Pintu Dunia Lain

Reads
4.1K
Votes
0
Parts
25
Vote
Report
Penulis Vita Sari

Mata

Istri Adhar Irfandi segera siuman. Dia kembali meraung menyaksikan jasad putra satu-satunya yang menggantung dengan kaki di atas, kepala di bawah. Dia menyaksikan kepala putranya yang hancur dan darah yang mengalir deras serta otak yang bercecer. Vero menutup mata dan menangis tak tahu harus melakukan apa. Seketika itu juga, seorang pria bertopeng meraih tubuh orang tua itu. Menahannya dan melemparkan ke lantai begitu saja.
Sejak kematian putranya, Adhar Irfandi terus meraung sehingga sumpalan kain yang tadi ada di mulut anaknya dimasukkan ke mulut Adhar Irfandi.
“Tolong jangan istri saya. Tolong lepaskan dia,” ujar pria itu kelelahan supaya suaranya jelas kedengaran. Tak peduli, pria bertopeng itu menampar keras wajah Vero sehingga menimbulkan bekas jari di pipinya yang putih.
Darah mulai mengucur di antara bekas jari itu. Vero terdiam membisu seperti menyerah pada nasib. Jasad putranya yang masih dibiarkan di sana membuatnya seperti kehilangan pita suara. Hanya Adhar Irfandi yang berteriak dan menyuruh supaya istrinya segera dilepaskan.
“Nikmati pemandangan ini, Pak.” Pria bertopeng itu berbisik mengejek Adhar Irfandi. Dengan cepat, pria bertopeng itu dengan bantuan seorang temannya dengan wajah hancur, mengoyak pakaian istri Adhar Irfandi. Adhar Irfandi menutup mata. Merasa tidak terima dengan perlakuan itu. Dengan kaki yang terikat, dia menendang satu kursi yang sedari tadi ada di depannya dan mengenai pria berwajah hancur. Dia menggeram marah lalu mendekati Vero sebagai pelampiasan kemarahannya.
Pria berwajah hancur itu menguliti tubuh Vero dengan menggunakan kuku panjangnya. Darah yang mengucur segera dihisap oleh mereka berdua. Dimulai dari lengan, hingga punggung, sampai ke kaki, semuanya dikuliti, dan berakhir pada bagian wajahnya. Vero tak sanggup lagi untuk berteriak. Dia hanya menggeliat sebagai ekspresi sakit yang dirasakan sementara tali pengikat tangannya membuat perih seluruh tubuhnya. Persis di sisi anaknya yang sudah membiru, dia juga menyaksikan suaminya yang meraung tanpa bisa berbuat apa. Seperti dia yang tak bisa melakukan apapun untuk kematian Gian, putra tunggalnya.
“Kulitmu benar-benar renyah dan darahmu panas segar,” ujar pria berwajah hancur sambil tertawa puas.
“Hentikan... Kumohon hentikan. Kalian tak cukup puas mengambil nyawa karyawanku, sekarang juga kalian ambil nyawa anak-istriku? Bajingan kalian semua!” Teriakan Adhar Irfandi menggaung di udara.
Sesaat Adhar merasa lebih baik tak melihat, namun tetap saja dia berusaha untuk meminta agar istrinya dilepaskan.
“Kami akan melepaskan penderitaan istrimu sebelum kau menyakitinya lagi.” Pria bertopeng menyeringai. Adhar sekilas teringat Vitria, gadis simpanannya, begitu juga dengan gadis-gadis lain yang sering menjadi pelampiasan hawa nafsunya.
“Yang terakhir ini akan mengakhiri semuanya.”
Pria bertopeng menggores-gores wajah Vero, istri seorang Adhar Irfandi, di depan mata direktur itu, lalu mencongkel matanya dengan perlahan dan menyerahkannya kepada pria berwajah hancur. Pria berwajah hancur menikmatinya, sambil tertawa dan memenggal kepala Vero lalu melemparkannya ke tubuh Adhar Irfandi.
Pria bertopeng menghampiri Adhar Irfandi lalu membuka topengnya.
“Kau?” Adhar Irfandi menuding tangannya di wajah pria yang sudah membuka topeng itu. Itu adalah salah satu agen SCP. Ben.
“Inilah wujudmu, Bajingan. Kau dan topeng yang selalu kau kenakan di depan istrimu.” Ben melempar topeng itu hingga menutupi kepala Adhar Irfandi. Adhar Irfandi menggerakkan kepalanya supaya topeng itu lepas diiringi tawa seluruh penonton yang ada di ruangan itu.
***
Pintu terbuka.
Tiga orang laki-laki bertubuh kekar datang dan melangkah percaya diri. Adhar sangat cemas sehingga kakinya mulai gemetar tak karuan. Dia menyempatkan diri untuk melihat wajah sialan yang berani melecehkannya dengan cara seperti ini.
“Agen Wira.”
“Iya. Saya, Pak.”
\"Anda datang? Anda tidak telat lagi?” Wajah Adhar Irfandi sangat senang. Sekali ini, dia merasa SCP Foundation sangat berguna. Datang di saat yang sangat tepat.
“Kami tidak pernah telat, Pak. Hanya saja, bapak tidak terlalu peka untuk tahu, maut juga tidak pernah datang telat.”
\"Selamatkan saya segera. Saya muak di sini.”
“Beberapa lebih muak melihat bapak di luar sana.”
Adhar terpaku. Beberapa sekon berlalu saat dia bergantian melihat ketiga agen dari SCP Foundation.
“Apa maksud kalian? Bukankah kita kerja sama? Bukankah kami membayar mahal untuk jasa kalian?”
“Tak semahal harga yang seharusnya Anda bayar, Pak.”
Wira berdiri persis di hadapan Adhar Irfandi. Dalam keadaan terikat, tubuh pria setengah baya itu diseret lalu didudukkan di atas kursi.
“Siapa kalian? Kenapa kalian tidak membela saya.”
“Karena kami adalah teror.”
Jantung Adhar berpacu sangat cepat. Antara amarah, rasa takut, dan kebencian yang hampir meledak di dalam dirinya.
“Kalian penghianat. Bagaimana bisa kalian menyuguhkan diri menjadi tim penyelamat sementara biang kejahatannya adalah kalian?”
“Kami tidak pernah menyuguhkan diri. Kau ingat karyawanmu yang sangat cemerlang itu?”
Seumur-umur, Nadiva adalah staf kebanggaan bagi Adhar.
“Nadiva?” nama itu yang pertama sekali muncul di pikiran Adhar Irfandi.
“Benar. Dia ingin lepas dari Anda, dia ingin mengakhiri semua ancaman dan kejahatan Anda. Karena dia kami ada di sini.”
“Maksudmu, dia yang merencanakan semua ini?”
“Saya.”
Seorang laki-laki yang tidak asing bagi Adhar masuk lalu menutup pintu pelan. Laki-laki itu beberapa kali datang ke Adhar Inc. untuk bertemu Nadiva.
“Sayalah yang membuat rencana itu, Pak. Kalau Anda lupa siapa saya, nama saya Gihon. Nadiva adalah teman kecil saya. Tujuan saya sederhana. Ingin melenyapkan Anda dan reputasi Anda. Karena orang jahat seperti Anda tak boleh selamanya tinggal di bumi ini.”
Adhar meronta di dalam ikatan. Dia memberi ancaman yang sama sekali tidak membuat takut.

Other Stories
Hold Me Closer

Karena tekanan menikah, Sapna menerima lamaran Fatih demi menepati sumpahnya. Namun pernik ...

Mother & Son

Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...

Di Bawah Panji Dipenogoro

Damar, adalah seorang petani yang terpanggil untuk berjuang bersama mengusir penjajah Bela ...

Sweet Haunt

Di sebuah rumah kos tua penuh mitos, seorang mahasiswi pendiam tanpa sengaja berbagi kamar ...

Yang Dekat Itu Belum Tentu Lekat

Dua puluh tahun sudah aku berkarya disini. Di setiap sudut tempat ini begitu hangat, penuh ...

Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster

Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...

Download Titik & Koma