Persidangan
Sidang khusus tenaga pengajar. Dulu didalam badang Undang-Undang tidak ada aturan maupun sanksi khusus untuk tenaga pengajar, namun sejak dilantiknya Presiden yang terbaru, ia mengangkat seorang Menteri Pendidikan yang ketat, disiplin dan mempunyai idealisme yang kuat terhadap dunia pendidikan. Ambisinya yang kuat membuatnya menciptakan undang-undang baru yang mengatur tentang pendidikan, siswa dan tenaga pengajar.
Di dalam undang-undang tersebut, salah satu pasal memerintahkan tenaga pengajar yang terlibat masalah dengan orang tua/wali siswa atau siswa itu sendiri wajib mengikuti sidang tuntutan. Jika bersalah, tenaga pengajar tersebut akan menerima sanksi sesuai tingkat kesalahan yang ia perbuat.
Karina tidak pernah membayangkan dirinya akan memasuki ruang sidang tersebut. Aula ruang sidang tersebut luas, dengan deret bangku-bangku kayu panjang di bagian tengah sampai ke pintu. Ada sekat pembatas kayu sepinggang, lalu di bagian depannya ada sebuah kursi dengan mic di depannya. Di kanan-kirinya masing-masing ada meja besar panjang untuk para jaksa dan setingkat di hadapannya adalah meja panjang untuk para hakim.
Pelaksanaan sidang pada pagi hari itu tidak ramai. Hanya para orang tua siswa kelas 6-3, lima jaksa dari tim penggugat dan 2 jaksa dari tim tergugat.
“Hakim memasuki ruang sidang.”
Majelis Hakim memasuki ruang tersebut, ketua sidang –pria dengan rambut beruban dengan ekspresi tegas menduduki kursi di tengah. Selanjutnya Karina yang dipanggil untuk menduduki kursi terdakwa di hadapan para hakim.
Karina teringat sebulan yang lalu dua polisi datang ke kamarnya. Ia dibawa dan diperiksa atas laporan pelanggaran UU No 141 Profesi Tenaga Pengajar dimana para orang tua wali melaporkannya atas tuduhan ajakan melawan orang tua dan memberi pengaruh buruk ke siswa didik.
Setelah diusut, ternyata laporan itu datang dari orang tua Leo yang merasa kecewa karena anaknya lebih memilh menjadi pemain sepak bola ketimbang engineer. Kekecewaan itu berubah menjadi amarah karena Leo lebih memilih mendengarkan nasehat seorang guru seperti Karina ketimbang orang tuanya yang sudah lebih sukses.
“Kamu menghasut anak kami,” tuding ayah Leo saat kegiatan mediasi yang dilakukan oleh pihak tergugat dan penggugat saat itu. Karina saat itu dibela oleh pihak sekolah. Kepala sekolah Primary, Andrian yang saat itu dihadirkan dalam kegiatan mediasi.
“Saya membayar mahal untuk sekolah Anda dan ini hasilnya? Pembangkangan dari seorang anak?!” seru Ayah Leo. Pria itu berambut klimis, namun postur tubuhnya tegap dan mengenakan setelan jas yang mahal. Disampingnya duduk ibu Leo, seorang wanit berambut gelombang yang tampak jauh lebih muda dari usia aslinya karena rajin perawatan kulit.
“Anak kami sebelumnya tidak pernah membantah seperti ini! Semua karena pengaruh guru itu!” tunjuknya penuh kebencian.
“Ada yang harus saya luruskan di sini,” kata Andrian. “Sekolah Tri Dharma dibangun atas dasar untuk mengembangkan dan mengasah kemampuan seorang siswa berdasarkan minat dan bakat yang ia miliki.”
“Dan saya tekankan, anak itu sendiri yang memilih untuk menjadi apa di sekolah ini.”
Bukannya mereda, emosi kedua orang tua Leo semakin menjadi saat itu. Mereka menolak mediasi dan tidak menggubris himbauan damai sampai waktu yang ditentukan. Sehingga akhirnya berujung pada persidangan pembacaan gugatan yang sudah dilakukan dua minggu lalu. Seminggu kemudian, Karina dan tim tergugat memberikan jawaban atas gugatan tersebut. Merasa tidak puas, tim jaksa dari pihak penggugat pun akhirnya mendatangkan saksi pada kelanjutan sidang hari ini.
Ketua sidang membuka acara sidang, Ia membacakan laporan gugatan dari pihak tergugat lalu melanjutkan dengan membahas agenda sidang pada hari itu yaitu mendatangkan saksi dari pihak pemberi gugatan.
“Saksi yang akan didatangkan adalah Leo, siswa kelas 6-3 yang menjadi siswa didik Karina sekaligus putra dari penggugat Saudara Michael Lorent.”
Karina bangkit dari kursi, ia berbalik dan menemukan sosok Leo berjalan lemas melewati pintu sekat kayu.
Dari tatapan matanya Leo tampak merasa bersalah, namun Karina tersenyum, seakan berkata padanya bahwa semua akan baik-baik saja.
Leo duduk di kursi hadapan Majelis Hakim. Tubuhnya yang kecil nampak tertelan oleh kursi tersebut. Setelah mengucapkan sumpah jujur dalam memberikan kesaksian, Ketua Hakim mulai mengajukan pertanyaan ke Leo.
“Saudara Leo, benarkah terdakwa memaksa siswa-siswi di kelas 6-3 untuk membangkang dari perintah orang tua mereka?” tanya Ketua Sidang.
Leo terdiam sesaat sebelum meraih gagang mic, tatapannya nanar. “Benar.”
Para hadirin yang duduk di bangku belakang seketika saling berbisik, membuat suara gaduh yang memaksa Ketua Sidang menghantamkan kepala palunya ke meja.
“Hadirin harap tenang!”
Kegaduhan itu lenyap seketika. Karina menundukkan kepalanya. Ia tidak heran Leo berkata seperti itu, pasti orang tuanya yang meminta ia berkata demikian. Ia merising, menahan amarah, namun tidak bisa berbuat apa pun selama mendengarkan keterangan-keterangan palsu milik Leo.
“Kami dilarang untuk berkompetisi dengan siswa lain.”
Itu tidak benar!
“Kami lebih banyak menghabiskan waktu bermain di luar ketimbang belajar di dalam kelas, daya analisis kami menurun.”
Hentikan Leo!
“Kami ...,” suara Leo bergetar. Ia berhenti bicara. Selanjutnya yang terdengar dari sound adalah suara tangisannya.
“Kami dipaksa untuk berkata seperti ini oleh orang tua kami!” Leo bangkit dari kursi, ia melepas gagang mic, berbalik dan menatap marah ke bangku hadirin, menatap wajah kedua orang tuanya yang nampak glamour dan angkuh.
“Mereka memaksaku untuk memojokkan Kak Karina!” tunjuk Leo ke arah orang tuanya. Kedua wajah yang nampak selalu menjalani perawatan rutin itu kini terlihat salah tingkah.
“Leo, kamu bicara apa?” Desis sang Ibu, tampak berusaha tersenyum, namun kaku. “Kamu ini, kok malah bercan..”
“Saya tidak bercanda! Kak Karina adalah orang yang baik! Walau di awal dia begitu otoriter, tetapi dia mau mengakui kesalahannya, dia mau belajar bersama kami, dia memberi kami kebebasan untuk memilih, menentukan cita-cit...,”
Suara di sound system menghilang, seseorang memutus kabel tersebut agar Leo tak dapat melanjutkan kata-katanya. Ruangan sidang berubah menjadi gaduh. Namun Leo justru berlari kearah meja Majelis Hakim, ia berdiri didepan Ketua Sidang dan melanjutkan pembelaannya.
Ketua Sidang hendak memukulkan palu ke meja, tetapi tiba-tiba pintu ruang sidang terbuka, enam anak lain dari kelas 6-3 memaksa masuk kedalam. Kaki-kaki kecil itu berlari melewati bangku-bangku yang hanya diisi oleh orang-orang tua mereka, semua berkumpul di depan meja Majelis Hakim.
“Kak Karina tidak bersalah!”
“Jangan hukum dia Pak Hakim!”
“Orang tua kami lah penjahat sesungguhnya!”
Giselle, Angel, Malik, Brian, Suci dan Elis saling berebut bicara, membuat para Majelis Hakim pusing. Jaksa yang sedari tadi duduk akhirnya bangkit dari tempat masing-masing, mereka berusaha mengeluarkan anak-anak itu dari ruang sidang.
“Security!” teriak salah seorang jaksa. Petugas keamanan masuk berbondong-bondong ke dalam ruangan, mereka meraih tubuh-tubuh kecil itu dan menyeret mereka keluar.
“Jangan! Aku belum selesai bicara!” Elis menjatuhkan tubuhnya yang berat, petugas yang berniat membawanya keluar menjadi kewalahan. “Pak Hakim, jangan kalian terima uang dari orang tua kami yang licik!”
“Kami tidak terima Karina dihukum!” Seru Malik, mungkin itu adalah pertama kalinya ia mengeluarkan suara yang cukup keras, tetapi tenaganya tak sanggup melawan dua orang petugas keamanan yang mengangkat tubuhnya ke atas dengan mudah.
“Lepaskan!”
Angel menggigit tangan petugas kemanan itu, tetapi dua petugas lain segera datang mengepungnya.
Anak-anak itu dipaksa keluar. Orang-orang tua mereka melemparkan tatapan penuh kebencian kepada Karina. Namun, Karina tidak memerhatikan hawa permusuhan tersebut. Hatinya terasa penuh oleh rasa haru. Anak-anak itu, diluar dugaannya, diluar dugaan siapa pun orang dewasa yang saat itu berada di dalam ruang sidang, mereka memutuskan datang sendiri untuk membelanya. Membela seorang guru pengganti sepertinya.
Air matanya menetes di pipi. Sebelum pintu tertutup, ia sempat mendengar Angel menyerukan namanya.
“Kak Karina!”
Karina menoleh, melemparkan senyuman terbaiknya kepada Angel yang masih menatap ke arah ruang sidang sampai akhirnya pintu itu kembali tertutup rapat.
Other Stories
Setinggi Awan
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...
Pantaskah Aku Mencintainya?
Ika, seorang janda dengan putri pengidap kanker otak, terpaksa jadi kupu-kupu malam demi b ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
O
o ...
Cinta Bukan Ramalan Bintang
Valen sadar Narian tidak pernah menganggap dirinya lebih selain sahabat, setahun kedekat ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...