Aku Pulang

Reads
2.5K
Votes
3
Parts
15
Vote
Report
Penulis Kata Aksara

Bab 3 - Bila Ibu Marah

Senin pagi selalu punya cara tersendiri untuk menguji kesabaran. Seolah minggu yang baru saja usai sudah bersekongkol dengan segala nasib buruk, sedang Raina hanya bisa menerima semua ini. Hari itu ia harus piket kelas. Semalam, ia sudah berusaha tidur lebih cepat, tapi kenyataannya justru terjaga sampai larut. Pikirannya terus berputar tentang banyak hal. Apalagi bayangan wajah ibunya yang masih kesal karena insiden hari sebelumnya. Semua berputar bak kaset yang merusak lelapnya semalam suntuk.

Raina lupa satu hal kecil yang kemudian berakibat besar. Aska sudah sering mengingatkan untuk memeriksa bannya tanpa menunggu kempes di jalan. Sayang, Raina hanya mengangguk waktu itu, terlalu lelah untuk benar-benar melakukannya. Benar saja, di pertengahan jalan menuju sekolah, bannya kempes.

Ia berhenti di tengah jalan setapak yang membelah sawah. Pagi masih berkabut tipis, sunyi, hanya terdengar bunyi serangga. Tak ada satu pun orang lewat. Sial. Raina menatap ban yang kempes dengan perasaan hampa. Mau mendorong sepeda sampai sekolah? Bisa-bisa dia benar-benar terlambat parah.

“Kenapa aku sebodoh ini …” gumamnya, menahan rasa kesal pada diri sendiri.

Keringat dingin mulai bercucuran. Ia mendorong sepedanya pelan-pelan, berharap ada tukang tambal ban di ujung jalan. Sayangnya, waktu berjalan lebih cepat daripada langkahnya. Belum lagi rasa lapar yang sejak tadi pagi ia tahan, karena ia tidak sempat sarapan. Semalam, selepas membantu Naya mengerjakan PR, Raina hanya sempat makan sedikit sisa nasi dan tempe.

Sepertinya ini makna sesungguhnya dari sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Sesampainya di sekolah, upacara pun sudah dimulai. Semua murid berbaris rapi, sedangkan Raina datang dengan wajah kusut, sepeda yang nyaris rubuh, dan napas tersengal. Guru piket langsung menunjuknya.

“Kamu telat lagi, Raina!” suara lantang itu membuatnya menciut. \"Makanya, sebelum berangkat dipastikan dulu bannya kempes apa enggak. Taro aja sepedamu di sebelah pos, nanti Bapak bantu.\"

Raina mendesah kasar. Begitu guru kedisiplinan datang, semakin ia tidak bisa berkutik. Ia dihukum berdiri di sisi lapangan, di bawah terik matahari. Ditambah, sepanjang upacara, perutnya melilit, kepalanya pening. Namun, ia berusaha bertahan. Saat itulah matanya menangkap sosok Jiva, teman sekelasnya. Anak laki-laki dengan tatapan yang sering membuat Raina bingung.

\"Kenapa telat?\" tanya Jiva berbisik dari kejauhan.

Raina hanya menggeleng, lantas mengukir senyum tipis di bibir. Ia membuat gestur agar Jiva fokus mendengarkan pidato kepala sekolah yang entah kapan akan berakhir.

Belum usai, siswa yang terlambat harus membersihkan sekitar lapangan sebagai bentuk hukuman. Mereka juga harus menuliskan di buku kedisiplinan dan mendapatkan satu poin peringatan.

\"Nih!\"

Entah sejak kapan, Jiva sudah ada di sebelah Raina yang tengah duduk sendiri di dekat ruang piket. Seperti biasa, dia akan mengantri untuk mengambil buku absensi kelasnya sebelum KBM berlangsung. Beruntung ada jeda sekitar lima belas menit usai upacara, sehingga mereka dapat beristirahat sejenak setelah dijemur hampir 45 menit lamanya. Jiva menyodorkan air dingin dan diterima oleh Raina.

\"Makasih.\"

\"Lo ke kelas aja! Biar bukunya yang ambil gue. Nih masih pada gantian,\" kata Jiva selanjutnya.

\"Gak usah. Kan, tanggungan jawabku. Ini udah tinggal dikit yang antre,\" jawab Raina. Ia memasukkan air minum pemberian Jiva ke ranselnya.

\"Sesekali. Gantian.\" Jiva menyunggingkan senyumnya ramah. Lantas ia mendorong tubuh Raina, memintanya segera ke kelas. \"Duluan aja! Atau, lo bisa gantian sama Chika, lho. Gak harus semua lo yang kerjain sendiri.\"

\"Chika, kan, udah ngisi jurnalnya.\"

\"Iya, iya. Udah, gih!\" Jiva kembali meminta Raina untuk segera ke kelas.

Akhirnya, Raina menuruti. Membiarkan Jiva mengantre di ruang piket seorang diri.

Sepanjang pelajaran, fokus Raina benar-benar tidak berada pada tempatnya. Meski, dirinya memerhatikan penjelasan sang guru. Namun, pikirannya seolah berlarian di dimensi lain.

Kemarin, rumah benar-benar seperti ladang perang. Semua bermula dari vas bunga pemberian terakhir sang kakek. Lalu, Naya tak sengaja memecahkannya ketika berlari-lari di ruang tamu. Ibu pun marah besar. Suaranya meninggi, matanya melotot sembari tanpa henti mengeluarkan kata-kata yang membuat dada Raina sesak. “Lihat! Itu pemberian terakhir dari Bapak! Kamu ini anak gak tahu aturan!”

Kebetulan, Ayah yang baru pulang dari kios ikut menambahkan amarah. “Dasar anak bandel! Gak bisa diem, bikin repot aja!”

Raina hanya mampu melihat sang adik menunduk sangat dalam. Tubuh yang lebih kecil darinya itu gemetar. Sebab tak sanggup melihat adiknya yang ketakutan, Raina akhirnya mengelus pundak si kecil. Ia juga memberi pengertian kepada sang ibu untuk tidak memarahi Naya lebih lagi. Apalagi, suara mereka begitu keras. Takut tetangga semakin terganggu dengan aktivitas mereka yang tengah ribut.

“Kamu juga, Mbak! Tugasmu tuh jagain adikmu! Ajarin dia yang bener. Kalau adikmu rusak, salah siapa? Salah kamu!” kata Ibu dengan nada yang kian meninggi.

Seperti biasa, semua amarah akhirnya dilemparkan ke arah Raina. Padahal, Raina rasa ia tak melakukan hal apapun. Ia ingin membantah dan mengatakan bahwa dirinya lelah. Seharian, Raina menghabiskan waktunya untuk bersih-bersih rumah, mencuci piring, menjemur baju, lalu mengerjakan tugas sekolah yang menumpuk. Namun, ibunya tidak akan mau mendengar. Ia terlalu sibuk dengan acara arisan dengan dalih butuh hiburan, sedangkan ayahnya selalu punya alasan untuk melempar tanggung jawab.

\"Ibu tuh capek kerja. Kalian tuh sekali aja ngertiin Ibu. Ibu kerja tuh juga buat kalian. Terus kalian malah gini-gini aja. Kapan kalian bisa buat Ibu bahagia? Baru ditinggal sebentar aja, udah bikin masalah. Emang di sini gak ada yang ngertiin Ibu.\"

Iya, pasti Ibu jauh lebih capek timbang aku. Aku harus ngerti.

Raina hanya diam.

Tapi, apa anak terus yang harus mengerti Ibu dan Ayah?

\"Nai! Nai! Hello! Raina!\"

Lamunan Raina buyar begitu pundaknya ditepuk oleh seseorang. Jiva menepuk buku di depan Raina dengan raut penuh tanya.

\"Lo ... oke?\" tanyanya.

\"Hah? Oh, iya. Sampai mana diskusinya?\" Raina menggelengkan kepala lalu tersenyum tipis. Ia kembali melanjutkan menulis di bukunya.

\"Orang Bu Indah udah salam, terus keluar. Lo dari tadi ngelamun mulu,\" kata Vivi. \"Dilanjut nanti aja, ya. Gue sih laper, mau ke kantin dulu. Kalau lo masih mau lanjut ngerjain tugasnya, mending diskusi sama Jiva aja. Cacing di perut gue lebih penting.

Dua orang teman Raina ikut meninggalkan kelas, menyisakan Jiva saja yang masih memisahkan beberapa kertas di atas meja.

\"Udah sampai mana?\" tanya Raina pada Jiva. \"Nanti PPT-nya biar aku yang buat deh. Kalian susun aja materi sama makalahnya.\"

Jiva tidak menjawab. Ia mengeluarkan salep dari sakunya, lantas menarik lengan Raina ke atas meja.

\"Bagus, bagus, bagus,\" katanya sembari mengangguk.

Jiva tergabung di ekstrakurikuler kesehatan di sekolah. Itulah kenapa lelaki tersebut selalu membawa perlengkapan pertolongan pertama.

\"Dah tinggal dikit ini kering semua lukanya. Gak lo garuk-garuk, \'kan?\"

Jiva ingat betul ketika pertama kali melihat tangan Raina ada bekas luka bakar. Ia menduga gadis itu tidak mengobatinya sama sekali.

\"Enggak. Aman, kok. Btw, makasih. Salep yang kamu kasih kemarin masih ada kok.\"

Hanya anggukan kecil tanpa suara. \"Tugas ntar dibahas lagi kapan aja bisa. Masih lama dikumpulinnya. Lo sakit?\"

Raina menggelengkan kepala. Belum sempat membalas pertanyaan Jiva, seorang siswa meneriaki namanya dan berpesan untuk datang ke ruang guru.

Tangga kedua sekarang menimpanya. Ya, tunggakan SPP yang belum dibayar. Raina menunduk, wajahnya memanas. Ia tahu benar ibunya belum gajian, tapi bagaimana menjelaskan pada pihak sekolah? Raina bahkan sudah berulang kali menanyakan kepada ibu atau ayahnya kapan mereka akan memberikan uang untuk melunasi SPP-nya. Namun, jawabannya masih belum ada. Memang, Raina awalnya masuk SMA ini jalur prestasi dan beasiswa. Namun, sejak satu kelas dengan Jiva, ia sulit untuk mengalahkan mantan WAKETOS itu dan membuat beasiswanya dipotong setengah sebagai konsekuensi karena nilainya di bawah Jiva.

“Kamu harus segera menyelesaikan ini, Raina. Kalau tidak, namamu bisa terhambat saat ujian nanti,” kata petugas TU dengan nada kaku. \"Apalagi akhir bulan nanti akan ada simulasi ujikom. Kamu tidak lupa, \'kan? Ini juga kamu udah nunggak dua bulan, lho.\"

Raina mengangguk, menelan air liur yang terasa pahit. \"Nanti saya sampaikan ke orang tua saya, Bu. Terima kasih.\"

Raina membawa langkah beratnya menuju kelas. Ia benar-benar lemas sekarang. Tenaganya seperti raib entah ke mana.

Sepulang sekolah, ia mencoba memberanikan diri meminta tambahan uang kepada ibunya. “Bu, sekolah minta SPP dibayar minggu ini … em, soalnya akhir bulan aku juga ada uji kompetensi. Walaupun cuma simulasi.”

“Ibu, kan, belum gajian, Mbak.Coba minta ke ayahmu. Kan, kamu juga anak ayahmu!”

Raina terpaku. Kata-kata itu menusuk seperti pisau. Bukankah ia juga anak ibunya? Akan tetapi, kalimat itu seakan meragukan posisinya di rumah ini apa.

\"Ibu hari ini gak lembur, tapi teman kerja Ibu ada yang ngajak bermalam di luar kota. Kamu di rumah sama Naya, ya? Jaga adikmu! Kayaknya ayahmu nanti pulang, kok.\"

Belum sempat mengutarakan jawaban, Ibu sudah lebih dulu meninggalkan Raina sendirian. Raina hanya mampu menghela napas panjang. Ia memijit pelipisnya sejenak, sebelum beranjak ke kamar.

Benar saja. Tidak lama kemudian, ayahnya datang tepat setelah sang ibu berpamitan pergi. Ia membiarkan ayahnya membersihkan diri terlebih dahulu. Raina hanya menunggu di dapur sembari mengerjakan tugasnya. Ia sengaja membawa tugasnya ke dapur, sebab sambil mengawasi sang adik tengah menonton televisi di ruang tengah.

Begitu ayahnya menyelesaikan makan dan terlihat memainkan ponsel, Raina memberanikan diri bersuara.

\"Em, Yah ...\"

Raina menggigit bibirnya sendiri.

\"Ya? Ada apa?\" tanya sang ayah. Namun, pandangannya masih fokus ke ponsel. \"Oh, iya. Ayah mau ngomong sama kamu, Mbak.\"

\"Iya, Yah?\"

\"Box besar yang di gudang kemarin kamu yang beresin?\"

\"Iya. Aku taro di dalam lemari. Isinya lukisan-lukisan sama kerajinan buatan Ayah. Bagus-bagus.\" Raina mengingat-ingat.

Ayah hanya mengangguk. \"Rencananya Ayah mau bawa ke workshop, terus buka lelangan. Lumayan, kan, kalau laku.\"

Raina mengangguk sekilas. \"Aku boleh minta tambahan buat bayar SPP, Yah? Soalnya udah nunggak dua bulan.\"

Jika tidak ada sang ayah di depan, Raina akan menangis putus asa.

“Kenapa nggak minta ke ibumu? Kan, dia yang ngurus kamu sehari-hari.”

Jawaban dari ayahnya membuat Raina meneguk ludah dalam-dalam. Dilempar ke sana-sini. Seperti bola yang tidak diinginkan.

\"Ayah mau istirahat. Naya kamu temenin tidur, gih! Udah malem. Besok Ayah yang bilang sama ibumu.\"

Lagi. Raina hanya mampu terdiam tanpa menjawab apa-apa.

\"Nya, tidur! Udah malem.\" Raina meminta sang adik untuk ke kamar lebih dulu. Lantas, menemaninya hingga adiknya itu tidur. Ketika sang adik sudah pulas, ia bangkit dan pergi ke kamarnya sendiri.

Raina menyusun lembaran kertas latihan soal untuk dibahas besok di tempat mengajar. Lantas, ia duduk di kursi sembari memijit kepalanya pelan. Rasanya ingin berteriak, tapi ia tahu tidak akan ada yang mendengar.

Sebuah notifikasi dari ponselnya berhasil membuat Raina tegak kembali.

Tidur, Rai! Jangan begadang terus. Sorry, Kakak gak bisa mampir tadi. Besok Kakak anter ke sekolahnya. Sepedanya biar Kakak benerin dulu. Rantainya juga waktunya ngasih oli, sama remnya perlu diganti.

Entah kenapa, tapi hati Raina terasa menghangat. Ia kemudian mengetikkan terima kasih, lantas mengirimnya pada Aska.

Sayangnya, begitu menjelang subuh tiba, mata Raina belum terpejam sama sekali. Notifikasi baru kembali masuk.

Jangan begadang terus! Gak sehat.

Raina akhirnya menghempaskan tubuhnya ke kasur. Itu pesan dari Jiva.

Sayangnya, jadwal pelajaran pertama hari ini adalah olahraga dan hari ini adalah penilaian lari. Seperti dibuka dengan Senin yang buruk, hari baru Raina pun ikut memburuk.

Baru putaran ketiga, pandangan Raina mulai berkunang. Ia mencoba menghalau dan memberi sugesti pada dirinya sendiri. Nilainya akan dipertaruhkan jika ia menyerah sekarang. Salah juga kenapa ia hanya tidur dua jam. Sekarang, napasnya mulai putus-putus dan jantungnya berdegup kencang. Ia mencoba bertahan. Namun, baru saja akan mencari bantuan pada temannya yang kebetulan tidak jauh dari hadapannya, pandangan Raina berubah gelap. Ia tidak mendengar apapun selain dengung kuat memenuhi telinganya.

Saat membuka mata, ia sudah terbaring di UKS. Wajah Pak Arman—guru olahraganya—amat cemas. “Kamu pingsan dua jam, Raina. Kamu tadi belum sarapan, ya? Atau, kamu sakit?”

Ia menggeleng pelan. \"Kayaknya lupa sarapan sih, Pak. Nggak apa-apa kok. Cuma pusing dikit.\"

\"Ya, udah. Kamu istirahat aja! Nanti Bapak izinkan ke wali kelas kamu. Kamu pulang aja, ya! Bapak gak mau kamu kenapa-kenapa. Istirahat aja di rumah.\"

Air mata Raina menetes tanpa bisa ditahan, tepat setelah Pak Arman keluar dari UKS. Hari ini ia benar-benar kalah, ya?

“Bu, aku capek.” Suara Raina hampir berbisik.

“Capek apanya? Kamu itu belum tahu apa-apa soal hidup. Ibu ini jauh lebih capek daripada kamu. Jangan manja!” jawab Ibu. Ia membereskan piring yang ada di meja makan, lalu membawanya ke wastafel. \"Kamu sendiri itu kurang olahraga. Kalau libur aja gak pernah keluar kamar. Main hape terus. Ibu aja yang kerja di pabrik lembur-lembur terus, biasa aja. Ibu sehat-sehat aja. Makanya, kamu jangan mageran jadi anak! Yang kuat gitu, lho.\"

Kata-kata itu menutup semua pintu. Raina membisu, merasa kian kecil. Ia sadar, ibunya tidak akan pernah mau memahami.

Raina menatap bayangan wajahnya di cermin kamar. Mata sayu, bibir pucat, tubuh kurus. Untuk pertama kalinya ia benar-benar merasa asing dengan dirinya sendiri.

Di luar kamar, terdengar suara tawa ibu sedang bercerita bersama tetangga. Kebetulan, hari ini ibunya tidak jadi lembur sebab mendapatkan kabar bahwa putri sulungnya pingsan. Karena itu, teman kerja Ibu membawakan beberapa pekerjaan ibunya untuk dikerjakan di rumah.

Raina menutup telinga dengan bantal. Dunia terasa begitu bising, sementara hatinya hanya ingin sedikit pengertian. Ia bergumam pelan, seakan bicara pada dirinya sendiri. “Kalau rumah bukan tempat pulang, lalu aku harus ke mana?”

Tak ada jawaban. Hanya sunyi yang semakin menekan.

Teryata, luka paling dalam tidak hanya ditorehkan orang asing. Bisa jadi, luka itu berasal dari rumah, dari ibu yang selalu marah. Atau, dari cinta ayah yang tak pernah benar-benar terasa.


Other Stories
Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )

pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...

Liburan Ke Rumah Nenek

Affandi, remaja gaul berusia 18 tahun tak dapat berlibur ke lain tempat seperti biasa. Lib ...

FILOSOFI SAMPAH (Catatan Seorang Pemulung)

Samsuri, seorang pemulung yang kehilangan istri dan anaknya akibat tragedi masa lalu, menj ...

Cinta Satu Paket

Renata ingin pasangan kaya demi mengangkat derajat dirinya dan ibunya. Berbeda dari sahaba ...

Dua Mata Saya ( Halusinada )

Raihan berendam di bak mandi yang sudah terisi air hangat itu, dikelilingi busa berlimpah. ...

Mauren, Lupakan Masa Lalu

“Nico bangun Sayang ... kita mulai semuanya dari awal anggap kita mengenal pribadi ya ...

Download Titik & Koma