Cinta Di 7 Keajaiban Dunia

Reads
4K
Votes
0
Parts
22
Vote
Report
cinta di 7 keajaiban dunia
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia
Penulis Nenny Makmun

Benteng Istana Putih Dan Merah Bata

Pukul 21.00
Tiba di bandara International Airport Indira Gandhi, New Delhi, India.
Kami menghampiri seseorang yang berperawakan tinggi umumnya orang Asia, berkulit hitam, berambut lurus, bermata besar namun bersorot tajam, berkumis dan berjanggut, ia yang memegang papan berlabel nama kami.
“Namaste, welcome to India Miss. Devi and Mr. Dimas,” sapa pemandu wisata ramah yang menyambut kami dengan garland bunga kuning khas India.
“Namaste,” jawab kami berbarengan. Namaste itu salam hati dalam bahasa India yang berarti bisa selamat pagi, siang atau malam.
Dalam mobil sewaan satu paket untuk perjalanan kami dari Delhi, Agra lalu Jaipur dengan supir Mr. Israr Khan sangat lihai dalam mengemudikannya. Mendengar namanya bermarga Khan, teringat aktor Bollywood Sahrukh Khan.
“Aduuh, mikir apa sih aku ini?” bisik hatiku.
Hotel Rajhans, di sana kami menginap semalam. Setelah check out, kami langsung menuju Quth Minar, yaitu bangunan tua berupa reruntuhan masjid, menandakan adanya kejayaan Islam di masa lalu. Dimas mendokumentasikan dengan mengelilingi bangunan tua tersebut yang sangat luas. Kami melanjutkan perjalanan ke Agra.
“India, negara Asia yang diwarisi sejarah memikat, tradisi dan budaya yang kaya, kuliner yang mendunia, memiliki 31 negara bagian dengan berbagai macam bahasa daerah yang berbeda aksen. Negara yang paling sering dikunjungi setelah Cina,” ujarnya dengan bahasa Inggris beraksen khas. Balaram, sang pemandu wisata selama di India kepada kami menjelaskan sejarah singkat India dalam perjalanan menuju hotel tempat kami menginap nanti.
“Sungguh menakjubkan,” ujarku sambil melirik Dimas yang menanggapinya dengan tersenyum manis.
“Hmmhh… untunglah Balaram bisa berkomunikasi dengan bahasa Inggris, tentu saja dia seorang pemandu wisata. Datang ke India kan punya tata krama dengan kebudayaan yang berbeda. Nggak kebayang deh kalau harus kursus bahasa lokal atau India dulu sebelum ke sini, ditambah bahasa tubuh dan salam India yang khas itu,” Dimas mengingatkan.
New Delhi seperti Jakarta dengan pusat bisnis dan pemerintahan. Dari jalan layangnya dan bus-bus berlalu-lalang namun tanpa jalur khusus seperti bus TransJakarta.
Cuaca di sini sangat dingin, berkisar 21 derajat celcius sedikit membuatku terlena selama perjalanan. Setelan long john yang kami pakai, baju khusus untuk musim dingin yang panjang dan ketat menutupi seluruh tubuh seperti baju senam lengan panjang yang ketat di tubuh. Kalau tidak pakai itu, kedinginan merajai meski sudah pakai baju berlapis-lapis. Lengkap dengan jaket tebal berbulu, sarung tangan, kaos kaki tebal, sweater, tutup kepala membuatku hangat, namun gundah hati selalu melekat dan herannya selalu terkenang akan semua hal tentang Rifky.
“Ya, Allah bimbinglah hati ini, menjauhlah kau wahai mitos, galau... menjauhlaaah. Liputanku nggak boleh terganggu cuma gara-gara mitos. ” batin Devi.
Senja itu kami menginap di Park Plaza, salah satu hotel di Agra yang berdekatan dengan Taj Mahal. Saat dalam lift menuju kamar peristirahatan tiba-tiba listrik mati, otomatis lift pun terhenti selama beberapa menit.
“Aaaah... Dimas, aku takut gelap,” lirihku sambil memegang erat tangan Dimas. Namun Dimas tak bersuara. Selang waktu satu menitan, listrik pun menyala dan apa yang terjadi, bukan lengan Dimas yang dipegang erat, namun turis lain yang juga kebetulan berada dalam lift. “Hei, Dimas di mana sih? Buat kesal saja, jadi malu kan,” gerutuku. Dan Dimas yang berada di satu sisinya hanya bisa melongo keheranan.
***
Pagi yang cerah. Kami sarapan.
Dimas terlihat menarik napas panjang untuk kesekian kalinya. Perasaanku sejak dari Cina, dia tampak banyak berdiam diri, diam laksana patung. Kami sarapan dan disodori menu Dosa, “What? Dosa? Hihihi, nama yang aneh!” pikirku.
Mencicipi hidangan yang terbuat dari tepung beras yang difermentasi, dicocolkan ke chutney tomat atau kelapa lalu dimakan dengan sup sambar. Ditemani minuman tradisional dari yoghurt yang ditambah gula, rosewater, lemon, stroberi juga saffron namanya Lassi, minuman terkenal di India.
Lagi-lagi Dimas hanya mengutak-atik kamera dan gadget-nya, sesekali mengambil objek yang kami butuhkan untuk bahan liputan.
“Hoaaaammm... aku udah bangun sepagi ini, sedikit lelah ternyata dalam perjalanan, musim dingin menguras energiku, kenapa aku tak bersemangat begini sih, kok rasanya gelisah. Mimpi apa aku semalam, Deja Vu? Pantas. Ah, terbawa perasaan saja, ” panik Dimas.
***
Agra Fort
Banyak turis singgah di kota ini, perjalanan memakan waktu kurang lebih empat hingga lima jam. Mr. Israr Khan sudah siap di belakang kemudi dan Balaram di sampingnya. Selama perjalanan, Balaram mencoba menghibur agar kami tak merasa bosan, dia berkisah tentang pengalaman pertamanya menjadi tour-guide rombongan Indonesia.
“Kebetulan saya sangat mengagumi wanita Asia. Saya dekati gadis manis dan cantik, secara spontan saya katakan dia ‘You are so sweet and pretty’, dan si gadis tersenyum. Lalu Ajay, temanku bilang, ‘Ayo katakan juga bahwa dia juga macan’ artinya beautiful dalam bahasanya dan aku menurut saja. Tetapi gadis itu malah murka mendengarnya dan tangannya mendarat di pipiku.”
“Ternyata macan adalah singkatan dari manis dan cantik, oh... la... la... tapi mengapa ia salah paham, I am feeling silly.”
“Ooh, My God. You so pity. Ups! Sorry, I don’t mean.Macan it’s mean Tiger so the girl you like so angry!” Devi tidak bisa menahan untuk tersenyum.
“Please, dont be offended, but relax, Balaram. Next you will found your soulmate,” ujar Devi lanjut.
“Well, thank you Miss. Devi. I appreciated. By the way, how lucky you are as a beautifull girl from Indonesia who travelling here with your soulmate. Please, Enjoy the trip.”
Dimas yang mendengar percakapan kami, sedikit mendelik. Rupanya dia kurang suka dengan Balaram yang terang-terangan mengagumi kecantikan Devi.
***
Di depan satu benteng merah, istana yang diambil alih oleh kaisar Mughal beragama Islam. Sebelumnya didirikan oleh seorang raja Hindu dengan benteng merah, itulah sebabnya disebut benteng merah. Benteng ini sudah menjadi milik dunia, dilindungi UNESCO. Usia bangunannya lebih dari 400 tahun. Dinding-dinding setinggi 35 meter dengan luas kurang lebih 38 hektar.
“Tahukah kau?” tanya Balaram.
“Tahu apa?” Devi balik bertanya.
“Bangunan ini dikerjakan oleh 1.44 juta orang.”
“Wow, angka yang fantastik!” seruku takjub dengan apa yang dikatakannya.
“Di dalamnya ada kolam-kolam mandi raja berbentuk bulat seperti kuali besar, sungguh pemandangan yang menarik. Material-material yang terbuat dari marmer putih, detail dengan hiasan kaca, terukir lafaz-lafaz dan kaligrafi yang indah, Shah Jahan, Putra Akbar membuatnya sangat apik.”
“Taj Mahal memiliki gaya arsitektur Mughal terbaik. Digelari Monumen Cinta karena raja membangunnya untuk istri ketiga yang sangat dicintainya pun dimuliakannya, Mumtaz Mahal, yang meninggal dunia setelah melahirkan anak ke-14 dan dimakamkan di tengah-tengah-tengah bangunan,” aku mendengarkan Balaram mengisahkan bangunan bersejarah ini dan aku membiarkan Dimas dengan kesibukannya.
“Hmmh, biarlah sementara aku bersama Balaram. Lihat saja nanti, Dimas,” kesalku sedikit mengancam.
***
Taj Mahal
2,5 meter dari benteng merah Taj Mahal berdiri.
“Dimas, rasanya aku sudah tak sabar ingin melihat Taj Mahal.”
“Ya, aku tahu,” jawab Dimas sekenanya. Ia begitu sibuk dengan kameranya, tampak tak ingin terganggu.
“Sejak di sekolah dulu, aku sering mendengar cerita Taj Mahal. Dan sekarang ada di sini,” celotehku riang.
Dimas acuh.
“Diiimaaassss!” aku berteriak kesal. Siapa yang tak kesal, dari tadi bicara panjang lebar sama Dimas eh taunya dia diam saja.
Dimas menoleh, “Ups, maaf, aku sedang fokus mengambil gambar, beri aku beberapa menit. Oke!”
“Huh,” aku hanya mendengus kesal.
***
Melewati pemeriksaan ketat, kami harus meninggalkan laptop, makanan ringan, minuman dan lain-lain di ruang penitipan karena tidak diizinkan dibawa masuk. Di gate kedua, kami baru bisa melihat gedung putih nan indah itu.
Di dalam bangunan utama, Dimas melihat makam Raja dan Ratu Mumtaz Mahal, spontan ia memotretnya.
“No, please!” dengan sigap Balaram menghalangi dan tidak mengizinkannya memotret.
“Hei, but why?” tanya Dimas terkejut.
“I am sorry for that. I forgot to tell you, we only, ehm...,” sedikit tersedak ia menerangkan.
“Hmmhhh, Please, just see they graves, resting place. Oke It’s for homage them as the legend.”
“What?” mata Dimas membelalak. “But I am only taken some photo’s,” rajuk Dimas.
Balaram menggelengkan kepalanya.
“Oh, Oke. Fine, sorry,” akhirnya Dimas mengalah untuk menghormati apa yang sudah menjadi etikat dan aturan.
***
Bangunannya seperti sebuah masjid namun ternyata sebuah makam sepasang penguasa kerajaan yang kisah cintanya melegenda. Bangunan yang sangat menarik untuk diabadikan.
Dari mulai pintu gerbangnya yang berwarna merah bata, taman yang luas dan bunga-bunga, kolam panjang di depan bangunan utama, pahatan-pahatan dari keseluruhan bangunan.
“Hei, lihat! Ukiran-ukiran itu ternyata dari batu-batu pilihan berwarna-warni yang dimasukkan ke dalam pahatan berbentuk bunga, warnanya merah gelap.”
Tanpa sengaja cahaya handphone-ku membias ke arah batu merah gelap, seketika itu juga batu berubah warna menjadi merah menyala.
“Wow, Subhanallah...” aku tercengang, saking indahnya apa yang kulihat.
“Benar-benar seakan masih ada kehidupan dalam sejarah keabadian cinta mereka yang selalu dibicarakan sepanjang masa. Apa cinta kita akan seperti itu yaa?”
“Dimas... Dim!” aku memanggil Dimas. Tapi lagi-lagi Dimas hanya diam. Batin Devi bertanya-tanya, “Ke mana sih itu orang kok nggak nyahut-nyahut?”
“Dimas, aku tahu. Kau harus mendapatkan perlakuan khusus dariku. Sembarangan saja dia meninggalkanku. Cemburu dengan kamera dan gadget-nya, feeling so silly,” jengkel hati Devi terhadap Dimas, membuat kepalanya sedikit terasa berdenyut.
“Apakah efek dari mitos itu mulai bereaksi?” hatiku mulai berpikir yang tidak-tidak. Secepat mungkin aku menggelengkan kepala berharap apa yang kupikirkan tidak terjadi.
“Tidak, tentu saja tidak. Semuanya harus aku atur agar menjadi baik-baik saja. Ya, jangan khawatir semuanya akan baik-baik saja Devi,” ujarku mencoba menenangkan diri.
Setelah puas mengelilingi Taj Mahal, berpose ria dan beristirahat di salah satu tepian bangunan utama yang berdekatan dengan Sungai Yamuna.
Siangnya berjalan-jalan di pasar tradisional Agra. Di sini melihat kerajinan tangan semacam miniatur Taj Mahal yang terbuat dari keramik dan membelinya untuk cindera mata.

Other Stories
Hellend (noni Belanda)

Pak Kasman berkali-kali bermimpi tentang hantu perempuan bergaun kolonial yang seolah memb ...

Dante Fairy Tale

“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita ge ...

Always In My Mind

Sempat kepikiran saya ingin rehat setelah setahun berpengalaman menjadi guru pendamping, t ...

Cinta Koma

Cinta ini tak tahu sampai kapan akan bertahan. Jika semesta tak mempertemukan kita, biarla ...

Mereka Yang Tak Terlihat

Saras, anak indigo yang tak dipahami ibunya, hidup dalam pertentangan dan kehilangan. Saat ...

Di Bawah Panji Dipenogoro

Damar, adalah seorang petani yang terpanggil untuk berjuang bersama mengusir penjajah Bela ...

Download Titik & Koma