Luka Tak Berdarah
“Perusahaan belum aman. Ada waktu di mana suasana kantor tiba-tiba menjadi sangat buruk.”
Yudha terdiam mendengar penuturan gadis itu. Hari ini, – sesuai perjanjian mereka – menjadi bagian dari kencan mereka setelah sekian lama tidak bertemu. Nadiva selalu lebih banyak bercerita dan Yudha selalu lebih banyak diam. Nadiva menceritakan suasana kantor terakhir kali.
“Kemarin, lampu kantor tiba-tiba mati. Kabel-kabelnya otomatis terputus entah karena apa.”
“Lalu?”
“Kami lari meninggalkan ruangan dan pintu terkunci dari luar dan kami terkepung.”
Yudha menatap kekasihnya untuk sejenak lalu menundukkan kepalanya.
“Beruntung SCP Foundation segera tahu bertindak saat alarm tanda bahaya kami bunyikan.”
Antara SCP Foundation dan Adhar Inc. memiliki keterikatan signal yang disebut alarm pelindung. Jadi, setiap ada bahaya, secara otomatis signal memancarkan dirinya dan memberi tahu ke pihak SCP Foundation untuk segera bertindak.
“Tapi, saat ini aman kok.”
Yudha memperbaiki letak duduknya.
“Apakah kamu cukup yakin bisa bertahan di perusahaan itu, Div?”
Nadiva tersenyum. Tentu saja dia harus bertahan karena perusahaan itu sudah menjadi bagian dari dirinya untuk saat ini. Dia tak bisa mengubah diri menjadi seorang pecundang untuk berlari dari masalah yang menyerang. Ada Vitria yang butuh dirinya di sana, ada tugas dan tanggung jawab yang telah dikontrakkan untuk dirinya di perusahaan itu.
Aku akan baik-baik saja, Yud.”
Yudha mengangguk. Dia tahu tak bisa berbuat banyak untuk gadis itu. Perempuan di depannya memiliki kemauan keras dan tak suka dibantah untuk hal yang diyakininya. Yudha hanya berharap tidak akan terjadi apa-apa terhadap Nadiva, pacarnya.
Yudha dan Nadiva duduk berdampingan saat tiba-tiba bangunan di depan mereka bergerak perlahan.
“Yud...” Nadiva menunjuk ke arah bangunan itu. Perlahan kelihatan beberapa sudut bangunan hampir runtuh. Nadiva pucat pasi. Sambil memegang tangan Yudha, gadis itu berusaha menenangkan diri. Bangunan semakin terdesak. Yudha menerima tangan gadis di sampingnya. Cukup lama Yudha terdiam. Dengan kepanikan yang sangat memuncak, Nadiva mengatakan kepada Yudha supaya mereka mencari jalan keluar.Yudha menatap gadis di hadapannya. Gadis itu begitu pucat sehingga Yudha tak tega untuk tidak menolong gadis itu.
“Ayo, kita pulang,” ujar Yudha menarik tangan Nadiva.
Mereka berlari melewati bangunan yang hampir runtuh. Sekali dua, Yudha menyelamatkan Nadiva dari atap yang terjatuh. Semenit kemudian, mereka berhasil keluar dengan luka memar di sekitar tangan Yudha. Nadiva menatap Yudha dengan rasa menyesal, namun tetap kagum pada lelaki itu karena meskipun lukadi bagian tangannya cukup parah, tak ada darah yang mengucur di sana.
Other Stories
Itsbat Cinta
Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...
Cicak Di Dinding ( Halusinada )
Sang Ayah mencium kening putri semata wayangnya seraya mengusap rambut dan berlinang air m ...
Love Of The Death
Cowok itu tak berani menatap wajah gadis di sampingnya. Pandangannya masih menatap pada ...
Bisikan Lada
Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketah ...
Final Call
Aku masih hidup dalam kemewahan—rumah, mobil, pakaian, dan layanan asisten—semua berka ...
Kado Dari Dunia Lain
"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...