Pintu Dunia Lain

Reads
4.1K
Votes
0
Parts
25
Vote
Report
Penulis Vita Sari

The Concrete Man

Wira sudah tahu bahwa beberapa manusia di muka bumi ini tidak akan pernah bisa diajak kerja sama untuk tujuan mulia. Bahkan fatalnya, banyak manusia yang tidak sanggup melakukannya sekalipun itu adalah untuk kebaikan bersama di tempat yang mereka pijak. Beberapa yang lain akan memilih untuk menyelamatkan diri dari hal yang sangat tidak aman bagi mereka, akan menghindar dari tugas yang begitu berat dan anehnya akan berkhianat oleh karena hal yang mereka sukai.
Cinta bagi manusia itu sering terbalik. Cinta tulus, putih dan suci bagi mereka adalah tentang nafsu dan keharusan memiliki hal yang disukainya, bukan untuk menyelamatkan, malah untuk menjerumuskan. Ini hal yang dari awal sudah bisa ditebak oleh Wira. Ini hal yang menjadi keragu-raguan dalam dirinya saat diserahkan visi terakhir untuk menyinggahi Bumi. Maka, ketika Liharson yang ada di hadapannya kini sedang membisikkan sesuatu tentang apa yang mereka lakukan setelah ini, Wira tak bisa banyak bicara lagi.
Sejauh perhitungan manusia, hampir selama sepuluh tahun, Wira sudah mengenal Liharson. Perjumpaan yang biasa saja untuk menjadikan persahabatan mereka yang sangat luar biasa. Mereka sama-sama di sini sejak lama, membangun SCP Foundation di kota ini untuk kemudian hari membentuk cabang-cabang lainnya di seluruh penjuru kota bahkan di desa kecil pun sudah mulai merambat. Wira dan Liharson tahu, visi mereka adalah tentang menumpas segala kejahatan, bukan menumpas segala manusia yang ada di bumi.
“Mana Yudha?”
Liharson terperanjat. Matanya penuh tanda tanya dan curiga kepada Wira. Yudha?
“Kamu ngak kenal Yudha? Atau hanya aku yang kenal, Li?” ada nada ejekan dalam nada Wira. Liharson menelan ludah.
“Dari mana kamu tahu tentang Yudha?”
Wira tertawa. Terbahak yang angkuh sekaligus tawa yang memberi tanda kekecewaan yang dalam.
“Aku jelas tahu semua ciptaanku. Kau lupa siapa aku?”
“Aku tak tahu sampai sebatas apa yang kau ketahui, Wir.”
Wira tahu, Liharson adalah gambaran dalih manusia sesungguhnya. Setelah tertangkap basah, dia malah bertanya, pura-pura tidak tahu atau tiba-tiba amnesia dengan perbuatannya sendiri.
“Baik. Aku perjelas, Li.” Wira membetulkan duduknya. Hari ini, dia harus bicara dengan Liharson sebelumLiharson yang mulai berbicara dengannya. Sebelum Liharson yang mulai membujuknya untuk memaklumi dan membela kepentingan pribadinya. Wira tahu, harus dia yang memulai pembicaraan ini karena manusia yang sadar salah itu sudah semakin sulit untuk ditemukan. “Aku melihatmu beberapa kali berbicara dengan Yudha, Li. Aku melihatmu beberapa kali mengancam SCP-031 itu supaya mau menuruti inginmu. Aku juga melihatmu tadi malam mulai membunuhnya karena dia mulai tak menurutimu. Kau lupa, Li, makhluk SCP tidak akan pernah mati. Mereka akan tetap hidup seberapa sering mereka dihancurkan.”
Liharson terpana. Semua yang dikatakan oleh Wira adalah benar. Benar bahwa Yudha adalah alat baginya untuk mendapatkan apa yang diingininya; Nadiva. Benar bahwa Yudha diancamnya karena SCP sialan itu sudah mulai berani tidak menuruti perintahnya dengan alasan dia sendiri sudah mulai mencintai Nadiva walaupun pada awalnya dia hanya SCP utusan yang dikirim oleh Liharson untuk mengamankan Nadiva. Benar dia berniat untuk membunuh Yudha tanpa menyadari Yudha adalah makhluk SCP yang abadi kehidupannya.
“Kamu juga lupa Li, SCP yang membunuh Marsella adalah SCP pintar yang selalu akan meninggalkan jejak untuk jadi riset baru. Untuk yang satu ini, kamu sangat cepat tertangkap meskipun sejauh ini aku menyimpannya.”
“Setiap yang tersisih adalah beda; setiap beda adalah tersisih.” Wira menyebut kata itu berkali-kali. Dengan ketenangan sempurna dia mengetuk-ngetuk meja. Bunyi nyaring antara mantra dan pesan tertinggal di buku harian Marsella terdengar di ruang yang sunyi. Hanya suara yang terdengar dari mulut Liharson kemudian.
“Aku akan menumpas semua yang tidak sejalan denganku, akan menyisihkan, akan membunuh semua orang yang tak sepaham. Menjadi satu jejak yang pasti, bahwa mereka yang sudah terbunuh, mereka yang tersisih olehku karena mulai berani menentang jalan yang aku mau,” kata itu meluncur dari mulut Liharson dengan sangat cepat. Matanya merah menyala. Tanduk hewan purba menghinggapi kepalanya. Dia meraung hebat dan meraung lagi hingga benar-benar berubah bentuk menjadi hewan berkaki empat berukuran raksasa.
Seketika itu juga, tubuh Wira berangsur-angsur berubah menjadi SCP-014 yang sesungguhnya. Selama ini, meski Wira tak jauh beda dengan ciri muasalnya, memiliki rambut hitam, mata coklat, dan wajah agak bulat, namun beberapa siku wajahnya sengaja diubah untuk proses penyamaran diri dari tim intelijen di luar badan SCP Foundation. Beberapa musik klasik yang populer sebelum tahun 1937 mengalun di dalam ruangan secara otomatis. Mereka saling berhadapan. Gedung SCP Foundation bergetar hebat.
“Siapa yang kau sisihkan selanjutnya, bajingan?”
Makhluk berkali empat itu menggeram. Dia menuding ke arah SCP-014.
“Kau. Kau yang selalu berbeda di kantor ini. Kau yang merasa menjadi penguasa abadi SCP Foundation. Aku akan menyisihkanmu. Dan harusnya kau yang tersisih terlebih dahulu.”
SCP-014 menggeram hebat. Dia meraih makhluk berkaki empat itu dan akan mencekiknya kalau saja dia tak buru-buru berubah menjadi seutuhnya Wira lagi. Makhluk berkaki empat itu juga berangsur-angsur berubah dan muncullah kembali wajah kaku Liharson yang gemetar hebat.
Wira menyayangkan semua ini, keirian hati oleh prestasi gemilang yang dicapai seseorang oleh karena kerja keras sering menjadi tameng iri hati bagi orang yang berperan sebagai penonton. Itulah manusia. Sikap itu telah ditanam berakar dalam diri mereka. Wira sejak lama sudah menyadari Liharson menjadi serakah karena Wira adalah pemimpin di sana. Lalu, apa bedanya Adhar Irfandi dengan Liharson? Tak akan beda. Nalar manusiawi itu akan selalu muncul setiap saat.
“Kau menyukai SCP Foundation menjadi milikmu?”
“Tidak.” Liharson tertunduk. “Aku akan mengundurkan diri setelah ini. Aku akan mengundurkan diri seperti yang dilakukan Gihon tiga tahun yang lalu.”
Gihon. Wira tentu saja mengingat staf itu. Dia Staf D – staf ahli – perusahaan sama dengan Liharson.
“Kamu menyukai Nadiva?”
“Ya. Aku menyukainya melebihi menyukai persahabatan kita selama sepuluh tahun belakangan,” Liharson menggeram. Wira tersenyum.
“Tak apa. Pertemanan tak selalu kekal, Li.”
“Aku tahu dan kamu tak perlu menasihati seolah-olah kau adalah orang tuaku.”
Liharson selalu kesal karena perkataan Wira dianggapnya selalu benar. Dia benci mengatakan kalimatnya tapi amarah menguasainya dan amarah itu menang.
“Kamu harusnya tak perlu menyuruh Yudha melindungi gadis yang kau cintai, tak perlu melakukan apa-apa jika saja kau tak membuat perpecahan pro-kontra di yayasan...”
“Makhluk SCP tidak memahami cinta.”
Liharson menatap Wira dengan pandangan menyala. Apa lagi hal yang ingin disampaikan oleh Wira menjadi penantian panjang buatnya dan membuatnya semakin merasa ditelanjangi. Wira mengabaikan ucapan Liharson. Dia hanya sedikit tersenyum melihat amarah Liharson yang sudah begitu hebat.
“Jika saja pro-kontra itu tak ada oleh karena pengaruhmu, kita hanya cukup meluruskan satu hal. Membunuh Adhar Irfandi dan mengalihkan seluruh sistem perusahaan di bawah kendali SCP tanpa ada korban lainnya. Namun, sayangnya kau beralih pikiran. Iri hati membuatmu buta, cinta membuatmu lumpuh. Kau gagal, sahabatku, kau gagal menjadi apa yang diharapkan oleh SCP Foundation.”
Suasana lenggang. Liharson bangkit dari duduknya. Memukul meja dan menendang kursi yang berujung hancur di sudut ruangan. Liharson mendekat ke arah Wira yang masih duduk menunggu reaksi manusianya Liharson. Liharson menarik kemeja Wira dan menatap mata Wira dengan berang.
“Sejauh apa yang kau ketahui? Kenapa kau selalu tahu? HAH?”
Kemarahan, hal yang sering menjadi penghancur hubungan baik. Liharson mencekik leher Wira dengan kemeja yang dikenakan pria itu.
“Apa yang kau ketahui? Kau Tuhan, sehingga menjadi sok tahu segalanya?”
“Aku bukan Tuhan.” Wira menghempas tangan Liharson dengan kasar. “Aku hantu, Li.”
“Apa maksudmu? Kau mencoba bercanda setelah lelucon burukmu?” Liharson membuang ludah di lantai. Emosinya benar-benar nyata sekarang.
“Aku tak hidup untuk bercanda, Li. Semua yang kukatakan, semua yang kukerjakan, itu adalah sejalan.” Wira mendekati Liharson. “Sekarang tatap aku, bukankah tadi kau berani menantang mataku. Lihat, sekarang. Lihat. Bukankah aku begitu mirip dengan Yudha? SCP yang kau halusinasikan itu untuk ada sebagai alatmu?”
“Apa maksudmu?”
“Aku temannya, Li. Bukan temanmu. Aku Robert Chetford, the concrete man.”
Liharson terjatuh ke lantai. Di antara sekian banyak hal yang diketahuinya, setelah dia menjadi staf kelas tinggi di SCP Foundation, hari ini dia mengetahui hal baru. Hal yang sepuluh tahun ini tak pernah diduganya. Robert Chetford. Itu adalah jenis SCP-014.

Other Stories
Hanya Ibu

kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...

Kacamata Kematian

Arsyil Langit Ramadhan naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia berpik ...

Dari 0 Hingga 0

Tentang Rima dan Faldi yang menikah ketika baru saja lulus sekolah dengan komitmen ingin m ...

Arungi Waktu; Ombak Bergulung, Waktu Berderai—namun Jangkar Tak Pernah Ia Turunkan

Arunika pernah percaya bahwa hidup berjalan lurus, sepanjang rencana yang ia susun dengan ...

Dua Bintang

Bintang memang selalu setia. Namun, hujan yang selalu turun membuatku tak menyadari keha ...

Pahlawan Revolusi

tes upload cerita jgn di publish ...

Download Titik & Koma