Cinta Bukan Ramalan Bintang

Reads
960
Votes
0
Parts
8
Vote
Report
cinta bukan ramalan bintang
Cinta Bukan Ramalan Bintang
Penulis Nenny Makmun

You And Me Just Friendship

kembali pada dunia nyata jam pelajaran Pak Heru...
Setahun berteman dengan Narian Si Horoscope Girl membuat hidup Valen berwarna.
Tanpa terasa pelajaran Biologi Pak Heru sudah selesai dan tak ada satupun yang tertinggal di otak Valen, selama pelajaran benar-benar dirinya mengingat penuh saat mengenal Narian.
Dan sampai sekarang Narian adalah sahabat baik, tidak lebih walau Valen berharap dirinya bisa menjadi lebih dari sahabat, karena entah dari mana datangnya rasa sayang yang lebih pada The Horoscope Girl yang unik.
Masih dari bangku Valen di pojok, hampir satu jam mata pelajaran Biologi tidak ada yang masuk ke otak Valen. Valen terlalu asyik melamunkan Narian yang satu tahun ini dekat dengannya.
“Valeeen!” tiba-tiba suara Pak Heru, guru Biologi memanggil Valen yang masih melamun dan sesekali tersenyum sambil memandangi Narian.
“Iiiya Pak!” Valen tergagap sembari membetulkan letak kacamatanya yang tebal karena keasyikan melamun, nggak sadar kacamata tebalnya melorot ke hidungnya yang mancung.
“Valen! Bapak perhatiin kamu dari tadi bukannya menyimak pelajaran Bapak malah asyik melamun lalu senyum-senyum sendiri sambil memandangi Narian terus!” Pak Heru tanpa rasa berdosa blak-blakan berkata apa yang diam-diam diperhatikan akan sikap muridnya yang pintar itu.
“Ah ngggak kok Pak!” Valen berusaha membela diri, tak urung wajahnya jadi memanas dan mungkin juga sudah merah kaya kepiting goreng nyaris gosong.
Kelas jadi gaduh dengan suara riuh anak-anak yang ber-huuuuuuuuuu... Lanjut celetukan Tobi, anak paling comel, “Valen, sepertinya diam-diam suka dengan Narian ternyata!”
Narian yang tidak menyangka akan terjadi keributan akibat Valen sekarang menatap tajam dengan tatapan sadis ke Valen sahabatnya.
Narian tidak menyangka kalau akan dipermalukan gara-gara ketololan Valen yang diam-diam memandangi dirinya sepanjang pelajaran Biologi.
Padahal jelas disebutkan di ramalan bintangnya kalau seharusnya minggu ini adalah minggu yang tenang tanpa ada gangguan, nyatanya hari ini dia seperti dipermalukan oleh Valen yang notebene sahabat terdekatnya setahun ini.
Valen jadi semakin serba salah dan salah tingkah. Rasa bersalah merebak di hatinya dan pasti The Horoscope Girl pulang sekolah akan mengomeli dirinya tanpa ampun.
Seperti yang lalu-lalu Narian sesukanya memarahi Valen kalau melakukan kesalahan, tapi selalu saja mereka baikan lagi. Tapi untuk kasus barusan Valen jadi mendadak merasa nyeri di hati, jangan-jangan Narian tidak akan memaafkan dan memecat jadi sahabatnya.
Jam menuju pulang sekolah rasanya jadi lambat sekali. Valen yakin habis ini sepanjang perjalanan pulang sekolah akan diomeli Narian yang dianggap telah mempermalukan dirinya. Andai saja dirinya punya sahabat Doraemon, ingin rasanya meminta pintu ajaib agar dirinya bisa kabur ke tempat lain.
***
Dugaan Valen tepat! Dengan wajah angker Narian menarik tangannya untuk segera mengambil sepeda balap Genionya yang di parkiran sekolah.
“Val! Gue nggak mau tahu ya akibat ketololan kamu tadi, kamu harus antar gue pulang dengan kecepatan dua kali lipat. Gue mau cepat sampai rumah! Titik!” Narian membentak Valen dengan wajah angker, tapi tetap manis di mata Valen.
Tanpa sempat Valen membela diri, Narian sudah duduk di boncengan depan sepeda balap Genionya.
Tidak ada pilihan. Valen tahu benar tabiat Narian yang menyebalkan selain percaya ramalan bintang, adalah ngambek yang di awal penuh lebay dan jangan coba-coba dibujuk-bujuk, karena hanya akan memperburuk suasana.
Valen menarik napas panjang untuk mengayuh sepeda balap Genio yang di depannya sudah ada Narian duduk dengan permintaannya untuk pulang ngebut.
Untung setahun ini stamina balap sepeda Valen sudah terlatih semenjak setahun ini Si Horoscope Girl yang ternyata jalan rumah mereka satu arah selalu nebeng sepedanya.
Nah ini juga yang membuat Valen tidak habis pikir padahal orang tua Narian itu kaya tapi nggak tahu juga Narian lebih memilih berangkat dan pulang sekolah numpang dirinya yang jelas-jelas hanya memakai sepeda balap tanpa ada boncengan di belakang. Adanya di depan karena bukan sepeda biasa, tapi Narian nekat maunya ikut dengan dirinya walau dibonceng di depan.
Anehnya juga Narian nggak ngerasa risih atau malu. Alasan yang sebenarnya menyenangkan sekaligus menjebak hati Valen.
Menjebak hatinya karena ternyata setahun semakin dekat dengan Horoscope Girl membuat Valen semakin menyayanginya, apalagi sejak tiga bulan lalu Narian yang sempat jadian dengan Kak Dito akhirnya putus.
“Kenapa sih Narian memilih numpang bonceng dengan aku? Kamu nggak malu digosipin apa pacaran dengan aku nanti-natinya?” Valen memberanikan diri bertanya pada Narian waktu lalu.
“Justru karena kita gak mungkin pacaran makanya gue memilih berangkat dan pulang sekolah berboncengan dengan kamu,” kata Narian senyum-senyum.
“Kok bisa begitu kesimpulannya?” Valen mendadak bingung tanpa Narian tahu dalam hatinya putus asa karena jujur semakin hari sosok Narian rasanya semakin dekat di hati dan Valen tidak mau kehilangan Narian sedikit pun dari sisinya.
So clear! Kalau hatinya sudah merasa begitu menyayangi cewek manis Si Horoscope Girl yang menganggapnya hanya sahabat setahun ini selalu bersamanya.
“Val, karena bintang kamu Sagitarius dan gue Gemini, nah gue baca di magical soul, salah satu blog tentang perbintangan kalau Gemini tidak akan bisa berjodoh dengan Sagitarius! Kalau hanya sebagai sahabat cocoklah karena cenderung kamu akan banyak memberikan masukan yang jujur dibandingkan bila aku bersahabat dengan cowok Libra dan Aquarius yang paling pas kalau jadi pacar,” Narian menerangkan panjang lebar alasan dirinya merasa cocok dengan Valen yang ternyata tidak jauh berdasarkan ramalan bintang juga, tanpa memperhatikan Valen yang mulai berdenyut kepalanya.
Valen menepuk kepalanya sendiri, ternyata Si Horoscope Girl sudah tahu apa bintang dia dan mengecek kalau Sagitarius bukan bintang yang cocok untuk dijadikan pacar, makanya Narian tenang-tenang saja setahun ini dekat dengannya dan yakin kalau mereka nggak akan jadi pacar selamanya.
Ditambah Narian bilang nggak suka wajah cowok yang berpenampilan intelek dengan kacamata tebal, menurut narian cenderung cupu seperti dirinya.
Narian suka dengan cowok-cowok tampan, pintar dan atletis seperti Kak Dito. Sudah cukup juga telinganya panas bila Narian sudah mulai berbicara terang-terangan mengagumi Kak Dito di depannya waktu lalu, tanpa sedikit pun berperasaan kalau hatinya sakit.
Sempurna sudah kalau Valen jangan pernah berharap akan menjadi sosok spesial lebih dari sahabat untuk Narian.
“Ngos ngos ngos...,” napas Valen ngos-ngosan karena permintaan Narian yang tengah marah akibat dipermalukan di kelas tadi. Sungguh Valen tidak bermaksud mempermalukan Narian karena kepergok menatap diam-diam dari sisi agak jauh, lalu menurut Pak Heru dirinya senyum-senyum.
Narian benar-benar marah, apa yang dilakukan Valen tadi hingga Pak Heru menegurnya membuat Narian kesal! Sekarang sebagai imbasnya Narian dengan sadisnya meminta Valen mengayuh sepedanya kencang-kencang. Narian tidak mau tahu, dia minta dirinya ngebut mengayuh sepedanya agar segera sampai rumah.
“Huuuufff akhirnya...” Valen bernapas lega karena akhirnya sampai juga di depan rumah Narian dengan napas tersengal-sengal karena mengayuh sepedanya dua kali kecepatan dari biasanya, apalagi jalan pulang ke Bukit Golf rumah Narian dan dirinya menanjak.
“Nari… kamu sudah memaafkan aku kan?” Valen memasang wajah yang sebenarnya tampan dengan rasa bersalah.
“Hmmm… Val, jangan lagi-lagi kamu mengulangi kesalahan yang sama! Kamu ini aneh deh! Setiap saat kita bersama masih saja kamu diam-diam menatap gue dari bangku kamu sampai-sampai Pak Heru menegur kamu! Memalukan! Dan sekelas jadi menertawakan kita! Sangaaaaat menyebalkan!” Narian menyilangkan kedua tangannya di dada seperti bu guru BP saja.
“Sebenarnya Nari! A… ku… ah susah deh susah ngomong sama kamu! Pasti kamu lebih memilih ramalan bintang juga!” Valen memutuskan langsung cabut tanpa menunggu omongan Narian lebih lanjut.
Narian sesaat terbengong karena ternyata Valen bisa kabur begitu saja tanpa meminta izin dulu akan pulang.
“Huh dasar Si Lup! Nggak percaya kalau gue bilang bintang Gemini dan Sagitarius tidak akan pernah bisa jadi pasangan asmara! Sudah ditakdirkan paling pas bersahabat! Persahabatan Gemini dengan Sagitarius membuat satu sama lain nyaman!” Narian bicara sendiri tanpa ada niat memanggil Valen yang memilih kabur dengan sepeda balap Genio- nya pulang ke rumah.
***
Valen memilih ngebut dengan sepeda balapnya, masih terngiang-ngiang alasan Narian mau bersahabat dengannya, “Bintang Gemini dalam jodoh hanya cocok dengan Libra dan Aquarius! Kalau kamu Sagitarius hanya cocok jadi sahabat saja! Dan aku aman jalan dengan kamu walau kita dekat.”
“Aku bisa gila nih ngikutin kepercayaan Si Horoscope Girl! Aghhhhhhhh! Masa sih selamanya aku hanya bisa memendam rasa suka aku padanya tanpa berani mengutarakan rasa cinta yang aku rasakan! Semua hanya gara-gara ramalan bintang!” tanpa sadar Valen terus merutuki ramalan bintang yang dianggapnya tidak adil dan tidak berpihak sedikit pun padanya.
Valen sepenuhnya sadar, Narian yang diam-diam sekarang setelah setahun membuat hatinya tidak karuan tidak pernah akan tertarik dengan cowok selain berbintang Libra dan Aquarius.
“Jadi beginikah nasib aku? Pertama kalinya cewek yang aku suka tak akan pernah aku miliki selamanya, kecuali aku berbintang Libra atau Aquarius. Malang benar nasibku? Syarat yang tidak mungkin bisa aku penuhi. Mana mungkin aku bisa mengubah takdir Tuhan akan waktu lahir. Selamanya hanya bisa menjadi sahabatnya, padahal aku bisa mengimbangi dirinya dan memahami sikapnya yang kadang semaunya. Narian... Narian… apakah selamanya kamu akan selalu memercayai ramalan bintang? Ngapain sih orang hidup ada ramalan-ramalan horoskop segala? Bagiku mereka sudah bertindak lebih dahulu dari kuasa Tuhan! Tapi yah mana bisa juga aku melarang. Wong yang percaya juga banyak, termasuk Si Horoscope Girl “Narian” yang sebenarnya sangat aku sayangi. Bahkan aku ingin berontak keras jika hanya dijadikan sekedar sahabat selamanya!” sepanjang pulang Valen terus bicara sendiri akan kemalangan dirinya yang berbintang Sagitarius.

Other Stories
Keeper Of Destiny

Kim Rangga Pradipta Sutisna, anak dari ayah Korea dan ibu Sunda, tumbuh di Bandung dengan ...

7 Misteri Di Korea

Untuk membuat acara spesial di ulang tahun ke lima majalah pariwisata Arsha Magazine, Om D ...

Aruna Yang Terus Bertanya

Cuplikan perjalanan waktu hidup Aruna yang selalu mempertanyakan semua hal dalam hidupnya, ...

Dante Fairy Tale

“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita ge ...

Ruf Mainen Namen

Lieben .... Hoffe .... Auge .... Traurig .... ...

Cinta Di 7 Keajaiban Dunia

Malam yang sunyi aku duduk seorang diri. Duduk terdiam tanpa teman di hati. Kuterdiam me ...

Download Titik & Koma