Puzzle

Reads
2.4K
Votes
0
Parts
16
Vote
Report
Penulis Nindya M

Wasiat

 Karina berlari di koridor rumah sakit, wajahnya pucat dan khawatir. Ia tiba di ruang tunggu operasi dan mondar-mandir di depannya, menanti seorang suster atau perawat yang keluar dari sana.
“Anda ibu Karina?” tanya seorang petugas rumah sakit, tiba-tiba datang menghampirinya.
“Iya, benar. Teman saya Ros ada di sini?”
“Iya benar, sekarang dokter sedang berusaha mengeluarkan bayi dalam perutnya,” terang petugas tersebut.
“Ya ampun.” Karina tak sanggup mendengarnya. Ia hanya bisa menggeleng-geleng sambil menutupi mulutnya. Seketika ia teringat dengan bibi Ros.
“Ah, bagaimana dengan bibinya, Mbak?”
“Kritis, saat ini ada di UGD,” terang petugas itu.
Karina makin kalut, akhirnya ia memilih pasrah dan duduk di salah satu bangku. Petugas itu memintanya bersabar lalu berlalu meninggalkannya seorang diri.
Saat tadi di ruang rapat, Andrian mengatakan bahwa pihak kepolisian menelponnya dan memberi kabar telah terjadi kecelakaan di jalan di dekat pintu masuk Milenial City, sebuah mobil dan bus, dimana penumpang didalam mobil itu adalah Ros dan bibinya.
Bus datang dengan kecepatan tinggi dari gerbang tol, ketika memasuki kawasan Milenial City, remnya mendadak blong dan akhirnya di perempatan lampu merah menabrak mobil yang sedang lewat saat itu, yaitu mobil bibi Ros. Setelah mengecek identitas, polisi segera menghubungi Andrian.
Tidak cukup dengan dikerjain murid-muridnya sendiri, dimarahi oleh kepala sekolah dan sekarang sahabatnya kecelakaan lalu lintas. Kenapa rasanya hari itu sangat berat. Karina tidak pernah merasakan beban seberat ini sebelumnya. Rasa-rasanya lebih sulit melewati siatuasi seperti ini ketimbang masa-masa pertamanya bekerja sebagai guru.
Beberapa menit kemudian, pintu ruang operasi terbuka dan seorang perawat keluar dari sana. Karina langsung bangkit dan menghampirinya.
“Kerabat Ibu Ros?”
“Benar, suster, bagaimana keadaan Ros?”
Suster itu tidak langsung menjawab. Ia menggenggam tangan Karina dan berujar pelan. “Kami sudah berusaha melakukan yang terbaik, tetapi....”
Karina sudah dapat menebak kalimat selanjutnya. Ia seketika menggeleng kuat-kuat, air matanya tak dapat dibendung lagi. Kakinya lemas dan tubuhnya merosot ke lantai, Ia tak dapat menangan tangisannya.
“Tidak.. tidak mungkin,’ ucapnya berkali-kali, tidak percaya dengan situasi yang dihadapinya saat ini.Bagaimana dengan bayinya nanti, siapa yang akan merawatnya?Karina tersentak, ia lupa menanyakan kabar bayi Ros.
“Bagaimana dengan bayinya Suster?” tanyanya dengan suara serak.
Suster itu menggeleng. “Baik ibu maupun baiknya, tidak terselamatkan.”
Karina tak sanggup lagi menahan tekanan di dadanya, tiba-tiba pandangan Karina menjadi gelap, suara suster yang memanggilnya samar-samar menghilang. Ia terlalu shock untuk menerima semua ini dalam waktu bersamaan.
***
Tidak banyak yang hadir di pemakaman Karina. Termasuk bibinya tidak dapat hadir karena masih di opname di rumah sakit. Hanya Andrian, Roy dan beberapa staff pengajar. Murid-murid di Primary diliburkan sehari khusus karena para staff pengajar menghadiri pemakanan Ros. Roy merangkul pundak Karina, lembut. Wajahnya pun tampak sangat kehilangan, seperti Karina yang matanya sembab karena sesekali masih menangis.
“Dia sangat mengharapkan kelahirannya,” ucap Karina lirih pada Roy, seusai acara pemakaman. “Walau pernikahannya pahit, tetapi bayinya itu adalah alasan dia tetap bertahan hidup,” Air mata Karina hampir menetes lagi.
“Dia wanita yang luar biasa,” ungkap Roy. “Dia pasti bahagia di sana, Karina, berdoa saja.”
Karina mengangguk lemah. Mereka berdua berjalan di belakang rombongan staff pengajar lain lalu naik kedalam mobil dan rombongan pun meninggalkan area pemakaman. Hari itu, langit tampak mendung dan hujan turun membasahi Milenial City.
***
Keesokan harinya, Karina berangkat lebih awal dari jam biasanya. Langit masih terasa mendung di hatinya, perasaan duka itu belum hilang sepenuhnya. Ia berharap murid-muridnya tidak bertingkah karena ia benar-benar sedang tidak berhasrat melakukan apa pun.
Karina duduk di biliknya, mengeluarkan berkas-berkas dari laci meja yang dulu juga merupakan meja milik Ros. Beberapa barang Ros masih ada di atas meja itu. Foto dengan bingkai emas berisi gambarnya dan suaminya. Jelas walau pria itu jahat dan keji, Ros masih menyayangi pria itu. Lalu tumpukkan buku yang mungkin jadi bahan refrensinya dalam mengajar. Karina tidak pernah menyentuh buku itu karena tidak ada yang bisa ia sampaikan dari bahan-bahan tersebut.
Tetapi, entah kenapa karena buku itu milik Ros, Karina ingin menyentuhnya, membukanya dan membacanya. Ia merasa menjadi lebih dekat dengan Ros hanya dengan menyelami perlengkapan yang dulu dimiliki sahabatnya.
Ia membolak-balik halaman sambil mengingat masa-masa ketika dulu kuliah bersama Ros. Mereka di perpustakaan mencari bahan untuk refrensi laporan karena dosennya terlalu malas mengajar dan malah melemparkan tugas-tugas mencari refrensi di perpustakaan. Ros tersenyum membayangkan masa di mana ia dan Ros menjadi mahasiswa yang bandel malah curi-curi ke kantin, bukannya ke perpustakan.
Lembaran di buku itu basah, terkena tetesan air mata yang mengalir di pelipis Karina. Berhenti menangis, Karina, berhentilah. Ia berusaha menguatkan hatinya. Ros sudah tidak ada, ia harus menerima kenyataan itu melanjutkan hidup. Bermain-main dengan kenanagan seperti saat ini tidak akan membawa Ros kembali dan justru membuatnya semakin larut dalam kesedihan.
Karina menutup buku itu, namun, matanya menangkap selembar kertas yang terselip keluar dari himpitan lembaran di buku itu. Penasaran, Ia membuka halaman yang mengapit kertas tersebut.
Halaman itu penuh coretan. Ros menulis banyak hal di sana, terlebih di kertas putih yang tadi menyembul dari lapisan halaman buku. Karina terkejut saat membacanya. Kertas itu berisi hasil pengamatan Ros selama berbulan-bulan saat mengajar anak-anak kelas 5-5.
Membaca tulisan di kertas itu, Karina merasa selama ini telah berbuat salah. Kearoganannya karena pernah beberapa kali mengajar di sekolah negeri bergengsi, sifatnya yang suka meremehkan hal sederhana membuatnya begitu sulit menyimpulkan satu pesan sederhana dari Ros.
“Aku akan pastikan kamu tidak salah pilih Ros.” gumam Karina. “Aku akan melanjutkan perjuanganmu mengajar di kelas 5-5, kini mereka tanggung jawabku sepenuhnya.”
Karina tersenyum memandangi kertas itu. Di kertas itu ada gambar Karina, dan ketujuh anak kelas 5-5. Gambar yang sangat bagus dan berkelas dan ekspresi anak-anak di gambar itu tampak bahagia dan damai. Tidak ada tatapan tajam yang seperti ia terima selama ini, mereka benar-benar tampak seperti anak-anak baik. Atau mungkin mereka memang sebenarnya baik, tapi aku yang keterlaluan.
Karina mengakui dirinya salah. Ia menggenggam ujung kertas itu, tekadnya sudah bulat. Ia akan melanjutkan mengajar di kelas 5-5 menggantikan Ros selamanya.

Other Stories
Seribu Wajah Venus

Kisah-kisah kehidupan manusia yang kuat, mandiri, dan tegar dalam menghadapi persoalan hid ...

Suffer Alone In Emptiness

Shiona Prameswari, siswi pendiam kelas XI IPA 3, tampak polos dan penyendiri. Namun tiap p ...

Turut Berduka Cinta

Faris, seorang fasilitator taaruf dengan tingkat keberhasilan tinggi, dipertemukan kembali ...

Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster

Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...

Kuraih Mimpiku

Edo, Denny,Ringo,Sonny,Dito adalah sekumpulan anak band yang digandrungi kawula muda. Kema ...

Download Titik & Koma