Prolog
Wira berdiri di samping kursi yang sedari tadi didudukinya. Dengan pandangan tajam yang tegas dia menatap semua rekannya. Rasa antusias selalu terpancar di wajah pria berusia 32 tahun itu. Sementara kecerdasan terpancar dari wajahnya, semangat baja melekat di dalam dirinya.
Sebenarnya, Wira mulai lupa. Sejak kapan dia tak memandang wajahnya di depan cermin sebelum berangkat kerja. Karena baginya, pagi adalah awal yang hebat untuk memulai hari. Wira adalah simbol spekta yang diimpikan banyak orang. Dia sadar akan hal itu dan jika waktu harus diputar kembali, dia ingin tetap menjadi dia yang sekarang ini.
Jika ada masa lalu yang tidak ingin diingat oleh setiap orang, itu adalah satu-satunya masa lalu buruk di mana kita menjadi terlihat buruk. Dan itu hampir tidak pernah dimiliki oleh Wira, kecuali ketika dia menginginkan jawaban lebih, namun tak mendapatkannya.
“Ribuan eksperimen sudah kita simpan. Semua sudah masuk ke daftar temuan dan pelaporan.” Wira menatap sudut ruangan. Dari ekor matanya dia bisa melihat ekspresi setiap orang yang ada di ruangan.
“Kita hanya butuh kerja sama tim, kerja keras, dan saling percaya. Sesederhana itu.”
Seorang pria bermata cekung mengacungkan tangan. Ben.
“Apa yang harus kita lakukan setelah ini?”
“SCP Foundation adalah ruang jenius yang diberi kepercayaan oleh pemerintah sejak awal kita berdiri. Karena apa? Karena pemerintah percaya, kita bisa membantu mereka di masa depan mulai dari hari ini. Dan kita harus amanahkan itu.” Suara Wira selalu mendapat telinga di kantornya. Selain karena dia sangat tepat menjadi pemimpin yang hebat, dia adalah seseorang yang sangat positif menerima setiap pribadi teman sekantornya. Fleksibilitas yang sangat sempurna.
Ruangan hening. Kecuali pria bermata cekung yang tadi, Wira berpikir seluruh rekan yang ada di ruangan ini merasa belum saatnya berbicara atau barangkali faktor lain yang selalu ingin mereka perdengarkan. Keheningan yang tak selalu dirindukan, namun harus dilakukan.
Mencekam.
Other Stories
Cinta Bukan Ramalan Bintang
Valen sadar Narian tidak pernah menganggap dirinya lebih selain sahabat, setahun kedekat ...
Ibu, Kuizinkan Engkau Jadi Egois Malam Ini
Setiap akhir tahun, ia pulang dengan harapan ibunya ada di rumah. Yang berulang justru dap ...
Jaki & Centong Nasi Mamak
Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...
Free Mind
“Free Mind” bercerita tentang cinta yang tak bisa dimiliki di dunia nyata, hanya tersi ...
Keikhlasan Cinta
6 tahun Hasrul pergi dari keluarganya, setelah dia kembali dia dipertemukan kembali dengan ...
.
. ...