Puzzle

Reads
2.4K
Votes
0
Parts
16
Vote
Report
Penulis Nindya M

Puzzle

Karina merebahkan tubuhnya di atas kasur. Setelah ia mengantarkan anak-anak itu kembali ke asrama, Karina mengembalikan mobil sewaan dan pulang ke asrama staff pengajar menggunakan monorel. Ia sempat bertegur sapa dengan Roy di depan kafe, namun dirinya tidak merasa bersemangat saat pria itu menawarinya secangkir kopi. Ia ingin istirahat. Kemarin adalah hari yang berat. Ia hanya ingin beristirahat.
Karina memejamkan matanya, berharap segera terbawa ke alam mimpi. namun dalam pemandangan yang gelap, ia justru teringat ketika Ros terakhir kali bermain ke kamarnya, dimalam sebelum ia pergi ke rumah bibinya. Ros datang membawa papan puzzle. Mereka bermain puzzle sambil mengobrol ngalur ngidul, mulai dari masa kuliah sampai pekerjaan.
Sampai disuatu titik permainan, tiba-tiba Ros menyeletuk, “Karin, kamu tahu, anak-anak di sekolah ini seperti kepingan puzzle ini.”
“Mereka memiliki bentuk yang berbeda-beda satu sama lain, punya perang di tempat yang berbeda-beda, maka dari itu, mungkin di awal perlu kerja keras untuk mencari metode apa yang cocok untuk mengajari mereka, apa yang bisa dicapai dari bakat mereka, tetapi ketika semua bentuk sudah ditemukan.” Ros menempelkan beberapa kepingan puzzle terakhir, “Mereka akan berkolaborasi, saling memenuhi bagian yang kurang, menjadi pelengkap satu sama lain, dan mencapai tujuan bersama.”
Ros mengangkat papan puzzlenya.
“Seperti ini nih, udah lengkapkan? Jadi keliatan deh gambarnya.”
Karina tertawa. “Ya ampun, sempet-sempetnya bikin analogi pas main ginian.”
“Haha, tapi memang bener kok, di kelas 5-5, mereka beragam dan kalau satu tujuan sudah ditemukan, mereka bisa jadi kombinasi yang menarik,” kata Ros, optimis.
“Oke, akan kucek sendiri dengan mata kepalaku. Kalau kamu salah, traktir aku makan direstoran fancy di Milenial City.”
“Haha! Oke, siapa takut!”
“Oke, deal ya!’
Karina dan Ros berjabat tangan, lalu keduanya tertawa. Tawa terakhir dari Ros yang Karina saksikan. Kamu menang Ros, mereka memang puzzle dengan bentuk-bentuk yang unik, Karina pun tersenyum sebelum akhirnya ia benar-benar tertidur.
***
“Selamat pagi semua,” sapa Karina dengan wajah sumringrah saat masuk kelas. Pagi itu, kelasnya kembali gaduh. Tidak seperti beberpaa minggu sebelumnya, setiap ia masuk, anak-anak itu dengan malas beranjak ke tempat duduk masing-masing dan memaasang tampang masam.
Angel kejar-kejaran dengan Leo lagi, perempuan dengan rambut dikucir dua itu melemparkan pulpennya ke Leo. “Dasar jahil!”
Leo menghindari dengan mudah. Ia menjulurkan lidahnya, meledek Angel. “Yee! Gak kena!”
“Sudahlah kalian ini,” sela Karina, buru-buru. “Pelajaran mau dimulai, oke?”
Angel menatap Karina, tidak percaya. Ia kira Karina benar-benar berubah dan tidak akan menerapkan model pengajarannya yang buruk lagi. Tetapi melihat Karina bersimpu diantaranya dan Leo, berusaha melerainya, itu membangkitkan ingatannya ketika wanita itu pertama kali mengajar di kelas mereka.
“Santai aja Angel,” tiba-tiba Karina meletakkan tangannya di pundak gadis kecil itu. Ia tertawa kecil.
“Jangan takut gitu.”
Seakan bisa membaca isi pikiran Angel, Karina beranjak lalu mengeluarkan beberapa tongkat jaring dari lemari penyimpanan. “Sekarang, kita belajar outdoor ya.”
Aura di kelas seketika berubah menjadi ceria, mata mereka nampak berbinar-binar. “Baik, Kak!”
Angel berhasil menemukan metode yang tepat untuk mengajari mereka. Dalam lima hari mengajar dalam seminggu, Karina memasukkan dua hari sebagai pembelajaran di outdoor. Pembelajaran di outdoor bukan hanya sebagai sarana rekreasi untuk merangsang imajinasi dan rasa petualangan dari murid-muridnya, tetapi juga meningkatkan kekompakan mereka.
Setelah Ia mengajak murid-muridnya menangkap serangga bersama di pinggir hutan pendidikan sekolah, selang dua hari berikutnya ia mengajak mereka mengenal ekosistem sungai. Dibelakang hutan pendidikan terdapat sungai buatan yang tampak seperti sungai aslinya. Hilirnya berasal dari Ciliwung, namun berkat teknologi purifikasi yang diterapkan sekolah, air tersebut dimurnikan sehingga tidak bau dan kotor.
Sementara pembelajaran indoor, Karina memberikan satu tugas selama satu semester mereka, yaitu membuat suatu karya atau melakukan sesuatu yang memiliki suatu nilai berharga. Walau awalnya mereka tidak paham, tetapi Karina berusaha sabar dan menuntun murid-muridnya itu.
Di akhir semester, anak-anak itu begitu antusias memamerkan hasil tugas mereka kepada Karina. Ketika Karina masuk kelas, mata-mata kecil itu berbinar menatapnya dengan bersemangat.
“Dilihat dari wajah kalian, tampaknya tugas akhir semester sudah selesai ya?”
“Sudah, Kak!”
“Oke, siapa yang mau menunjukkannya pertama kali?”
Mereka berebut mengangkat tangan, hampir semua mengacungkan jari kecuali Malik yang memang tidak suka mencolok dan Suci yang terlalu gugup untuk mengangkat tangannya.
“Aku akan mulai dari.. Elis!” tunjuk Karina.
Perempuan bertubuh gempal itu berdiri, ia maju kedepan dan menyerahkan satu flashdisk kepada Karina. Ketika isinya dibuka, ternyata adalah slide berisi makanan-makanan yang berhasil dimasak oleh Elis.
“Ini adalah rekreasi masakan nusantara,” unjuk Elis, antusias. Ia menceritakan setiap minggu sejak pemberian tugas, ia minimal membuat satu rekreasi masakan daerah di Indonesia. Hasilnya, nampak cantik dan menggoda selera. Satu kelas pun bertepuk tangan atas kreasi Elis.
Selanjutnya adalah Giselle. Ia menunjukkan tiga lukisannya dengan tiga aliran yang berbeda. Satu bertema naturalism, yang satunya surealism dan satunya abstrak kontemporer. Satu kelas bertepuk tangan takjub, bakat Giselle di bidang seni lukis tidak pernah mereka ragukan.
“Mungkin aku bisa memajangnya satu di kamar,” canda Karina, yang tanpa diduga, Giselle langsung menyerahkan satu lukisannya yang bertema abstrak kontemporer.
“Untukmu, Kak.”
“Sungguh?” Giselle mengangguk.
Karina merasa tersanjung. Ia terima lukisan itu dan ia senang dengan hasil karnya Giselle yang menurutnya sangat bagus. “Terima kasih.”
Selanjutnya Suci, selain menceritakan progress penyembuhannya yang semakin membaik, ia juga mengatakan setiap akhir pekan ia rutin mengikuti kegiatan-kegiatan di gereja, bergabung dengan tim paduan suara dan melaksanakan acara amal ke panti-panti asuhan. Ia senang karena dapat bersosialiasi dan berbagi nasib dengan orang-orang yang juga memiliki kondisi yang sama sepertinya. Kelas pun bertepuk tangan atas perjuangan perempuan kecil itu. Dan di penutup kisahnya, Suci menyanyikan satu lagu di depan kelas yang ternyata ia memiliki suara yang luar biasa indah.
“Apa kau berencana menjadi penyanyi, Suci?” tanya Karina.
Suci menggeleng pelan. “Aku ingin menjadi penegak hukum, Kak.”
Tepuk tangan kembali pecah di kelas. Semua mendoakan agar Suci bisa menggapai cita-citanya. Suci jadi salah tingkah dan buru-buru kembali ke bangkunya.
Selanjutnya Angela menunjukkan pertunjukkan kecil-kecilan yang ia lakukan di taman kota, ia juga sempat ikut seleksi pertunjukkan solo biola namun hanya sampai 10 besar. Berikutnya ia berencana akan menggelar sendiri konsernya, tentu setelah ia mendapat banyak pelatihan dan pengalaman dalam mempelajari biola.
Leo dan Malik menunjukkan hasil yang berbeda. Leo berhasil memenangkan pertandingan futsal tingkat provinsi dari klub pelatihan futsal yang ia ikuti. Sementara Malik, ia berhasil menenangkan kompetisi catur dan olimpiade matematika antar sekolah. Saat itu, Karina yang menawarinya ikut karena Ia merasa Malik butuh perlakuan yang sedikit berbeda dari teman-temannya. Ia butuh dimotivasi dan diajari membuat target agar tahu bagaimana memaksimalkan potensi kecerdasannya dengan baik. Hasilnya, Karina tidak salah, Malik memang orang yang tepat di bidang olimpiade. Sejak saat itu, Malik tidak lagi menguap di pojokan kelas atau diam-diam tidur di bawah pohon ketika anak-anak lain berlarian di lapangan rumput.
Brian, direkrut menjadi salah satu tim e-sport di Mileniat City. Ia dan timnya berhasil memenangkan pertandingan kecil-kecilan yang diadakan di Jakarta, namun kedepannya target ia adalah bisa ikut sampai kompetisi tingkat nasional bahkan internasional.
“Aku akan menjadi gamer pro!”
“Itu akan menjadi pekerjaan yang menyenangkan.” Karina tepuk tangan, yang lain ikut dan mengangguk setuju.
Akhir semester 1 ditutup dengan piknik di pelataran hutan sekolah. Mereka membicarakan rencana-rencana liburan dan kegiatan yang bisa dilakukan bersama saat liburan. Karina menikmati masa-masa ini. Sekali lagi, Ros benar tentang anak-anak itu, Karina lah yang salah menerapkan metode sebelumnya.
Mereka tidak bisa ditekan, tidak bisa disetir harus melakukan apa, atau pun dibentak atas kesalahan mereka. Anak-anak itu hanya butuh perhatian dan arahan yang tepat. Apalagi mereka baru berusia 10 tahun, rasanya tidak bijak jika pada usia semuda itu Karina menimpakan begitu banyak materi tertulis pada mereka.
Sungguh berbeda rasanya jika dibandingkan ketika ia mengajar di sekolah negeri. Anak-anak berusia 10 tahun membawa tas besar dengan buku-buku tebal, dituntut bisa mengoperasikan aplikasi komputer yang canggih, sehari belajar 12 jam belum termasuk tugas dan pekerjaan rumah. Alangkah tertekannya, saat-saat ia menjadi pelajar SD dulu. Jika dibandingkan dengan anak-anak di sekolah tempatnya mengajar bagaikan berbanding 180 derajat.
Tetapi Karina tidak mau mengatakan salah satu metode lebih baik dari metode lainnya. Ia hanya menganggap, metode yang dipakainya sekarang adalah yang paling tepat untuk murid-murid di kelas 5-5.

Other Stories
Jaki & Centong Nasi Mamak

Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...

Ablasa

Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...

Ryan Si Pemulung

Ryan, remaja dari keluarga miskin, selalu merasa hidupnya terkunci dalam sebuah rumah reot ...

Kenangan Indah Bersama

tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...

Kating Modus!

Kisah seorang pemuda yang mengikuti organisasi internal di kampusnya. Ia diberi mandat ole ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Download Titik & Koma