Puzzle

Reads
2.4K
Votes
0
Parts
16
Vote
Report
Penulis Nindya M

Epilog

Dua tahun kemudian.
Taman di Milenial City ramai oleh pengunjung di hari libur kala itu. Suara biola melantun merdu, memecah hiruk pikuk keramaian dan menarik sebagian besar perhatian pengunjung di taman. Mereka datang mengelili musisi dengan rambut gelombang yang diurai pajang itu. Permainannya sangat lembut merdu dan sesekali terdengar seperti melodi penuh kesedihan.
Ketika permaiannya berakhir tepuk tangan membahanan dan para pengunjung itu meletakkan uang-uang koin untuk si pemain biola. Angel tersenyum puas dengan hasil yang diperolehnya. Cukup banyak dan langusng ia berikan ke musisi jalanan lain di taman itu. Angel berasal dari keluarga yang berada, tentu dia melakukan pertunjukkan ditaman bukan berdasarkan desakan ekonomi tetapi untuk melatih mentalnya ketika bermain musik di tempat umum.
“Angel!”
“Giselle!”
Kedua sahabat yang sudah setahun tidak bertemu itu berlarian dan saling berpelukan. Meluapkan rasa rindu masing-maisng.
“Gimana sekolahmu di SMPN 1 Tunas Negeri?” tanya Angel pada Giselle.
“Hufh, gitu deh,” Giselle mengibaskan tangannya.
“Kenapa? Susah?”
“Aturannya banyak banget, tiap semester ada ujian, wah aku bisa gila kalau dari SD sekolah ditempat kayak gitu.”
“Hahaha, mau gimana lagi, kamu pindah sih, ya,” kata Angel. “Eh, yuk duduk disana.”
“Ayuk.”
Angel dan Giselle duduk disalah satu bangku taman. Keduanya mengobrol membicarakan nasib teman-teman yang lain.
“Malik juara olimpiade internasional lho, dia juga menyabet banyak kemenangan di kejuaraan catur,” cerita Angel. “Hah, tuh tokek, kerjaan tidur tapi otaknya encer banget.”
“Hahaha.. ya tapi coba kamu suruh dia main piano, dia bahkan gak tau simbol not balok lho.”
“Not angka aja bingung dia.”
Mereka berdua tertawa lagi.
“Elis gimana?” tanya Giselle.
“Oh, aku dan Elis masuk Dexterity,” ujar Angel. “Dexterity itu penggolongan khusus di bidang seni, bedanya Elis seni kuliner, aku seni musik.”
“Wauw, keren ya, andai aku bisa lanjut di Sekolah itu.”
“Ya mau bagaimana lagi, orang tua kita memang lebih berkuasa dari kita.”
Keduanya tiba-tiba terjebak dalam diam yang cukup panjang.
“Kabar yang lain gimana? Suci, Brian dan Leo?”
“Suci masuk di Integrity, tempat untuk orang-orang yang ingin fokus mempelajari moral masyarakat, hukum, dan lain-lain, aduh itu materi yang berat buatku, haha.”
“Mungkin pengaruh masa kecilnya juga ya?”
“Iya, mungkin juga sih.”
“Kalau Leo dan Brian, gimana?”
“Brian di Ingenious, bidang IT. Kalau, Leo bukannya pindah ke sekolah negeri juga?”
“Oh, iya? Kukira aku doang, berarti aku dan Leo ya yang lanjut ke sekolah negeri,” Giselle baru teringat.
“Kalau Malik, dia di Igenious, tempat para calon saintis –menurutku, haha,” kata Angel.
“Salam dari aku ya kalau ketemu sama mereka.”
“Iya, pasti!”
Keduanya terjebak lagi dalam keheningan. Giselle sebenarnya ingin menanyakan sesuatu, tetapi ia merasa tidak enak jika membuka topik itu, tetapi ia penasaran.
“Kamu pernah mendengar kabar tentangnya?”
Giselle tersentak kaget. “Siapa?”
“Karina.”
Raut wajah Giselle berubah sedih, ia menggeleng lemah.
“Sama, aku pun tidak mendapatkan kabar apa pun tentangnya.”
Mata Angel menatap langit, perlahan kilas balik kejadian menyakitkan itu berputar di kepalanya.
Tepatnya ketika mereka naik ke kelas 6, Sekolah Tri Dharma membuka jalur yang kontroversial, yaitu memasukkan narapidana di bawah umur sebagai siswa di sana yang tentunya seleksi dengan sangat ketat. Keputusan kontroversial itu mematik perdebatan dimana-mana. Saat itu, masuk seorang siswi baru dikelas mereka, dia adalah mantan narapidana dibawah umur. Seperti biasanya, Karina berusaha keras bersosialiasi dengan anak baru itu.
Di saat bersamaan, itu adalah waktu bagi kami untuk menentukan ilmu studi yang akan difokuskan ketika berada di jenjang Inferior atau setara dengan SMP jika di sekolah negeri. Orang tua kami sudah menentukan kami harus menjadi apa sejak dari kecil. Seperti ayah Angel yang memaksanya untuk menjadi seorang dokter, seperti dirinya. Maka, Angel dipaksa untuk masuk Igenious, kelompok berisi murid-murid dengan bakat dan minat di bidang sainitis dan logika matematika.
Angel menolak karena keinginannya adalah menjadi musisi. Ia memberontak perintah orang tuanya, terlebih Karina selalu menyemangatinya dan memberikan dukungan agar mengikuti pilihan hatinya, bukan hati orang lain.
Saat itu, sebagian besar anak-anak di kelas 5-5 memilih profesi impian dan jalur yang tidak sesuai dengan harapan orang tuanya. Akibatnya, para orang tua marah dan menuntut wali kelas mereka, Karina yang dianggap mencemarkan ajaran dan hasutan yang bisa mendegradasi masa depan anak-anak mereka.
Akibat laporan tersebut, Karina terpaksa mengikuti persidangan khusus profesi akademisi. persidangan yang khusus diciptakan untuk menyelesaikan perkara-perkara berbau akademisi. Karina kekurangan saksi, bahkan sampai Angel dan kawan-kawannya mengajukan diri sebagai saksi. Tetapi ketika mereka mulai bicara, orang tua mereka marah-marah di bangku belakang.
Akhir dari keputusan sidang pun keluar. Karina dibebaskan tugaskan dari profesinya sebagai guru dan ia dikeluarkan dari Sekolah Tri Dharma. Tentu, ia dikeluarkan bukan atas dasar keinginan kepala sekolah, tetapi karena itu adalah salah satu tuntutan penggugat.
Sejak saat itu, Karina meninggalkan Milenial City dan kabarnya tak pernah lagi terdengar. Sementara, karena pemberontakan yang dilakukan oleh Giselle dan Leo, mereka berdua di pindahkan di sekolah negeri, dimana mereka tidak bisa sebebas ketika berada, di Sekolah Tri Dharma. Orang tua mereka berpikir, dengan dipindahkan kedalam negeri Giselle dan Leo tidak punya pilihan selain masuk IPA, memperoleh nilai akademik yang baik di bidang sains lalu masuk di universitas terkenal.
“Menyedihkan ya,” ungkap Angel tiba-tiba sambil memejamkan matanya. Ia lelah memikirkan masa-masa gelap itu.
“Apanya?”
“Kita.” Angel menghela nafas. “Tetapi jadi budak-budak standarisasi akademik.”
“Kalian masih punya banyak pilihan,” hibur Giselle.
“Kamu juga masih,” balas Angel.
“Oh, begitu.”
Tiba-tiba terdengar klakson mobil dari belakang mereka. Angel dan Giselle menoleh ke belakang.
“Supirku sudah datang,” Giselle mengenakan kembali tasnya. “Bye Angel!”
“Bye Giselle.”
Mereka berdua berpelukan sebentar, lalu setelah itu Giselle naik ke mobilnya. Angel baru meninggalkan tamans setelah Giselle menghilang dari pandangan. Di tengah langkahnya, ia memainkan biola sambil mengenang pinggir jalan di taman 2 tahun yang lalu saat Karina menemuinya di depan air mancur.
“Aku harap kamu baik-baik saja, Karina.”

Other Stories
Melinda Dan Dunianya Yang Hilang

Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...

Diary Anak Pertama

Sejak ibunya meninggal saat usianya baru menginjak delapan tahun, Alira harus mengurus adi ...

Dante Fairy Tale

“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita ge ...

After Honeymoon

Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...

Sweet Haunt

Di sebuah rumah kos tua penuh mitos, seorang mahasiswi pendiam tanpa sengaja berbagi kamar ...

Pesan Dari Hati

Riri hanya ingin kejujuran. Melihat Jo dan Sara masih mesra meski katanya sudah putus, ia ...

Download Titik & Koma