Makhluk Kekelan Scp
Berita yang cukup mengejutkan seluruh perusahaan termasuk Wira, Liharson tewas dengan cara yang sangat mengenaskan. Staf-D itu dimasukkan ke dalam bak, tempat yang biasa digunakan oleh tim untuk membentuk makhluk SCP sesuai ingin mereka. Tubuh Liharson masih utuh hanya nafasnya yang tinggal satu-satu membuatnya seperti sangat menderita. Berkali-kali dia berterak meminta ampun untuk kemudian memanggil Wira dengan menggunakan mantra.
“Ampuni aku... ampuni aku.” Suara Liharson sangat mengiba. Wira menutup mata Liharson dan membisikkan di telinganya.
“Datang untuk pergi, pergi untuk pulang.”
Liharson tak bernyawa lagi. Wira memberi sekelumit dagingnya pada tubuh tak bernyawa itu. Sangat disayangkan Liharson pergi dengan cara seperti itu, meksipun Wira tahu Liharson akan kembali lagi. Dalam wujud Liharson baru, mahkluk baru, makhluk kekekalan SCP.
Wira melihat saat Liharson dan Yudha bersitegang di dalam ruangan. Mendengar mereka saling menghujat satu sama lain yang berujung pada kematian Liharson. Suasana kantor SCP Foundation tak seheboh Adhar Inc. Tak ada wartawan yang akan repot-repot datang kemari meskipun nanti berita tentang SCP akan tersiar juga. Tapi bukan berita yang seperti ini. SCP hanya boleh dijangkau untuk berita kemenangan.
***
Cukup aneh bagi Nadiva. Dia menolak ajakan Yudha untuk pergi bersama, kemudian tiga hari setelah itu, kembali lagi.
“Jaga dirimu baik-baik meski kekekalan itu tak ada pada makhluk hidup.”
Itu kali terakhir Yudha datang kemudian Yudha tak pernah muncul lagi. Padahal Nadiva sempat berharap Yudha tak jadi pergi tanpa dirinya.
“Ini dengan agen Wira.” Agen SCP Foundation selalu memperkenalkan diri seberapa sering pun mereka berkomunikasi.“Nadiva, agen Liharson meninggal hari ini. Beri waktu bagi kami untuk berduka.”
Itu rekaman suara Wira yang diputar Nadiva hingga dia bosan. Tadipagi, Nadiva segera menelepon agen Wira dan menyatakan rasa belasungkawa setelah pertama sekali memutar berita itu hingga akhir.
“Kami datang menjenguk,” kata Nadiva dari telepon genggam miliknya. Wira segera menolak dan berkata,
“Tak perlu... eh... jangan repot-repot. Liharson sudah dimakamkan.”
Baik. Agen Liharson dan apapun tentang SCP Foundation tak pernah dikenal Nadiva kalau bukan karena kerja sama menghentikan teror. Tapi, tetap saja, Nadiva merasa, utang budi harus dibayar. Banyak pertolongan SCP Foundation yang tak lagi bisa dibayar karena itu tentang nyawa. Namun, ada hal yang lebih diminati oleh Nadiva untuk dipertanyakan. Tentang kematian Liharson. Maka, gadis itu tetap datang, dengan alasan penyerahan karangan bunga, untuk penghargaan yang sebesar-besarnya. Ah, apa lagi yang mau dihargai dari orang mati?
***
Segenggam bunga tergeletak rapi di atas tanah merah. Tempat Liharson bersemayam sekarang adalah tempat berdirinya Nadiva dan agen Wira. Tak ada keluarga Liharson yang datang, juga semua tamu yang datang melayat sudah pergi meninggalkan pemakaman. Nadiva tak ingin bermain tebak-tebakan, tetapi ekspresi Wira kali ini memperkuat dugaannya.
“Kami gagal.”
Wira seperti tahu apa yang dipikirkan oleh gadis di hadapannya. Gadis itu terlalu kelihatan terkejut sehingga Wira berniat untuk melanjutkannya.
“Bukankah kematian salah satu agen kami adalah bukti bahwa kami tak seutuhnya berhasil dalam kerja sama ini?”
Nadiva tersedak. Di mana kepercayaan diri yang dimiliki oleh laki-laki di hadapannya? Nadiva bahkan tak menduga kata itu justru keluar dari mulut seorang Wira yang mempertegas apa yang ada dipikirannya sejak pertama kali mendengar bahwa agen Liharson – staf D perusahaan – telah meninggal dunia.
“Saya ingin tahu apa yang terjadi,” ucapan itu terlepas begitu saja dari mulut Nadiva. “Kecelakaan ini... apakah tidak bisa dihindari? Maksud saya, apakah SCP Foundation tak bisa mengalahkan mahkluk teror itu kali ini?”
“Baik. Coba dengarkan apa yang aku katakan, Div,” Wira berusaha untuk menenangkan dirinya dan menenangkan orang yang ada di hadapannya. “SCP Foundation bekerja berdasarkan ramalan...”
“Lalu, apa isi ramalan itu? Berikan kepastian kepada perusahaan kami.”
“Tak ada yang bisa meramal kematian secara pasti. Dan, ramalan kami sejak awal dihalau oleh kejadian yang tidak ada dalam ramalan itu. Artinya, ramalan bertolak dari kenyataan.”
“Maksudmu, ramalannya tidak benar?”
“Bukan. Bukan tidak benar, tetapi ada sesuatu yang menghalau keluar dari ramalan.”
“Sesuatu?”
“Ya. Dan itu adalah Liharson. Dia bekhianat di pertengahan misi. Dia membentuk SCP lain dan membentuk persaingan di antara yayasan. Sayangnya, beberapa staf termakan ucapannya dan...”
“Masalah dari dalam?”
“Ya. Semacam itu.”
Other Stories
Curahan Hati Seorang Kacung
Setelah lulus sekolah, harapan mendapat pekerjaan bagus muncul, tapi bekerja dengan orang ...
Kidung Vanili
Menurut Kidung, vanili memiliki filosofi indah: di mana pun berada, ia tak pernah kehilang ...
Katamu Aku Cantik
Ratna adalah korban pelecehan seksual di masa kecil dan memilih untuk merahasiakannya samb ...
Bekasi Dulu, Bali Nanti
Tersesat dari Bali ke Bekasi, seorang chef-vlogger berdarah campuran mengubah aturan no-ca ...
Hujan Yang Tak Dirindukan
Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh n ...
Mak Comblang Jatuh Cinta
“Miko!!” satu gumpalan kertas mendarat tepat di wajah Miko seiring teriakan nyaring ...