Aku Pulang

Reads
2.5K
Votes
3
Parts
15
Vote
Report
Penulis Kata Aksara

Bab 6 - Apa Cinta Hadir Hanya Untuk Luka?

Rahasia terbesar dalam hidup untuk menyikapi bahwa semua kejadian ini adalah membiarkan semua mengalir apa adanya. Hidup memang tidak sepenuhnya bersedih, tidak sepenuhnya berbahagia, dan tidak semuanya berjalan seperti yang kita inginkan. Kadang, kaki kita perlu terseok-seok bahkan nyaris lumpuh agar dapat berlari sekencang kuda besi. Nothing is impossible.

Raina tidak pernah mengira, di tengah riuhnya kehidupan, kehadiran Jiva membuat hidupnya lebih ringan. Lelaki itu punya seribu cara untuk membuatnya melupakan sejenak bagaimana berantakannya rumahnya dan membuat seolah sekolah adalah tempat pelarian paling menyenangkan agar ia dapat bernapas sejenak. Jiva selalu punya banyak aksi saat bertemu di kelas. Entah ketika datang lebih pagi, lelaki itu akan membantunya piket. Atau, curi-curi aksi jahil yang membuat Raina kian hidup.

Hari-hari Raina biasanya monoton. Tertidur setelah pura-pura tidak mendengar kegaduhan dalam rumahnya di setiap malam, bangun saat amarah sang ibu kian meledak, berangkat sekolah tanpa minat sedikit pun, lalu melarikan diri ke tempat Pak Iqbal agar dirinya lebih terhibur. Raina akan pulang ke rumah saat gelap sudah menguasai langit, lalu kembali memejamkan mata saat berusaha mengeyahkan riuh di kepalanya. Perlahan, ia seperti memiliki dunia baru. Jika biasanya ia menunggu kehadiran Aska untuk mengusir segala ketakutannya, saat ini ia akan berangkat ke sekolah dan bersiap untuk menyambut teman barunya, Jiva. Ada kehidupan kecil saat Jiva menoleh padanya, menyapanya dengan senyum yang seenaknya, atau sekadar bertanya hal-hal kecil yang selama ini jarang ia dapati.

Raina semakin dekat dengan Jiva, kendati awalnya ia tidak ingin terlihat terlalu nyaman. Gadis itu tahu betul bahwa kenyamanan akan menjadi jebakan. Selama ini, setiap kali ia mulai membuka hati pada sesuatu—entah pada ibunya, ayahnya, atau bahkan harapan kecil dalam hidup sekalipun—selalu saja yang datang menyusulnya adalah kekecewaan. Sebisa mungkin, Raina berusaha menjaga jarak. Namun, Jiva dengan segala cara itu mampu menembus dinding yang Raina berusaha bangun.

Jiva tidak lagi sungkan menyapanya. Kadang sekadar bertanya apakah dirinya sudah makan atau belum, apakah PR sudah dikerjakan, atau apakah ia membawa buku tambahan untuk pelajaran hari itu. Hal-hal sepele yang mungkin bagi orang lain biasa saja, tapi bagi Raina terasa seperti perhatian yang asing. Kadang, Jiva membawakan jajanan ringan dari kantin tanpa diminta.

“Tadi kebetulan lewat, tapi nih perut bentukannya udah kayak orang hamil. Jadi, buat lo aja!” kata Jiva sembari memberikan sebungkus roti dan susu kotak di bangku Raina.

Perhatian sekecil itu membuat dada Raina terasa aneh. Ia ingin menganggapnya biasa saja, tapi hati kecilnya seringkali bertanya-tanya. Kenapa aku merasa ini berarti sekali?

Raina tidak pernah merasakan hal seperti ini setiap kali Aska memberinya perhatian lebih. Ia lantas menepuk pelan kedua pipinya bergantian, berusaha menarik sadarnya ke tempat semula agar tidak lagi berceceran ke mana-mana.

"Bantu, please!"

Siang bolong begini, Raina menghabiskan waktu istirahat kedua dengan membuat latihan soal untuk murid-muridnya di tempat les. Awalnya, Chika mengajaknya ke kantin karena ada menu baru yang direkomendasikan oleh kelas sebelah. Namun, Raina memilih untuk berdiam diri di kelas dan menyimpan tenaganya untuk mengajar ekstra nanti sepulang sekolah. Sebab, Pak Iqbal mengatakan bahwa beberapa anak ini akan UTS selama beberapa hari ke depan. Jadi, ia diminta untuk memberikan evaluasi lebih ekstra agar akademik mereka tidak anjlok.

Raina menerima sodoran sebuah makalah tanpa dijilid rapi setelah menyingkirkan beberapa buku yang ada di meja. Ia membacanya sekilas, lantas bertanya melalui gestur mata.

"Menurut lo, ada yang perlu diperbaiki nggak? Atau, lo ada acara apa gitu yang bisa bikin beda pekan budaya sekolah kita sama yang tahun lalu?"

Jiva sedang meninjau laporan kegiatan adik kelasnya yang sibuk menyiapkan pekan budaya. Ia termasuk salah satu senior yang masih betah mengabdi di OSIS, meski ia hanya wakil ketua dan sudah menjadi mantan sebab saat ini ia duduk di bangku kelas 12. Jiva seolah tidak bisa melepaskannya, seperti rumah keduanya.

“Soalnya, tahun lalu walaupun berhasil, tapi kayak ada yang kurang gitu, lho. Terus, tahun kemarin juga itu bagian stan-stan makanan sama galeri pamerannya kurang keisi,” katanya sambil setengah menyeret kursi di samping Raina.

Raina menahan senyum, pura-pura enggan, tapi tetap membiarkan Jiva mengeluarkan unek-uneknya lebih dulu. Ia masih sibuk membaca rangkaian kegiatan dalam lembaran tersebut, sebelum beralih pada latihan soal yang belum selesai.

"Kamu kenapa minta saran ke aku? Orang aku gak pernah jadi panitia event begini. Mana ngerti event-event begitu," jawab Raina. Ia lantas mengembalikan lembar proposal tersebut pada Jiva. Lantas, melanjutkan menulis beberapa soal yang tersisa. Pekerjaanya sedikit tertunda karena kehadiran Jiva. Padahal, kurang dua soal saja.

"Buntu, Nai. Gue bukan anak seni. Meskipun lo begitu, tapi nilai seni budaya lo juga paling tinggi di kelas kalau lagi tugas proyek."

Alih-alih menyerah, Jiva justru menarik binder yang sedang Raina kerjakan. Membuat Raina hampir memukul pria itu jika kesabarannya tidak terkendali. Dirinya hanya perlu menyelesaikan soal terakhir sebelum bebas untuk beralih ke kegiatan lainnya.

"Gue bikin soal deh. Lo tapi harus bantu mikir ini!" Jiva tersenyum simpul, seolah dunia hanya terdiri dari tawa sederhana dan hal-hal sepele yang bisa diselesaikan dengan mudah.

Raina menatap wajah itu beberapa detik lebih lama dari biasanya. Ada bagian dari dirinya yang sedikit sesak, lebih tepatnya ia iri. Betapa entengnya Jiva menjalani hari, seolah hidup tidak pernah menuntut terlalu banyak. Sementara dirinya, setiap detik rasanya seperti sebuah ujian yang tak pernah berhenti. Raina mengembuskan napas panjang, hampir menyerupai keluhan yang tak sempat menjadi kata-kata. Lelah itu nyata, menekan dadanya.

"Lo masih ada waktu buat ngajar? Sekolah kita aja kayak nggak ngasih waktu buat napas sebentar. Tugas-tugas itu lho pada numpuk, belum lagi ujian praktik yang seabrek. Apalagi, setelah bimbel aktif, pulangnya sore banget. Gua aja capek, masa lo gak capek?"

Kalau kamu aja capek, gimana aku, Jiva? Aku, bahkan nggak pernah punya rumah buat benar-benar istirahat. Aku harus pulang hanya untuk mendengar bentakan, bukan pelukan. Aku yang selalu diminta sempurna, padahal luka-luka ini ada di mana-mana.

"Em, sorry," kata Jiva berikutnya. "Gak usah dipikirin! Lo ada ide?"

Raina hanya mengangguk. Ia lantas menggaris bawahi kata-kata yang penting untuk diberi masukan, lantas memberikan sebuah ide untuk menghadirkan kreasi baru dengan sebuah tampilan kreasi dari masing-masing perwakilan kelas, juga ekstrakurikuler yang ada di sekolah. Tidak hanya itu, ia juga memberikan masukan untuk membuat acara galang dana agar keuntungan yang didapat dari penjualan pameran di pekan budaya lebih bermanfaat bagi orang-orang yang membutuhkan.

Hampir sepuluh menit keduanya berdiskusi serius. Sampai, beberapa atensi teman-teman sekelasnya membuat keduanya kikuk seketika.

Jiva lantas segera mengakhiri diskusi itu dengan gaya seenaknya. Ia merogoh saku almamter dan celananya, lalu mengeluarkan sebungkus kimbab dan satu kotak jus. Seenaknya pula, ia dorong ke dalam loker Raina. “Imbalan buat Anak Kecil Imut. Biar lo semangat kalau gue ngerepotin terus.”

Raina sempat menatapnya, alis terangkat, campuran antara kaget dan geli. “Kamu pikir aku tukang ide berbayar?” suaranya terdengar tenang, tapi ada sedikit getar tawa yang ia tahan agar tidak benar-benar keluar.

“Bukan, tapi gue tahu kalau lo sering bohong soal makan,” balas Jiva cepat. Mulutnya meringis nakal, tangannya menunjuk Raina seolah sedang menuduh pelaku kejahatan. “Thinwall bekalmu tuh numpuk di posnya Pak Ikram. Gue lihat sendiri. Itu udah kayak pameran seni instalasi tahu nggak. Sisa roti, sisa nasi, bahkan pisang gosong yang nggak pernah lo sentuh.”

Raina tertegun. Jantungnya berdegup aneh, seperti ada sesuatu yang mendesak keluar dari dada. Sekaligus, ada rasa malu yang samar. Dia tahu dan dia sadar, pikir Raina. Sekarang, tiba-tiba ia ingin bersembunyi. Ada semacam kupu-kupu kecil yang berdesakan, tapi rasanya bukan cuma tentang cinta, melainkan perasaan asing saat ada orang yang benar-benar memperhatikan hal-hal sepele tentang dirinya. Hal yang bahkan orang tuanya tidak pernah hiraukan.

Ia buru-buru menepis perasaan itu, memaksa logikanya berbicara. Ah, mungkin cuma karena lapar. Atau mungkin karena terlalu haus sama perhatian. Bahaya kalau kebawa perasaan. Nanti kalau dia pergi, pasti datang luka baru lagi.

“Ya udah sih. Aku emang lagi males makan,” gumam Raina, mencoba terdengar biasa.

Jiva malah semakin menjadi-jadi. Ia menepuk meja keras-keras, membuat beberapa kepala menoleh. “Lah, males makan? Itu prinsip hidup yang aneh banget! Orang-orang males belajar, males ngerjain PR, males olahraga. Lah ini, lo males makan? Mau gue bikinin slogan sekalian? ‘Raina Aruka Alma, Cewek Anti Beras.’”

Beberapa anak di kelas menahan tawa. Raina menunduk, wajahnya panas. Antara malu, kesal, tapi entah kenapa hatinya sedikit hangat. Jarang-jarang ada yang bisa membuatnya merasa seperti ini. Semua bercampur dan membuatnya ingin menampar sekaligus tersenyum.

Bukan Jiva jika tidak berhenti menganggu Raina. Pelajaran terakhir adalah matematika. Kali ini, mereka akan mengikuti kuis dadakan dengan nomor soal acak dan bangku diubah. Sialnya, Raina duduk berdampingan dengan Jiva. Iya, si teman baru jahilnya itu.

“Eh! Ngapain sih?” protes Raina panik.

Dengan wajah puas, Jiva menyembunyikan salah satu pulpennya. “Titipan buat aku, seminggu aja.”

“Balikin, Jiva!”

“Enggak, nanti. Biar ada alasan buat aku balik.” Senyum nakalnya sukses membuat Raina kesal. Pulpen itu benar-benar tidak kembali hingga seminggu kemudian, dan Raina merasa seperti ada ruang kosong di kelas tanpa Jiva yang sesekali muncul dengan ulahnya.

Hari-hari berikutnya, perhatian kecil Jiva semakin terasa.

“Cari tempat teduh, ya! Jangan di tengah lapangan! Kamu gampang pingsan.” Entah itu ledekan atau peringatan, tapi Raina justru mengiakan perintah itu ketika upacara berlangsung.

“Jangan dipaksa kalau gak kuat! Istirahat aja sana!” Tidak lagi upacara, tapi saat lari pemanasan sebelum jam olahraga dimulai. Lelaki itu juga membawakan air dari koperasi, padahal Raina sendiri membawa satu botol penuh dari rumah.

Raina ingin marah karena merasa diperlakukan seperti anak kecil, tapi hatinya justru melunak. Ia bertanya dalam hati penuh kesadaran, kenapa dia selalu mengingatkanku akan sesuatu? Kenapa dia seolah lebih tahu diriku daripada aku sendiri?

Namun, justru kesadaran itu membuat Raina takut. Di tengah semua itu, apakah pantas ia menemukan kenyamanan pada seseorang?

Ada satu sore, sepulang kegiatan kerja kelompok, Jiva sempat menahan langkahnya. Laki-laki itu belum pulang sebab membantu anak-anak PMR. “Bareng gue aja!”

Raina menolak refleks. “Nggak usah, aku bisa sendiri. Aku bawa sepeda kok.”

Tapi, Jiva menatapnya sebentar, lalu mengangguk. “Oke deh. Tapi, sepeda bisa lo tinggal. Makin malem gak baik cewek sendirian gini pulangnya! Hati-hati kalau gitu.”

Kalimat itu menancap dalam di hati Raina. Ia tidak menjawab, hanya berjalan pulang dengan langkah cepat, berusaha menyembunyikan mata yang nyaris berkaca-kaca.

Malamnya, ia menatap pulpen yang akhirnya dikembalikan oleh Jiva. Pulpen itu terasa bukan sekadar benda kecil, melainkan pengingat bahwa ada seseorang di luar sana yang benar-benar melihat dirinya.

“Jiva selalu hadir di saat aku butuh ruang untuk bernapas, tapi apa aku benar-benar menyukainya, atau aku hanya butuh seseorang yang membuatku merasa ada? Kalau suatu hari dia pergi, apa aku siap menanggung luka baru? Apa cinta memang hanya hadir untuk menambah luka?”

Pertanyaan itu menggantung lama di benaknya. Bahkan ketika Jiva kembali dengan tawa riangnya, bahkan ketika perhatian-perhatian kecil itu terus berdatangan, hati Raina tetap penuh tanda tanya.

Apakah ini cinta? Ataukah hanya pelarian saja?


Other Stories
Akibat Salah Gaul

Kringgg…! Bunyi nyaring jam weker yang ada di kamar membuat Taufiq melompat kaget. I ...

Free Mind

KITA j e d a .... sepertinya waktu tak akan pernah berpihak pada kita lagi setelah aku ...

Kuntilanak Gaul

Rasa cemburu membuat Lydia benci kepada Reisha. Dia tidak bisa terima saat Edward, cowok y ...

Way Back To Love

Karena cinta, kebahagiaan, dan kesedihan  datang silih berganti mewarnai langkah hidup ki ...

Hanya Ibu

kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...

Hati Yang Beku

Jasmine menatap hamparan metropolitan dari lantai tiga kostannya. Kerlap-kerlip ibukota ...

Download Titik & Koma