Puzzle

Reads
2.4K
Votes
0
Parts
16
Vote
Report
Penulis Nindya M

Kelas 5-5

Karina mendapati pesan masuk dari Ros saat sedang berjalan menuju kelas. Ros baru berangkat menuju kota. Perempuan itu akan tinggal bersama bibinya lalu dirawat di rumah sakit sampai melahirkan. Karina berharap proses persalinan Ros berjalan lancar. Sahabatnya itu berhak bahagia setelah semua yang dialaminya sampai titik ini.
Ros menjadi yatim piatu saat usia 14 tahun, orang tuanya kecelakaan. Setelah itu Ia tinggal bersama bibinya. Ketika berusia 22 ia menikah dengan pacarnya. Namun pernikahan itu tidak berjalan lancar, Ros kerap menjadi korban kekerasan dari suaminya, bahkan ketika Ia hamil muda, suaminya malah selingkuh dengan rekan kerjanya di kantor. Ros yang sudah tidak tahan, memilih untuk bercerai. Tetapi, kini Ia tampak lebih bahagia. Mengajar di sekolah swasta dengan fasilitas luar biasa, terlebih bayinya sehat dan beberapa hari lagi hidupnya akan lengkap dengan kehadiran anak idamannya.
Karina yakin Ros mewarisi tekad perjuangannya ke murid didiknya. Ia optimis murid-murid yang akan diajarinya hari ini memang benar anak-anak baik. Tentu saja, mereka pasti mendapatkan edukasi terbaik sejak masa pra sekolah.
Karina menarik napas dalam-dalam. Pintu kelas di hadapannya terasa memuai seiring rasa gugupnya yang membesar. Ia menggumamkan kalimat-kalimat semangat beberapa kali sebelum akhirnya melangkah mantap, membuka pintu dan masuk ke dalam kelas 5-5.
“Kembalikan tasku!”
Tas berwarna merah melayang dan menghantam layar slide di depan kelas. Seorang anak laki-laki berlari ke depan, dikejar oleh anak perempuan berkucir dua yang marah karena tasnya dilempar. Perkelahian tak dapat dielakkan. Beberapa anak lainnya tampak menyoraki perkelahian itu. Tetapi ada juga yang tampak acuh, seperti anak perempuan berambut pendek dan berkacamata yang sedari tadi sibuk menikmati cemilannya atau anak laki-laki menyandar di dinding dengan topi rajut menutupi sebagian wajahnya, dia tertidur pulas.
Karina terdiam selama beberapa menit mencerna situasi. Ia terlalu kaget sampai tidak sanggup mengeluarkan reaksi.
“Be, be, berhenti!” Ia tergagap sambil berteriak. Anak-anak itu tidak menghiraukannya. Karina langsung berlari menengahi kedua anak yang berkelahi itu.
“Jangan berkelahi!” Karina berusaha melerai keduanya. “Sudah, sudah!” Kedua lengannya mendorong tubuh anak-anak itu ke arah yang berlawanan. Si anak perempuan menatap ‘lawan gulatnya’ dengan buas, seakan tidak mau melepaskannya hidup-hidup. Sementara si anak laki-laki mengeret dan memilih untuk buang muka.
“Oke, ceritakan ada apa dan jangan lakukan kekerasan,” peringat Karina. Ia menatap si anak laki-laki dan perempuan itu bergantian, kondisi sekelas seketika menjadi sunyi.
Anak-anak di ruangan itu memandangi Karina. Ada beragam tatapan sampai Karina tidak bisa menilai apa maksud mereka. Si anak perempuan yang barusan ia lerai memeliki keberanian yang lebih daripada anak lainnya. Ia kontan menyilangkan tangannya di dada, mengangkat dagunya sedikit dan menatap Karina dengan curiga.
“Anda siapa?”
“Saya Karina,” nada suara Karina menciut pelan. Nih anak songong amat! Aku tidak boleh terintimidasi. Tidak boleh. Tidak boleh!
“Anda mau apa di sini?” tanyanya lagi sambil melangkah maju mendekati Karina yang masih duduk bersimpuh.
“Oh ya benar, aku harus memperkenalkan...,”
“Anda harus permisi kalau mau masuk bukan?” potong anak perempuan itu.
“Apa?”Karina memandanginya, heran.
Anak perempuan dengan jaket merah itu memutar bola matanya. “Ya ampun, Anda tak diajari sopan santun ya ketika kecil?”
Kamu yang gak tau sopan santun! Geram Karina dalam hati. Tapi Ia tetap memaksakan tersenyum.
“Bukan begitu, tadi saya masuk dan adik berkelahi dengannya, makanya saya berniat melerai kalian dulu,” terang Karina, Ia menahan ledakan emosinya habis-habisan.
“Anda mau apa ke sini?” celetuk anak perempuan bertubuh gempal yang sedari tadi mengunyah cemilan.
“Mengajar,” jawab Karina. Tunggu, kenapa aku jadi interogasi oleh mereka?
“Oke, begini.” Karina berdiri dan menatap anak-anak di kelas itu. Ada tujuh orang. 4 perempuan dan 3 laki-laki. Jumlahnya sangat sedikit, aku harus bisa mengendalikan situasi di sini.
“Nama saya Karina dan saya di sini menggantikan Ibu Ros,” ucap Karin, lantang.
“Ke mana Kak Ros?” Anak-anak di kelas itu saling berbisik tampak menanyakan keberadaan Ros.
“Kami tidak mau.”
Anak perempuan berambut kuncir dua tadi bersuara kembali, “Kembalikan Kak Ros!”
Anak-anak lain tadi berbisik seketika ikut bersuara meneriakkan nama Ros.
“Kembalikan kak Ros!”
“Kami tidak mau guru baru!”
“Kak Ros! Kak Ros!”
Seorang anak laki-laki mengambil bola karet dari keranjang berisi bola-bola kecil lalu melempari Karina. “Pergi orang asing! Hahaha!”
Karina diam di tempat. Kepalanya menunduk, tangannya meremas ujung jas sambil menahan emosi. Berbagai kata positif berusaha ia rasuki ke dalam hatinya namun gagal. Ia kehabisan kesabaran. Kalimat Ros terngiang kembali di kepalanya, mereka anak-anak baik, kamu akan segera menyukai mereka.
“Baik apanya?” Gumam Karina dengan nada gemetar. Ia mengangkat kepalanya, menatap tajam anak-anak itu.
“Sepertinya kalian dimanja terlalu lama oleh Ros,” ujarnya, tegas. Anak-anak di kelas itu seketika menghentikan aksi mereka, memandang Karina dengan tatapan bertanya-tanya.
“Suka tidak suka, saya menggantikan Ros sekarang dan kalian harus mengikuti aturan saya!” Karina mengambil penggaris plastik yang digantung di dinding. Ia hempaskan penggaris itu di dinding sampai menimbulkan suara geprakan yang mengejutkan seisi kelas.
“Semua duduk! Pelajaran hari ini akan segera dimulai!”
Baik laki-laki yang tadi melempari Karina dengan bola mau pun si bocah yang tertidur langsung kembali ke bangku masing-masing. Hanya anak perempuan berkucir dua yang masih memandang Karina dan berdiri di sampingnya. Tidak tampak rasa takut di matanya. Karina membalas balik tatapan itu.
“Duduk,” perintah Karina, pelan.
Anak itu tampak enggan menuruti perintahnya, tetapi murid-murid lain yang sudah di bangku memanggil-manggil namanya untuk menurut saja.
“Angel, sudahlah,” kata anak perempuan yang dikepang satu.
Angel mendengus, lalu mengambil tasnya yang tadi dilempar, setelah itu duduk di kursi terdekat. Karina menghela napas, lelah. Tetapi ini hari pertama dan jam pertamanya. Dia tidak boleh kalah keras dibanding anak-anak itu.
“Baik, kita mulai pelajarannya.”
***
Pukul 1 siang, gedung Primary tampak ramai oleh murid-murid yang akan pulang. Mereka beramai-ramai keluar dari gedung, sebagian langsung mengantri di halte shutter bus, ada pula yang menuju ke stasiun. Murid-murid kelas 1 dan 2 membentuk grup-grup kecil lalu diantar oleh siswa kelas 6 yang bertugas sebagai pengurus asrama.
Di antara anak-anak yang keluar dari gedung, tampak Angel dan dua teman perempuan lainnya tengah duduk di salah satu bangku taman. Perempuan bertubuh gempal dan seorang lagi yang mengenakan bandana dan rambutnya diurai.
“Kok bisa sih guru seperti itu ganttin Bu Ros?” celetuk Angel dengan ekspresi kesal.
“Aku malah bertanya-tanya apa dia beneran guru,” sahut si perempuan bertubuh gempal yang tak lepas dari cemilannya.
“Aku gak suka diajar sama dia,” kata Angel.
Kedua temannya mengangguk sepakat.
“Elis.” Angel menoleh ke arah temannya yang gempal. “Kita harus mengusir guru itu.”
“Hah? Kita bisa apa?” Elis melotot kaget.
Angel menatap teman satunya sambil menarik sebelah alisnya. Si perempuan berbandana mengerutkan dahi.
“Oh tidak.” Ia seketika menggeleng ketika tahu maksud Angel. “Bukan berarti karena ayahku pemegang saham tertinggi sekolah ini, aku bisa memintanya mengusir seorang guru.”
“Ayolah, Giselle!” Bujuk Angel. “Kan belum pernah dicoba!”
“Nope! Jika pun bisa, aku tidak mau hutang budi padanya,” Giselle angkat tangan.
“Fine, aku bakal lakuin sendiri!” Angel menepuk kedua lututnya, mantap.
“Gimana caranya?” tanya Elis lagi. “Masukin tikus ke tasnya diam-diam?”
“Dia tidak terlihat seperti orang yang takut dengant tikus,” komentar Giselle.
“Aku akan susun rencana, sekarang kita pantau saja dulu, kalau dia sudah kebangetan, aku akan usir dia!”
**
Karina menyandarkan punggungnya di kursi sambil menghela napas, lelah. Ia pernah mengajar di SD nasional sebanyak 8 jam sehari, tetapi rasanya tidak semelelahkan hari ini. Padahal siswanya kelas 8, ruang kelasnya pun nyaman dengan fasilitas lengkap dan lapang, tetapi ia merasa tatapan penuh kekesalan murid-murid di kelasnya yang menjadi beban semua ini.
“Ros, kamu benar-benar luar biasa,” gumamnya. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa Ros mengatakan bahwa mereka adalah ‘anak-anak baik’. Dimata Karina, mereka semua nampak seperti anak-anak kecil yang sombong karena bersembunyi di balik punggung orang tua mereka yang kaya raya. Bentakan kecil yang Ia lakukan tadi pagi, Karina tidak akan heran kalau suatu hari nanti ada orang tua yang protes dan menelponnya atas tindakan yang ia lakukan.
Karina meringis. Ia tidak pernah merasakan hidup menjadi orang kaya dan sepanjang masa kecilnya, ada beberapa temannya yang berasal dari golongan orang mampu, tetapi berkelakuan semena-mena. Sampel kecilnya seperti tadi pagi, ketika guru masuk, anak-anak itu justru mencurigainya, mengintrogasinya, bahkan sampai menyuruhnya keluar. Di dalam hati, ia sebenarnya merasa sakit diperlakukan seperti itu, padahal ia tidak bersalah.
Di tengah pikirannya yang muram, seseorang mengetuk pembatas mejanya. Seorang pria mengintipnya dari belakang pembatas bilik dan tersenyum. Karina mengenali wajah tersebut. Laki-laki yang tersenyum padanya saat di kafe asrama staff pengajar.
“Kamu?” ucapnya sambil menunjuk pria itu.
“Hai.” Pria itu keluar dari bilik mejanya dan mendatangi meja Karina yang tepat berhadapan dengannya.
“Royale,” katanya sambil menjabat tangan Karina.
“Maaf?”
“Namaku Royale, tapi guru dan murid disini memanggilku Roy.”
“Karina,” balas Karin sambil tersenyum ramah.
“Pengganti Ros?” tanya Roy.
“Ah, iya, cuma untuk beberapa minggu.”
“Bagaimana hari pertama mengajar disini?”
Karina menggeleng. “Unbelieveble.”
“Why? Tell me, please,” Sambut Roy antusias.
“Entahlah, aku kaget karena siswanya sangat sedikit dan jam belajar hanya 4 jam, aku merasa sangat kekurangan waktu karena tadi banyak yang belum kusampaikan.”
“Really?” Roy heran. “Kamu mengajar kelas 5-5 bukan?”
“Yap.”
“Kalau kamu merasa kekurangan waktu, berarti kurasa materi yang kamu sampaikan luar biasa penting.”
“Benarkah?” Karina tertawa. “Wajah mereka tampak bingung.”
“Berarti harus disederhanakan penjelasanannya. Materi apa tadi?”
“Tentang cahaya, well, aku berusaha mengejar ketinggalan materi mereka, tak kusangka banyak yang mereka tidak ketahui.”
“Sungguh? Wauw, kamu pasti sangat berpengalaman.”
“Hahaha,” Karina menterawakan dirinya sendiri. Bagaimana mungkin ia dipuji padahal ia sendiri tidak yakin metode mengajarnya benar atau tidak.
“Bagaimana denganmu Roy?” tanya Karina balik. “Kamu mengajar kelas berapa?”
“Aku mengajar kelas 2-3,” jawab Roy. “Tentang Kemanusiaan.”
“Kemanusiaan? Dalam konteks keagamaan atau Pkn?”
“Oh, bukan keduanya,” Roy menggeleng pelan. “Ini lebih kepada mengenalkan kepada mereka hubungan antar satu manusia dengan manusia lainnya.”
Karina mengerutkan dahi, “Sepertinya rumit.”
“Secara teori, ya! Tapi aku hanya mengajarkan prakteknya.”
“Bukankah itu tidak balance? Maksudku praktikum hanya 30 persen dari total keseluruhan nilai, pada umumnya begitukan?”
“Tidak, Miss Karina,” Roy tersenyum lembut. Ia yakin perempuan di hadapannya belum mendapat banyak informasi. “Begini, apakah Ros tidak memberitahumu bahwa guru sini menentukan sendiri kurikulum dan indikator penilaian di kelas?”
“Seriously?”
***
“Ros, kamu tidak bilang kalau aku harus membuat kurikulum dan indikator penilaian sendiri,” semprot Karina. Ros yang berada di balik telepon tertawa kecil.
“Duh, maaf, aku lupa ngasih tahu,” balas Ros. “Iya, jadi di sekolah ini, guru membuat indikator penilaian sendiri karena hanya guru di kelas itu yang mengenal baik si murid.”
“Tapi aku tidak kenal murid-murid asuhmu, mereka buruk, terburuk di antara yang pernah kuajar,” ujar Karina sambil menghempaskan tubuhnya di kasur.
“Kamu hanya belum kenal mereka Karin, selalu membutuhkan waktu.”
“Bagaimana caramu mengatur mereka Ros?”
“Caranya? Pendekatan dan komunikasi, pahami apa yang mereka butuhkan.”
“Yang mereka butuhkan?”
“Benar!”
Karina tampak berpikir. “Seperti aku tahu itu apa.”
“Syukurlah kalau begitu. Good luck ya!”
“Kamu juga.”
“Bye!”
Telepon diputus. Karina memandang langit-langit kamar, di kepalanya terurai kembali rentetan kejadian tadi pagi. Ia menganalisa semua kelakuan murid-murid di kelasnya. Dengan gerakan malas, Karina beranjak menuju meja belajar.
“Aku menentukan sendiri metode mengajarku.” Karina membuka komputer di mejanya dan memerika database murid kelasnya yang kemarin di email oleh Ros. “Tapi karena Ros bilang aku harus menyesuaikan dengan murid-muridnya, berarti aku akan pakai metode ini.”
Karina mengecek jadwal pelajaran untuk besok, mendownload beberapa bahan ajar lalu mulai menguraikan materi untuk besok. Ia berharap dalam beberapa hari kedepan kondisi kelasnya dapat membaik.
***

Other Stories
Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

Diary Superhero

lanjutan cerita kisah cinta superhero. dari sudut pandang Sefia. superhero berkekuatan tel ...

Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan

Rani berjuang demi adiknya yang depresi hingga akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Radit ...

Hati Yang Beku

Jasmine menatap hamparan metropolitan dari lantai tiga kostannya. Kerlap-kerlip ibukota ...

Final Call

Aku masih hidup dalam kemewahan—rumah, mobil, pakaian, dan layanan asisten—semua berka ...

Losmen Kembang Kuning

Rumah bordil berkedok losmen, mau tak mau Winarti tinggal di sana. Bapaknya gay, ibunya pe ...

Download Titik & Koma