Bukan Cinta Sempurna
Dini memilih kembali ke Jakarta secepatnya, dirinya tersadar menghabiskan waktu dengan Widi bukan hal yang sepantasnya dia lakukan.
Bagaimanapun Widi bukan pria lajang yang sebenarnya sekarang terbuka buat hatinya. Bisa saja Dini merebut Widi dari Angel yang secara tidak langsung membuat dirinya terpuruk.
Ada kesempatan untuk membalas sakit hatinya pada Angel yang berniat mempermalukan dirinya, tentu saja Angel tidak tahu akibat perbuatannya dan gengnya waktu lalu bertahun-tahun membuat Dini gagal meraih impiannya sebagai dokter.
***
Hari Minggu Dini memilih menenangkan hati dan tanpa sengaja memperhatikan tingkah Prita yang tengah bermain dengan Bulik Sari memperagakan alat-alat masaknya.
“Ya ampun anak itu kaya Arga sekali, nggak hanya wajahnya tapi kelakuan masak-memasaknya,” Dini bergumam dan tersenyum.
Semakin penasaran mengamati Prita dan mulai mendengar celotehannya, ”Ini piying untuk nasi bakal... ini telinya... lalu dimakan lame-lame dengan Tante Dini, eyang Uti, eyang Sali dan Ayah Alga...”
“Ayah siapa Prit?” Dini otomatis bertanya.
“Ayah Algaaaaa, Tante!” ucap Prita ceplas-ceplos.
“Psst...” Bulik Sari mengkode Prita yang cuek tetap bermain.
Terlambat! Dini tahu ada yang nggak beres karena bisa-bisanya Prita tahu tentang ayah Alga yang dimaksud pasti Arga, karena Prita mengganti semua huruf r dengan l. Prita masih cedal.
“Bulik kok Prita tahu ayah Arga? Bulik nggak usah bohong sama Dini!” Ardini mencerca Bulik Sari yang terdiam ketakutan.
Tapi tiba-tiba Ibu Dinda dan Pak Danu muncul saat Bulik Sari bingung mau jawab apa.
“Din, sepertinya saat ini kamu memang harus tahu yang sebenarnya...” Bu Dinda menatap lembut.
“Iya, Ayah setuju untuk sekarang kita terbuka semuanya. Jadi Dini memang tadinya Ayah juga tidak setuju kalau Ibumu memberi tahu Arga tentang keadaan kamu yang sebenarnya, tapi semua di luar rencana, sudah dimulai empat tahun lalu. Waktu itu Prita sakit parah tapi kamu nggak bisa diganggu sama sekali karena sedang ikut pelatihan di kantor baru kamu. Tiba-tiba Arga seperti ada feeling saja menghubungi Ibu kamu dan mengalir begitu saja cerita keadaan Prita yang tengah sakit parah, sementara Ibumu dan Bulik Sari nggak punya biaya untuk membawa Prita ke rumah sakit. Semua Arga yang tanggung dan bahkan Arga besoknya menjenguk Prita. Sejak saat itu Arga-lah yang setiap bulan membantu keuangan ibu dengan rutin mentransfer sejumlah uang untuk keperluan kita sehari-hari. Hampir sebulan sekali terkadang dua kali Arga menemui Prita saat kamu tidak di rumah,” Ayah menerangkan dengan bijaksana.
“Iya Din, kalau sedang ada Arga, mainannya ya masak-masakan gitu. Jadi Prita kebawa deh! Arga tidak mau memaksa kamu Din, dari sejak ketemu Prita dia malah meminta Ibu merahasiakan kalau dia sudah tahu yang sebenarnya dan dia juga berkata agar kamu diberi kebebasan untuk mengejar cita-cita kamu tanpa harus terbebani dengan masalah kalian. Arga bertanggung jawab atas hidup Prita dan dia juga ingin sebenarnya menyatukan kamu, Prita dalam satu keluarga. Tapi Arga sadar! Kamu tidak bisa mencintainya maka dia pasrah dengan waktu,” ungkap Bu Dinda meneruskan penjelasan ayah Danu.
Dini terdiam mematung dan membisu, tak tahu harus apa yang diperbuat. Dirinya tengah mencoba berkompromi dengan hatinya.
Hatinya yang sejujurnya merasa letih dengan kepalsuan yang dia tutupi selama ini. Mengingkari dirinya seakan masih lajang dan masih bisa menemukan cinta sempurna dari sosok Widi. Waktu sebenarnya sangat baik memberi kesempatan agar dirinya dimiliki Widi. Tapi kenapa pas kesempatan itu tiba, hatinya malah terasa hampa untuk kembali pada cinta yang dianggapnya sempurna di waktu lalu? Tanpa Dini sadar sosok Arga ternyata terus membayangi setiap langkahnya.
***
Dini sudah bulat menyerahkan surat pengunduran dirinya di perusahaan elektronik Magenta.
Hari Senin yang biasanya sebagai hari pertama dalam minggu tersibuk malah Dini memilih menemani Prita bermain masak-masakan. Menyempatkan melihat dari You Tube siaran ulang Chef Arga dalam acara Berbagi Resep yang tadinya hanya ada di radio sekarang sudah diangkat ke televisi.
Dini menimang-nimang kartu nama Arga lengkap dengan alamat restorannya. Hatinya mantap untuk menghubungi Arga terlebih dulu.
Restoran ‘Dirga Prita’ (khas nasi bakar ikan asin), Dini meraba nama Dirga adalah singkatan Dini Arga dan Prita jelas nama putri mereka.
Dini tersenyum, “Aku harus bicara dengan Arga dari hati ke hati demi Prita.”
“Halo Ga...”
“Hai Din, ada apa?”
Dini tahu Arga pasti terkejut dan jelas ada nada senang kalau dirinya menghubunginya.
“Ga, besok siang kamu ada waktu nggak, yah jam makan sianglah?”
“Ada, tentu bisa Din! Kita makan siang di mana?”
“Hmmm di restoran Dirga Prita, aku penasaran dengan nasi bakar ikan asin kamu apakah seenak buatan Ibuku nggak?” Dini tak menyangka dirinya bisa berkomunikasi baik dengan Arga. Ternyata waktu telah mengikis kebencian tanpa memaksa.
“Serius, baiklah aku tunggu kamu ya.”
“Okey, dagh....”
***
Arga gelisah menunggu kedatangan Dini, sungguh ini kejutan luar biasa setelah dirinya merasa semakin susah menjangkau Dini yang sudah di pelukan Widi selama di Bali.
Sekarang tatapannya tak bisa lepas dari sosok yang baru saja memarkirkan mobil jazz hitamnya. Dini melangkah anggun masih dengan kacamata hitam.
“Ya ampun makin cantik saja, mana bisa aku melupakan wanita yang telah melahirkan seorang putri untukku...” Arga bergumam kagum.
Siang ini Dini memilih memakai atasan kaos putih model sabrina dan rok hitam panjang dengan sepatu treples hitam. Tas cangklong hitam dan kacamata hitam yang semakin menambah pesona kecantikannya.
Dini melepas kacamata hitamnya, matanya mencari sosok Arga yang ternyata tengah berjalan menghampiri.
“Dini... kamu cantik sekali, ayo masuk! Sudah aku siapin semuanya,” Arga menyambut hangat. Selalu hangat seperti waktu lalu, hanya saja hatinya selalu mengingkarinya.
Dini tersenyum, ada rona merah di pipinya. Arga selalu spontan mengagumi kecantikannya dari dulu.
Restoran Arga bergaya klasik dengan tembok batu bata, kayu-kayu jati dan atap dari ilalang kering. Ada beberapa lukisan-lukisan juga foto-foto orang terkenal dengan kesan-kesan dan tanda tangan setelah menikmati menu di sini.
Dini memilih untuk diam dahulu dan memberi keleluasan Arga menjamu dirinya sepuasnya.
“Ga, jangan semua hidangan kamu keluarkan! Aku kan bukan raksasa yang tengah kelaparan,” Dini pura-pura marah.
“Oh ya, kamu kalau makan sedikit-sedikit biar semua bisa dicicipin ya... ya sudahlah kamu coba yang suka, nggak usah banyak-banyak,” Arga tersenyum dan tidak mau memaksakan apapun terhadap Dini.
“Enak semua Ga masakannya, aduh gagal deh dietku,” Dini tersenyum riang.
“Udah kurus juga pakai acara diet,” goda Arga.
“Kamu tuh Ga yang kurus! Tukang masak tapi kurus!” Dini balik menggoda Arga.
“Iya, ya... habis mikirin kamu sih. Dini kamu mau kurus atau gemuk aku tetap sayang kamu,” Arga menatap Dini lembut.
Dini tersipu, “Gombal!”
“Eh Din, kamu nggak ngantor, kok hari ini santai banget bajunya?” Arga mengalihkan pembicaraan, dia tidak mau membuat Dini merasa terpaksa harus bersamanya.
“Aku resign Ga...” jawab Dini santai.
“Kenapa Din, bukannya karier kamu dan Widi bagus banget di situ?” jujur Arga kaget dengan keputusan Dini.
“Ga, aku mengundurkan diri pasti dengan perhitungan matang, aku nggak akan mengambil keputusan asal-asalan.”
“Iya aku tahu kamu Din, kamu selalu perhitungan,” jawab Arga.
“Aku memutuskan mundur bukan takut bersaing dengan Widi juga, kamu tahu dari SMA aku dan Widi selalu bersaing tapi tetap sahabatan. Dalam kerja kita juga sama harus bersaing memperebutkan jabatan manajer nantinya. Aku dapat tawaran perusahaan lain Ga, tanpa harus bersaing dengan Widi tawaran itu meminta aku langsung menjadi manajer dan kompensasi yang lebih bagus. Tapi sejujurnya alasan terkuatku adalah aku tidak mau mengulang kesalahan yang sama, saat ini Widi tengah bermasalah dengan Angel dan aku tidak mau menjadi pelarian Widi. Bagaimanapun Widi harus bijaksana menyikapi masalah perkawinan mereka,” Dini berusaha bisa bersikap tenang.
“Wah, selamat ya Din kalau kamu dapat kerjaan yang lebih bagus lagi,” Arga tersenyum.
Ya ampun tatapan Arga kali ini benar-benar meruntuhkan hatinya.
“Ga, aku sudah tahu cerita yang sebenarnya, ternyata kamu sejak Prita usia tiga bulan sudah ikut menjaganya. Terima kasih ya Ga, aku Ibunya malah bersikap masa bodoh dan sekarang aku nggak mau Prita memanggil aku dengan sebutan ‘Tante’. Ga, aku ingin dipanggil oleh Prita dengan ‘Bunda’ aku... aku ingin memperbaiki apa yang terjadi di antara kita.”
“Benarkah Din?” Arga menatap tajam Dini, masih dengan tidak percaya dengan kata-kata Dini barusan.
Dini mengangguk pasti.
“Aku lagi nggak mimpi kan?” Arga benar-benar kaget dengan ungkapan keinginan Dini yang sepertinya adalah merupakan jawaban doanya bertahun-tahun.
“Sakit gak nih?!” tanpa diduga Dini spontan mencubiti tangan Arga.
“Ampun Din! Ampun! Iya sakit dan aku nggak mimpi. Terima kasih Tuhan,” Arga tidak bisa menyembunyikan kegembiraan yang sama sekali tak disangka akan hadir siang ini.
“Ga, pegawai-pegawai kamu ngintipin kita semua tuh!” Dini mengarahkan dagunya pada pintu penghubung antara restoran, ruangan kasir dan ruangan memasak.
“Huss, ayo kerja!” Arga memerintah pegawai-pegawainya yang ikut bahagia karena baru kali ini bosnya kedatangan tamu cewek dan langsung membuatnya tertawa.
“Dini terima kasih, aku sudah menanti lama kita pada akhirnya bisa menyatu,” Arga tak kuasa menahan haru, matanya berembun. Dan Arga tak peduli berubah menjadi cowok mellow.
“Arga tapi bantu aku untuk bisa mencintai kamu, aku tahu bukan cinta sempurna awal pertemuan kita. Tapi waktu mengujinya dan aku yakin kita akan meraih cinta sempurna pada akhirnya. Ayah cerita kalau kamu melepas semua fasilitas almarhum Papa dan Mama kamu untuk memulai usaha kamu. Ga, sangat terlambat aku mengatakan ikut bela sungkawa atas kematian Papa Mama kamu dalam kecelakaan pesawat. Tak terbayangkan bagaimana kesedihan kamu...” Dini meraih tangan Arga dan menggengamnya.
Arga menyambut genggaman Dini dan tak akan melepaskan lagi. Selamanya....
***
To : widipp@yahoo.com
Sent : puteri@yahoo.com
Dear Widi
Maaf bukan aku tidak mau menjawab telepon dan SMS kamu. Saat ini aku butuh untuk diriku sendiri memperbaiki apa yang telah aku lewati.
Dan aku berpikir tidak sangat bijaksana bila aku masih berharap mendapatkan sebuah cinta sempurna yang aku damba sewaktu SMA, nyatanya kamu telah memilih Angel dalam sebuah perkawinan.
Walau kalau mau jujur aku sempat berpikir ingin membalas dendam akan ulah Angel dan gengnya yang memberi obat pada minumanku di pesta ulang tahun Angel ke-17 karena akibat minuman itu menjadi awal bencana buatku.
Sejujurnya aku hamil dengan Arga sementara saat aku melakukan kesalahan sebagian memoriku terpengaruh dengan obat yang membuat aku berpikir saat aku melakukan itu bersama kamu.
Andai Angel dan gengnya tak mencampuri minuman untukku dengan obat mungkin aku tidak harus melewati masa keterpurukan dan tak ada juga Prita, anakku. Tapi sudahlah aku sudah memaafkan dan mencoba menerima sebagai takdirku. Aku akan berdamai dengan waktu.
Cerita selanjutnya kamu tahu aku menghilang dan sampai aku bertemu kembali dengan kamu.
Kamu yang tengah bermasalah dengan perkawinanmu, aku sadar tiba-tiba kehadiran seorang anak sangatlah penting dan aku tiba-tiba merasa bersyukur Tuhan seakan mengingatkan aku akan putriku, Prita Puteri Ardini yang bertahun-tahun aku tak pedulikan, ternyata Arga peduli tanpa sepengetahuanku.
Aku tahu cinta Arga bukan cinta sempurna, seiring waktu semoga aku bisa menyayangi Arga dan Prita. Aku juga sadar tidak akan pernah bisa hilang dari bayangnya.
Sepertinya Tuhan memang mengatur kita bertiga bertemu di Bali dan tiba-tiba menyadarkan aku untuk jujur dengan hatiku. Aku bukan gadis lajang tapi aku seorang ibu.
Sekarang aku ingin Prita memanggilku...”Bunda”... bukan lagi “Tante” karena aku memang sengaja ingin menghapus semuanya waktu lalu.
Tidak dengan sekarang! Aku menyadari Prita adalah titipan Tuhan, aku dan Arga akan berusaha menjaganya.
Widi, semoga kamu dan Angel bisa menyelesaikan masalah kalian dan segera dapat momongan sesuai harapan.
Selamat tinggal cinta sempurnaku. Aku akan menjemput cinta Arga, memang bukan cinta sempurna di awal karena hanya Arga yang mengakui mencintai aku, sementara aku hanya bersandiwara waktu lalu. Tapi sekarang kita akan berusaha menjadikan cinta ini sempurna.
Salam,
Ardini Puteri
***
Sebelum mengklik sent, Dini membaca ulang dan memilih men-delete kalimat yang Dini highlight.
Dini berpikir ulang untuk tidak membuat Widi semakin membenci Angel dan juga membuat Angel dan gengnya di sisa hidupnya merasa bersalah karena akibat perbuatan sembrono mereka waktu lalu membuat Dini melewati masa-masa yang dianggapnya terpuruk.
Other Stories
Di Bawah Langit Al-ihya
Tertulis kisah ini dengan melafazkan nama-Mu juga terbingkailah namanya. Berharap mega t ...
Kala Menjadi Cahaya Menjemput Harapan Di Tengah Gelap
Hidup Arka runtuh dalam sekejap. Pekerjaan yang ia banggakan hilang, ayahnya jatuh sakit p ...
Mozarella Bukan Cinderella
Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseo ...
Mak Comblang Jatuh Cinta
“Miko!!” satu gumpalan kertas mendarat tepat di wajah Miko seiring teriakan nyaring ...
Cinta Dibalik Rasa
Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. ...
Penulis Misterius
Risma, 24 tahun, masih sulit move on dari mantan kekasihnya, Bastian, yang kini dijodohkan ...