Bukan Cinta Sempurna

Reads
2.3K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

Perjuangan Masih Panjang

Empat bulan menuju kelulusan adalah sebuah perjuangan yang sulit. Menempatkan Dini sebagai juara dua setelah Widi.
Dini harus berbesar hati juara umum terakhir di kelas XII yang seharusnya dipertahankan dengan lebih gampang kalau kondisinya tidak pakai dengan acara hamil. Juara umum harus direlakan jatuh ke tangan Widi.
Angel dan Widi tersenyum bahagia, mereka sama-sama jadi juara umum dan mendapat penghargaan di upacara pelepasan. Dini memilih pura-pura sakit di ruang UKS daripada harus berdiri mengikuti upacara.
Yang terpenting ayahnya terselamatkan dari aib yang tengah dia pikul. Setelah ini dia harus melakukan perjalanan kurang lebih enam jam dengan kereta api ekonomi menuju kota kecil Purwokerto untuk menyembunyikan perutnya yang sebulan lagi tak bisa disembunyikan lagi.
Melangkah lima bulan sudah mulai terasa ada gerak-gerak di perutnya yang membuatnya geli.
Dini termenung, sudah beberapa kali dia melihat makhluk di perutnya saat USG di Dokter Toni, ahli kandungan. Belum diketahui cewek atau cowok tapi enam bulan biasanya bisa dilihat kembali.
Jujur hatinya belum bisa terima keadaan dirinya yang benar-benar merasa hanya jadi beban buat kedua orang tuanya. Dini tak pernah terlintas akan menghadapi kehamilan sebelum menikah. Usai sudah pencarian cinta sempurnanya.
Usai benar-benar Dini harus melupakan semua tentang Widi yang sudah berbahagia dengan pilihannya dan sama sekali tidak tahu akan perasaan hatinya yang begitu tercabik-cabik.
Semua benar-benar harus dikubur, tak ada lagi cita-cita menjadi dokter. Yang ada sekarang sebuah perjuangan lain.
Sepanjang kereta api eksekutif Purwojaya pagi, Dini memilih merenungi kesalahan dan berpikir realistis.
“Purwokerto... ada apa di sana? Dan apa yang harus aku lakukan dengan kondisi aku seperti ini? Tidak! Aku harus bangkit, setahun aku memang cuti dari sekolah formal, tapi kurasa aku bisa ambil kursus-kursus. Atau coba-coba cari kerjaan dengan ijazah SMA-ku?” Dini sibuk berdiskusi dengan hatinya, sambil mengusap perutnya.
Mencoba tersenyum dan tegar, setiap teringat Arga kadang benci menjalar terhadap makhluk yang diperkirakan cewek menurut dokter setelah enam bulan bersemayam di rahimnya. Dini membenci makhluk yang ada di rahimnya, makhluk yang sama sekali tidak diharapkan dan dengan keterpaksaan harus dipertahankan.
Dini tak sabar ingin cepat mengeluarkan makhluk lemah ini dari perutnya kemudian menyusun langkah-langkah baru. Menjadi wanita karier mungkin dengan penghasilan besar bisa membeli apa yang selama ini tidak pernah dia bisa miliki. Apapun caranya kalau perlu siang dan malam akan bekerja untuk bisa membiayai kuliah yang tidak akan didapat dari beasiswa lagi dalam waktu dekat.
***
Dini dan Bu Dinda disambut ramah oleh Bulik Sari, yang sudah tahu cerita keponakannya yang selalu dibanggakan tapi sekarang tengah mengalami masalah yang serius.
Bulik Sari mencoba membesarkan hati Dini agar menghadapinya dengan jiwa besar. Dini mendengarkan nasihat Bulik Sari dengan tenang dan merasa Bulik Sari juga tetap sama seperti waktu lalu menyayangi dirinya.
Terlebih Bulik Sari yang ditinggal mati suaminya tanpa anak menganggap dirinya juga sudah seperti anak sendiri.
“Semoga aku bisa memperbaiki diri dan menebus kesalahan yang aku buat. Aku harus mengejar ketinggalan secepatnya terutama setelah bayi ini lahir.” Lagi-lagi ada nada kesal akan bayi yang semakin nyaman saja untuk tumbuh.
Bayi yang tidak mau tahu kalau ibunya masih sangat muda dan tidak menghendaki kehadirannya. Mungkin juga bayi yang tegar karena setiap saat yang didengar adalah luapan dan rasa kebencian dari hati ibunya akan sosok ayah yang membuat keberadaan dirinya di rahim yang sunyi.
“Bulik di sini ada universitas bagus kan? Aku akan daftar untuk tahun depan, jadi setelah bayi ini lahir aku bebas dan aku kembali menjadi gadis bebas yang mengejar prestasi. Yah cita-cita kedokteran aku kandas, tapi sudahlah mungkin memang bukan jalanku di Kedokteran.” Dini bertanya penuh semangat saat jalan pagi di pematang persawahan yang sejuk.
Bulik Sari paham akan keinginan keponakannya, Dini memang selalu terbiasa bertarung dengan segudang prestasi. Kehamilan ini jelas menghancurkan apa yang sudah dibangunnya.
Ada rasa sedih menyelinap di hati Bulik Sari. Dulu dirinya sangat berharap punya momongan, sampai suaminya meninggal pun tak kunjung diberi. Tapi sekarang keponakannya malah menolak janin yang sudah enam bulan dikandungnya.
“Iya Dini kamu boleh kejar ketinggalan setelah kamu melahirkan, tapi ingat kamu tetap seorang ibu sekarang, bukan lagi gadis lajang yang bisa sesuka-suka kamu,” dengan lembut Bulik Sari menasihati Dini.
“Bulik aku nggak mau terlalu ngurusin bayi ini, yah pokoknya ada Ibu dan Bulik yang lebih bisa dan pengalaman. Aku habis lahiran mau cari kerja dan kursus-kursus apalah, lalu aku akan coba ikut tes masuk perguruan tinggi untuk Jurusan Ekonomi Manajemen. Aku memutuskan untuk mengambil ekonomi yang bisa lulus lebih cepat dari kedokteran. Itu Bulik tujuan aku dalam setahun ke depan,” Dini menjelaskan rencana barunya.
Jujur bulik Sari suka dan bangga dengan apa yang barusan Dini ungkapkan, berarti dia tidak lagi merasa terpuruk, sudah mulai ada keinginan untuk bangkit dan sepertinya untuk pengurusan bayi memang akan banyak melibatkan dirinya dan kakak iparnya.
Bulik Sari diam-diam merasakan bahagia, mungkin saja bayi dari rahim Dini hadir memang untuk mengobati kecewa hatinya karena tidak diberi kesempatan untuk mempunyai seorang anak.
***
Rumah bulik Sari terasa lebih hangat karena biasanya hanya tinggal sendirian setelah kepergian almarhum suaminya, sekarang ada Ibu Dinda, Dini dan sebentar lagi akan ada bayi perempuan yang semakin membuat rumahnya ramai.
Dini beruntung ditungguin oleh dua wanita, makanya dia tidak bisa sesuka hati dengan kandungannya. Dini terkadang melanggar aturan agar tidak ngemil jajanan yang nggak sehat, tapi diam-diam Dini suka belanja sendiri ke mini market.
Dini malas berolahraga padahal oleh Dokter Toni disuruh olahraga, makan sayur yang banyak serat apalagi Dini mengeluh sudah beberapa kali susah buang air besar dan sempat juga batuk-batuk berkepanjangan.
Bisa dikata memang kehamilan yang tidak dikendaki mengakibatkan psikologi ibunya tidak bahagia. Semua peraturan kesehatan tidak dipedulikan, untungnya bayi yang dikandungnya bayi yang kuat.
Tinggal menghitung hari dari perkiraan kelahiran, bobot Dini naik cukup banyak. Bahkan Dokter Toni sempat menyuruh Dini diet agar bisa melahirkan dengan normal. Tapi Dini malah makan makanan berkarbohidrat banyak tak terkontrol.
“Aduuuh Bu, aku semakin gak kuat nih nyangga perutku, punggungku sakit sekali. Mau tidur susah, terlentang terus pegal! Kapan sih anak ini mau keluar?” Dini tiap kali mengeluh.
Melihat fisiknya yang melar membuat Dini merasa menjadi wanita paling jelek. Setiap ingat Arga yang ada semakin benci dengan calon bayi yang sebentar lagi lahir.
“Sabar Din... kamu jangan marah-marah terus, kasihan bayi di kandungan kamu. Dia itu nggak salah apa-apa, kalau kamu benci dengan Arga itu masalah kamu tapi jangan kamu bawa-bawa cucu Ibu ya Sayang...” Bu Dinda tersenyum tulus menghibur Dini. Sejujurnya Bu Dinda hatinya tetap bahagia dengan kehamilan Dini, bahkan tidak menganggap ini musibah. Memiliki cucu adalah diam-diam salah satu keinginannya. Memiliki cucu di tengah usianya yang belum tua pasti menyenangkan, karena masih bisa mengajaknya bermain, berlari dan menggendongnya.
“Pokoknya nanti kalau dia lahir, Ibu ama Bulik yang urus! Dini mau kerja dan kuliah lagi! Titik!” Dini memunggungi ibunya, air matanya menetes, terkadang rasa menyesal begitu menyakitkan. Tapi inilah kenyataan yang harus dihadapi.
***
Samar terdengar suara azan subuh dan, “Ibuuuu… perut Dini mulas dan tadi di kamar mandi ada darah di kloset...”
Ibu Dinda berusaha tenang, dibantu Bulik Sari mereka langsung jalan ke depan dan untungnya selalu ada tukang becak yang jaga di depan gardu ronda.
Dini dan ibunya naik becak, sementara Bulik Sari mengikuti dengan sepeda di belakangnya sambil membawa tas yang sudah berisikan perlengkapan persalinan ibu dan anaknya.
Memasuki pelataran rumah sakit ada petugas yang membantu Dini dan langsung dibawa ke ruang tindakan.
“Tenang Ibu Dini, masih pembukaan dua,” kata suster yang ber-name tag Aisah.
“Dan lebih baik Ibu Dini mengganti pakaiannya dengan sarung ya, kalau bisa buang air besar, silakan. Pokoknya sekarang bersih-bersih dulu biar segar,” suster Aisah menerangkan dengan ramah.
Ketakutan menjalari Dini, sekarang dia baru merasakan bagaimana sakitnya melahirkan. Baru pembukaan dua kalau boleh meminta waktu dipercepat dan dia tidak perlu melewati pembukaan demi pembukaan yang menyiksanya.
“Yang sabar dan ikhlas Din, kamu akan melewati persalinan dengan baik,” nasihat Ibu Dinda.
Tiba-tiba ada dua perawat yang datang menghampiri mereka dan... “Maaf, suaminya mana?”
“Maaf Sus, suaminya masih di Jakarta karena tugas jadi kami berdua yang jagain,” jawab Bulik Sari.
“Oh gitu, begini… soalnya sewaktu tiba di sini Bu Dini sudah pembukaan dua, tapi ini sudah hampir tiga jam tidak bertambah pembukaannya, jadi tadi Dokter Toni menyarankan untuk induksi. Nah induksinya berupa suntikan dengan infus, untuk itu kita perlu tanda tangan orang yang paling bertanggung jawab,” terang Suster Aisah.
“Kenapa harus induksi ya Sus?” tanya Ibu Dinda.
“Untuk mempercepat pembukaan dan merangsang bayi keluar,” Suster Aliya menyambung penjelasan suster Aisah.
Sepertinya itu yang terbaik saat ini. Maka dengan ditandatanganinya kesediaan untuk induksi, dua suster menyuntikkan pas di punggung tangan kiri lalu dipasang sebuah infus.
Satu jam Dini mulai mengerang kesakitan, ternyata reaksinya cukup cepat mulai terasa mulas yang tenggang waktunya semakin lama semakin berdekatan. Hampir sembilan jam Dini mengerang karena rasa mulas yang timbul akibat dorongan janin yang ingin segera keluar.
“Sus sudah hampir sempurna pembukaannya, kita pindahkan ke ruang tindakan,” perintah Dokter Toni yang tahu-tahu sudah di dekat mereka.
Sungguh ini sangat menakutkan, Dini hanya bisa menggenggam tangan ibunya. Berkali-kali bibirnya mengaduh dan selalu mengeluh,” Aduh sakiiit... sakiiit...”
“Sabar ya Din, semua akan baik-baik. Kamu berdoa, jangan mengaduh-aduh terus!” Ibu Dinda menggenggam tangan Dini.
“Iyaa Bu, coba berdoa ya! Dan jangan ribut terus!” celetuk salah satu suster yang berwajah tegas.
Memang dalam persalinan biasanya ada suster yang lembut, tapi dibutuhkan juga suster yang tegas agar pasien tidak cengeng seperti yang tengah diperlihatkan Dini.
“Aduuh Suster ini sakit sekali, gimana caranya mengejan saya tidak tahu!” teriak Dini keras-keras.
“Nanti juga bisa Bu, sudah tenang dan berdoa saja!” jawab Suster Almi yang berwajah tegas.
Tak urung Dini menatap suster yang berwajah tegas dan berusaha mengurangi erangannya. Tapi tetap saja tidak bisa, mulut Dini terus saja mengaduh.
“Ya… pas puncak-puncaknya mulas, mengejan ya Bu!” Dokter Toni dengan sabar membimbing persalinan Dini.
“Aduh! Kalau tahu sakit gini! Aku nggak akan mau punya anak!” Dini berteriak-teriak entah antara sadar atau tidak.
“Ayo mengejan yang kuat! Sudah kelihatan kepala bayinya!” Dokter Toni bersemangat dan beberapa saat terdengar suara tangisan sang bayi dengan kerasnya.
Ada perasaan sangat lega luar biasa setelah rasa sakit yang amat sangat. Semua tersenyum gembira mengucap syukur. Bahkan Ibu Dinda dan Bulik Sari berkali-kali ngomong, “Aduh cantiknya, aduh lucu banget...”
Yang ada di otak Dini adalah segera berlalu mimpi buruk ini dan bisa menjadi gadis normal lagi dengan impiannya yang harus segera dikejar.
Suara tangisan bayi sama sekali tak mengusik hatinya untuk memeluk bahkan sama sekali tak kepikiran untuk melihat bagaimana wajahnya.
Kalau bukan semua karena inisiatif ibu dan bulik, mungkin Dini hanya diam membisu setelah proses persalinan.
Ibu Dinda segera mengurus Dini setelah selesai proses penjahitan, Ibu Dinda meletakkan bayinya di dada Dini. Dini hanya diam membisu walau dalam lubuk hatinya mengakui bayi dipelukannya sangat innocent.
Bulik Sari merasa aneh dengan sikap Dini yang tidak menampakkan rasa bahagia setelah melahirkan bayi cewek yang sehat dengan berat 3.5 kg dan panjang 49 cm juga tangisan yang nyaring ini.
Bulik Sari malah yang sangat amazing, seperti merasakan dirinya yang melahirkan. Mungkin inilah doa yang terjawab dari Allah agar bisa merasakan mempunyai seorang anak dan ini bisa dirasakan dengan kehadiran anak dari rahim Dini.
Mereka sepakat bila bayinya sudah lahir, akan diberi nama Prita.
“Din, kasihan Prita. Kamu susuin ya, Air Susu Ibu itu yang paling baik buat si bayi,” Ibu Dinda membujuk Dini yang memandang Prita dengan pandangan malas.
“Ya ampun, Diiiin kasihan Prita! Gimana nih Mbak atau kita kasih susu formula saja?” Bulik Sari tidak tega melihat Prita sudah menangis kelaparan tapi Dini sama sekali tidak peduli, malah sebaliknya marah-marah.
***
Sudah dua hari tapi Dini tetap tidak mau menyusui Prita, sampai akhirnya susu formula yang menjadi minuman Prita.
Bulik Sari benar-benar menyayangi Prita, seakan dialah ibunya, sementara Bu Dinda banyak menghibur dan menasihati agar Dini berubah sikapnya terhadap Prita.
“Din, kamu nggak boleh bersikap seperti itu. Kasihan anakmu, bagaimanapun dia tidak bersalah apa-apa. Kamu sayangi dia dan kasih yang jadi haknya,” Ibu Dinda menasihati dengan lembut.
Tapi Dini bergeming, sekalinya berkomentar, ”Udah syukur Dini tidak aborsi. Sekarang sesuai janji Ibu setelah anak itu lahir, Dini akan mengejar ketinggalan Dini dan Ibulah ama Bulik yang urus Prita!”
Bulik Sari senang-senang saja mengurus Prita, tetapi Ibu Dinda merasa sedih, karena semalam saat konsultasi dengan Dokter Toni, sepertinya Dini mengalami yang dinamai baby blues syndrom.
Perasaan sedih setelah melahirkan, mungkin Dini tertekan karena sejak kehamilan sampai melahirkan menyebabkan dia merasa tertinggal dengan teman-temannya yang melenggang kuliah, sementara dirinya yang biasanya selalu menjadi bintang malah terpuruk akibat kesalahan fatal yang dilakukan dengan cowok yang dibencinya, dan sama sekali bukan cowok sempurna yang jadi impian Dini.
***
Sebulan terlewati, Dini benar-benar tidak mau banyak berurusan dengan Prita, benar-benar semua diurus oleh Ibu Dinda dan Bulik Sari.
Pagi ini malah Dini terlihat sudah rapi dan berdandan tipis. Dari semalam dia asyik di depan komputer dan menge-print yang ternyata adalah berkas-berkas lamaran.
“Din kamu yakin mau bekerja?” tanya Ibu Dinda.
“Iyalah Bu, kan Dini sudah buat target. Setelah Prita lahir, Dini bebas, dan mulai dengan mencari kerjaan, sambil mempersiapkan untuk masuk ke Perguruan Tinggi Negeri. Lalu Dini kembali ke Jakarta mengejar karier untuk jadi wanita karier,” tekad Dini yang diucapkan dengan semangat.
“Hemmm… ya sudah kalau itu yang kamu paling anggap terbaik, tapi Din pesan Ibu, kamu sudah mempunyai pengalaman yang berharga. Saran Ibu jangan sampai kamu melakukan kesalahan lagi. Tetaplah jadi putri Ibu ya... kamu adalah Sang Bintang yang terus bersinar, Ibu tak peduli apa yang telah terlewati. Ibu ingin kamu menyayangi Prita seperti Ibu sangat menyayangi belahan hati Ibu dan itu kamu, Ardini Puteri!” Ibu Dinda mengelus kepala Dini.
Dini terhenyak, dia baru sadar kalau dia tidak menyayangi Prita selayaknya seorang ibu, hatinya memang telah tertutup rasa benci dan kegagalan yang harus cepat-cepat dikejar. Setiap melihat Prita yang teringat adalah kesedihan dan kegagalan dirinya yang hancur, apalagi wajah Prita sama sekali tidak mewarisi wajah dirinya, semua adalah wajah Arga.
Sungguh ini membuat Dini kerap tersiksa, karena selamanya Arga akan jadi bayang-bayang hidupnya. Sementara asal bukan Arga-lah yang Dini anggap bisa memberikan cinta yang sempurna.
Dini mantap untuk bekerja setelah sebulan ini jadi masa pemulihan, dari kemarin dia sudah cari-cari informasi lewat internet akan lowongan kerja buat anak lulusan SMA.
***
“Wah nilai ijazah kamu luar biasa ya, terutama matematika dan IPA. Sayang sekali kamu tidak meneruskan kuliah,” suara lembut Pak Robin, HRD Mal Citra Rama membuat Dini tersanjung.
“Baiklah kamu diterima sebagai kasir, kalau kerja kamu bagus kami juga akan mengangkat kamu, bisa jadi sebagai manajer store. silakan kamu baca perjanjian kerjanya, gaji, asuransi, tunjangan dan beberapa peraturan kerja yang lain,” Pak Robin memberikan beberapa berkas untuk Dini baca terlebih dahulu sebelum ditandatangani.
Dini tersenyum senang, akhirnya walau hanya sebagai kasir tapi dirinya merasa ada denyut harapan baru. Dini memang bertekad mengejar untuk mendapatkan pengalaman kerja, apalagi nggak salah bila dicoba berawal dari kasir bisa juga menjadi manajer store kalau bekerja dengan baik.
Dengan kesibukan Dini kerja penuh waktu dan juga masih mengambil kursus bahasa Inggris dan komputer, maka tidak ada waktu luang untuk mengurusi Prita. Sehari-hari Dini hanya menyapa seperlunya saja pada Prita Puteri Ardini.
***
Sampai suatu hari, Prita kejang karena panas yang sudah beberapa hari. Tapi karena kondisi keuangan yang juga terbatas belum sempat di bawa ke rumah sakit.
“Din kamu pulanglah, tinggalkan pelatihan sesaat. Prita sakit, panas tinggi ini. Ibu dan Bulik mau bawa ke rumah sakit,” Ibu Dinda menelepon Dini yang sudah tiga bulan bekerja di Mal Citra Rama dan tengah ikut pelatihan manajemen di Baturaden.
“Nggak bisa dong Bu! Udah Ibu dan Bulik saja yang bawa Prita ke dokter, Dini gak mungkin bisa tinggalin pelatihan. Sayang dong Ibu dari pelatihan ini, Dini akan dapat sertifikat dan mendukung Dini untuk tidak hanya jadi kasir. Zaman sekarang susah cari kerjaan.” Klik!
Ternyata setelah memberikan alasan panjang lebar, Dini mematikan telepon genggamnya.
“Aduh gimana ya Sar? Aku juga nggak ada uang sama sekali,” Ibu Dinda bingung mau membawa Prita ke rumah sakit tapi tak ada uang, demikian juga Bulik Sari yang janda tanpa pensiun dan tak ada tinggalan apapun dari almarhum suaminya.
Tiba-tiba suara telepon genggam Bu Dinda berbunyi, ternyata nomor asing ada di layar telepon.
“Halo...” Ibu Dinda menerima panggilan tersebut.
“Halo, Ibu... Ibu Dinda,” terdengar suara pria.
“Iya betul, maaf siapa ini?” Bu Dinda balik bertanya.
“Ibu sudah lupa ya sama suara Arga?” ada nada kecewa dari suara di seberang telepon.
“Ya ampun Mas Arga! Nak kamu baik-baik saja? Kamu ada di mana Nak? Prita sakit!” tanpa sadar Bu Dinda langsung mengungkapkan perasaan yang tengah dihadapi.
“Prita? Maksud Ibu? Dini?” Arga ikutan bingung tapi jelas ada nada panik.
“Prita anak Dini, dan ka.. .mu... Nak...” tak urung akhirnya bocor sudah rahasia yang disimpan hampir setahun ini.
“Anakku, jadi... ya ampun Ibu kenapa dengan Prita? Apa yang bisa aku bantu secepatnya.”
Arga langsung cepat tanggap, terungkap sudah kecurigaan yang dia pendam atas berubahnya sikap Dini setelah peristiwa di roof top dua bulan kemudian, Dini yang bermuka pucat dan kerap muntah-muntah, Dini yang menolak beasiswa Kedokteran dan terakhir tiba-tiba Dini menghilang begitu saja bersama ibunya.
Arga sempat ke rumah Dini yang biasanya rapi tapi tampak agak berantakan karena hanya Pak Danu yang ada.
Saat datang mencari tahu ke mana Dini, yang ada malah dirinya dimarah-marahin dan dianggap laki-laki yang tidak bisa menjaga amanat saat dititipi Dini oleh Pak Danu. Tapi Pak Danu juga tidak membocorkan kondisi Dini yang sesungguhnya tengah hamil karena perbuatan mereka berdua.
Hanya satu yang Arga pegang saat pak Danu berkata, ”Kalau kamu mau Dini menjadi istrimu kelak! Kamu harus berjuang sendiri! Bukan mengandalkan kekayaan orang tua! Kamu harus berdiri sendiri dengan kemampuan kamu! Baru kamu datang dan menikahi Ardini!” Pak Danu seakan menantang dirinya yang selama ini dianggap selalu mengandalkan fasilitas kedua orang tuanya.
Untuk itu maka Arga memang nekat melepas semua fasilitas kedua orang tuanya, bahkan Arga memilih jurusan yang tidak banyak mengeluarkan uang tapi dirinya memang menyukainya.
Jurusan Tata Boga yang Arga pilih sesuai hobi memasaknya. Di sini yang dipelajari adalah seluk beluk masak-memasak yang sehat dalam penghidangan. Arga juga membuka warung dengan harapan akan menjadi sebuah restoran kuliner yang besar nantinya.
Bahkan Arga menerima tawaran untuk mengisi di radio lokal acara “Berbagi Resep” dengan honor lumayan. Semua fasilitas orang tuanya Arga lepas. Kalaupun diberi, Arga milih ditabung ke rekening lain.
Dirinya membuka lembaran baru sendiri untuk menjadi lelaki yang berjuang dengan kedua tangannya, walau kasarnya hanya sebagai tukang masak.
“Ibu... tolong SMS nomor rekening Ibu, Arga transfer dulu sejumlah uang sekarang juga untuk berobat Prita. Dan Ibu, Arga minta alamat tempat tinggal Ibu sekarang, tapi tolong rahasiakan semua ini dengan Dini. Dia pasti akan sangat marah kalau tahu aku membantu Ibu dan Prita. Nama gadis kecilku “Prita” aku suka Bu dengan nama anakku. Sepertinya nama yang sangat ceria.”
Ibu Dinda bernapas lega. Setelah Arga konfirmasi telah melakukan transfer, secepatnya Bu Dinda membawa Prita yang berumur tiga bulan ke rumah sakit.
Prita langsung mendapat perawatan yang intensif, sepertinya dia terkena infeksi lambung yang disebabkan oleh bakteri. Setelah mendapat obat panasnya, demam Prita berangsur-angsur turun dan stabil. Tapi untuk pemulihan tetap harus dirawat di rumah sakit dulu.
***
Arga tanpa pikir panjang segera mencari tiket menuju Purwokerto. Malam itu juga dia memutuskan untuk menengok Prita. Hatinya penuh dengan rasa penasaran dan berdebar untuk menemui buah cintanya.
“Nak Arga, syukurlah kamu datang. Prita masih perlu istirahat, kasihan sekali baru usia tiga bulan sudah diinfus.”
Ibu Dinda tidak bisa menahan kesedihan, apalagi Dini tidak ada keingintahuan sama sekali untuk menengok putrinya. Dini memilih untuk mengikuti training di kantor yang dianggapnya salah satu training penting diikuti untuk membuka kariernya.
“Ibu, maafkan Arga,” Arga mencium punggung tangan Bu Dinda. Sementara Bulik Sari hanya bisa menatap cowok yang tinggi dan ganteng, tapi tidak membuat Dini keponakannya jatuh cinta, malah sebaliknya sekarang sangat membencinya.
Arga menatap Prita dengan takjub, bayi tiga bulan yang tengah terkulai sangat lemas benar-benar mirip dengannya.
“Ibu, Prita mirip banget aku ya,” Arga tampak senang. Diciuminya Prita yang tengah terlelap.
“Ibu aku janji, aku akan ikut menjaganya sampai suatu saat Dini mau menerimaku,” Arga berjanji pada Bu Dinda yang tampak terharu.
Entahlah terlepas salah atau tidak, sekarang Ibu Dinda telah membocorkan keadaan yang sebenarnya pada Arga. Teringat Dini sudah meminta jangan pernah kasih tahu Arga kalau dia hamil karena perbuatan mereka.
Tapi kemarin sore seperti ada keterikatan antara ayah dan putrinya, di saat Bu Dinda dan Bulik Sari bingung dengan kondisi mereka yang tidak ada dana untuk membawa Prita berobat, entah kenapa Arga bisa tahu nomor telepon genggam Ibu Dinda dan menghubunginya.
Padahal selama ini Ibu Dinda tidak pernah berbagi nomornya, ternyata Arga tahu dari Mela, sahabat Dini yang pernah menyimpan nomor Ibu Dinda sewaktu Dini kerap pingsan di sekolah. Mela juga yang meng-informasikan setiap saat keadaan Dini waktu itu pada Ibu Dinda kalau Dini ada apa-apa. Tapi Mela sendiri waktu itu juga tidak tahu kenapa Dini jadi sakit-sakitan.
Hampir seharian Arga menunggui dan memuaskan kerinduan pada Prita, menyuapi Prita, mengganti pakaian dan mendengar evaluasi dokter akan kesehatannya yang membaik. Arga bisa tenang, apalagi Dini sedang tidak ada, maka dirinya bebas mengekspresikan rasa sayangnya pada Prita.
Sungguh tak ada penyesalan dalam hatinya telah melakukan yang seharusnya tidak boleh setahun lalu. Bayang-bayang kemesraan di roof top tidak akan pernah bisa hilang dalam hatinya. Membangkitkan sebuah rasa tanggung jawab meskipun orang yang paling dicintainya menolaknya.
Andai diizinkan dirinya ingin selamanya memeluk kenangan itu, bahkan semua kenangan saat bersama Dini dan sekarang bersama Prita.
“Andai bersatu itu hal yang gampang, alangkah bahagianya aku bisa hidup bersama Dini dan Prita. Sayang... hati Dini semakin membatu,” Arga melaras sedih.
Malam harinya Arga tidur di rumah sakit ikut menjaga Prita walau ada Ibu Dinda dan Bulik Sari, Arga ingin benar-benar memanfaatkan waktunya yang hanya semalam ini. Besok Minggu dia harus balik ke Jakarta karena Senin sudah menunggu beberapa aktivitas. Ada mata kuliah Sanitasi dan Hygiene, Teknik Pengolahan Makanan Asia, habis itu ada janji dengan radio Nusantara FM lokal mengisi acara Berbagi Resep.
Sekarang seminggu sekali tiap hari Senin dirinya menjadi pengisi tetap di radio FM Metropolis acara Berbagi Resep ala Chef Ganteng yang ternyata banyak juga pendengarnya. Malam harinya sempetin ke warung tenda nasi bakarnya untuk mengecek pendapatan hari ini.
Beruntung untuk bisnis warung tenda, Arga punya karyawan Chef Juna, yang bisa dipercaya untuk menjadi asisten dalam manajemen dan operasional.
Semua benar-benar Arga kerjakan dari nol, tanpa meminta fasilitas papa mamanya. Arga ingin menepati janjinya pada Pak Danu kalau dia bukan anak manja yang mengandalkan fasilitas orang tuanya. Maka dia rela serabutan kesana kemari untuk bisa mengumpulkan uang atas jerih payah keringatnya sendiri.
Setelah ngobrol banyak sebelum balik ke Jakarta, termasuk merahasiakan kedatangannya dan terungkap sebuah kebenaran akan sakit-sakitnya Dini waktu lalu, membuat Arga merasa lebih semangat. Dirinya sekarang bukan lelaki bebas, tapi lelaki yang terikat dengan seorang wanita dan seorang putri.
“Ibu, biarkan Dini mengejar mimpinya yang tertunda. Kita hanya bisa mendukung dan selalu mengingatkan agar jangan salah langkah. Kalau Dini saat ini masih dingin terhadap Prita, itu semata karena setiap melihat wajah Prita pasti dia jadi ingat dengan diri saya. Dan itulah yang membuat dia merasa marah,” Arga berpendapat.
“Iya sih Nak, tapi dia juga harusnya sadar... dia itu seorang Ibu lho!” tak urung Bu Dinda juga merasa kesal.
“Sabarlah Bu, Arga yakin Dini suatu saat akan mencintai Prita dan menyesali kalau dia telah mendiamkannya. Beri Dini kesempatan Bu, kita jaga Prita sama-sama. Arga akan pintar-pintar menyiasati waktu untuk tetap bisa menengok Prita tanpa sepengetahuan Dini. Arga akan bertanggung jawab atas biaya Prita sehari-hari, nanti Arga transfer rutin ke Ibu. Tolong Ibu bantu Arga, jaga anak Arga ya Bu.” Arga memohon dengan sangat pada Bu Dinda.
Mendengar kalimat-kalimat Arga, Bu Dinda tak kuasa menahan air mata. ”Iya Nak Arga, Ibu percaya kamu pria yang baik. Sekarang kamu juga harus sadar kalau kamu adalah seorang Bapak dan masih mempunyai tanggung jawab untuk menyatukan keluarga kamu,” Ibu Dinda mengusap lembut kepala Arga dengan sayang.
Entah kenapa dari awal Bu Dinda sudah merasa sayang sama cowok yang terkenal paling badung di SMA Seroja.
Arga semakin yakin kalau Ibu Dinda menyayanginya tulus, sepanjang perjalanan kereta api balik ke Jakarta mengingatkan Arga akan sebuah janji yang harus dituntaskan.
Arga berjanji untuk memenuhi harapan dan permintaan Pak Danu, menjadi lelaki mandiri tanpa fasilitas papa mamanya. Dan ini tengah Arga perjuangkan.
Hatinya lebih tenang ada Ibu Dinda dan Bulik Sari yang juga berjanji akan menjaga Prita dengan maksimal.
“Tunggu aku bisa menyatukan kalian semua... semoga...” doa Arga menutup matanya yang letih dan kereta Senja mengantar dia untuk berjuang kembali di Jakarta.
***
Masih panjang perjuangan yang harus sama-sama Arga dan Dini tempuh, dan biarkan waktu berjalan. Semoga doa dan harapan akan berpihak, itu yang sangat Arga, Ibu Dinda, Pak Danu, Bulik Sari dan Prita inginkan. Bersama menjadi keluarga yang utuh.
Sesuai target Dini setelah melahirkan melanjutkan kuliah, dan Dini memang selalu bersinar dalam akademik. Dirinya diterima untuk Fakultas Ekonomi jurusan Manajeman di sebuah Perguruan Tinggi Negeri.
Prita semakin jauh saja dengan Dini, bahkan Dini meminta agar Prita jangan memanggilnya dengan sebutan ibu, mama atau bunda tetapi tante!
Dini benar-benar ingin merasa menjadi sosok gadis yang masih lajang. Ibu Dinda dan Bulik Sari tak bisa melarang. Mereka juga sudah pasrah dengan waktu karena Dini selalu cuek bila diingatkan dirinya adalah seorang ibu yang seharusnya menjaga, merawat dan memberi kasih sayang utuh pada Prita.
Tapi sebaliknya, Dini semakin asik dengan dunia kerja dan kampus, sama sekali tidak mengurusi Prita.
Hanya saja setiap gajian Dini memberi sebagian uangnya untuk kebutuhan Prita. Tapi tanpa sepengetahuan Dini, setiap bulan pun Arga selalu mentransferkan sejumlah uang pada Bu Dinda untuk urusan Prita.
“Din kamu kok begadang terus, memang besok masih ujian semester ya?” Bu Dinda mengingatkan Dini yang sudah pukul 02.00 pagi masih terjaga dengan buku-bukunya.
“Ibu... Prita jadi tidur jam berapa Bu?” tanya Dini balik tak menjawab pertanyaan ibunya.
Tadi saat dirinya mulai berkutat dengan buku pukul 23.00, Prita yang sudah berusia tiga tahun masih asyik bermain. Sepertinya dia nungguin dirinya. Buktinya saat wajah Dini nongol langsung Prita memanggil, “Tantyeeee, Tantyeee main...” sambil membawa boneka panda.
Ternyata Ibu Dinda membawa satu-satunya boneka yang dia miliki dari Arga dan sekarang menjadi boneka kesayangan Prita. Dini tidak mau mendebat masalah boneka panda dari Arga yang sekarang menjadi kesayangan putrinya, yang terpusat dalam otaknya adalah dua semester lagi dia harus bisa kelar untuk meraih Sarjana Ekonominya.
Setelah ujian semester ini dia bisa mulai ambil skripsi dan Dini harus berusaha keras untuk mengejar wisuda tahun depan.
Kerjaan kantor juga semakin banyak setelah setahun menjadi kasir, dirinya diangkat menjadi supervisor dan sekarang sudah menjadi asisten manajer dalam waktu tiga tahun.
Lebih beruntungnya pihak manajemen tempat dirinya bekerja mempunyai cukup tenggang rasa agar Dini bisa bekerja sambil menempuh kuliah juga.
Dini sudah berencana setelah jelang wisuda dia akan mengirim beberapa lamaran ke perusahaan besar di Jakarta.
Ya, cita-citanya sekarang adalah menjadi wanita karier yang sukses, dirinya akan mengejar sampai meraih jabatan sebagai manajer atau bahkan direktur nantinya di sebuah perusahaan besar. Apa yang selama ini menjadi perjuangannya harus dibayar mahal nantinya.
Prita tumbuh semakin menggemaskan sebenarnya, terkadang dari jauh Dini memperhatikan ibu, Bulik Sari dan Prita yang tengah berkumpul.
Ibu dan Bulik Sari tampak bahagia mencandai Prita yang memang sangat lincah. Diam-diam Dini bersyukur dalam hati, walau dirinya tidak banyak ikut campur tangan akan Prita, tapi Prita tumbuh dengan sehat.
Dini tidak tahu kalau Arga beberapa kali meluangkan waktu untuk menghabiskan waktu bersama Prita. Bahkan sempat beberapa kali mengajak ke tempat bermain anak yang ada di Purwokerto.
Tentu saja dilakukan Arga bila Dini sedang sibuk dengan kuliah dan kerjaan, itu memang kegiatan Dini sehari-hari bahkan tak kenal hari Sabtu dan Minggu.
Bukan hal yang gampang bekerja dan kuliah dalam waktu bersamaan dengan semuanya harus menghasilkan sesuatu yang maksimal, tapi Dini bisa jalani keduanya dengan sempurna.
Nilai IPK Dini mendekati sempurna, 3.9. Sementara karier Dini di Mal Citra Rama juga terus menanjak. Masih muda Dini sudah menjadi asisten manajer dan sebentar lagi dia akan mengantongi gelar kesarjanaannya dengan predikat cum laude.
Tak ada waktu untuk santai dan mengenal pribadi lain, untuk yang satu ini memilih untuk diam membisu walau sebenarnya ada saja cowok di sekeliling yang menyukainya. Tapi hati Dini serasa beku, masih saja berputar dalam otaknya sosok Widi dan Arga bergantian.
Nyatanya dua sosok itu tidak bisa hilang begitu saja dalam benaknya, Arga yang jelas ingin Dini lupakan tapi tidak akan bisa karena Prita sehari-hari walau hanya sebentar Dini sempat melihatnya seolah selalu menjadi pengingat bagi keadaan dirinya yang bukan lagi seorang gadis, tapi seorang ibu tepatnya.
***

Other Stories
Sonata Laut

Di antara riak ombak dan bisikan angin, musik lahir dari kedalaman laut. Piano yang terdam ...

Seribu Wajah Venus

Kisah-kisah kehidupan manusia yang kuat, mandiri, dan tegar dalam menghadapi persoalan hid ...

Don't Touch Me

Malam pukul 19.30 di Jakarta. Setelah melaksanakan salat isya dan tadarusan. Ken, Inaya, ...

Jaki & Centong Nasi Mamak

Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...

Egler

Anton mengempaskan tas ke atas kasur. Ia melirik jarum pendek jam dinding yang berada di ...

Dari Kampus Ke Kehidupan: Sebuah Memoar Akademik

Kisah ini merekam perjuangan, kegagalan, dan doa yang tak pernah padam. Dari ruang kuliah ...

Download Titik & Koma