Aku Pulang

Reads
2.5K
Votes
3
Parts
15
Vote
Report
Penulis Kata Aksara

Bab 4 - Aku Yang Salah

Raina kembali mengawali minggu baru dengan perasaan berat. Semalaman ia hanya bisa memejamkan mata beberapa jam saja, itupun diselingi rasa nyeri di kepala dan suara gaduh pertengkaran yang masih terngiang dari malam sebelumnya. Entah kenapa, beberapa hari belakangan ini ia merasakan lemas yang tak kunjung hilang. Namun, suara Ibu di dari dapur sudah menggema memenuhi kamar berukuran enam meter persegi tersebut.  Membuat Raina mau tidak mau memaksakan diri untuk bangkit.

"Raina, bangun! Jangan malas-malasan! Kalau kamu mau sehat, jangan dibiasakan tidur terus! Keluar! Jangan di kamar terus!" kata Ibu lantang. "Anak perempuan kerjaannya cuma malas-malasan doang. Perasaan dulu Ibu gak pernah kayak gitu."

Raina terpaksa menyeret tubuhnya ke kamar mandi, mandi seadanya, lalu mengenakan seragam yang sudah disiapkan sejak semalam. Ia merapikan rambutnya asal, serta menarik sweater rajut yang ada di belakang pintu. Segera dibawa langkah kakinya menuju ruang makan sebab tak ingin mendengar teriakan ibunya yang semakin kesal.

"Jangan malas-malasan! Makan yang banyak gitu, lho. Gak mau sehat?"

Embusan napas keluar dari bibir mungil Raina. Perutnya tidak nyaman jika dipaksakan untuk makan banyak. Mendengar nada bicara ibunya yang tak kunjung membaik sejak kemarin, membuat ia hanya mampu mengangguk tanpa ingin menyanggah.

"Aku bawa bekal aja, Bu, biar gak jajan," jawab Raina. 

"Ya, bawa aja! Kamu siapin sendiri, bisa? Ibu mau nyuci baju." 

Pikirnya, sang ibu akan dengan senang hati membungkus makanan ke kotak bekal. Sayangnya, ekspektasi Raina yang terlalu tinggi.


Untungnya, hari ini tidak ada kegiatan apapun di sekolah. Raina hanya menghabiskan sepanjang waktu di kelas seorang diri. Menolak ajakan teman-temannya untuk ke perpustakaan ataupun melipir ke kantin. Ia berbohong soal membawa bekal. Pasalnya, bekal yang dirinya siapkan sendiri tadi, sudah diberikan kepada satpam sekolah di depan. 

Sejenak, tangan mungil Raina memijat area pelipisnya pelan. Pikirnya, dengan tidur cukup untuk meredakan pusing yang mendera. Namun, ternyata rasa itu tak kunjung hilang juga. 

Raina memutuskan untuk menelungkup kan kepalanya di atas meja. Ia memejam barang sejenak, kendati jam istirahat baru saja dimulai. Ada waktu hampir setengah jam untuknya beristirahat. Mungkin, pusingnya akan segera reda bila ia tidur sebentar. 

Sayangnya, baru sepuluh menit terpejam, suara riuh kembali membuat kepalanya semakin berdenyut. Teman-teman sekelasnya mulai datang satu persatu. 

"Gak ke kantin, Nai?" tanya Jiva. 

Hari ini mereka akan presentasi. Kebetulan, jam pelajarannya usai istirahat. Akhirnya, Jiva mengambil tempat duduk di depan bangku Raina, lantas memutar kursi menghadap ke belakang dan membuatnya berhadapan. 

"Aku bawa bekal kok. Udah dimakan." Jelas itu sebuah dusta. Nyatanya, Raina bersusah payah mengenyahkan rasa pusing di kepala. Apakah ia harus mengatakan ini pada Aska untuk mengantarnya ke dokter? 

Jiva mengangguk singkat. "Gue izin makan dulu, ya! Makalahnya udah lo cetak, kan?" 

"Udah, udah. Aman." Raina mengeluarkan tugas mereka dari loker bangkunya. "Ini aku cetak juga buat kalian satu-satu, tapi gak kujilid. Soalnya yang dijilid nanti buat dikumpulin doang. Terus, udah aku bagi juga kalian nanti bagian yang mana aja. Kayak yang udah kita bahas kemarin. Kalian bisa cek dulu dan pelajari, mumpung ada waktu sepuluh menitan." 

"Aman, Na. Thanks, ya," kata Arin—teman satu kelompok Raina. 

Satu kelompok mereka terdiri dari empat orang. Raina, Jiva, Arin, dan Bintang. 

"Semoga dapat nilai bagus deh. Untung deh gue satu kelompok sama kalian berdua," imbuh Lina sembari menatap Jiva dan Raina bergantian. "Ntar kecipratan nilai sempurna sih ini."

"Orang lo kerjaannya cuma ngomel-ngomel doang, Rin. Apaan dapat nilai. Kerjaan lo tuh butuh evaluasi keras dan gue susah payah kudu nyusun dari awal." Bintang menimpali. Ia menepuk kepala Arin menggunakan lembaran cetak tugasnya. "Yang penting kelar aja udah syukur." 

"Apaan sih lo."

Jiva dan Raina menggelengkan kepala melihat interaksi tikus dan kucing di depannya ini.

"Pelajari aja udah! Jangan sampai ngerusak presentasi kita, ya!" Ancam Bintang. 

Raina tersenyum tipis. "Udah-udah. Hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha kok. Kalian udah kerja keras semua. Makasih banyak."

"Ya, walaupun emang tujuannya demi nilai, tapi gak juga. Toh, nanti nilainya masih diakumulasi sama tugas-tugas lainnya. Santai aja kali," jelas Jiva begitu menyelesaikan makan sarapannya. 

"Lo mah enak, Jiv. Otak lo encer. Lha gue?" Arin meletakkan penanya di atas meja dan menutup lembaran kertas, serta merapikannya sebelum guru datang. "Mana emak gue ngancem kalau turun rangking, gue mau dikirim ke pondok. Kan, ngeri."

"Ya, itu mah elonya aja yang bandel, ege! Gak sadar apa." 

Mulut Bintang emang ceplas-ceplos ternyata. Lelaki itu membuat Arin tidak berkutik. Arin memang terkenal sedikit bandel di kelas. Ia tidak akan segan-segan mengancam temannya demi nilai. 

"Udah, udah. Jangan ribut! Kalian lama-lama jatuh cinta, kapok." Raina menghentikan dua sejoli itu berantem. Sebab, bel sudah berbunyi. Sebentar lagi, guru pasti akan datang. Tidak hanya itu, kepalanya akan semakin pusing jika mendengar Arin dan Bintang terus berdebat. 

Jiva mundur. Ia meminta Arin untuk tukar tempat dan duduk di sebelah Raina. Arin pun dengan berat hati mengiakan. Gadis itu benar-benar kemudian dengan Bintang. 

"Lo ... oke?" tanya Jiva membuat Raina reflek meraba wajahnya. 

"Kelihatan?" 

Jiva mengangguk. "Pucet. Lo sakit?" 

Raina menggeleng dan masih meraba wajahnya. "Mana ada. Sehat begini." 

"Ya, kalau lo raba mana kelihatan, Nai. Coba lo ngaca deh." 

"Gak deh. Udahlah. Tuh, anak-anak udah pada masuk. Fokus, fokus. Kita mau presentasi nanti," kata Raina. 

"Padahal kalau lo sakit, bisa ke UKS dan bolos. Kita bisa presentasi minggu depan." 

Entah keberanian darimana, Raina menggeplak punggung Jiva. 

"Eh, maaf."

Jiva tertawa pelan. "Kayak sama siapa aja. Lo takut sama gue?" 

Raina menggeleng. Ia memejamkan matanya saat merasa kepalanya seperti dihantam oleh sesuatu. Tanpa berbuat banyak, ia meneguk air mineral yang dia bawa dari rumah. Berusaha menetralisir pening yang kian bertambah. Raina lantas membuka lembaran tugasnya untuk mengecek ulang. Namun, tulisan di hadapannya terlihat seperti berbayang. Ia menguceknya pelan, sebelum suara Jiva yang sedikit lantang membuatnya kaget. 

"Lo mimisan?" 

Ia buru-buru menutup hidungnya menggunakan tangan. Kertas di depannya sudah ternodai bercak merah darah di sana. Tanpa pikir panjang, ia berlari menuju toilet. Bahkan, Raina sedikit tidak sopan sebab berpapasan dengan sang guru tanpa izin. 

Di kamar mandi, ia membasuh darah dengan air. Kenapa bisa jadi gini sih? Raina terpikirkan dengan tugasnya. Susah payah mereka mengerjakan dan kini, ia menodainya dengan mudah. 

"Nai," panggil Jiva dengan nada panik.

Raina ada di toilet putri, jelas itu membuat Jiva tidak bisa masuk atau nanti dia akan terkena pasal berlipat dan tuduhan macam-macam. Sedang Raina, masih berusaha menghentikan darah dari hidungnya yang tak kunjung berhenti. Tubuhnya semakin lemas. 

"Plis! Ayo, Rai. Bisa, bisa," gumamnya pelan. "Jangan sakit!"

Hampir lima belas menit Raina bertempur di kamar mandi. Ia akhirnya keluar dan menatap Jiva yang terlihat sangat cemas sedang bersandar di dinding. Raina mengelap wajahnya menggunakan tisu, lantas memasang senyum tipis pada temannya. 

"Kenapa ikut ke sini? Bu Indah udah dateng, nanti siapa yang maju?" tanya Raina panik. Namun, tangan Jiva menghentikan langkah Raina. 

"Masih mikirin nilai? Pikirin diri sendiri dulu, kenapa sih? Lo gak lihat muka lo udah kayak mayat gini?" 

Raina berbalik. "Tapi, nanti usaha kita sia-sia. Ayo, ke kelas!" 

Jiva menarik lagi tangan Raina. Entah karena terlalu keras, Raina sempat mengaduh dan membuat Jiva melepaskannya. 

"Maaf." 

Raina menatap pergelangan tangannya yang memar dan membiru. Ia tidak tahu apakah cengkraman Jiva terlalu keras atau kenapa, tapi memar biru tercetak jelas di sana. 

"Gue cuma khawatir," kata Jiva kemudian. 

"Ya, makanya. Kalau kamu gak mau khawatir, lebih baik kita ke kelas dan cepet selesaiin tugasnya. Nanti Arin marah-marah lagi, tambah pusing kepalaku."

Jiva memakaikan jaketnya kepada Raina. Bekas darah gadis itu membuat noda merah tercetak di seragam putihnya. 

"Ntar abis jam kita selesai, gue anter ke UKS, ya. Lo pucet banget, asli. Timbang lo pingsan lagi, mending istirahat aja di UKS." 

Hati Raina sedikit menghangat. "Iya, makasih." 

Tangan Jiva mengelus perlahan kepala Raina, lantas menepuknya beberapa kali. 

"Kalau ada apa-apa, lo boleh cerita ke gue, Nai." 

Raina hanya menganggukkan kepala. Keduanya, terlambat setengah jam masuk ke kelas Bu Indah. Sayangnya, Arin dan Bintang ternyata sudah selesai presentasi. 

"Poin kita berkurang dua. Ini semua gara-gara lo, Na. Jadi, kotor makalahnya." Arin meletakkan kasar makalahnya di atas meja. 

"Ya udah, sih. Timbang dua doang. Toh nilai kita tetep dia atas KKM. Ambis banget, gila." Bintang membalas sewot. "Lo gapapa, Na?"

Raina mengangguk sekilas. "Maaf."

"Susah payah nyusunnya, dapetnya gak sampe 90." Arin kembali menyela. Namun, tak lama sebab Bintang menyumpal gadis itu dengan sapu tangannya. "Berisik! Lo gak punya empati banget deh."

Puluhan pikiran berdesakan di kepala Raina. Kenapa aku begitu ceroboh? Kenapa semua hal buruk seolah datang karena aku? Kenapa aku nggak bisa jadi anak yang benar, yang bisa dibanggakan?

Selepas pulang sekolah, Raina langsung menuju rumah. Ia meminta izin untuk tidak ke tempat Pak Iqbal dan akan mengganti jam tambahan di lain hari. Ia pulang dengan langkah gontai, berharap bisa langsung merebahkan diri. Raina juga harus merelakan uangnya untuk naik ojek, sebab paginya ia berangkat diantar oleh Aska. Namun, semua harapan itu sirna. Baru akan membuka pintu, suara pertengkaran orang tuanya sudah terdengar begitu menusuk dada. 

"Apa kamu kira jadi istri itu gampang? Aku yang tiap hari kerja mati-matian buat anak-anak. Kamu cuma tahu pulang malam, capek, terus tidur. Pernah nggak kamu mikir anak-anak makan apa?" 

"Jangan seenaknya menyalahkan aku! Dari dulu aku kerja siang-malam, semua untuk kalian. Tapi kamu? Bisanya cuma mengeluh. Kalau memang merasa berat, kenapa nggak dari dulu bilang?!" 

"Berarti selama ini kamu pikir anak-anak itu tanggung jawabku sendiri? Kamu pikir sekolah Raina, les, semua kebutuhan rumah tangga, bisa ditanggung oleh aku seorang?"

"Lha terus aku kerja buat apa? Kamu kira aku main? Kamu kira aku nggak peduli sama anak-anak?!"

Suara piring benda kaca membuat hati Raina kian sakit. Ia berdiri kaku di ambang pintu, tak berani masuk. Kepalanya terasa semakin berat. Ia ingin berteriak menghentikan mereka, tetapi lidahnya terlalu kelu. 

Ini salahku lagi. Kalau saja aku nggak merepotkan soal uang sekolah, kalau saja aku nggak pernah meminta, mereka nggak akan bertengkar begini.

Raina mundur pelan, lalu keluar menuju pintu belakang. Udara sore sedikit menenangkan, tapi air matanya sudah jatuh tanpa bisa ia cegah. Ia duduk di kursi yang sudah lama koyak di bawah pohon mangga. Ia memeluk lutut, berusaha mengecilkan diri agar rasa sakit itu tak terasa. Namun, semakin ia mencoba, semakin kuat perasaan bersalah mencengkeram dada.

"Rai," panggilnya hati-hati. 

Raina mengusap matanya cepat-cepat, berusaha menutupinya dengan senyum yang tak sampai ke mata. "Iya? Kak Aska dari mana?"

Aska duduk di sampingnya. "Maaf, tadi gak bisa jemput. Pulangnya naik apa?"

"Aku sama ojek kok. Aman." 

Raina diam. Pun, Aska ikut tak bersuara. Ia menahan diri agar Raina mendapatkan ruang untuk dirinya sendiri. Aska menepuk pundak Raina pelan, seperti menyalurkan kekuatan untuk adik kecilnya. 

Tangis Raina pecah. Semua yang ia simpan tumpah tanpa bisa ia bendung lagi.

"Semua ini salahku, Kak. Selalu salahku. Aku ... aku yang bikin rumah ini jadi berantakan."

Aska terdiam sejenak, hatinya mencelos mendengar itu. Ia ingin segera membantah, ingin meyakinkan Raina bahwa bukan dia penyebab semuanya. Namun, ia tahu ucapan itu tak akan mudah masuk ke hati Raina yang sudah penuh luka. Ia hanya bisa menggenggam tangan Raina pelan.

"Hei, kamu nggak salah. Denger Kakak! Kamu cuma anak. Semua ini bukan tanggung jawabmu seorang. Orang tua seharusnya yang melindungimu, bukan membuatmu merasa bersalah begini."

Air mata Raina semakin deras. Bahkan, tubuhnya sudah bergetar hebat. Tanpa aba-aba, Aska langsung mendekap tubuh ringkih tersebut ke pelukan. Ia hanya diam tanpa mengucap apa-apa lagi. Gadis kecil itu pasti sudah di ambang batas, pikirnya. 

Semua ini salahku. Aku yang merusak rumah. Aku yang membawa masalah. Aku yang nggak pernah cukup.

Senja semakin redup. Suara pertengkaran di dalam rumah masih samar terdengar. Aska menarik earphone dari sakunya. Lantas, memakaikan ke Raina. 

"Jangan didengerin, okay? Everything will be fine."

Raina juga berharap semua akan baik-baik saja. Semoga. 


Other Stories
Final Call

Aku masih hidup dalam kemewahan—rumah, mobil, pakaian, dan layanan asisten—semua berka ...

Cinta Di Balik Rasa

memendam rasa bukanlah suatu hal yang baik, apalagi cinta!tapi itulah yang kurasakan saat ...

Pahlawan Revolusi

tes upload cerita jgn di publish ...

My 24

Apa yang tak ia miliki? Karir yang gemilang, prestasi yang apik, istri yang cantik. Namun ...

Hujan Yang Tak Dirindukan

Perjalanan menuju kebun karet harus melalui jalan bertanah merah. Nyawa tak jarang banyak ...

Kuraih Mimpiku

Edo, Denny,Ringo,Sonny,Dito adalah sekumpulan anak band yang digandrungi kawula muda. Kema ...

Download Titik & Koma