Rumah Itu ...
Kadang, rumah itu tidak pernah benar-benar menjadi rumah. Ia berdiri bersama genteng yang tak pernah sepenuhnya utuh, dinding rapuhnya mulai mengelupas seperti ingatan yang dipaksa bertahan, dan jendela yang kerap tertutup karena adanya cahaya hanya akan mengungkap hal-hal yang lebih baik tetap dalam gelap. Seperti mengetuk pintu dan membaur bersama saja tak cukup layak untuk disebut tempat pulang.
Ada aroma lama yang tak pernah pergi dari ruang tengah, mungkin sisa-sisa masakan yang tak pernah dimakan bersama, atau jejak amarah yang tertinggal entah dari kapan dan dari mana asal muaranya. Di dapur, ibu selalu sibuk. Bukan sibuk seperti yang ada di iklan keluarga bahagia. Bukan dengan senyum atau cerita tentang hari ini. Bukan. Ia menyibukkan diri agar tak perlu bicara, agar tak perlu mendengar. Di lain tempat, sang kepala keluarga hanya pulang ketika gelap datang, lalu kembali pergi saat mentari belum sepenuhnya terbit terang. Seolah, rumah hanya untuk tidur dan melepas penat, melupakan ada sisa-sisa suara dan menjadi bingkisan abstrak seperti cerita rakyat. Mungkin saja dalih bekerja itu benar. Sisanya, tak ada yang benar-benar tetap tinggal bersama.
Raina tidak pernah belajar tentang cara mencintai rumah. Ia hanya tahu cara bertahan di dalamnya. Ia hanya sibuk dengan tutorial membebat luka di sekujur tubuhnya, meski orang-orang dewasa itu tak pernah mengajarkannya. Sejak kecil, rumah adalah tempat yang membuatnya merasa paling sendiri, meski di dalamnya ada orang-orang ramai. Ironi sekali.
Namun, begitulah kenyataannya. Kadang, sepi justru tumbuh paling subur di tempat yang penuh suara.
Malam-malam dalam rumah itu terasa mencekam. Melewati jam tidur dengan jantung yang berdebar karena suara piring pecah, atau karena ayah belum pulang dan ibu sudah mulai mendidih. Pernah suatu malam, Raina mendengar ibunya berteriak pada bayang-bayang. Pada suara telepon yang ditutup terlalu cepat. Pada baju yang berbau asing. Dan ia tahu, tanpa benar-benar tahu, bahwa sesuatu telah retak dan tak akan pernah utuh lagi.
Akan tetapi, anak mana yang boleh bicara soal keretakan? Anak hanya disuruh mengerti. Hanya disuruh berdiam diri. Hanya disuruh jadi baik, meski tak ada yang pernah benar-benar memberitahu baik menurut siapa?
Raina belajar menyimpan sendiri segalanya. Luka, marah, bingung. Ia menjahit semua itu menjadi senyuman. Karena anak baik, katanya, adalah anak yang tidak menyusahkan.
Kalau rumah adalah tempat pulang, maka di mana tempat untuk anak yang tak pernah merasa diterima?
Raina pernah duduk berjam-jam di bawah meja makan, hanya karena di sanalah satu-satunya tempat di mana semua orang tak memperhatikan. Bukan karena tempat itu nyaman, tetapi karena setidaknya di situ, ia tak harus berpura-pura ada. Dinding rumah itu terlalu pandai menyimpan rahasia. Mereka menjadi saksi saat Raina ingin lari, tetapi kakinya masih terlalu dini untuk mengambil langkah secepat kuda besi. Raina sangsi bahwa tubuhnya akan tak gentar karena ibu akan menyalahkan sesuatu lagi padanya. Tak ada yang bisa ia ceritakan. Karena siapa yang percaya kalau rumah bisa menyakiti tanpa menyentuh? Siapa yang akan percaya bahwa utuh tak boleh rapuh?
Kini, jika ditanya apa arti rumah, Raina tak punya jawaban pasti. Apakah rumah itu tempat tinggal? Atau tempat di mana hati bisa beristirahat?
Apakah rumah itu ayah dan ibu yang utuh? Jika begitu, utuh seperti apa kalau hanya tampil di depan orang lain? Apakah rumah itu sekadar bangunan? Tapi, mengapa bangunan ini membuat dadanya sesak?
Barangkali, bagi sebagian orang, rumah adalah tempat yang dirindukan. Tempat untuk kembali. Bagi Raina, rumah adalah tempat yang ditinggalkan dengan lega. Hanya dipikirkan kembali dengan tangis yang ditahan. Sebab rumah itu ... bukan tempat pulang. Rumah itu adalah luka yang diberi nama keluarga.
Meski tubuhnya sekarang telah besar, meski jaraknya dengan rumah itu kini bisa diukur dalam kilometer, ada bagian dalam dirinya yang tetap tertinggal di sana. Bagian kecil dari Raina, yang masih berdiri di pojok tangga, menunggu dipeluk, menunggu dimengerti, menunggu ditanya, "Raina kenapa?"
Akhirnya, suara itu tak pernah datang. Sejak saat itu, ia tahu bahwa tempat pulang tak pernah ada. Hanya tempat-tempat yang ia singgahi, berharap suatu hari nanti, salah satunya bisa disebut rumah. Bukan karena bangunannya, tapi karena hatinya tak lagi takut untuk tinggal.
Rumah tidak selalu berupa tempat. Kadang, rumah adalah seseorang yang tahu bagaimana caranya mendekapmu dengan hangat, bahkan saat kau tak tahu sedang terluka hebat.
Other Stories
Titik Nol
Gunung purba bernama Gunung Ardhana konon menyimpan Titik Nol, sebuah lokasi mistis di man ...
Kesempurnaan Cintamu
Mungkin ini terakhir kali aku menggoreskan pena Sebab setelah ini aku akan menggoreskan p ...
Cahaya Dalam Ketidakmungkinan
Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...
Nina Bobo ( Halusinada )
JAM DINDING menunjukkan pukul 12 lewat. Nina kini terlihat tidur sendiri. Suasana sunyi. S ...
Mozarela Bukan Cinderella
Moza, sejak bayi dirawat di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu oleh Bu Kezia, baru boleh diadops ...
Langit Ungu
Cerita tentang Oc dari Penulis. karakter utama - Moon Light "Hidup cuma sekali? Lalu be ...