Kemungkinan Pertama
Mimpi yang meneror perusahaan wajar membuat semuanya merasa terusik. Ditambah Adhar Irfandi, sang maestro perusahaan, yang tiba-tiba terdiam tak berdaya di sudut meja kerjanya.
Bisikan-bisikan pro kontra cepat menjalar di seluruh ruangan. Namun, ada satu hal yang harus dipahami, sebesar apapun suara mereka teriak mengungkapkan argumen di perusahaan, itu harus tetap menjadi rahasia perusahaan yang pastinya akan cepat menyebar serupa penyakit menular ke perusahaan lain. Ini hal yang harus dikendalikan. Karena sama dengan besarnya nama perusahaan, besar pula ancaman yang datang sewaktu-waktu untuk melumpuhkan dan memberi cap cacat pada nama baik perusahaan itu.
Yang pertama tak selalu menjadi yang terakhir.
Nadiva mulai mampu memahami ucapan itu saat melihat bekas luka di dahi dan tangan Adhar Irfandi. Apakah sebelumnya Adhar terjatuh dari kursi lalu berusaha bangkit untuk duduk kembali? Ataukah kepala direktur itu terantuk ke sudut meja sebelum pingsan? Itu hal yang tak dimengerti oleh Nadiva. Gadis itu satu-satunya orang yang melihat pertama kali sang direktur tak sadarkan diri di ruang kerjanya, namun masih tetap bisa bertahan duduk serupa orang sedang mengantuk dan menunduk di meja kerja. Bukankah orang yang pingsan tidak memiliki pertahanan untuk bertahan duduk? Bukankah lebih berlogika jika Adhar Irfandi terjatuh saja ke lantai untuk kemudian terluka lebam di beberapa bagian tubuhnya?
Yang pertama tak selalu menjadi yang terakhir.
Semakin lama kalimat sederhana itu membuat Nadiva penasaran.
Yang pertama tak selalu menjadi yang terakhir.
Bukankah ini kejadian pertama yang dialami oleh perusahaan sejak Nadiva ada di sini? Mimpi teror yang sama untuk semua staf, luka lebam di sekujur tubuh sang direktur. Apa ini?
***
“Ada sesuatu yang mengganggu perusahaanmu,” ujar Gihon disela perbincangan mereka.
Nadiva tertawa. Sejak dikenalnya, Gihon adalah manusia yang hidup di zaman milenial yang masih percaya dengan perbudakan kebobrokan abad pertengahan atau bahkan mungkin abad sebelum pertengahan. Lain dengan Nadiva, dia tak pernah percaya akan takhayul. Mistik baginya hanyalah tentang manusia yang suka berkhayal sebelum tidur. Atau barangkali hasil imajinasi para pengidap insomnia yang merasa tak ada kerjaan saat mereka tak pernah berhasil memejamkan mata di malam hari.
“Coba kamu pikirkan, apa namanya ketika direkturmu luka lebam di seluruh tubuh sementara dia tidak terjatuh dari tempat duduknya?”
“Jadi, sekarang maksud kamu apa?” Nadiva berhenti memandangi HP-nya.
“Bukan tidak mungkin ada makluk dari dunia lain yang sedang merasuki tubuh bosmu.”
Nadiva kecut. Makhluk lain?
“Atau mungkin beliau punya penyakit yang belum terdeteksi hingga sekarang. Penyakit dalam yang tak terlalu dihiraukan selama ini,” ungkap Nadiva lebih ke diri sendiri.
***
Lima hari berakhir. mimpi yang sama tak kunjung pergi dari alam tidur para staf. Tadi malam, Nadiva bahkan tak berniat untuk tidur supaya mimpi yang sangat menyakitkan itu jangan datang lagi. Hasilnya, sepagi ini kepala Nadiva denyut-denyut tak karuan. Pandangannya juga memudar dan berkali-kali Nadiva tidak konsetrasi mengerjakan bagian dari pekerjaannya.
12.13.
Iseng menghabiskan jam istrirahat yang keseringan dipakai oleh Nadiva untuk membaca novel, Nadiva meraih HP-nya. Melihat nama Gihon di kontak WA, lalu mulai menulis chat.
Gi... Kalau itu adalah sebuah jin atau makhluk apapun yang tak bisa aku pahami, bagaimana dengan mimpi berulang dengan alur yang sama yang meneror semua staf perusahaan setiap malam?
Beberapa hari yang lalu, perbincangan dengan Gihon dan Minita bagi Nadiva hanya ajang membuang waktu dan melupakan rasa penat yang menimpanya di dunia kerja. Namun, entah bagaimana, Nadiva memikirkan kata-kata Gihon sejak kepalanya semakin nyut-nyutan tak mendapat jawaban. Lebih lagi saat Nadiva datang mengunjungi sang direktur untuk ke sekian kalinya, Nadiva mendapat jawaban yang menjadi praduga awalnya. Adhar tak pernah jatuh dari kursi.
“Saya hanya duduk di ruang kerja saat ada seorang pegawai dari bagian produksi yang datang. Awalnya saya cukup terkejut. Dia datang tanpa mengetuk pintu, langsung masuk begitu saja,” sang direktur mengisahkan kronologis bagaimana pegawai itu tiba-tiba berubah menjadi manusia raksasa yang tingginya melewati batas gedung.
“Saya tak diganggu, tak dipukul sehingga jadi babak belur. Yang saya ingat dia memasuki tubuh saya kemudian saya pingsan.”
Cukup sampai di sana, cara pandang Nadiva sedikit berubah walaupun pada awalnya dia menganggap Adhar Irfandi sedang mengigau.
“Percayalah, Nak. Saya dalam kondisi sehat dan bahkan dokter pun mengatakan tidak ada penyakit serius dalam tubuh saya.”
“Barangkali Bapak terlalu kelelahan...”
“Tidak. Sama sekali tidak.” Ada nada tersinggung di wajah Adhar. “Saya memang sudah lima puluh lima tahun. Tapi, percayalah, saya masih bisa dan masih sadar seratus persen ketika bekerja. Ini benar-benar ada. Jin itu benar-benar merasuki saya.”
Suka tak suka, Nadiva mulai memikirkan, dongeng itu benar ada.
***
“Ini hanya kemungkinan, Nadiva. Yang namanya takhayul tak bisa dipercayai seratus persen,” ujar Gihon dari telepon WA satu setengah jam setelah Nadiva chat.
“Iya, tapi... adakah seseorang yang bisa menjelaskan apa yang dialami oleh perusahaan secara lebih ilmiah?”
“Baiklah. Kita sepertinya harus berjumpa empat mata untuk membicarakan ini.” Gihon memutuskan. Jujur saja, Nadiva sangat enggan meskipun gadis itu tetap mengiyakan.
Malam hari yang cukup dingin. Gihon dan Nadiva duduk di sebuah cafe. Nadiva tak terlalu menyukai aura semacam ini. Lebih menyenangkan bagi gadis itu ketika dia bisa menikmati susu cokelat kesukaannya sambil bersandar di sofa melihat tayangan TV yang berfaedah.
“Baik. Aku tahu kau akan tak nyaman dengan banyak hal setelah ini.”
“Lebih tak nyaman dengan suasana kantor sekarang.” Nadiva memotong pembicaraan. “Setiap orang bercerita bagaimana susahnya tidur nyenyak. Fatalnya banyak di antara mereka yang teriak histeris saat terbangun karena mimpi buruk.”
Nadiva memandang sekilas ke arah Gihon untuk kemudian menatap ke salah satu karyawan cafe yang sedang menatap tajam ke arah mereka. Nadiva awalnya pura-pura tak tahu sambil menikmati hot milk chocolate yang sudah mereka pesan sejak tadi.
“Kita bahas di tempat lain,” Gihon tiba-tiba berdiri.
“Di mana?”
“Di mana saja. Tempat yang lebih sunyi dari sini. Tempat... yang paling sunyi?”
Nadiva keheranan. Cafe ini tak terlalu banyak pengunjung. Mereka malah bisa berbicara pelan tanpa harus didengar siapapun.
“Ayo, Nadiv. Itu ada CCTV-nya.”
“Kita ngak ngapa-ngapain, kok. Kita hanya berbicara biasa.”
“Iya. Tapi... Ayolah.” Gihon seperti kehilangan kata-kata yang pada akhirnya terkesan memaksa kehendak. Meski malas beranjak, Nadiva tetap ikut.
Mereka keluar dengan buru-buru. Melewati karyawan yang masih menatap mereka dengan sorot mata yang kian tajam, Nadiva bergidik. Seakan kuku-kuku panjang milik karyawan itu sedang berhasil mencengkeramnya.
“Kamu kenapa?” Nadiva penasaran.
“Kamu tak lihat karyawan...”
“Bermata tajam? Ya!”
“Dia setan.”
“Ah, ngigau!”
“Beneran. Ayo cepat melangkah...” Setengah berlari, setengah tak yakin, Nadiva justru menjadi kesal. Gihon terlalu berlebihan memandang banyak hal dari sisinya sendiri.
“Kita memasuki ruang yang salah, Nadiv.”
“Maksudmu?”
“Itu tadi SCP-130.”
“Maksudmu?”
“Well... ini cukup sulit untuk dijelaskan. Kamu mau percaya, tidak?”
Tiba-tiba tiupan angin kencang di sekitar mereka membuat Nadiva gigil. Nadiva telah mengenal Gihon cukup lama. Dia adalah teman SD satu-satunya yang masih suka bermain bersama, reunian bersama hingga hari ini. Nadiva telah akrab dengan laki-laki itu sehingga dalam gigil itu, Nadiva tak merasa segan merangkul tangan Gihon.
“Dingin, Gi.” Gihon hanya terdiam. Menatap ke arah pepohonan rimbun di sekitar mereka.
“Ada sesuatu di sana, Div. Ayo. masuk ke mobil.” Nadiva tak peduli dengan kata-kata Gihon yang terakhir ini. Dia masuk saja ke mobil.
“Gi... Di cafe tadi...”
“Itu bukan cafe. Itu bangunan palsu oleh SCP 130.”
“Hm?” Nadiva tak berminat.
“Kamu mungkin akan sulit percaya. Tapi, ada ancaman besar yang menimpamu, Div. Kemungkinan... sangat erat kaitannya dengan perusahaan.”
Other Stories
Perahu Kertas
Satu tahun lalu, Rehan terpaksa putus sekolah karena keadaan ekonomi keluarganya. Sekarang ...
Melinda Dan Dunianya Yang Hilang
Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...
Devil's Bait
Dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal lima temannya akan mengalami kejadian aneh hin ...
Kepentok Kacung Kampret
Renata bagai langit yang sulit digapai karena kekayaan dan kehormatan yang melingkupi diri ...
Kucing Emas
Suasana kelas 11 IPA SMA Kartini, Jakarta senin pagi cukup kondusif. Berhubung ada rapat ...
Yume Tourou (lentera Mimpi)
Kanzaki Suraha, seorang Shinigami, bertugas menjemput arwah yang terjerumus iblis. Namun i ...