Puzzle

Reads
2.4K
Votes
0
Parts
16
Vote
Report
Penulis Nindya M

Siswa Baru

Awal kelas 6 menjadi hari yang ditunggu-tunggu oleh anak-anak kelas 5 -5 yang kini naik kelas menjadi 6 – 3. Kabar baiknya lagi, wali kelas mereka sama, Karina. Ketika Karina masuk ke kelas, semua menyambut dengan tepuk tangan meriah.
“Selamat datang Bu guru!” Sambut anak-anak itu ceria.
“Hush, apaan sih, aku masih muda, jangan dipanggil ibu,” sergak Karina disertai tawa. “Kayak anak kelas 1 aja kalian salamnya.”
“Anggaplah mengenang masa-masa polos saat itu Kak,” timpal Leo.
“Oh ya, kalian bentar lagi naik ke jenjang Inferior ya.”
“Nah itu, benar Kak!” Timpal anak-anak kelas 6 -3.
“Nah, materi hari ini berhubungan dengan Inferior,” Karina mengeluarkan enam lembar kertas dari amplop dan membagikannya ke setiap anak.
“Kalian diberi waktu untuk mengisi blanko ini selama satu bulan, pertimbangkan dengan baik-baik karena ini akan menjadi pilihan seumur hidup kalian,” terang Karina. Blanko itu berisi daftar riwayat hidup, minat di bidang apa, dan pilihan untuk memutuskan masuk ke asrama apa. Ada tiga asrama di Inferior yang akan dilanjutkan terus sampai Principal. Dexerity untuk penyuka seni, Ingenious untuk peminat bidang matematika dan sains, serta Integrity untuk yang menyukai bidang sosial, hukum dan moral.
“Kalian bisa mengajakku berdiskusi kalau perlu,” tawar Karina.
“Aku daftar di list pertama ya,” Ucap Giselle sambil mengacungkan jarinya.
“Noted!”
4 jam berlalu dengan cepat. Karina keluar dari gedung Inferior dan Roy sudah menantinya di depan pintu.
“Hai,” sapa Roy.
“Hai Royale,” balas Karina.
“Tumben panggil Royale.”
“Biar beda, hahahaha.”
“Malam ini kosong? Mau ke kafe di bawah asrama?” tawar Roy to the point.
“Sepertinya ada bau traktiran.”
“Ya, bolehlah...”
“Oke, diterima, nanti malam kita minum kopi ya, bye!” Karina buru-buru menyebrang jalan karena ia takut tertinggal monorel.
“Di meja 3 ya!” imbuh Roy yang dibalas dengan lambaian tangan oleh Karina.
***
Kafe tidak terlalu ramai malam itu. Karina turun kebawah hanya mengenkan kaos dilapisi jaket bomber dan celana panjang. Ia terkejut ketika sampai di kafe Roy mengenakan setelah jas dan celana bahan yang tampak fancy.
“Roy, habis dari acara pernikahan anak Presiden?” Karina tampak bingung melihat penampilan Roy.
“Emm, ini,” Roy salah tingkah, sepertinya Karina tidak paham maksudnya mengajak ke kafe malam ini. Lagipula ini juga salahnya, harusnya mengajak ke restoran, bukan kafe. “Ya, anggaplah habis dari acara resmi.”
Mereka berdua mengobrol sampai agak larut, dua gelas machiato dan espresso sudah tandas, tetapi keduanya masih terlibat perbincangan yang seru. Sampai disuatu titik Roy membicarakan tentang kebijakan baru Sekolah Tri Dharma yang diterapkan di semester ini.
“Akan ada jalur siswa khusus untuk narapidana dibawah umur,” kata Roy, serius.
“Serius? Apa gak bahaya itu? Takut menyebarkan pengaruh tidak baik?”
“Entahlah, direktur sekolah ini setuju menjadi penampung siswa-siswi narapidana yang memiliki potensi untuk dikembangkan,” terang Roy. “Mungkin mereka kira kita bisa mengubah anak-anak itu.”
Karina pun peismis dengan keputusan tersebut. Resikonya sangat tinggi, anak itu yang akan berubah menjadi baik atau justru ia yang akan menebarkan pengaruh buruk. Ros, jika kau ada diposisiku sekarang, apa yang akan kau pikirkan saat ini?
Pikirannya menjadi tenang saat berusaha memposisikan bila Ros yang mendengar kabar tersebut. Ros pasti akan berkata, “Setiap anak mempunya potensi yang masih bisa dikembangkan, lagipula mereka menjadi penajaht bukan atas kemauan diri mereka, bisa saja tekanan dari lingkungan.”
Iya, bisa juga seperti itu. Batin Karina.
Sudah hampir pukul 10 malam dan kafe mau tutup. Karina dan Roy berpisah di lift dan kembali ke kamar meeka masing-masing.
****
Satu bulan penuh ia menerima konsultasi anak-anak didiknya terkait bidang yang diminati dan pemilihan asrama di Inferior. Ia bisa pulang sangat sore, karena murid-muridnya sangat antusias dengan jenjang mereka di Inferior yang akan lebih membahas ke kemampuan mereka nantinya.
“Kak Karina.” Leo mendecak kesal. “Orang tuaku memaksaku menjadi seorang engineer,” protesnya. “Aku tidak suka berurusan dengan mesin!”
“Kalau begitu, ikuti saja apa yang kamu sukai Leo.”
“Tetapi bagaiamana dengan orang tuaku? Bukankah mereka lebih berpengalaman makanya lebih tahu?” Leo tampak ragu, tapi jelas ia menunjukkan ketidaksukaan pada pilihan orang tuanya. Karina tidak mau Leo menderita sepanjang hidupnya atas pilihan sepihak orang tuanya.
“Leo, orang tuamu memang lebih berpengalaman darimu, tapi hidupmu dan cita-citamu, itu kamu yang menjalani.”
Leo terdiam sesaat, tetapi dari binar matanya, Karina tahu laki-laki itu menemukan solusinya.
“Terima kasih, Kak. Aku akan pertimbangkan sekali lagi berdasarkan konsultasi hari ini.”
“Yap, kembali kasih.”
Beberapa minggu berlalu, form sudah dikumpulkan dan diserahkan ke pusat pendidikan di Sekolah Tri Dharma. Karina menghirup udara segar pepohonan pinus dari taman depan kamarnya. Ia sudah merancang ke mana saja akan mengisi liburan semester nanti.
Tiba-tiba bel di kamarnya berbunyi. Karina membuka pintu dan terkejut melihat dua orang berseragam membawa surat tugas untuknya.
“Apa benar Anda saudari Karina Violetta?”
“Benar,” Karina merasakan ada yang tidak beres.
“Terimakasih, tolong ikut kami sebentar.”

Other Stories
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia

Menjelang pernikahan, Devi dan Dimas ditugaskan meliput 7 keajaiban dunia. Pertemuan Devi ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Absolute Point

Sebuah sudut pandang mahasiswa semester 13 diambang Drop Out yang terlalu malu menceritaka ...

Seoul Harem

Raka Aditya, pemuda tangguh dari Indonesia, memimpin keluarganya memulai hidup baru di gem ...

Deru Suara Kagum

Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...

Hanya Ibu

kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...

Download Titik & Koma