Widi. Ada sebuncah kebahagiaan.
“Widi tahu aku mencintainya...” Dini menggumam dan memilih berendam di air hangat untuk mengusir kepenatan dengan apa yang barusan dirinya alami.
***
Setelah kejadian di depan pintu kamar hotel, bukannya membuat Widi canggung tapi malah semakin bersikap mesra terhadapnya. Sesaat sangat membuat Dini tersanjung, segala perhatian dan kelembutan Widi yang sudah ditunggu bertahun-tahun. Dini seakan ingin menikmati sampai terpuaskan sebuah kerinduan yang terbendung bertahun-tahun. Sepertinya Widi benar-benar tahu yang diinginkannya.
Acara launching produk baru dan sekaligus outlet baru berlangsung dengan sukses, pre order barang yang dipegang Widi dan Dini juga melebihi target lagi. Rasanya puas sekali dua hari kerja keras untuk mewujudkan sukses yang serupa seperti di pusat, berhasil dilakukan pertama kali di cabang Bali.
Acara usai pukul 23.30, meskipun cape tapi sungguh senang targetnya terlampaui.
“Din, mau menikmati Bali malam hari?” Widi sudah di dekatnya.
“Hmmm ingin sih, tapi cape banget ya...” Dini mengerutkan wajahnya.
“Kuta sangat dekat dengan hotel kita menginap, jalan-jalan saja yuk sambil menikmati deburan pantai di malam hari,” Ajak Widi mengulurkan tangan.
Dini mengangguk menyambut uluran tangan Widi dan malam itu berdua bagai orang asing yang bebas bergandengan tangan, sesekali Widi menciumnya. Pantai Kuta tak pernah tidur, deburan ombaknya yang besar memecah keheningan, kerlap-kerlip lampu dan angin malamnya yang dingin membuat Widi tak melepas pelukan saat duduk-duduk berdua di pinggirnya.
Sepanjang malam bercerita masa lalu yang tak ada habisnya, berbagai kenangan saat mereka harus selalu menjadi partner dalam berbagai kompetisi mengharumkan nama sekolah, teman-teman yang berbagai karakter, tentang Arga, Angel, Mela, Bram dan kembali Widi memfokuskan cerita tentang mereka lagi.
“Sayang sekali aku tahu kamu mencintai aku setelah menikah dengan Angel. Angel sangat cemburu dengan kamu sebenarnya sampai dia berniat membuat kamu malu di pestanya,” Widi menceritakan sesuatu hal yang membuat Dini tiba-tiba melepaskan pelukan Widi.
“Membuat aku malu di pesta ulang tahunnya? Maksudnya apa ya Wid?” entah kenapa ini seperti kunci dari segala kesalahan waktu lalu yang tengah ditebusnya.
“Kamu ingat gengnya Angel kan? Ada Levi, Dinar, Tian, Zita. Ingat-ingat kamu dikasih minum apa? Dan apa yang kamu rasakan setelahnya di ulang tahun Angel?” Widi bertanya lebih lanjut.
“Ya aku ingat, setelah Levi memberiku segelas soft drink aku merasa pusing... terus aku lupa deh!” Jelas Dini tidak mau membuka aibnya di hadapan Widi. Kembali pada prinsip dari awal sudah berbohong dan selamanya berbohong.
“Sebenarnya Angel berharap kamu akan mabuk dan berkata jujur apa yang ada di hatimu. Angel ingin lihat kamu mengakui kalau kamu mencintai aku di hadapan banyak tamu undangan, tapi gagal usahanya karena Arga lebih sigap menolong kamu.”
Dini mendadak lemas, semua itu bukan semata kecelakaan yang telah dilakukan dirinya dan Arga. Andai tidak ada geng Angel yang jahil memberinya obat pada minuman, mungkin dia tetap menjadi Dini yang sadar diri dan tak mungkin melakukan hal yang dilarang dengan Arga, sudah pasti dirinya tidak akan melewati masa-masa sulit waktu lalu.
“Din, kenapa Sayang, wajah kamu jadi kaku dan... hai kenapa kamu menangis Sayang? Kita bisa memulai semuanya dari awal, maafkan aku yang terlambat mengetahui kamu mencintai aku?” Widi memeluknya erat seakan tak ingin melepaskan wanita yang sekarang tiba-tiba menjadi rapuh.
Widi tidak tahu sama sekali akibat dari minuman berobat itu telah menghancurkan semua cita-citanya. Sungguh ingin sekali Dini menghajar Angel dan gengnya bila mereka sekarang ada di hadapannya, tapi itu sudah tidak mungkin dan saat inipun dia memilih merahasiakan dirinya yang sebenarnya. Ada rasa takut bila Widi tahu yang terjadi sebenarnya maka akan meninggalkan dirinya dan memilih untuk tetap bersama Angel.
Sebenarnya ini waktu yang tepat untuk membalas Angel, bisa saja dirinya menghancurkan hati Angel dengan mengikuti kata hatinya yang sangat merindukan Widi dan sebaliknya Widi pun merasakan hal yang sama.
Bagai peperangan di batinnya antara dendam, amarah dan keinginan untuk balik menghancurkan Angel yang sudah sangat keterlaluan terhadapnya di masa lalu.
“Din pulang ke hotel yuk, sudah pukul 02.00.” Widi membantu Dini bangun dari duduknya.
Berdua menyusuri pantai Kuta dan kembali ke hotel di malam kedua mereka menginap.
Sesampainya di depan kamar. Widi memandang Dini lekat.
”Din boleh aku menemanimu...?”
“Maaf... nggak Wid, aku nggak bisa,” Dini menolak sebuah ajakan yang bagai jebakan indah.
Dini tahu wajah Widi tadi menyiratkan kekecewaan atas penolakan barusan, mungkin Tuhan masih sayang pada dirinya untuk bisa menjaga dirinya.
***
Hari Sabtu yang sangat cerah, hari ini Widi dan Dini berniat untuk mengunjungi Discovery Shoping Mall tempat kemarin mengadakan acara.
Ternyata di outlet elektronik Best Buy yang resmi dibuka semalam tengah ramai dengan sebuah acara demo masak.
“Hai Din, lihat itu Arga! Wah lihat dia lagi demo masak, ampun Si Badung ternyata pintar memasak. Aku dengan Angel pernah makan di restorannya daerah Kemang, ramai juga lho! Pokoknya dia hebat sekali, bahkan saat mama dan papanya meninggal akibat kecelakaan pesawat, dia bisa bangkit dari keterpurukan bahkan semakin giat bekerja. Chef Arga luar biasa! Penggemarnya banyak Din, para kaum ibu dan gadis-gadis yang nggak semuanya suka masak tapi melihat kegantengannya pasti ingin dekat-dekat,” Widi ngomong tanpa memperhatikan Dini yang sekarang tengah gelisah.
Dini tak menyangka akan ketemu Arga kembali, berarti berhadapan pada sebuah kenyataan yang Dini takuti.
Wajah Arga masih sama ganteng, bahkan lebih matang meskipun bergulat dengan dunia makanan tubuhnya masih terjaga sempurna, tak ada perut buncit dan masih tetap sama Arga yang lima tahun lalu sangat mengejarnya.
Kini tatapan Dini berserobok dengan Arga yang tampak sedikit grogi karena tengah dikerubungi dengan ibu-ibu dan cewek muda para penggemarnya. Arga baru saja usai mempraktikkan sebuah menu makanan kuliner yang menjadi andalan restorannya, menurut MC cantik sembari promosi yang berdiri tepat di sebelah Arga.
Melihat kedatangan Dini dan Widi, Arga langsung meminta bantuan asistennya untuk melayani para penggemarnya dan setengah berlari menuju Widi dan Dini.
Jujur Dini bagai mati kutu, sudah lima tahun dan dia tidak menyangka harus berhadapan lagi dengan Arga, walau dirinya sadar cepat atau lambat akan terjadi sehubungan dengan status Prita.
“Widi! Dini! Apa kabar? Hai lama tak bertemu. Hmmm tapi dengan Widi setahun lalu kita ketemu pas acara pernikahan kamu. Din apa kabar?” Arga mencoba bersikap biasa walau kalau mau jujur di hatinya berkecamuk rasa cemburu dan curiga karena Widi dan Dini sepertinya sangat dekat.
Bagaimanapun dia tetap mencintai Dini walau sampai detik ini Dini tak memberikan harapan sama sekali, malah sepertinya semakin susah kesempatan untuk dirinya bisa merebut hati Dini.
Arga tahu Widi tengah ada masalah dengan Angel karena masalah penundaan momongan. Setelah tahu informasi Dini satu kantor dengan Widi memang diam-diam Arga mencari tahu keadaan rumah tangga Widi dan tak sengaja Arga bertemu Zita, salah satu sahabat Angel yang bercerita keadaan rumah tangga Angel dan Widi yang meregang.
Jujur Arga sangat cemburu dalam hati, sepertinya mereka sudah saling terbuka satu sama lain. Tapi Arga yakin, Dini yang masih menyimpan rapat rahasia dirinya kalau sudah mempunyai seorang putri darah daging dirinya.
“Wah Chef Arga kamu semakin ganteng aja! Nggak ada buncit di perutmu padahal setiap hari berurusan dengan makanan enak. Sayang... kapan-kapan kita harus mampir ke rumah makan milik Arga, kamu harus cicipi, menu utamanya nasi bakar andalan restoran milik Arga.” Widi menepuk-nepuk bahu Arga.
Sementara Arga agak susah menahan rasa cemburu, baru saja Widi memanggil Dini dengan panggilan ‘Sayang’.
Dini menangkap kilat cemburu dan terluka di mata Arga yang sangat susah diartikan.
“Apalah yang hebat dari aku Wid, aku cuma tukang masak. Sehari-hari ya bau masakan, nggak gaul dan beginilah biasa-biasa saja. Kamu yang luar biasa, seorang manajer perusahaan elektronik terbesar. Widi! Widi! Aku nggak ada apa-apanya dengan kamu dari dulu. Kamu juga luar biasa Dini,” Arga memilih merendahkan diri.
Dari tadi Dini memilih diam, sekarang pun Dini memilih diam saja dan membiarkan dua pria yang sama-sama mencintainya saling mengagumi.
Lebih nyaman hanya diam dan mengamati mereka berdua, waktu seakan memberi kesempatan pada Dini untuk membandingkan kondisi mereka sekarang.
“Chef Arga bentar dong, bisa foto bareng nggak buat kenang-kenangan? Kapan lagi bisa foto dengan Chef ganteng?”
Percakapan Arga dan Widi tertunda sebentar karena Arga melayani dengan sabar para penggemarnya, kaum hawa yang meminta foto dan tanda tangan juga bertanya tentang resep masakan.
Semua tak luput dari pengamatan Dini yang menajamkan perhatiannya daripada keangkuhan yang dibangun bertahun-tahun untuk Arga.
Mungkinkah waktu jugalah yang melemahkan pertahanan hatinya yang dijaga kokoh selama ini untuk tidak menerima Arga atau memang ada rasa hampa mulai menjalari hatinya setelah apa yang dikejar selama ini ternyata tak cukup membuat hatinya bahagia.
Dini telah mencapai sebagai Sarjana Ekonomi predikat cum laude, karier dan fasilitas yang semuanya bukan hal yang gampang diraih. Semuanya sudah didapat tapi kenapa hatinya hampa? Apalagi terakhir-akhir ini Prita semakin jelas memanggil namanya dengan sebutan ‘Tante’.
Setelah tahu permasalahan dalam perkawinan Widi adalah anak, entah kenapa ada rasa bersyukur dirinya telah mempunyai seorang putri dan terbersit suatu keinginan bukan sebutan ‘Tante’ yang diinginkan tapi ‘Bunda’. Sepertinya indah sekali.
“Din kok kamu ngelamun sih dari tadi?” Widi menyentuh bahu Dini lembut yang masih mengawasi Arga yang sabar menjelaskan resep-resep uji cobanya.
“Din kayanya mendingan kita jalan-jalan ke lain tempat ya, Arga sibuk sekali,” Widi menarik tangan Dini dan melambaikan tangan ke Arga.
“Tunggu...” Arga mengejar Dini dan Widi. Widi dengan ringan memeluk pinggang Dini dan semakin kentara ada cemburu di mata Arga yang bisa Dini tangkap.
“Ini kartu nama aku dan alamat restoran kecil-kecilanku, kalau kalian ada waktu kapan-kapan mampir ya,” Arga memberikan kartu nama dan seulas senyum tersungging di bibirnya.
“Buat Dini saja, aku kan sudah pernah mampir ke restoran kamu,” Widi menolak kartu nama yang Arga sodorkan. Dini menerima dan langsung memasukkan ke dalam tas cangklongnya.
***
“Din, kamu yakin pulang ke Jakarta sekarang juga?” Widi kaget dengan keputusan Dini tiba-tiba yang membatalkan untuk pulang besok sore ke Jakarta.
Hari Sabtu masih cukup panjang untuk sampai malam menikmati Pulau Dewata dengan keindahan eksotiknya, dan besok di hari Minggu juga masih bisa untuk menikmati jalan ke pasar tradisional untuk membeli oleh-oleh.
Sesuai rencana awal, Sabtu Minggu untuk menikmati liburan, tapi semua mendadak berubah. Widi tidak menyangka Dini membatalkan semua dengan alasan tak jelas memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Sementara Widi malas kembali ke Jakarta secepatnya karena Angel juga tak ada, hanya kesepian yang menyambutnya juga.
Widi sudah membayangkan untuk menebus rasa cinta Dini yang terabaikan tapi sepertinya Dini punya pertimbangan lain.
Yang pasti Widi ingin mempergunakan kesempatan yang langka ini hanya berdua dengan Dini untuk membayar masa lalunya, setelah Widi tahu dari Angel kalau Dini sebenarnya menyukainya.
Widi seakan merasa bersalah telah mengabaikan Dini begitu saja, padahal Ardini Puteri selama ini selalu menjadi sahabat yang sangat baik.
Tapi Angel menegaskan pada Widi setelah menikah, sekarang Widi hanya milik Angel sepenuhnya.
“Wid, maaf ya aku pulang duluan...” Dini meminta maaf atas keputusannya tiba-tiba.
“Hmmm… Din, ada apa sih sebenarnya? Bukankah kamu menginginkan kita bersatu tapi kenapa setelah ada kesempatan kamu malah menjauh. Din maafkan aku yang mungkin terlambat sekali untuk mewujudkan cinta sempurna yang kamu harapkan,” Widi memasang wajah memelas, berharap Dini akan membatalkan kepulangan ke Jakarta dan menghabiskan hari Sabtu-Minggunya bersama dirinya di pulau yang sangat romantis.
“Aku janji Din, aku akan membahagiakan kamu.” Widi berkata serius.
Tapi Dini bergeming, hatinya diliputi kebimbangan. Di satu sisi sungguh ingin mengejar cinta sempurnanya, tapi di sisi lain pertemuan dengan Arga kenapa membuat hatinya bisa berdamai dengan kemarahan yang dia tanam bertahun-tahun. Bahkan sebaliknya Arga begitu rendah hati, sabar, tidak hanya dengan dirinya tapi lihat tadi dia begitu disayangi oleh penggemar-penggemarnya. “Wid, jujur kalau aku mau mengikuti ego hatiku, sepertinya aku ingin kita bersama. Tapi Wid, ada yang jadi pertimbangan terberat,” Dini perlahan memberikan alasannya.
“Karena Angel! Karena aku masih berstatus suami orang? Iya kan?” Widi mengguncang bahu Dini.
Dini diam.
“Jawab Din!” Widi menjadi tak sabar.
“Iya! Itu salah satunya,” Dini memilih menjawab pendek.
“Aku sudah berkali bilang Din, aku akan meninggalkan Angel kalau dia tetap dengan keras kepalanya tidak mau menuruti kataku!” Janji Widi.
“Wid, pernikahan adalah janji suci. Maaf Wid, bukan aku sok suci atau munafik tapi aku sudah melewati masa berat dan cukup ini menjadi ujian terbaik dalam hidupku. Nanti kalau saatnya siap, aku akan beri tahu kamu kenapa aku memilih kembali masa lalu,” Dini susah payah bicara untuk jujur.
“Masa lalu kamu seharusnya aku kan, Dini?” Widi bicara percaya diri.
“Seharusnya! Sayangnya kamu nggak peka sama sekali akan perasaan aku di waktu lalu. Sehingga bukan kamu juga yang menjadi sosok masa laluku,” kata Dini ketus.
“Jadi? aku tahu pasti Arga! Kamu selalu bilang hanya berteman dan Arga juga sempat keceplosan kalau dia hanya jadi pacar pura-pura. Benar sosok masa lalu kamu adalah Arga?” Widi mencari kebenaran di sepasang mata Dini yang mengembun.
“Aku harus cepat ke bandara, pesawatku dua jam lagi, sampai ketemu Wid…” Dini memilih bergegas cepat meninggalkan Widi yang menyiratkan wajah penuh kekecewaan.
***

Other Stories
Jika Nanti

Adalah sebuah Novel yang dibuat untuk sebuah konten ...

I See Your Monster, I See Your Pain

Aku punya segalanya. Kekuasaan, harta, nama besar. Tapi di balik itu, ada monster yang sel ...

Ablasa

Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan berubah mencekam saat mereka tersada ...

Separuh Dzarrah

Dzarrah berarti sesuatu yang kecil, namun kebaikan atau keburukan sekecil apapun jangan di ...

Bungkusan Rindu

Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...

Kita Pantas Kan?

Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...

Download Titik & Koma