Bab 1 - Anak Hanya Dilahirkan, Bukan Diterima, 'kan?
Suara pecahan beling dari dapur membuat langkah Raina terhenti. Gema itu memantul di ambang kamarnya yang kosong, menusuk telinga lebih keras daripada seharusnya. Rumah ini lengang. Sunyi. Padahal, ia sedang berada di lantai dua. Namun, ia tidak kaget. Ia sudah terlalu sering mendengar suara-suara semacam itu. Suara yang menandai betapa rapuhnya rumah itu, sama seperti hatinya.
Gadis itu ingat betul ketika tiba tadi, bangunan berluaskan enam kali dua belas meter persegi tersebut terlihat sangat sepi. Tidak ada orang sekalipun.
"Atau kucingnya Kak Aska kali?" tanyanya entah kepada angin.
Tubuhnya cukup pegal usai berjalan hampir dua kilo sembari menuntun sepeda pancalnya yang tiba-tiba saja bannya meletus di tengah jalan.
"Tapi ... gak mungkin kucing Kak Aska. Kan, Molly baru meninggal dua minggu lalu."
Raina kembali beranjak dari kasur. Membiarkan seragam abu-abu putihnya masih melekat di tubuh lengkap bersama cardigan yang menutupinya. Ia bahkan tidak sempat untuk melepas kaus kaki.
Begitu sampai di dapur, netranya mengerling. Embusan napasnya menguar kasar, tanda bahwa ia benar-benar terkejut melihat pemandangan di depannya. Ada gelas bening dan mangkuk kecil berceceran di bawah, sedangkan seseorang lebih muda tengah memungutinya satu persatu disertai dengan dumelan dari bibirnya.
"Kamu ngapain sih, Nya?" tanya Raina kesal. Ia menarik lengan adiknya untuk bangkit, lantas mengambil alih pecahan-pecahan beling yang ada di tangan si kecil. Meski tangannya sedikit gemetar saat mengumpulkan serpihan beling, tapi ia menahan napas. Menelan kesal dalam dadanya, serta mengubahnya menjadi senyum tipis agar Naya tidak ikut menangis.
Si Adik terlihat mendesah kasar. "Laper, Mbak. Mau goreng telur sama masak mie, tapi mangkuk adonan telurnya gak sengaja kesenggol."
"Tadi Mbak pulang udah salam kenceng banget nggak ada tuh jawaban," jawab Raina. "Ibu ke mana? Nggak masak?"
Yang ditanya menggeleng pelan. "Tadi cuma ninggalin uang lima ribu aja. Ya udah aku buat beli mie sama telur satu di warung."
“Kan, bisa panggil Mbak dulu,” ujar Raina. Padahal ia sendiri tak pernah bisa memanggil Ibunya. Seolah Ibu selalu punya alasan untuk tak ada di rumah. "Kamu masih kecil. Jangan main nyalain kompor sembarangan! Kalau ada apa-apa gimana? Harusnya kamu beli aja mie yang udah dimasak, kan, bisa."
Saat Raina seusia Naya, ia rasa semua pekerjaan bisa dilakukannya asal. Yang penting tidak berakhir kacau saja.
"Iya, iya." Naya akhirnya meninggalkan sang kakak di dapur. Membiarkan si sulung membereskan kekacauan yang sudah dia buat sendiri.
"Gak usah ngambek. Ambil dompet Mbak di tas sekolah paling depan, cepet!" kata Raina sedikit berteriak.
Raina masih sibuk menyapu bekas pecahan gelas dan mangkuk di sana, memastikan bahwa tidak ada sisa-sisa pecahan kaca yang membahayakan orang lain. Beruntung ia cepat sadar, jika tidak, apa jadi nasib Naya nantinya.
Tidak lama kemudiaan, Naya datang membawa dompet kecil berwarna biru dengan hiasan bunga matahari. Raina pun menerima dengan satu tangan, sebab tangan lainnya masih memegang benda kaca. Ia mengeluarkan selembar kertas berwarna hijau, lalu mencari sobekan kertas yang ada di lemari atas.
"Beli tahu, tempe, sama kangkung tiga ikat. Kalau ada ikan teri, beli aja yang bungkusan kecil. Sama saus tiramnya satu bungkus, jangan lupa! Kalau uangnya kurang, nanti bilang ke Bude Asih kasbon dulu, besok Mbak Ina yang bayar pagi-pagi," jelas Raina panjang lebar setelah membuang sampah kaca ke tempatnya. "Buruan ke warung! Nanti keburu tutup Bude Asihnya. Udah Mbak catet di situ, jangan sampai kelupaan!"
Naya mengangguk paham. Ia menerima uang dari sang kakak, lantas bergegas keluar.
"Diinget-inget! Jangan sampai ada yang kelupaan!" Raina berteriak sekali lagi.
Punggung adik kecilnya sudah tak lagi dapat Raina lihat. Usianya dengan Naya hanya terpaut lima tahun, tapi Raina rasa seperti sedang mengasuh bayi toddler yang ada aja eksperimennya.
Belum lama ini pun, adiknya baru saja hampir membuat dapur kebakaran jika hari itu Aska tidak menyelinap ke rumahnya. Adiknya memang kerap ditinggal di rumah seorang diri. Pasalnya sang ayah dan ibu mereka bekerja masing-masing. Keduanya akan pulang ketika hari sudah gelap. Biasanya, anak itu diminta untuk pulang ke rumah sang nenek usai sekolah atau kalau tidak, ke rumah budenya yang berada di ujung gang. Entah, apa yang ada di pikiran Naya sehingga belakangan ini anak itu justru pulang ke rumah.
Raina menjatuhkan tubuhnya di kursi kayu yang dingin. Matanya menyapu seisi dapur. Lantai di sana penuh jejak langkah, meja yang masih berantakan, dan aroma gosong tipis dari sisa minyak yang tak sempat dibersihkan. Ia meraih teko di atas meja, berharap setidaknya ada sedikit air untuk menenangkan tenggorokannya yang kering. Namun, teko itu begitu ringan, seolah menertawakan harapannya. Saat penutupnya dibuka, kosong didapatinya. Hampa. Sama seperti rumah ini ketika orang tuanya sibuk di luar. Sama seperti meja makan ini—selalu ada piring, tapi tak pernah ada tawa.
“Pantes aja Naya rewel … bahkan segelas air pun nggak ada,” gumamnya sendiri.
Diusaknya rambut panjang tersebut kasar, lantas Raina tatap jam dinding yang menempel di sudut dapur menunjukkan pukul setengah tiga lewat lima belas menit. Ia pun memutuskan untuk memasak air, sembari mencoba menelepon sang ibu. Hingga panggilan ketiga, nada yang tersambung tak kunjung mendapat balasan. Raina berujung kesal.
Baru saja akan mengantongi ponselnya, sebuah telepon masuk. Buru-buru Raina angkat.
"Ibu kenapa nggak anter Naya ke rumah nenek aja? Kan, kasihan kalau di rumah sendiri. Untung tadi aku pulang cepet, coba kalau enggak. Naya barusan mecahin mangkuk sama gelas lagi di dapur. Emang Ibu ambil tambahan shift lagi?" sembur Raina pada sang ibu.
"Ibu udah bujuk adikmu buat ke rumah nenek, tapi gak mau. Ibu juga gak sempet masak apa-apa tadi pagi abis nyiapin bekal kalian. Kamu masak, ya, sore ini? Pake uang kamu dulu, soalnya sayur di kulkas juga abis. Terserah masak apa. Ibu hari ini lembur di pabrik, gak tahu kalau ayahmu," jelas Ibu dari seberang. "Ibu titip Naya, Mbak.
Terdengar di telinga Raina bahwa ibunya tengah benar-benar sibuk di sana. Ia juga sempat mendengar teriakan-teriakan rekan kerja sang ibu yang meminta untuk tidak bermain gadget terlalu lama.
"Udah, ya. Ibu tutup telponnya. Titip adikmu, Mbak."
Entah sudah keberapa kalimat tersebut selalu Raina dengar.
Titip. Selalu titip. Apakah ia sudah beralih profesi dari anak menjadi tempat penitipan?
"Ibu kerja juga buat kalian semua." Ibu menyambung kalimatnya, setelah itu telepon terputus.
Gadis itu terdiam sembari menatap layar ponselnya yang sudah berubah hitam. Kalau benar semua ini untuk mereka, kenapa rasanya ia justru tak pernah cukup?
Lamunan Raina buyar tepat saat air di atas kompor mendidih dan nyaris tumpah ruah. Maka tanpa peduli ia segera angkat panci tanpa mematikan apinya.
"Dimatiin dulu kompornya, Bocil," kata Aska panik. Entah sejak kapan lelaki itu sampai di dapur, Raina tidak tahu.
"Panik, Kak. Mana tahu," jawabnya pelan sembari meniup tangannya yang memerah usai mengangkat panci tanpa bantuan apa-apa. "Nyelinap lewat mana tadi? Kok gak ada suaranya sama sekali. Lama-lama kayak Molly."
"Tadi pas mandi denger ada suara pecahan gitu kenceng banget. Kakak kira paklik sama bulik berantem lagi," jelas Aska sembari menatap rumah minimalis nan sepi tersebut. "Jadi, panik terus langsung ke sini. Ada apa?"
"Biasa. Toddler lagi eksperimen." Raina melepas cardigannya, lantas menyampirkan di kursi. Ia mengambil beberapa bumbu dapur yang ada di atas lemari, lantas mengeluarkan satu persatu.
"Emang berulah apalagi si Naya?" tanya Aska. Ia turut menarik kursi di seberang, lantas mengambil pisau dan membantu Raina mengupas perbawangan.
"Laper anaknya, tapi gak ada masakan apa-apa di rumah. Cuma ada nasi doang. Lucunya lagi dia gak mau beli mie yang udah masak dan malah mau masak sendiri. Ya udah, namanya juga anak kecil, jadi berantakan. Aku juga gak ngeh tadi kalau ada anaknya di dapur. Kayaknya dia pulang pas aku udah di kamar deh, jadi gak saling tahu." Raina menarik piring bersih digunakan untuk mewadahi perbumbuan yang sudah ia kupas. "Kakak juga kok udah di rumah aja jam segini? Emang gak ada kegiatan lagi di kampus? Biasanya aja sampe pagi."
Aska menggeleng. "Emang gak boleh libur? Capek kali rapat terus."
Raina hanya ber-oh ria saja.
"Sepedamu gak ada. Tadi pulang naik apa?"
"Bannya bocor di jalan. Tadi jalan---"
"Ada HP, bisa telpon Kakak. Kenapa enggak telpon?"
Raina menghela napas panjang. "Jangan suka motong pembicaraan orang deh, Kak. Belum selesai juga."
Aska tertawa kecil. Ia menganggukkan kepala sembari mengucap maaf. Ia hanya panik saja, mengingat jarak sekolah ke rumah Raina hampir 10 kilometer. Ia was-was jika anak itu jalan kaki dari rumah ke sekolah. Raina hanya mampu tersenyum, tapi hanya sebentar. Tawa itu mengingatkannya betapa jarang ia mendengar suara sehangat itu dari ruang tamu rumahnya sendiri.
"Dianter temen pas di tengah jalan. Udah dibawa ke bengkel juga. Besok pagi kayaknya jadi, soalnya pas ke sana orangnya udah mau tutup. Jadi, gak bisa deh langsung dibawa pulang."
"Siapa?" tanya Aska sekali lagi.
"Ada. Temen. Kakak gak kenal."
Aska mengalah, ia hanya mengangguk saja. "Besok berangkat bareng Kakak aja. Kakak ada kelas pagi."
"Tapi, kampus Kakak nggak searah. Aku naik angkot aja," jawab Raina.
"Naik motor kan cepet, Rai. Gak akan telat."
Baru akan menjawab, kedatangan Naya dengan suara heboh membuat Raina kembali kesal. Pasalnya, jam lima nanti ia harus berangkat ke tempat les untuk membantu mengajar, tapi ia harus mendekam lebih lama karena harus masak terlebih dulu. Ia langsung sigap menerima belanjaan dari Naya dan membiarkan sang adik bermain dengan Aska selagi ia memasak.
Askara Saka Gumilar. Lelaki yang tahun ini menginjakkan kepala dua dan tengah duduk di bangku semester empat jurusan ilmu komunikasi. Rumahnya memang bersebelahan dengan rumah Raina. Sejak kecil, keduanya sudah sangat dekat, bahkan para tetangganya sudah menganggap keduanya seperti saudara sedarah. Raina kecil yang selalu menjadi anak ayam yang mengikuti induknya ke mana-mana, begitu pun dengan Aska yang tidak pernah absen meninggalkan adik kecilnya, walau keduanya terpisah oleh pendidikan yang cukup jauh.
Raina anak sulung, sedang Aska tunggal. Keduanya seperti ditakdirkan bertemu serta mengisi tempat satu sama lain. Aska memang memiliki kedua orang tua lengkap, pun dengan kondisi ekonomi cukup, ditambah keluarganya terbilang harmonis. Sayangnya, di dunia ini tidak ada kata sempurna. Itulah kondisi Aska.
Meski semua kebutuhan terpenuhi, Aska merasakan sepi yang teramat di hati. Ia di rumah sebesar itu hanya tinggal seorang diri. Memang ada pekerja suruhan mama-papanya yang khusus dikirimkan oleh mereka untuk membantu membersihkan rumah, serta memasak untuk Aska. Namun, ia kadang juga masih melakukannya sendiri. Keberadaan Raina sering mengisi hari-harinya yang sepi.
Sebaliknya, Raina utuh. Ibunya ada, ayah pun juga, ditambah dengan kehadiran Naya yang membawa ceria. Sayangnya, Raina cukup sulit untuk mengatakan bahwa semua itu hanya topeng belaka. Ia masih sering merasa sepi dan sendiri. Beruntung ia dipertemukan dengan sosok Askara yang sudah seperti kakaknya sendiri.
Aska sering mampir di rumah Raina, bahkan untuk sarapan ataupun makan malam. Ibu dan ayahnya akan dengan senang hati mengundang Aska apabila mereka tengah berkumpul bersama. Kehadiran Aska seolah menjadi sulung di rumahnya, padahal Raina terlahir menjadi anak pertama.
"Ngelamun aja. Gosong tuh tahunya," ucap Aska mengejutkan. Raina buru-buru membalik tahunya dan mendumel kecil sebab masakannya sedikit gosong. "Ke tempat les jam berapa?"
"Jam empat harusnya, tapi aku tadi izin ke Pak Iqbal buat gantian sama Mbak Irkha. Jadi jam setengah lima baru mulai," jawab Raina.
Aska manggut-manggut. Lantas mengambil alih pekerjaan Raina. "Mandi, gih! Udah mau jam empat. Tinggal goreng tempe doang, biar Kakak aja. Nanti Kakak anter, sekalian mau ngajak jalan-jalan Naya biar gak bosen di rumah."
"Tinggal dikit, elah, Kak. Aku aja," jawab Raina.
"Nurut! Daripada Kakak bilang ke paklik sama bulik kalau kamu kerja part time lagi selain di tempat Pak Iqbal, hm?"
Bibir Raina mencebik. Ia lantas memukul punggung Aska menggunakan cardigannya dan meninggalkan lelaki itu di dapur.
"NYA! KALAU MAU MAKAN KE DAPUR AMBIL SENDIRI!"
Aska menggelengkan kepalanya. Raina sungguh seperti berbeda jiwa jika di rumah seperti ini.
Other Stories
Membabi Buta
Mariatin bekerja di rumah Sundari dan Sulasmi bersama anaknya, Asti. Awalnya nyaman, namun ...
Ada Apa Dengan Rasi
Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...
Yume Tourou (lentera Mimpi)
Kanzaki Suraha, seorang Shinigami, bertugas menjemput arwah yang terjerumus iblis. Namun i ...
Pertemuan Di Ujung Kopi
Dari secangkir kopi yang tumpah, Aira tak pernah tahu bahwa hidupnya akan berpapasan kemba ...
Rumah Rahasia Reza
Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...
Bunga Untuk Istriku (21+)
Laras merasa pernikahannya dengan Rendra telah mencapai titik jenuh yang aman namun hambar ...