Pintu Dunia Lain

Reads
4.1K
Votes
0
Parts
25
Vote
Report
Penulis Vita Sari

Aku Tak Memilikimu

Beberapa sepakat memanggilnya Sang Maestro. Pria berusia lebih dari setengah abad itu masih kelihatan tegap untuk usianya. Nadiva tersungging. Siaran langsung di layar televisi tiba-tiba membuat dirinya acuh tak acuh, namun tetap tak beranjak dari sofa. Nadiva selalu paham, meski siaran langsung, dunia pertelevisian tak selalu menampilkan apa adanya. Selalu ada cerita di balik sebuah tampilan.
Adhar Irfandi.
Nadiva sudah tahu, dia akan ada di sana hari ini. Rapat tadi siang sudah memberi sinyal itu pada Nadiva. Produk baru yang seperti biasanya dipromosikan ke publik, satu-satunya tujuan seorang Adhar Irfandi untuk ada di situ malam ini.
Seorang perempuan dengan make up yang cukup norak menemani Adhar Irfandi. Nadiva yakin, acara bincang-bincang malam itu pasti ditonton oleh jutaan manusia dari seluruh penjuru, mengingat Adhar Irfandi adalah saingan bisnis ternama yang dielukan oleh para pebisnis pemula serta menjadi musuh bebuyut pebisnis yang mulai menanjak naik.
“Bagaimana Anda membangun bisnis ini sehingga menjadi luar biasa seperti yang dilihat oleh dunia pada hari ini, Pak Adhar?” Nindya sang pembawa acara bertanya.
“Kerja keras, tentunya. Saya memulainya dai nol. Dengan bantuan para teman yang satu tujuan,masa depan yang cerah.”
Sisi lain Adhar Irfandi yang membuat Nadiva salut adalah keapa\'adaan Adhar Irfandi dalam berbicara. Realistis dan tidak mengada-ada. Nadiva untuk beberapa hal sepakat, hanya kerja keras yang bisa mengubah masa depan seseorang dan setiap masa depan yang cerah adalah tujuan manusia bekerja keras.
Masih pukul 20.00. Cahaya lampu 5 watt terpancar di ruang tamu. Tersenyum kecut, Nadiva duduk kembali dengan benar. Meletakkan remote di atas meja dan mengamati wajah sang direktur.
***
Tujuh tahun telah berlalu. Awal dia pertama sekali menjadi karyawan training di perusahaan yang dipimpin oleh Adhar Irfandi. Saat itu dia masih fresh graduate yang akan memulai kehidupan baru. Tiga tahun setelahnya, Nadiva ingin melangkah jauh. Jauh dari seluk-beluk perusahaan milik Adhar Irfandi. Jauh dari apapun yang membuatnya selalu ingin melakukan hal-hal baru. Namun, persis saat sang direktur itu tahu bahwa Nadiva ingin mengundurkan diri, dia datang ke meja kerja gadis itu dan bermohon.
“Saya ingin bergabung dengan sebuah perusahaan yang saya anggap sebagai panggilan jiwa saya,” ucap Nadiva tegas saat Adhar mempertanyakan alasannya.
Nadiva tahu, dia berhasil menjadi orang hebat dan banyak belajar dimulai dari sini. Perusahaan yang sudah membuatnya memiliki banyak pengalaman. Dia memantapkan langkahnya untuk satu tujuan yang memang dia merasa itu sebagai tujuan akhirnya. Namun, semantap apa dia mempersiapkan dirinya untuk mengungkapkan itu di depan sang direktur, dia lebih tercengang lagi. Dia mengatakan bahwa Nadiva adalah satu aset perusahaan yang sangat mahal harganya. Nadiva tak peduli itu, namun dia pada akhirnya mengiyakan ketika satu kalimat keluar dari yang terhormat Adhar.
“Saya tahu kamu kehilangan seorang ayah sejak lama. Bagaimana kalau saya menjadi ayahmu selamanya?”
Tawaran yang sangat terhormat. Tawaran yang membuat mata Nadiva berkaca-kaca. Namun, sayangnya Nadiva selalu merasa dia tak benar-benar berhasil memilih sang direktur itu.
***
Acara TV belum selesai ketika rasa ngantuk menjalar di pikiran Nadiva. Matanya terpejam untuk sesaat. Lima detik. Sepuluh detik. Tiga belas detik.
TRAK!
Mata Nadiva terbuka. Acara TV belum berakhir, namun wajah Adhar Irfandi tidak begitu disorot lagi.
Lima detik lagi. Sepuluh detik. Tiga belas detik.
KLIK! TV mati. Lampu mati.
Sial. Nadiva mengumpat kecil. Beberapa waktu belakangan, larut malam sering dimanfaatkan oleh pihak PLN setempat untuk mematikan listrik secara bergilir. Entah apa tujuannya, tak selalu mendapat alasan yang pasti. Nadiva tak terlalu ambil pusing. Dia meraih HP yang tak jauh darinya lalu menyalakan senter. Bayangan tubuh Nadiva membesar di tembok rumah seiring pantulan cahaya senter yang terang. Nadiva menuju kamarnya untuk segera merebahkan diri.
Malam itu, malam kesekian dia selalu mendapat mimpi yang sama. Mimpi yang tak pernah ia perdengarkan untuk orang lain. Entah untuk hari esok.

Other Stories
Just Open Your Heart

Terkutuk cinta itu! Rasanya menyakitkan bukan karena ditolak, tapi mencintai sepihak dan d ...

Diary Anak Pertama

Sejak ibunya meninggal saat usianya baru menginjak delapan tahun, Alira harus mengurus adi ...

Garuda Hitam: Sayap Terakhir Nusantara

Aditya Pranawa adalah mantan pilot TNI AU yang seharusnya mati dalam sebuah misi rahasia. ...

The Museum

Mario Tongghost, penangkap hantu asal Medan, menjadi penjaga malam di Museum Bamboe Kuning ...

Pahlawan Revolusi

tes upload cerita jgn di publish ...

Cinta Dua Rasa

Aruna merasa memiliki kehidupan yang sempurna setelah dinikahi oleh Saka, seorang arsitek ...

Download Titik & Koma