Tiga Puluh Tiga Hari
Yudha duduk di bangku sorot eksperimen. Bangku yang digunakan oleh tim independen SCP Foundation dalam meneliti sejauh mana tentang makhluk SCP, makhluk yang telah mereka temukan. Bangku itu mendapat sorot cahaya yang sangat lembut, redup, dan sayu, namun di beberapa momen tertentu bangku itu bisa menjadi panas dan bahkan mengeluarkan bara api.
Yudha berdiam di sana. Merenungkan kata-kata ancaman yang diberikan oleh Liharson. Ancaman yang membuat dia resah, yang membuat dia bahkan tak ingin waktu beranjak pergi. Dia mencintai Nadiva, gadis yang bekerja di perusahaan Adhar Irfandi dan kini sedang mendapatkan teror. Gadis yang diyakini tak bisa selamat jika bukan karena dia. Sialnya, dia juga kini sedang terancam oleh peraturan Liharson yang membuatnya muak.
“Makhluk sepertimu tidak memiliki hati, Yudha. Kau hanya seonggok barang rongsokan yang saat ini sedang dipoles menjadi manusia.”
Manusia selalu merasa hanya mereka satu-satunya makhluk ciptaan yang memiliki hati. Mereka lupa, makhluk lain yang ada di dunia ini selain mereka juga mempunyai kehidupan dan kepentingan hidup masing-masing. Manusia selalu lupa bahwa siapapun yang ada di dunia ini memiliki sesuatu yang perlu bagi mereka. Maka, ketika Liharson tadi berbicara sambil menuding sampah ke arah Yudha, dia memilih untuk menghilang saja meskipun berkali-kali Liharson mengumpatnya untuk menunjukkan dirinya.
“Makhluk tak tahu diri!” umpat Liharson untuk terakhir kalinya sebelum dia menendang kaleng ke arah sudut ruangan, persis mengenai kepala Yudha yang sedang ada di sana. Liharson mungkin tak menyadari bunyi kaleng itu saat mengenai kepala Yudha, namun itu menyebabkan kepala Yudha terluka. Liharson meninggalkan bekas ludah di lantai yang membuat Yudha bergidik jijik.
***
“Yud...”
Nadiva. Yudha meyakini itu adalah suara Nadiva. Lelaki itu langsung berbalik menatap mata gadisnya dengan sendu. Yudha setengah berlari.
“Kau sehat, Div?” Nada Yudha sedikit berlebihan menurut Nadiva meskipun tetap saja dia merasa senang dengan perhatian itu.
“Tentu saja aku sehat. Aku pintar menjaga diri,” ujar Nadiva bercanda. Yudha menarik nafas. Lega. Tapi, benarkah Nadiva akan bisa menjaga dirinya? Itu yang tidak bisa dipastikan oleh Yudha. Siapapun tak akan pintar menjaga diri untuk situasi teror ini. Yudha tahu seberapa berbahayanya arena yang akan dilalui oleh gadis itu.
“Kenapa tiba-tiba menjadi sangat cemas, Yud?”
“Enggak. Hanya untuk memastikan kamu masih aman.”
Nadiva tertawa kecil. Dia masih aman sejauh ini. Tentang hari esok tidak pernah dipikirkan lagi.
“Div, aku ingin ke luar kota untuk besok...”
“Berapa lama?”
“Tiga puluh tiga hari.”
“Tiga puluh tiga?”
Yudha mengangguk kecil. Bayangan Liharson berkelabat dalam pikirannya. Ancaman manusia tidak pernah main-main dan apa yang mereka lakukan bahkan sering lebih keji dari yang terpikirkan. Karena itu, Yudha mulai menyusun rencana. Melarikan diri selama itu dan muncul lagi membawa strategi baru.
“Kau mau ikut, Div?”
Nadiva melihat ke arah Yudha dengan keheranan.
“Sebenarnya aku ke sana hanya ingin menyelamatkanmu jika kamu mau, Div. Jangankan perusahaanmu, seluruh kota bahkan sudah tak aman lagi untuk ditinggali,” perkataan itu membuat Nadiva terenyuh.
“Barangkali kau lupa, aku bekerja di bawah tangan Adhar Irfandi, Yud,” kata gadis itu dengan lesu. “Tak mudah lepas dari cengkeramannya.”
“Aku bisa melepasmu dari dia, Div.”
Nadiva menggeleng. Vitria, semua orang yang hidup di sana, Nadiva tak ingin meninggalkan mereka, kecuali sesuai janjinya, jika waktunya tepat mereka akan kabur bersama.
Other Stories
Deru Suara Kagum
Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...
Tukar Pasangan
Ratna, wanita dengan hiperseksualitas ekstrem, menyadari suaminya Ardi berselingkuh dengan ...
Jaki & Centong Nasi Mamak
Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...
Kk
jjj ...
Rembulan Di Mata Syua
Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek s ...
Curahan Hati Seorang Kacung
Setelah lulus sekolah, harapan mendapat pekerjaan bagus muncul, tapi bekerja dengan orang ...