End Credit
Di sudut peta kepulauan Indonesia, terdapat sebuah pulau kecil yang dulu tak bernama, namun beberapa tahun kebelakang pemerintah memberinya nama Pulau Kulit. Nama tersebut diberikan karena para penduduk yang di transmigrasi ke pulau tersebut akhirnya berprofesi sebagai penyamak kulit dan peternak yang mengelola industri olahan kulit hewan ternak seperti sapi dan domba.
Di pulau yang tak melebihi luas Pulau Seliu tersebut terdapat desa dengan jumlah penduduk tak sampai 1000 jiwa. Ada tiga bangunan yang diperuntukkan untuk sekolah, namun sangat sederhana. Ironisnya, tidak ada tenaga pengajar profesional di pulau tersebut. Hanya masyarakat setempat yang pernah berpergian ke Sumatra atau Jawa yang akhirnya ditunjuk sebagai tenaga pengajar disana.
Tidak heran sebagian besar masyarakat disana tidak bisa baca tulis. Selain itu, akses yang sulit hanya dengan kapal dagang yang berangkat sebulan sekali, orang luar maupun dalam dapat menumpang untuk keluar atau masuk kedalam pulau.
Namun tentu di balik segala kekurangan infrastruktur dan aksesnya, pulau tersebut memiliki keindahan yang luar biasa. Bukit-bukit hijau yang menjadi lokasi masyarakat mendirikan tempat menjemur pakaian dengan pondasi kayu-kayu kecil. Rumah-rumah yang terbuat dari batu bata dan atap jerami, begitu rapat antar satu rumah dengan rumah lainnya. Lalu di pantai terdapat pelabuhan kecil yang dibangun berdasarkan fondasi kayu-kayu yang tiangnya nampak diselimuti kerang laut.
Namun gradasi warna di pantai sampai laut lepas sangat memikat. Lapisan hutan bakau, lalu pasir putih yang hangat dan lembut ketika diinjak oleh telanjang kaki, debur ombak yang jika dilihat dari ketinggian nampak menimbulkan tiga gradasi warna yang cantik, yaitu hijau, biru muda dan biru tua yang menandakan kawasan laut lepas yang dalam.
Di dekat pantai itulah ada bangunan sekolah dasar berdiri. Anak-anak yang mengenakan seragam tidak lengkap berlarian di sepanjang pantai. Jam istirahat di belahan nusantara mana pun memang selalu menjadi jam terfavorit para siswa.
Karina tersenyum kecil memandang mereka. ia duduk di atas akar tunggang yang besar sembari mengamati siswa-siswi didiknya bermain dengan riang tertimpa siraman matahari. Tatapan matanya berubah sedih karena ia teringat dengan anak-anak didiknya di sekolah Tri Dharma terdahulu.
Ia tidak tahu bagaimana kabar mereka sekarang, apakah semuanya berhasil memenuhi jalan mimpinya masing-masing atau justru akhirnya mengikuti kemauan orang tua mereka. Apa pun hasilnya, Karina hanya mampu mendoakan yang paling bisa membuat mereka bahagia.
“Anak-anak itu tampak semangat sekali,” ujar seorang pria yang mengagetkan Karina. Pria tidak terlalu tinggi, cenderung bantet dengan kumis putih menutupi bibir atasnya. Rambutnya juga nampak sudah memutih.
Pria itu melepas kacamatanya dan meminta izin duduk di sebelah Karina.
“Silakan,” kata Karina sambil menggeser posisi duduknya.
“Sudah dua tahun ya sejak persidangan itu,” kata pria itu, mengagetkan Karina lagi.
“Darimana anda tahu?”
“Saya minta maaf karena tidak hadir pada sidang itu,” kata pria itu sambil mengulurkan tangannya. Karina tidak mengerti, tetapi ia tetap membalas uluran tangan tersebut.
“Tidak apa-apa toh saya bisa melarikan diri ke sini.”
“Saya punya kenalan kepala sekolah di sini, sekolah di sini tidak diperhatikan oleh pemerintah, data tenaga pendidikannya pun tidak ada,” kata pria itu. “Jadi saya dulu yang meminta Andrian mengirimkan tiket itu ke emailmu.”
“Bapak?”
Karina memandang tak percaya. Memang benar, pasca pembacaan hasil putusan sidang yang membuatnya tidak memiliki hak untuk mengajar lagi, ia menerima sebuah email berisi tiket pesawat dari Andrian. Andrian bilang, itu adalah pemberian untuk menyelamatkan karirnya.
Karina menurut saja, toh ia percaya pada mantan kepala sekolahnya itu. Dan sesampainya di Pulau Kulit, ia sudah dinantikan oleh kepala desa dan kepala sekolah di pulau tersebut. Mereka meminta Karina untuk menjadi pengajar di sekolah dasar dan menengah di pulau tersebut.
Tentu Karina tidak menolak kesempatan tersebut. Ia masih bisa mengajar dan terlebih lagi, tidak ada seorang pun yang mengusiknya di pulau tersebut. Ia bisa lari dari kejaran media, bahkan pemerintah tidak bisa mendeteksi keberadaannya.
Tetapi pria yang kini muncul di hadapannya. Siapa dia? Kenapa dia tahu tentangnya? Terlebih, pria itu yang memberikannya kesempatan mengajar di Pulau Kulit?
“Karina,” panggilan pria itu membuyarkan lamunan Karina.
“Ya?”
“Walau pun ragamu meninggalkan sekolah itu, tetapi semangat dan tekadmu masih tertanam di anak-anak didikmu,” ujarnya sambil tersenyum.
Karina terenyuh mendengar kalimat tersebut. Ia tersenyum dan mengangguk.
“Saya pun yakin akan hal tersebut.”
Teng.. Teng.. Teng.. bunyi bel yang berasal dari pukulan lonceng besi. Karina bangkit, ia menatap pria itu dan izin pamit untuk kembali ke kelas.
“Saya harus mengajar dulu,” katanya.
Pria itu mengangguk.
“Good luck.”
Karina tersenyum. Namun ketika ia hendak meninggalkan pria tersebut, ia berbalik arah.
“Maaf, kalau boleh saya tahu, Bapak siapa dan kenapa mau menolong saya?” Karina menatapnya, penasaran. Pria itu tersenyum simpul.
“Nama saya Argus, saya kepala yayasan Tri dharma.”
Tamat
Other Stories
Keeper Of Destiny
Kim Rangga Pradipta Sutisna, anak dari ayah Korea dan ibu Sunda, tumbuh di Bandung dengan ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...
Suffer Alone In Emptiness
Shiona Prameswari, siswi pendiam kelas XI IPA 3, tampak polos dan penyendiri. Namun tiap p ...
Pada Langit Yang Tak Berbintang
Langit memendam cinta pada Kirana, sahabatnya, tapi justru membantu Kirana berpacaran deng ...
Wajah Tak Dikenal
Ketika Mahesa mengungkapkan bahwa ia mengidap prosopagnosia, ketidakmampuan mengenali waja ...
Flower From Heaven
Setelah lulus SMA, Sekar Arum tidak melanjutkan kuliah seperti dua saudara kembarnya, Dyah ...