Aku Pulang

Reads
2.5K
Votes
3
Parts
15
Vote
Report
Penulis Kata Aksara

Bab 7 - Tak Perlu Menunggu Musim Dingin, Rumahku Kian Membeku

"Nanti balik jam berapa?" tanya Aska singkat. Ia tidak tahu, mengapa di waktu sepagi buta ini, Raina sudah ada di depan rumahnya. Duduk sendiri, berdiam diri, rapi berbalut seragam. Hanya saja tak ada garis senyum di sana.

Aska hendak belanja, sebab stok bahan makanan di kulkas. Ia pergi ketika azan subuh selesai berkumandang. Lalu, ketika pulang dia disambut oleh gadis itu yang duduk sendirian di teras rumahnya. Aska tidak banyak bertanya, membiarkan gadis itu menceritakan dengan sendirinya tanpa memaksa.

"Jam lima, mungkin," jawab Raina.

Jam di dinding menunjukkan pukul enam kurang lima belas menit. Keduanya baru selesai memasak untuk sarapan. Lebih tepatnya, Raina yang datang merecoki.

"Oke, nanti Kakak jemput."

Aska melepas apron, lantas menanggalkan di gantungan sebelah lemari. Ia menata makanan yang sudah matang ke dalam dua wadah bekal. Satu untuknya, satu lagi untuk Raina.

Si gadis sudah beralih ke meja makan. Anak itu memandang sejenak keheningan yang ada di rumah besar milik Aska. Entah kenapa, timbul sesak menghimpit dada. Rumah Aska besar, lebih besar daripada rumahnya. Banyak furniture tertata rapi di setiap sudut ruang, tetapi rumah Aska seperti tidak berpenghuni. Hanya ada satu dua orang saja di sana.

"Sepi, ya, Kak," kata Raina asal.

Sepertinya Aska tidak mendengar. Buktinya, beberapa sekon hanya ada suara angin lalu lalang.

"Enggak. Kan, ada kamu," jawab Aska. "Kalau rumah Kakak sepi, biasanya Kakak ke rumahmu, kan. Kamu juga biasanya ke sini."

"Kak Aska gak kangen sama tante om?"

Aska tersenyum tipis sebelum memasukkan kotak bekal ke tas Raina.

"Enggak, itu bohong. Sejujurnya, kangen banget." Aska menyodorkan perkedel kentang ke muka Raina. Ia hendak menyuapkan hasil masakan keduanya yang belum sempat dicicipi. Akan tetapi, tangannya terhenti. "Aaa?"

Raina melahapnya. "Kayaknya aku kurang bersyukur deh, Kak. Gimana susahnya hidup sendiri, walaupun banyak uang sekalipun. Kalau aku jadi Kak Aska, udah aku kempesin tiap hari ban mobil orang tuaku kalau berangkat kerja terus biar gak ditinggalin."

"Mereka kerja juga buat Kakak, Rai," jawab Aska. Pria itu segera merapikan dapur kembali. Ia harus berangkat ke kampus karena ada matkul pagi-pagi. Itulah alasannya juga kenapa ia membawa bekal. "Walaupun kesepian, tapi nggak juga sih, sebenarnya. Kakak sering di luar, banyak kegiatan di kampus. Kalau pulang juga kadang ikut ke tempat Pak Iqbal sama kamu. Atau, kadang main sama Naya. Kalau Kakak terus ngerasa sepi, itu perasaan wajar, karena gak ada anak yang mau ditinggal hidup sendiri bertahun-tahun, tapi Kakak sadar. Semakin dewasa, Kakak mikir juga kalau mereka gak kerja, ya, Kakak gak bisa hidup seperti ini."

Entah sudah berapa lama, Raina merasa rumahnya semakin terasa asing. Tidak ada pintu yang menyambut, tidak ada suara yang menenangkan. Hanya tembok, kursi, meja, dan udara yang kian dingin meski matahari bersinar terik di luar. Raina kerap merasa rumahnya sedang perlahan membeku, seperti musim dingin yang merayap masuk diam-diam, hanya saja di sini tidak ada salju, tidak ada cahaya lampu hangat, tidak ada perapian. Yang ada hanyalah kesunyian yang menempel di dinding, retakan yang semakin lebar, dan suara-suara yang seharusnya ada, kini hilang entah ke mana.

Ayah dan ibu jarang sekali bicara. Kadang mereka pulang dengan wajah lelah, kadang tidak pulang sama sekali. Bahkan jika ada di rumah, seakan-akan kehadiran mereka tak memberi arti. Tidak ada sapa, tidak ada tawa, bahkan teguran sederhana pun menguap. Raina sering bertanya-tanya dalam hati, apakah rumah masih bisa disebut rumah kalau penghuninya tidak lagi saling berbicara?

Raina sengaja, bangun lebih pagi, pergi pun ketika masih pagi. Ia sengaja juga untuk mampir ke rumah Aska. Sebab, lelaki itu setiap hari sendiri. Baru beberapa bulan saja rumah Raina seperti kosong dan asing, bagaimana Aska yang sudah bertahun-tahun sendirian seperti ini? Orang tua Aska jarang pulang apabila tidak ada perayaan khusus seperti lebaran. Adapun, mereka tidak tenang dan akan pergi lagi setelah dua minggu kemudian. Jika pun libur panjang, Aska tidak pernah kumpul bersama orang tuanya.

"Rai, kalau butuh tempat pulang, pulang ke rumah Kakak boleh kok," ucap Aska saat Raina turun dari motor. Keduanya sudah tiba di depan sekolah Raina beberapa detik lalu.

"Makasih banyak, Kak," kata Raina. "Jadi Kakak pasti berat. Kakak juga bisa pulang ke Raina kalau kesepian. Kita bisa saling jadi tempat pulang, 'kan?"

Raina tak ingin mendengar jawaban Aska. Ia lebih dulu masuk ke pelataran sekolah, tanpa mengatakan apapun lagi. Sebab, ia tahu bagaimana lelahnya Aska menunggu kepulangan orang tuanya. Aska selalu memasang muka baik-baik saja, tetapi dalam hati Raina tahu bahwa lelaki itu sering kali ingin melepaskannya.

Sama seperti Aska, Raina juga memilih menjadikan sekolah sebagai tempat pelariannya. Di sana, setidaknya ia masih bisa tertawa kecil, bercakap dengan teman, atau mendengar suara guru yang menegur. Lebih lagi, ia bisa mengambil jeda sejenak, melupakan retak di rumah.

Sepulang sekolah pun, ia langsung menuju tempat Pak Iqbal dengan semangat. Membantu mengajar anak-anak kecil membaca, menulis, menghitung, dan mengerjakan tugas sekolah yang belum selesai. Aktivitas itu membuatnya seolah tetap berguna, meski di dalam rumahnya sendiri ia merasa tidak berarti.

Semuanya, Raina lakukan hanya untuk mengalihkan kecamuk pikiran yang tak keruan. Ada begitu banyak asumsi buruk di sana, sampai ia tidak bisa mengontrolnya. Raina takut, jika suatu saat rumahnya benar-benar hancur, lalu ke mana ia akan pulang?

Esoknya, hari-hari Raina berjalan dengan pola yang sama. Tidak ada yang berubah sama sekali. Jika tidak sekolah atau mengajar, ia memilih mengunjungi perpustakaan kota. Menyibukkan diri sana dengan membaca atau menyelesaikan pekerjaan freelancenya. Ia bisa menulis, membuat ilustrasi kecil, atau mengetik laporan sederhana yang ia kerjakan sudah hampir satu tahun belakangan. Pekerjaan barunya itu yang membuatnya lebih sibuk dari biasanya. Kadang, ia pindah ke beberapa kafe buku yang tidak jauh dari perpustakaan. Mencari suasana baru di antara aroma kopi dan halaman-halaman yang berdebu, seolah sedikit lebih hidup daripada rumahnya. Paling tidak, di sana tidak ada ruang kosong yang terus-menerus menekannya.

Bahkan, saat Aska mengajaknya nongkrong atau hanya sekadar jalan-jalan pagi di car free day, ia selalu menjawab ya tanpa pikir panjang. Bukan karena ia ingin bersenang-senang, tapi karena tidak sanggup terlalu lama berada di rumah. Ia tidak ingin semakin membeku dan terbelenggu dengan suasana rumahnya. Raina takut akan lebih mudah menyerah, jika terus berselimut luka di bangunan yang nyaris membeku itu. Seperti keberuntungan besar, keberadaan Aska dengan caranya yang sederhana, selalu tahu bagaimana membuat Raina merasa aman. Walau senyumnya tetap tipis, walau hatinya tetap penuh rindu, setidaknya ia tidak sendiri. Meski keduanya sama-sama memiliki luka masing-masing, kendati rumah keduanya hampir sama kondisinya.

Namun, semakin lama, rasa rindu itu berubah jadi sakit berkepanjangan. Raina merasa ada sesuatu yang patah di dalam dirinya. Ia sering pura-pura tertawa saat Jiva bercanda di kelas, seolah-olah semuanya baik-baik saja. Namun, saat dirinya kembali ke rumah, usai pintu kamarnya tertutup sempurna, semuanya kembali sepi.

Rumahnya benar-benar membeku. Ibunya, yang kadang pulang dengan wajah penuh amarah, tidak lagi ia tanggapi. Raina lebih memilih diam, menyingkir ke kamar, dan menutup diri. Ayahnya, yang kadang datang, kadang tidak, hanya membuatnya semakin bingung harus berharap atau tetap menyambut kedatangannya. Tidak ada lagi ruang untuk percakapan, bahkan untuk sekadar menanyakan kabar.

Yang lebih menyakitkan, hanya sesekali pesan masuk di ponselnya. Pesan dari ayah atau ibunya yang bukan bertanya tentang dirinya, melainkan soal adiknya, Naya.

Naya, gimana, Mbak? Udah makan belum? Naya gak rewel, kan? Oh, iya. Jangan lupa ingetin tugas-tugas Naya, ya. Jangan main terus!”

"Mbak, titip Naya, ya! Ingetin jangan lupa makan!"

"Mbak, Naya gimana?"

"Mbak, Naya gak mau dianter ke rumah nenek, jagain, ya! Jangan ke mana-mana!"

Pesan itu selalu menjadi notifikasi keramat yang hampir tidak ingin Raina lihat. Apakah menjadi anak sulung tidak pernah ditanya bagaimana kabarnya dan apakah ia baik-baik saja atau tidak? Hanya untuk bertanya kabar saja apakah perlu mengemis?

Luka itu mengendap. Raina merasa tak terlihat, tak terdengar, tak dianggap. Ia kecewa. Ia muak. Ia lelah. Semua rasa itu menumpuk seperti salju yang menutup atap rumah. Berat, dingin, nyaris tak tertahankan.

Ia ingin marah, ingin berteriak, tapi suaranya sudah membeku bersama udara di sekelilingnya. Ia hanya mampu menatap kosong dinding kamar dan menahan air matanya agar tidak jatuh. Kadang tubuhnya gemetar, sesak di dada seakan menekan setiap embusan napasnya. Lama-lama ia khawatir, tubuhnya pun tidak akan sanggup menahan kesakitan yang ada.

Saat keluar dari rumahnya, ia masih mencoba membentuk senyum di bibirnya. Raina harus menggunakan topeng pura-pura pada dunia, seolah dirinya bisa bercanda. Ia masih sering terlibat cek-cok komedi bersama Jiva. Ia juga masih seringkali mendengarkan dongeng panjang tentang bombardir tugas dunia perkuliahan dari Aska. Mukanya tenang, tapi jauh di lubuk hati terdalam, ia ingin sekali beristirahat dan melepas penat.

Sayangnya, rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang, malah menjadi ruang yang membuatnya semakin ingin pergi. Bangunan itu semakin membuatnya rapuh. Raina tahu, rumahnya sudah tak lagi sama. Rumah itu bukan tempat ia tumbuh, melainkan tempat ia perlahan hancur. Ia sering mengulang pertanyaan yang sama dalam hatinya. Kenapa aku harus punya rumah kalau di dalamnya aku merasa sendirian? Apakah rumahnya benar-benar ada?

Sayangnya, setiap kali ia mencoba mencari jawaban, hanya ada sunyi yang menyambut kedatangannya. Semua terasa begitu berat dan rumit. Seperti misi menemukan jarum di tumpukan jerami.

Mustahil, atau malah nihil tanpa hasil.




Other Stories
Perahu Kertas

Satu tahun lalu, Rehan terpaksa putus sekolah karena keadaan ekonomi keluarganya. Sekarang ...

Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

First Snow At Laiden

Bunda Diftri mendidik Naomi dengan keras demi disiplin renang. Naomi sayang padanya, tapi ...

Love Falls With The Rain In Mentaya

Di tepian Pinggiran Sungai Mentaya, hujan selalu membawa cerita. Arga, seorang penulis pen ...

Pintu Dunia Lain

Nadiva terkejut saat gedung kantor berubah misterius: cat memudar, tembok berderak, asap b ...

Hati Yang Terbatas

Kinanti termenung menatap rinai hujan di balik jendela kaca kamarnya. Embun hujan mengh ...

Download Titik & Koma