Tragedi Bidadari
Pagi Hari, di apartemen Dimas.
“Deeeviiiiii.... Deeviii!” gue berteriak memanggil Devi.
“Hosh... hosh... hosh...” gue berlari, napas gue memburu.
Lorong-lorong yang dilaluinya berkabut tebal, terasa sempit, panjang seakan tak pernah ada tepinya.
Tiba-tiba... krak! suara ranting pohon terinjak. Rifky menoleh, gue melihat Devi sedang disekap oleh lelaki, samar-samar gue melihat. Rifky terkesiap saat terlihat jelas siapa lelaki tersebut, di sampingnya berdiri sosok bayang-bayang seorang perempuan.
“Deeevv.... Deeviii...” gue terbangun mendengar igauan sendiri.
“Ooh, ya ampun, gue bermimpi buruk. Gue menahan kantuk semalaman, menunggu Devi berharap pulang. Ada apa dengan dia? Ponselnya tak bisa dikontak. Semoga dia baik-baik saja.” rasa cemas menghampiri hati gue
***
Yup! Di Jembatan dan Gembok Cinta.
Gue memasuki zona fenomena love padlock, mencari sosok Devi. Di sini gue terakhir kali terpisah dengannya. Beban mental yang gue tanggung terasa begitu berat jika gue harus kehilangan Devi. Merinding gue membayangkan hal-hal yang tak diinginkan, gue menepis semua pikiran-pikiran jelek itu.
Baru saja gue duduk di tepian Sungai Seine, terdengar suara yang gue kenal. Siapa lagi kalau bukan Devi.
“Devi, kamu di sini? Syukurlah,” ujar gue sambil menghambur ke arahnya. Gue langsung memeluk perempuan yang sangat gue cintai itu.
“Ngapain kamu ke sini?” tanya Devi sebal.
“Aku khawatir Devi. Ponselmu... aku... aku... maaf kalau candaanku membuat kamu marah... aku...”
“Aku nggak apa-apa, sekarang kita jauhan dulu deh. Aku ingin menenangkan hati.”
“Jauhan? Apa maksud kamu Devi? Oke, kalau itu maumu. Aku akan menuruti, tapi sebentar saja ya. Nanti aku jemput. Oia, Kamu sudah makan?”
“Sudahlah, pergilah. Aku ingin menyendiri!”
“Ok, see you this afternoon ya, ini power bank-mu kubawakan. Ingat selalu kontak yaa, berhati-hatilah, jika sudah tenang hubungi aku!” pesan gue.
Devi memiringkan wajahnya yang kesal.
***
Diam-diam gue mengikuti ke mana pun Devi pergi melangkah.
“Dia baik-baik saja, dia harus diperhatikan, hatinya sedang tak jernih gara-gara pengaruh Ivana. Aku akan terus menjagamu Devi,” gue berjanji dalam hati.
Aku mencari taksi, lalu mencari sebuah hotel yang dekat dengan Menara Eiffel. Merasa lelah. Teringat pesan Rifky jika terjadi sesuatu, aku bisa meminta bantuannya. Akhirnya aku memutuskan untuk bertemu dengan Rifky.
Taksi bergerak perlahan. Tanpa ekspresi Devi melirik keluar jendela. Bibirnya terkatup rapat, pikirannya jauh melantur ke mana-mana dengan dada yang gaduh bergemuruh. Bayang-bayang gedung Paris bergerak.
Tiba di hotel dan masuk ke dalam lobby, ternyata Rifky tengah menunggunya di sana.
***
Jam 10 malam dalam Kamar Hotel tempat Rifky menginap.
Kamar yang redup. Bias lampu tidur ditemani alunan musik lembut. Devi tergolek lemas di atas tempat tidur tanpa sehelai benang berselimut bed cover tak sadarkan diri. Sementara di sampingnya Rifky berbaring sambil memeluk Devi. Tampak keduanya tertidur pulas.
***
Gue sempat kehilangan jejak Devi, namun dengan cepat gue mencari informasi ke mana arah langkah-langkah Devi. Ada seorang pemuda yang mengenali ciri-ciri Devi, hingga dengan mudah gue bisa menemukannya.
TING. Pintu lift terbuka. Gue langsung menuju ruang kamar 202, di mana Rifky berada. Gue lihat pintu tak terkunci. Gue buka pintu perlahan, sedikit berantakan. Dinyalakannya lampu, baju-baju berserakan dan sisa minuman.
Pandangan gue beralih ke tempat tidur. Gue terkesiap melihat pemandangan yang sama sekali tak pernah gue duga. Ironis dan sangat mengiris hati gue.
Kamera yang gue pegang sedari tadi, secepat kilat gue meraih benda itu dan memotret objek yang sama sekali bukan untuk dijadikan liputan. Setelah itu, gue pergi begitu saja meninggalkan Devi yang masih tergolek bersama Rifky.
***
Gimana nasibku selanjutnya?
Minggu pagi
Aku membuka mata perlahan, badan terasa berat tertindih, kepalaku sedikit berdenyut merasa pusing.
“Apa ini?” tanyaku sedikit tersadar, sambil menggeser tubuh Rifky.
“Rifky? Apa yang terjadi?” tanyaku mulai panik.
“Aaaahhh!” aku berteriak sekeras-kerasnya.
Rifky sontak tersentak bangun dan kemudian tersenyum licik. Aku mulai curiga, apa rencana Rifky melakukan hal ini.
“Rif, kenapa aku bisa ada di sini? Kamu nggak ngapa-ngapain aku kan?”
Aku bangkit dari tempat tidur, lalu mengambil pakaian-pakaianku. Secepat kilat aku ke kamar mandi untuk mengenakan kembali pakaian. Lima menit kemudian aku keluar dari kamar mandi, terus langsung meninggalkan Rifky.
Aku memutuskan menuju restoran hotel untuk menenangkan diri sambil mengingat-ingat apa yang terjadi malam tadi.
Sambil di restoran hotel, aku duduk di kursi yang dekat jendela. Lalu aku memanggil pelayan untuk memesan makanan khas Paris.
Kring...
Bunyi pesan via WhatsApp Messenger.
Aku sentuh layar dan membuka WhatsApp Mesenger. Seketika aku melihat foto ketika tergolek satu tempat tidur dengan Rifky. Foto pengirim foto itu Dimas.
“Bodohnya aku! Apa yang telah kamu lakukan bersama lelaki brengsek itu, Devi?”
Aku tak bisa berkata apa-apa setelah apa yang terjadi. Pikiranku kosong.
Teng… Tong... HP-ku berbunyi lagi. Tapi kali ini bunyi tanda ada SMS masuk. Langsung kuklik open.
From : Adipati Dimas
Devi, aku benar-benar tak menyangka kamu tega mengkhianatiku. Mulai sekarang aku akan pergi dari hidupmu. Tolong jangan cari aku lagi!
Mataku terbelalak melihat isi SMS dari Dimas. Ah, kenapa semua jadi berantakan gini? Kenapa juga Dimas main pergi aja tanpa mendengar penjelasanku? Gimana nasibku selanjutnya? Pernikahan semakin di depan mata. Belum lagi Perjalanan meliput 7 keajaiban dunia masih 3 tempat lagi. Tanpa Dimas semua takkan berjalan lancar. Soalnya dia photographer-nya. Bos besar bisa marah besar jika aku tidak sampai menuntaskan pekerjaan.
Mendadak aku teringat Ivana. Seketika bola lampu di otakku menyala. Soal bos besar dan pekerjaanku sepertinya bisa teratasi dengan bantuan Ivana. Aku baru ingat Ivana itu pernah menjadi photographer pre wedding. Dia pasti bisa memotret objek 3 keajaiban dunia lainnya.
Aku meraih HP yang terletak di atas meja. Ketika HP ada di tangan, jari-jariku sibuk menekan nomor HP Ivana.
Tuuut… Tuuut...
Huft, Ivana pasti belum bangun. Hari ini kan hari Minggu, dia bangun siang.
“Halo…” terdengar suara Ivana di seberang telepon. Wajahku cerah, akhirnya telepon diangkat juga.
“Halo, Van. Lo bisa bantuin gue nggak?”
“Bantuin apa?”
“Datang ke Paris.”
“Ngapain gue ke Paris?”
“Gantiin Dimas memotret objek 3 keajaiban yang lain.”
“Lho, sama Dimas kenapa? Berantem?”
“Gini ceritanya… bla… bla… bla…” aku menjelaskan kronologis kejadian semalam sampai apa yang kualami tadi pagi secara panjang lebar. Aku berharap Ivana menangkap apa yang aku bicarakan.
“Oh, jadi gitu ceritanya. Oke deh, gue bakal berangkat ke Paris sekarang juga.”
“Serius lo mau bantuin gue?”
“Iya, apa sih yang nggak buat lo.”
“Tapi gimana dengan kerjaan lo di kantor kalau lo bantuin gue?”
“Itu gampang. Gue tinggal ambil cuti. Selama ini kan gue belum pernah cuti.”
Tuuut… Tuuut
Telepon terputus. Aku bernapas lega, masalah satu sudah selesai. Beruntung banget Ivana menjadi sahabatku. Dia bukan hanya baik, tapi bisa diandalkan. Sekarang tinggal memikirkan gimana caranya agar Dimas percaya padaku. Eh, boro-boro bikin dia percaya, tahu keberadaannya aja nggak.
Ah, entahlah. Aku pusing. Kalau emang jodohku sama Dimas pasti dipertemukan lagi.
Other Stories
Separuh Dzarrah
Dzarrah berarti sesuatu yang kecil, namun kebaikan atau keburukan sekecil apapun jangan di ...
Blind
Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Bahagiakan Ibu
Jalan raya waktu pagi lumayan ramai. Ibu dengan hati-hati menyetir sepeda motor. Jalan ber ...
Luka
LUKA Tiga sahabat. Tiga jalan hidup. Tiga luka yang tak kasatmata. Moana, pejuang garis ...
Mother & Son
Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...