Pintu Dunia Lain

Reads
4.1K
Votes
0
Parts
25
Vote
Report
Penulis Vita Sari

Lantai Tiga Puluh Tiga

Nadiva baru bisa menghela napas saat tahu keberadaan direktur di mana. Dia segera mengambil tas kecilnya lalu berlari menuju lokasi. Jantungnya berpacu cepat. Entah apa yang sedang dipikirkan, namun dia merasa harus bergerak cepat.
Beberapa kali dia meminta sopir taksi untuk menambah kecepatan laju taksi yang ditumpanginya. Tetap saja Nadiva merasa kurang cepat. Setelah melihat gedung pencakar langit itu, dia membuka pintu mobil tanpa aba-aba.
Dia berlari. Sangat cepat menuju pintu masuk gedung di depannya. Dia pun tak pernah menduga SCP Foundaton memiliki gedung sehebat itu.
“Beri saya izin untuk masuk.”
Nadiva mendorong satpam penjaga yang berusaha mengejarnya.
Lantai 13. Lantai 23.
Sepuluh lantai lagi yang harus dia lalui untuk dapat sampai.
Cari saya di lantai 33 dan kamu akan menemukan bosmu.
Pesan rahasia itu membuat Nadiva paham. Tiga puluh tiga adalah angka kekuatan SCP Foundation dan Gihon masih bagian dari yayasan itu. Gihon masih ada di sana dan masih bekerja untuk itu. Tiga puluh tiga, angka pencarian cepat untuk yayasan misterius, SCP Foundation.
Lantai tiga puluh tiga. Mata Nadiva tertuju pada satu ruangan yang diberi cat darah tua. Darah tua; simbol kematian sesaat, itu menurut lelucon sialan Gihon. Gadis itu berlari cepat. Menekan knop dan pintu terbuka. Persis saat knop dibuka, dengan mata kepalanya sendiri, Nadiva melihat tim pengaman dari perusahaannya berhasil membuat Gihon tumbang. Peluru yang menembus kepala Gihon tak membuatnya cepat bertahan. Dia tersungkur di tanah. Lalu, tak butuh waktu dua detik, saat Wira mengangkat tangannya ke udara. Mengubah dirinya menjadi dia yang sebenarnya. Melahap habis seluruh tim keamanan Adhar Inc.
Lima detik yang sangat cepat, Wira kembali ke dirinya lagi. Adhar Irfandi tertawa mengejek dirinya yang berhasil dikelabui.
“Bajingan, ternyata kau adalah satu dari makhluk SCP itu.”
Wira mengangguk perlahan.
“Kami datang untuk orang bajingan sepertimu, Adhar Irfandi yang terhormat. Terima rasa hormat kami untuk semua dosa-dosamu. Perlakuan burukmu di tengah masyarakat, perlakuan burukmu terhadap Vitria yang jadi korban hawa nafsumu, perlakuan burukmu terhadap semua staf yang berhasil hidup di bawah tekananmu. Terima rasa hormat kami karena Anda berhasil mengelabui masyarakat dengan produk palsu yang kau promosikan di depan media untuk menutupi bisnis hitammu.”
Wira menggerakkan pistol di jemarinya, mengarahkan pada Adhar Irfandi.
Saat rahang Adhar Irfandi tercabik peluru, seperti itulah cerita akhir hidup Adhar Irfandi. Tak semahal hidupnya yang berlimpah kemewahan. Sesederhana itu. Adhar Irfandi meninggal hanya hitungan beberapa sekon mengikuti Gihon.

Other Stories
Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Gm.

menakutkan. ...

Namaku May

Belajar tak mengenal usia, gender, maupun status sosial. Kisah ini menginspirasi untuk ter ...

Seribu Wajah Venus

Kisah-kisah kehidupan manusia yang kuat, mandiri, dan tegar dalam menghadapi persoalan hid ...

Kita Pantas Kan?

Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...

Arungi Waktu; Ombak Bergulung, Waktu Berderai—namun Jangkar Tak Pernah Ia Turunkan

Arunika pernah percaya bahwa hidup berjalan lurus, sepanjang rencana yang ia susun dengan ...

Download Titik & Koma