Aku Pulang

Reads
2.5K
Votes
3
Parts
15
Vote
Report
Penulis Kata Aksara

Bab 12 - Arunika Memang Indah, Sayangnya Dia Datang Dengan Batang Mawar Yang Membunuh

Dunia tidak selalu hancur dengan dentuman keras atau gempa besar. Kadang, ia runtuh secara perlahan tanpa suara, tanpa peringatan, seperti kaca yang diam-diam retak dalam bingkainya. Begitulah tubuh Raina rasanya saat kebenaran itu menamparnya.

Awalnya, malam itu terasa biasa saja. Raina baru pulang mengajar seperti biasanya di tempat Pak Iqbal. Ia dijemput oleh Aska dan mereka memutuskan mampir ke pusat perbelanjaan kecil untuk membeli makan malam. Aska berkata ia ingin membeli ramen, lalu masuk ke antrean panjang di salah satu gerai. Raina menunggu di sebuah meja kosong yang tersedia di area food court. Ia tidak tahu bahwa beberapa langkah di depannya, dunia sedang merobek jantungnya.

Seketika pandangannya membeku. Di sudut restoran yang tidak jauh dari tempat Aska membeli ramen, ia melihat sosok pria paruh baya duduk di sebuah meja. Di sebelahnya, ada seorang wanita yang terlihat tersenyum lebar di sela-sela makannya. Yang semakin mengejutkan adalah sosok pemuda berkasual kemeja kotak-kotak warna navy sedang membuka lembar demi lembar buku entah berjudul apa. Lelaki itu sangat Raina kenal. Senyumnya lebar, raut antusias, dan tawa yang menggelegar itu sangat Raina hafal. Ada hubungan apa antara ayahnya dengan Jiva? Satu-satunya pertanyaan dalam kepala Raina saat itu.

Raina tidak mendekat sama sekali. Tidak ingin lebih tepatnya. Ia masih menatap pemandangan yang sudah seperti keluarga bahagia tersebut dengan tatapan penuh kebencian.

"Jadi, kapan Om mau nikahin Bunda?" tanya Jiva.

Di situlah hati Raina seperti sedang tersambar petir di siang bolong. Jiva yang selama ini ia kira hadir sebagai cahaya baru. Jiva yang ia simpan dalam doa-doa kecil sebelum tidur. Lelaki yang ia mulai cintai.

Waktu seperti berhenti. Raina berdiri dan membawa langkahnya tergesa untuk pergi. Ia tidak terpikirkan bahwa ia datang bersama Aska. Gadis itu hanya ingin pulang dan segera meminta penjelasan dari sang ibu. Karena tidak memperhatikan jalan dan sibuk menunduk untuk menyembunyikan tangisnya, Raina menabrak seseorang dan menimbulkan kekacauan. Buku-buku dan kotak makan yang dibawa oleh orang itu berantakan.

"Lain kali kalau jalan tuh lihat-lihat sekitar. Lo gak buta, kan!" maki orang tersebut.

"Maaf, maaf."

Raina membantu membereskan kekacauan yang dibuatnya. Ia sempat memberikan beberapa lembar uang untuk menggantikan makanan yang terjatuh tadi. Dadanya semakin sesak, mendengar gelak tawa dari ayahnya dari kejauhan. Ia merindukan suara itu, sayangnya ternyata ayahnya jauh lebih bahagia dengan orang lain, ya?

Raina tidak berani mendekat. Ia takut semua itu benar. Ia takut nama Jiva melekat di sejarah keluarganya dengan noda yang tak pernah bisa dibersihkan. Ia bahkan tidak menunggu Aska. Ia tidak peduli lagi pada ramen yang dipesan. Ia hanya ingin lari dari keramaian di mall itu, dari wajah itu, dari rahasia yang baru saja menelanjanginya tanpa belas kasihan.

Ketika Jiva akhirnya mengejarnya ke luar, Raina sudah terlalu remuk untuk membentuk kata. Napasnya tersengal, dadanya sesak, sementara air mata jatuh tanpa bisa ia cegah. Jiva meraih pergelangan tangannya, wajahnya panik.

“Nai, tunggu!” Suara Jiva bergetar, seperti seseorang yang mencoba merangkai pecahan kaca dengan tangan kosong. Kini, keduanya ada di sebuah halte kosong yang berada di belakang mall. Waktu sudah hampir jam 22.00. Transportasi umum seperti bus dan angkot sudah berhenti beroperasi sejak pukul 21.00. Hanya Jiva dan Raina yang ada di sana.

“Gue … gue minta maaf. Gue nggak pernah milih buat ada di posisi kayak gini," kata Jiva berikutnya.

Permintaan maaf itu menusuk lebih dalam. Kata “maaf” terdengar seperti penghinaan. Raina ingin tertawa, tetapi tawanya kering, getir, seperti tangis yang gagal lahir. Maaf? Apa gunanya maaf kalau luka ini lebih besar dari tubuhku sendiri?

Ia menatap Jiva dengan mata yang basah. "Selama ini aku cari-cari letak di mana salahku. Di mana ketidaksempurnaan itu sampai bikin orang-orang di sekitarku terkena dampaknya. Ternyata, orang-orang itu jauh lebih bahagia dengan orang lain. Ayahku lebih bahagia kan sama kamu. Buktinya dia ninggalin keluargaku dan milih sama kamu. Sukses, ya!"

Jiva menggeleng. "Biarin gue jelasin dulu."

"Apa yang mau dijelasin lagi? Udah jelas kok." Raina mengusak air matanya yang tak berhenti mengalir. “Selama ini aku nggak sadar … aku jatuh, aku percaya, aku bahkan … mulai suka dengan kenyamanan-kenyamanan itu. Ternyata, Kak Aska bener. Sekalipun orang itu penting dalam hidup kita, gak menutup kemungkinan akan membuat luka."

Ada sesuatu yang terasa patah. Hatinya, mungkin. Atau harapannya. Atau mungkin seluruh dirinya. Jiva hanya berdiri kaku, wajahnya panik, bahunya bergetar. Air matanya jatuh. Namun, bagi Raina, tangis itu terdengar seperti ejekan baru. Kenapa dia yang menangis, padahal yang kehilangan itu dirinya? Kenapa dia yang menyesal, padahal yang berantakan itu hidupnya?

Semua yang ia tahu tentang Jiva kini bercampur dengan rasa muak yang tak bisa ia bendung. Raina ingin marah, ingin menghantam dada Jiva, ingin menampar wajah yang dulu sempat membuatnya percaya bahwa dunia masih punya ruang aman. Namun, semua itu sia-sia. Raina tahu. Apa gunanya menghancurkan Jiva, kalau dirinya sendiri sudah lebih dulu hancur?

Jiva adalah arunika. Indah, hangat, membawa cahaya pagi setelah malam panjang. Ia membuat Raina percaya bahwa mungkin, ada seseorang yang bisa melihatnya bukan sebagai beban, melainkan sebagai manusia. Sayangnya, arunika itu datang bersama batang mawar penuh duri. Dan duri itu kini menancap dalam-dalam di jantungnya.

“Gue nggak pernah mau nyakitin lo, Rain,” Jiva berujar lagi, suaranya nyaris pecah. "Tapi, kali ini gue bener-bener nggak bisa. Gue tahu kalau gue mungkin orang terjahat yang lo kenal. Gue terlanjur berharap. Gue terlanjur nyaman dengan kondisi seperti ini. Gue butuh sosok ayah. Gue pengen keluarga gue lengkap lagi. Dan, itu semua cuma ayah lo yang bisa ngasih. Sorry."

Bahkan, bintang di langit yang sedang bersinar terang malam ini seperti mendukung untuk berpesta merayakan kesedihannya. Raina menutup matanya, menahan air mata yang sudah terlalu deras. “Udah kenal berapa lama?”

"Lima tahun, mungkin. Gue pertama kali kenal bokap lo pas SMP kelas delapan. Waktu Bunda ngajak gue ke pameran perabotan baru di luar kota. Katanya, desainer kondang itu salah satu temen lamanya. Di situ, gue tau dan gue ..."

Raina tertawa hambar. "Ambil aja! Aku masih bisa hidup sendiri. Aku juga udah terbiasa sendiri. Mungkin, cuma harus ngertiin Naya aja—"

"Om Herdi udah cerai sama nyokap lo."

Raina mematung. Ia menatap kosong ke arah Jiva.

"Dua minggu lalu mereka sidang. Lo gak tahu?"

Hening panjang menggantung. Suara lalu lintas di luar restoran, lampu jalan yang berkelip, detik jam di pergelangan tangan, semua hanya menjadi latar dari kehancuran yang nyata.

Raina menjatuhkan tubuhnya ke kursi panjang di halte tersebut. Ia menatap jalan raya yang ramai lancar di belakang mall. Banyak kendaraan keluar dari basement, sebab area tersebut dekat dengan parkiran. Ia pikir, dirinya benar-benar bodoh seperti yang ibunya katakan. Bagaimana bisa ia tidak pernah tahu bagaimana kondisi keluarganya yang sudah tidak berbentuk itu. Apa karena ini ibunya jarang pulang? Apa karena ini Naya lebih sering menginap di rumah nenek dan tidak pulang? Apa karena ini dirinya hidup seorang diri di sana? Apa karena ini juga neneknya mengatakan bahwa ibunya akan merantau jauh ke negara orang kemarin sore?

Raina total tidak bisa mendengar apapun yang terjadi sekarang. Ia hanya menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong.

"Om Herdi bilang, ibu lo setuju. Dia mau resign dari pabrik dan gantiin job temennya ke China. Tiga hari lagi berangkat. Itu juga yang jadi alasan kenapa Om Herdi akhirnya melepaskan kalian. Ibu lo juga gak bisa diajak kooperatif dan pergi ke China."

Selama ini Raina diam karena menunggu orang-orang menjelaskan kepadanya. Entah itu kabar baik atau buruk sekalipun, Raina akan tetap menunggu. Namun, kenapa tidak ada yang bicara apa-apa kepadanya? Kenapa tidak ada yang mengatakan bahwa rumahnya saat ini benar-benar tidak akan menjadi tempat pulang lagi? Mengapa orang-orang dewasa itu tidak menyempatkan untuk mengajaknya duduk sebentar dan mendongenginya lagi sebelum tidur?

Kepala Raina benar-benar penuh akan ribuan pertanyaan. Seperti bom yang sedang dipompa untuk diledakkan dan menghancurkan dunia.

"Gue gak tahu kalau Om Herdi gak cerita. Gue pikir, lo udah tahu soal ini. Sorry, Nai. Kali ini aja, gue pengin egois. Maaf."

Lalu Raina berdiri, pelan tapi tegas. Kakinya berat, seolah tanah menahan langkahnya, tetapi ia paksa untuk melangkah. Ia berjalan melewati Jiva tanpa menoleh, meski hatinya menjerit, meski ada bagian kecil di dalam dirinya yang masih ingin tetap tinggal dan mendengar seluruh cerita yang tidak pernah orang-orang dewasa ceritakan padanya. Apakah ini yang dinamakan bahwa rumput tetangga lebih hijau daripada miliknya? Apakah ayahnya benar-benar akan meninggalkan dirinya sekarang? Bagaimana ia akan berdamai dengan ibunya saat pulang nanti dan .... bagaimana mungkin ia bisa bertahan pada sesuatu yang indah, kalau keindahan itu tumbuh dari luka paling busuk dalam keluarganya?

Arunika memang indah. Namun, keindahan itu datang bersama batang mawar yang menusuk sampai mati.

Raina menyisir trotoar dengan tatapan kosong. Kepalanya benar-benar penuh dengan kata ibu, ibu, dan ibu. Sejenak, ia menghentikan langkahnya. Ia mencari ponsel dalam tas, saku, dan ranselnya dengan tergesa. Ia membuka ponsel dan mencari nomor ibunya panik.

"Angkat, please! Bu, angkat, Bu!" kata Raina bergetar.

Beberapa sekon hanya diisi oleh suara klakson kendaraan. Sampai, suara ibunya terdengar di telinganya.

"Ada apa, Mbak? Ibu masih ada lemburan. Mungkin besok pagi baru bisa pulang. Besok Ibu cuti dan—"

"Ibu kenapa gak jujur sama aku?" Raina memotong ucapan ibunya.

Suara Ibu tidak terdengar beberapa saat. "Maaf. Ibu susah buat ngomong sama kamu. Ini sebuah keputusan berat yang gak pernah Ibu dan ayahmu pikirin sebelumnya. Ibu akui, Ibu memang sibuk sama pekerjaan Ibu dan Ibu terlalu banyak permintaan, tapi Ibu juga sayang sama kalian. Ibu gak bisa. Ibu gak akan pernah maafin ayahmu. Mbak, titip Naya, ya! Ibu ada dapat kerjaan di China dari teman Ibu. Mungkin, Ibu jadi orang jahat karena melarikan diri sendiri, tapi Ibu butuh waktu."

Bagaimana dengan dirinya? Apakah Raina juga tidak boleh memiliki waktu untuk memulihkan diri? Bagaimana dengan perasaannya? Mengapa tidak ada yang menanyakan bagaimana perasaannya dan kondisinya saat ini?

Untuk sejenak, Raina mengembuskan napas perlahan.

"Aku kangen sama Ibu, sama Ayah," kata Raina berikutnya.

"Maaf, Mbak. Ini semua salah kita."

Raina mengusap air matanya kasar. Ia mengacak-acak rambutnya begitu mendengar jawaban ibunya. Ia mendengar ada getaran menyesakkan dari nada yang ibunya katakan. Raina segera mematikan sambungan telepon. Gadis itu menekuk lututnya di pinggir trotoar, menyembunyikan kepala yang penuh dengan kecamuk pikiran tak keruan.

"Mbak, Ayah minta maaf. Ayah gak bisa jadi Ayah yang baik buat Mbak dan Naya. Ayah gak bisa jadi kepala keluarga dan jadi panutan buat Mbak sama Naya. Mbak tetep anak Ayah. Kapan pun Mbak butuh Ayah, Ayah di sini selalu ada buat Mbak. Maaf, Mbak, kalau Ayah gak cerita. Ayah gak berani dan Ayah terlanjur nyakitin Tuan Putri Ayah. Mbak, titip adikmu, ya. Adikmu masih terlalu kecil tahu kenyataannya begini. Ayah gak mau Naya sedih dan berbuat macam-macam."

Usia Raina bahkan belum genap 17 tahun. Ia belum resmi legal menjadi seorang manusia. Bagaimana dengan kondisinya sekarang? Orang-orang kenapa tidak ada yang memikirkannya? Mengapa hanya Naya, Naya, dan Naya? Apakah dilahirkan sebagai anak pertama itu fungsinya sebagai tempat penitipan anak?

Pandangan Raina tertuju pada lalu lalang kendaraan di depannya. Ia melanjutkan langkah kakinya, meski tak bertenaga. Sebagian nyawanya seperti mati dan sisanya entah di mana. Keluarganya hancur, ya? Ayahnya akan menikah dengan Ibu Jiva, Ibunya akan pergi ke China, Naya akan menjadi tanggung jawabnya, lalu dirinya?

Sepersekian detik, Raina mengembuskan napas lelah. Ia sampai di pinggir trotoar yang tidak jauh dari penyeberangan kereta api. Raina menatap kosong sekitarnya, membiarkan kecamuk pikiran yang memenuhi kepalanya semakin riuh menghajarnya. Telinganya seperti tidak berfungsi, tiba-tiba pandangannya gelap beberapa saat. Raina reflek mengucek kedua matanya. Sayangnya, tiba-tiba sirine panjang memekakkan telinga berbunyi. Raina tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Hanya saja, sebuah pelukan tiba-tiba menghangatkan tubuhnya. Bersamaan dengan gelap yang menguasai, apakah ini akhir dari segalanya?


Other Stories
The Labsky

Keyra Shifa, penggemar berat kisah detektif, membentuk tim bernama *The Labsky* bersama An ...

Bukan Cinta Sempurna

Meski populer di sekolah, Dini diam-diam mencintai Widi. Namun Widi justru menjodohkannya ...

I See Your Monster, I See Your Pain

Aku punya segalanya. Kekuasaan, harta, nama besar. Tapi di balik itu, ada monster yang sel ...

Hold Me Closer

Pertanyaan yang paling kuhindari di dunia ini bukanlah pertanyaan polos dari anak-anak y ...

Kesempurnaan Cintamu

Devi putus dari Rifky karena tak direstui. Ia didekati dua pria, tapi memilih Revando. Saa ...

Kidung Vanili

Menurut Kidung, vanili memiliki filosofi indah: di mana pun berada, ia tak pernah kehilang ...

Download Titik & Koma